Peneliti Ungkap Uban Jadi Pertahanan Alami Risiko Kanker

Peneliti Ungkap Uban Jadi Pertahanan Alami Risiko Kanker

Penelitian mengungkap uban sebagai mekanisme pertahanan tubuh melawan kanker, dengan sel punca melanosit merespons kerusakan DNA untuk mencegah tumor.

(Bisnis.Com) 11/12/25 13:45 69104

Bisnis.com, JAKARTA - Rambut beruban umumnya dikaitkan sebagai tanda-tanda penuaan alami. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan warna rambut ini bisa menjadi bentuk dari mekanisme pertahanan tubuh untuk menekan risiko kanker.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Cell Biology pada Oktober lalu mengungkap bahwa pemicu kanker seperti sinar ultraviolet (UV) dan bahan kimia tertentu justru mengaktifkan jalur proteksi alami pada tubuh. Jalur ini dapat mendorong rambut beruban lebih cepat, tetapi di sisi lain membantu menurunkan kejadian kanker.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti mengamati perilaku sel punca melanosit, yang bertanggung jawab memproduksi pigmen melanin pada rambut.

Melalui percobaan pada tikus, tim menemukan bahwa sel-sel ini merespons kerusakan DNA dengan dua cara, yaitu berhenti tumbuh dan membelah hingga memicu uban, atau bereplikasi tanpa kontrol hingga berkembang menjadi tumor. Menurut para penulis studi, temuan tersebut memperlihatkan bagaimana tubuh mengaktifkan mekanisme perlindungan terhadap kerusakan DNA seiring bertambahnya usia.

Dalam kondisi normal, siklus pertumbuhan rambut memang bergantung pada persediaan sel punca di folikel rambut. Sel punca melanosit biasanya membelah dan menghasilkan sel dewasa yang memproduksi pigmen untuk memberi warna pada helai rambut.

Kendati demikian, ketika sel-sel tersebut kelelahan atau disebut sebagai penuaan sel, folikel kehilangan kemampuan memproduksi pigmen baru. “Ini adalah batas jumlah total pembelahan yang dapat dilalui sel, dan tampaknya merupakan mekanisme anti-kanker untuk mencegah kesalahan genetik acak yang diperoleh seiring waktu,” ujar Dot Bennett, ahli biologi sel dari St George’s, University of London, dikutip Bisnis dari Live Science, Kamis (11/12/2025)

Tim peneliti dari University of Tokyo yang dipimpin Emi Nishimura kemudian mengeksplorasi bagaimana mekanisme yang sama merespons kerusakan DNA berat, salah satu pemicu utama kanker. Pada percobaan lanjutan, mereka mengekspos sel punca melanosit pada radiasi pengion serta senyawa karsinogenik.

Menariknya, mereka menemukan bahwa jenis kerusakan memengaruhi reaksi sel. Radiasi pengion cenderung mendorong sel punca untuk berdiferensiasi dan memasuki fase penuaan sel.

Respons ini membuat persediaan sel punca cepat habis sehingga rambut kehilangan pigmennya. Pada saat yang sama, proses ini mencegah DNA bermutasi untuk terus diwariskan ke sel baru, mengurangi peluang pertumbuhan tumor.

Sebaliknya, paparan bahan karsinogen seperti dimetilbenz(a)antrasena (DMBA) justru mengaktifkan jalur seluler yang menghambat penuaan sel. Folikel rambut tetap mempertahankan cadangan sel punca dan terus memproduksi pigmen, sehingga warna rambut tidak berubah. Akan tetapi dalam jangka panjang, akumulasi replikasi DNA rusak memperbesar risiko pembentukan tumor.

Nishimura menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan satu populasi sel punca bisa menghadapi nasib berbeda bergantung pada jenis stres yang dialami. “Hal ini membingkai ulang uban dan melanoma [kanker kulit] bukan sebagai peristiwa yang tidak berhubungan, melainkan sebagai hasil yang berbeda dari respons stres sel punca,” tuturnya.

Seiring temuan pada tikus ini, para ilmuwan menegaskan perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan apakah respons serupa juga terjadi pada folikel rambut manusia.

#uban #rambut-beruban #risiko-kanker #pertahanan-alami #penelitian-terbaru #sinar-ultraviolet #sel-punca-melanosit #kerusakan-dna #mekanisme-perlindungan #folikel-rambut #penuaan-sel #radiasi-pengion #n-a

https://lifestyle.bisnis.com/read/20251211/106/1935987/peneliti-ungkap-uban-jadi-pertahanan-alami-risiko-kanker