#30 tag 24jam
Pensiun Tenang Tanpa Merepotkan Anak, Ini Cara Hitung Dananya
Jangan bergantung pada anak saat pensiun. Pelajari tips ahli, cara hitung kebutuhan dana pensiun, dan strategi investasi untuk kemandirian finansial Anda. [888] url asal
#pensiun #dana-pensiun #persiapan-pensiun #aging-population #kemandirian-finansial #lansia-indonesia
(Kompas.com - Money) 02/06/26 17:06
v/237823/
JAKARTA, KOMPAS.com - Masa pensiun pada pekerja adalah keniscayaan. Untuk itu, persiapan keuangan menjadi pengetahuan yang krusial untuk dimiliki.
Persiapan masa pensiun yang matang juga akan mengurangi risiko ketergantungan lansia pada anak ketika sudah tidak bekerja kembali.
Perencana keuangan sekaligus FounderFinante.id, Rista Zwestika mengatakan, perubahan terbesar saat memasuki masa pensiun adalah hilangnya penghasilan aktif.
KOMPAS.com/ Elsa Catriana Perencana Keuangan Rista Zwestika.“Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan bahkan cenderung meningkat karena faktor kesehatan,” kata dia kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan, agar tidak bergantung pada anak, calon pensiunan perlu membangun tiga pilar kemandirian finansial.
Pertama, Rista meminta lansia untuk memastikan pengeluaran lebih kecil dari penghasilan pasif.
Sumber penghasilan pasif ini dapat berasal dari dana pensiun perusahaan, BPJS Ketenagakerjaan, deposito, obligasi negara, properti sewa, hingga dividen investasi.
Rista juga mengingatkan, lansia atau pensiunan harus memiliki dana kesehatan yang terpisah.
“Jangan mencampur dana kesehatan dengan dana hidup harian,” imbuh dia.
Selain itu, pensiunan juga harus memastikan telah terbebas dari utang ketika pensiun. Seorang pensiunan idealnya sudah tidak memiliki cicilan rumah, cicilan kendaraan, utang konsumtif, dan paylater.
Cara hitung kebutuhan dana pensiun
KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Masa pensiun pada pekerja adalah keniscayaan. Untuk itu, persiapan keuangan menjadi pengetahuan yang krusial untuk dimiliki.Untuk menghitung kebutuhan dana pensiun, Rista memiliki rumus sederhana, yakni Kebutuhan Dana Pensiun = Pengeluaran Bulanan × 12 × Lama Masa Pensiun.
Sebagai ilustrasi, pengeluaran calon pensiunan saat ini adalah Rp 8 juta per bulan. Sementara itu, masa pensiun diperkirakan 20 tahun.
Dengan rumus yang sama, penghitungannya menjadi 8 juta x 12 x 20 = Rp 1,92 miliar.
Dengan demikian, dana pensiun yang dibutuhkan sekurang-kurangnya harus mencapai Rp 1,92 miliar.
Namun karena inflasi rata-rata jangka panjang Indonesia sekitar 3 sampai 5 persen per tahun, angka kebutuhan riil bisa mencapai Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar atau lebih tergantung gaya hidup dan usia harapan hidup.
Rista bilang, yang sering dilupakan adalah saat ini harapan hidup masyarakat Indonesia semakin panjang.
“Banyak orang pensiun di usia 55 sampai 60 tahun tetapi hidup hingga usia 75 sampai 85 tahun. Artinya dana pensiun harus mampu menopang kehidupan selama 20 sampai 30 tahun,” ucap dia.
Dengan rumus penghitungan yang serupa, perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, angka yang dihasilkan tersebut merupakan estimasi yang kasar.
Pasalnya, setelah pensiun, bisa jadi terdapat pengeluaran yang berkurang.
“Atau justru bertambah, semisal biaya transport dan biaya kesehatan,” ungkap dia.
Sebagai ilustrasi Andy juga memberikan sebuah rumus penghitungan sederhana. Kebutuhan dana pensiun dapat dihitung dengan rumus berikut.
Kebutuhan dana pensiun = Total pengeluaran sehari-hari sebelum pensiun x 12 bulan x estimasi waktu hidup pasca pensiun.
SHUTTERSTOCK/Khongtham Ilustrasi pensiun.Sebagai ilustrasi, seorang pekerja memiliki pengeluaran sebulan senilai Rp 5 juta dengan estimasi waktu hidup yang dihitung dengan usia harapan hidup (71 tahun) - usia pensiun (56 tahun) atau sekitar 15 tahun.
Dengan rumus tersebut, maka jumlah uang untuk pensiun yang dibutuhkan sekitar Rp 900 juta.
Kiat tak bergantung pada anak ketika pensiun
Andy mengingatkan, agar pekerja dapat pensiun tanpa bergantung pada anak atau orang lain, sebaiknya dana pensiun dapat dipersiapkan sejak jauh hari.
Selain itu, pensiunan juga dapat tetap bekerja atau produktif mencari nafkah setelah pensiun.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menjalankan bisnis sendiri, atau bekerja di tempat lain yang masih dapat mempekerjakan lansia.
Sementara itu, pekerja yang memiliki uang pensiun dapat memanfaatkan dana tersebut dengan optimal.
“Mengurangi pengeluaran-pengeluaran dan gaya hidup sehingga disesuaikan dengan nominal uang pensiun yang diterima,” ucap dia.
Pastikan transisi pendapatan aktif ke pasif berjalan mulus
Perencana Keuangan sekaligus FounderFinansialku Melvin Mumpuni menjelaskan, agar purnatugas tidak menjadi beban bagi anak, fondasi utamanya adalah memastikan transisi yang mulus dari active income (gaji dari bekerja) menjadi passive atau portfolio income penghasilan dari aset dan investasi.
Menurut dia, untuk menghitung modal pensiun sebenarnya ada beberapa pendekatan teknis, bisa menggunakan beberapa metode.
Shutterstock Ilustrasi menabung dana pensiun.“Kita dapat melakukan perhitungan dengan menggunakan kalkulator pensiun di website atau konsultasi dengan perencana keuangan,” ucap dia
Melvin berpesan, untuk merencanakan pensiun, pekerja harus memastikan kondisi keuangan sehat saat ini.
Artinya sebelum masuk pensiun pastikan pemasukan lebih besar dari pengeluaran, punya dana darurat, cicilan kalau bisa sudah mulai lunas, aset lebih besar dari utang dan punya asuransi.
Ketika calon pensiunan sudah memiliki modal, mulai alokasikan uang atau modal ke investasi atau aset produktif yang menghasilkan pemasukan rutin, misalnya deposito, surat berharga pemerintah, rumah kos dan lainnya.
“Jika Anda belum memiliki modal yang cukup, mau tidak mau Anda perlu segera mempersiapkan modal tersebut,” ungkap dia.
Melvin mengingatkan, pensiun itu adalah perpindahan tahapan hidup (life stage) seseorang dan memang harus disiapkan dengan matang.
“Dengan demikian, sangat wajar jika banyak orang mengalami kesulitan untuk mempersiapkannya. Untungnya sekarang ini industri keuangan seperti bank, asuransi, sekuritas, manajer investasi dan perencana keuangan dapat membantu mempersiapkan pensiun,” tutup dia.
Sebagai informasi, Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.
Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indonesia Masuki Aging Population, 10 Provinsi Ini Punya Lansia Terbanyak
Persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional. [1,000] url asal
#penduduk-lansia #aging-population #penuaan-penduduk #lansia #demografi-indonesia
(Kompas.com - Money) 02/06/26 15:42
v/237680/
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional.
Angka tersebut telah melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi penanda suatu negara memasuki fase penuaan penduduk.
Freepik/jcomp Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, peningkatan proporsi lansia terjadi secara konsisten dalam 15 tahun terakhir.
“Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen yang menunjukkan bahwa Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk atau aging population,” ujar Amalia dalam rilis BPS.
Data BPS menunjukkan tren kenaikan jumlah lansia berlangsung cukup cepat.
Pada 2010, persentase lansia tercatat sebesar 7,59 persen, kemudian meningkat menjadi 8,47 persen pada 2015, naik lagi menjadi 9,93 persen pada 2020, dan mencapai 11,97 persen pada 2025.
Perubahan struktur penduduk tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah demografi Indonesia beberapa dekade ke depan.
Di tengah melambatnya laju pertumbuhan penduduk dan meningkatnya usia harapan hidup, sejumlah provinsi kini memiliki proporsi lansia yang jauh di atas rata-rata nasional.
Yogyakarta jadi provinsi dengan lansia terbanyak
KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional.Berdasarkan hasil SUPAS 2025, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 17,83 persen.
Artinya, hampir satu dari lima penduduk di wilayah tersebut merupakan kelompok usia 60 tahun ke atas.
Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan persentase lansia sebesar 15,45 persen, disusul Bali sebesar 15,07 persen. Jawa Tengah berada di urutan keempat dengan 14,43 persen dan Sulawesi Utara di posisi kelima dengan 14,12 persen.
BPS mencatat hampir seluruh provinsi di Pulau Jawa telah memasuki fase aging population. Pengecualian hanya terjadi di Banten yang proporsi lansianya masih berada di bawah ambang batas 10 persen.
Sementara itu, wilayah Maluku dan Papua secara umum belum memasuki fase tersebut.
“Berdasarkan SUPAS 2025, hampir seluruh provinsi di Pulau Jawa sudah memasuki aging population. Sedangkan di Maluku dan Papua masih belum memasuki aging population,” tutur Amalia.
Daftar 10 provinsi dengan persentase lansia tertinggi
Data SUPAS 2025 menunjukkan 10 provinsi dengan proporsi penduduk lansia tertinggi adalah sebagai berikut.
- DI Yogyakarta: 17,83 persen
- Jawa Timur: 15,45 persen
- Bali: 15,07 persen
- Jawa Tengah: 14,43 persen
- Sulawesi Utara: 14,12 persen
- Sulawesi Barat: 12,01 persen
- DKI Jakarta: 12,01 persen
- Sulawesi Selatan: 11,71 persen
- Jawa Barat: 11,51 persen
- Lampung: 11,39 persen.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi penduduk tertua, penduduk lansia.Masuknya Jawa Barat dalam daftar tersebut menunjukkan, fenomena penuaan penduduk tidak hanya terjadi di wilayah dengan jumlah penduduk kecil atau sedang, tetapi juga di provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia.
Selain itu, dominasi provinsi-provinsi di Jawa dalam daftar tersebut memperlihatkan bahwa kawasan yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional juga menghadapi perubahan struktur usia penduduk yang signifikan.
Ada 16 provinsi sudah masuk aging population
BPS mencatat sebanyak 16 provinsi telah memiliki proporsi lansia di atas 10 persen. Dengan kata lain, hampir setengah wilayah Indonesia kini telah memasuki struktur penduduk tua.
Menurut Amalia, fase aging population ditandai ketika penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai minimal 10 persen dari total populasi suatu wilayah.
Dengan capaian nasional sebesar 11,97 persen, Indonesia kini resmi berada dalam fase tersebut.
Data BPS menunjukkan terdapat 22 provinsi yang belum memasuki fase penuaan penduduk, sementara 16 provinsi lainnya telah melampaui ambang batas.
Kondisi ini menunjukkan, proses penuaan penduduk tidak terjadi secara merata. Beberapa wilayah mengalami percepatan lebih cepat dibandingkan daerah lain, terutama wilayah yang memiliki angka harapan hidup relatif tinggi dan tingkat fertilitas yang semakin menurun.
Pertumbuhan penduduk melambat
Fenomena meningkatnya jumlah lansia terjadi bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan penduduk Indonesia.
BPS mencatat jumlah penduduk Indonesia pada 2025 mencapai 284,67 juta jiwa. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahunan berada di level 1,08 persen.
Getty Images Ilustrasi lansiaSelain itu, angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,13. Angka tersebut semakin mendekati replacement level atau tingkat penggantian penduduk.
Pada saat yang sama, rasio ketergantungan meningkat menjadi 45,05 persen pada 2025. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif.
Kombinasi antara menurunnya tingkat kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup menjadi faktor yang mendorong perubahan struktur demografi nasional menuju populasi yang semakin menua.
Lansia perempuan lebih banyak
Perubahan struktur demografi juga terlihat dari komposisi penduduk lansia berdasarkan jenis kelamin.
Proporsi lansia perempuan mencapai 12,61 persen, lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki sebesar 11,34 persen.
Temuan tersebut sejalan dengan tren global yang menunjukkan perempuan umumnya memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki.
Dengan meningkatnya jumlah lansia perempuan, kebutuhan layanan sosial, kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok usia lanjut menjadi semakin penting.
Bonus demografi dan tantangan penduduk menua
Meski Indonesia masih berada dalam periode bonus demografi, meningkatnya proporsi lansia menunjukkan bahwa struktur penduduk nasional mulai bergerak menuju fase baru.
BPS menyebut Indonesia masih menikmati bonus demografi karena kelompok usia produktif tetap mendominasi populasi. Namun, kenaikan jumlah penduduk lanjut usia berlangsung semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Data SUPAS 2025 menunjukkan perubahan tersebut semakin nyata. Dari 7,59 persen pada 2010 menjadi 11,97 persen pada 2025, proporsi lansia meningkat lebih dari empat poin persentase dalam kurun 15 tahun.
“Persentase lansia hasil SUPAS 2025 sebesar 11,97 persen menunjukkan bahwa Indonesia sudah memasuki fase aging population,” terang Amalia.
Bagi sejumlah provinsi seperti DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara, fase tersebut bahkan sudah terlihat lebih jelas melalui tingginya proporsi penduduk usia lanjut yang berada jauh di atas rata-rata nasional.
Data SUPAS 2025 tersebut sekaligus menegaskan perubahan struktur demografi kini tidak lagi menjadi proyeksi jangka panjang, melainkan sudah berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Aging Population dan Generasi Sandwich, Dua Fenomena yang Kini Bertemu
Generasi sandwich adalah kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak-anak sekaligus orangtua yang memasuki usia lanjut. [1,082] url asal
#lansia #generasi-sandwich #sandwich-generation #aging-population #usia-produktif
(Kompas.com - Money) 31/05/26 09:19
v/236020/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.
HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.
Di tengah perubahan itu, muncul kelompok masyarakat yang menghadapi tekanan berlapis, yakni generasi sandwich.
Mereka adalah kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak-anak sekaligus orangtua yang memasuki usia lanjut.
Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia memasuki era penuaan penduduk.
Bertambahnya jumlah lansia berarti semakin banyak anggota keluarga yang membutuhkan dukungan finansial, fisik, maupun emosional dari generasi di bawahnya.
Ketika anak dan orangtua sama-sama membutuhkan dukungan
Menurut Investopedia, istilah generasi sandwich merujuk pada individu usia paruh baya yang berada dalam posisi "terjepit" karena harus mendukung orangtua yang menua sekaligus anak-anak yang masih membutuhkan bantuan finansial dan emosional.
Dalam praktiknya, tanggung jawab tersebut tidak hanya berupa pemberian uang.
Banyak anggota generasi sandwich juga harus mengurus kebutuhan kesehatan orangtua, mendampingi mereka menjalani pengobatan, membantu aktivitas sehari-hari, hingga menyediakan tempat tinggal.
SHUTTERSTOCK/IRINA STRELNIKOVA Ilustrasi generasi sandwich.Di saat yang sama, mereka juga masih harus membiayai pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, serta menyiapkan masa depan keluarga.
Investopedia menjelaskan, meningkatnya harapan hidup dan kecenderungan masyarakat memiliki anak pada usia yang lebih matang menjadi faktor yang mendorong munculnya fenomena generasi sandwich.
Kondisi itu membuat seseorang dapat menghadapi situasi ketika anaknya masih membutuhkan dukungan, sementara orangtuanya telah memasuki usia lanjut dan memerlukan perawatan.
Fenomena tersebut tidak lagi menjadi kasus yang bersifat individual. Berbagai penelitian menunjukkan kelompok ini terus bertambah seiring meningkatnya populasi lansia.
Aging population membuat beban perawatan kian besar
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan Indonesia telah resmi memasuki fase penuaan penduduk berdasarkan hasil SUPAS 2025.
"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen, yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk," ujar Amalia sebagaimana dikutip dalam publikasi hasil SUPAS 2025.
Tren tersebut sebenarnya telah terlihat dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Persentase lansia tercatat sebesar 7,59 persen pada 2010, meningkat menjadi 8,47 persen pada 2015, lalu naik lagi menjadi 9,93 persen pada 2020 sebelum akhirnya menembus 11,97 persen pada 2025.
Peningkatan jumlah lansia berarti kebutuhan perawatan jangka panjang juga berpotensi meningkat.
Dalam banyak kasus, keluarga menjadi pihak yang pertama kali menanggung kebutuhan tersebut.
Getty Images Ilustrasi lansiaLaporan Kependudukan Indonesia 2025 yang dirilis UNFPA Indonesia juga mencatat, memasuki era aging population, jumlah dan proporsi lansia terus mengalami peningkatan sehingga tantangan yang berkaitan dengan kelompok usia lanjut akan semakin besar.
Kondisi ini membuat peran generasi sandwich semakin krusial. Mereka menjadi penghubung antara kebutuhan kelompok usia muda dan kelompok usia lanjut dalam satu rumah tangga maupun keluarga besar.
Tekanan finansial dari dua arah
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi sandwich adalah tekanan finansial.
Individu dalam kelompok ini tidak hanya harus membiayai kebutuhan anak-anak, tetapi juga membantu kebutuhan orangtua yang menua.
Di saat bersamaan, mereka masih harus mengelola karier, kebutuhan pribadi, dan menyiapkan dana pensiun mereka sendiri.
Tekanan tersebut sering kali membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi lebih sulit.
Banyak anggota generasi yang berada di posisi sandwich harus menyesuaikan pekerjaan mereka demi memenuhi kebutuhan perawatan keluarga. Sebagian harus mengurangi jam kerja, bekerja dari rumah, bahkan mengambil cuti untuk mendampingi orangtua atau anak.
Fenomena serupa terlihat pada kelompok Gen X yang kini banyak memasuki usia 40 hingga 60 tahun. Kelompok ini disebut menghadapi tekanan akibat biaya pendidikan anak, kebutuhan perawatan orangtua, dan cicilan rumah secara bersamaan.
Investopedia mencatat, biaya perawatan lansia yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang memperberat kondisi keuangan generasi sandwich.
Di saat yang sama, mereka juga masih harus menyiapkan tabungan pensiun agar tidak mengalami kesulitan finansial ketika memasuki usia lanjut.
PEXELS/TIMA MIROSHNICHENKO Ilustrasi generasi sandwich.Bukan hanya soal uang
Beban yang dihadapi generasi sandwich tidak hanya berkaitan dengan keuangan.
Penelitian yang dimuat dalam National Library of Medicine menyebutkan, pengasuh generasi sandwich adalah individu yang secara bersamaan memberikan dukungan kepada generasi di atas dan generasi di bawah mereka.
Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan emosional dan tuntutan waktu yang besar.
Para pengasuh yang bekerja penuh waktu rata-rata menghabiskan sekitar tiga jam per hari untuk merawat orangtua dan anak-anak di luar jam kerja mereka. Lebih dari separuh pengasuh dalam kelompok ini merupakan perempuan.
Tanggung jawab tersebut mencakup berbagai aktivitas, mulai dari mengantar orangtua berobat, mengurus kebutuhan administrasi, membantu pekerjaan rumah tangga, hingga mendampingi anak belajar.
Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa tekanan emosional menjadi salah satu tantangan utama.
Generasi sandwich harus menghadapi kenyataan bahwa orangtua mereka semakin bergantung pada bantuan keluarga, sementara anak-anak masih memerlukan perhatian dan dukungan yang tidak sedikit.
Dalam banyak kasus, kebutuhan tersebut berlangsung bersamaan sehingga waktu untuk diri sendiri menjadi semakin terbatas.
Munculnya generasi sandwich baru
Perubahan struktur demografi juga memunculkan bentuk generasi sandwich yang lebih kompleks.
Investopedia menjelaskan adanya istilah club sandwich generation, yakni kelompok usia 50 hingga 60 tahun yang harus merawat orangtua, anak dewasa, sekaligus cucu.
Ada pula open-faced sandwich generation yang merujuk pada individu yang terlibat dalam perawatan lansia secara lebih luas.
Fenomena ini menunjukkan, tanggung jawab perawatan tidak lagi terbatas pada dua generasi.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi lansia.Di sejumlah negara, meningkatnya usia harapan hidup membuat lebih banyak keluarga hidup dalam konfigurasi multigenerasi.
Orangtua berusia lanjut hidup lebih lama, sementara anak-anak dewasa juga membutuhkan dukungan lebih panjang akibat tantangan ekonomi dan biaya hidup yang meningkat.
Kondisi tersebut membuat tekanan yang dihadapi generasi sandwich menjadi semakin kompleks.
Ketika Indonesia memasuki fase aging population, tantangan serupa berpotensi semakin terasa. Bertambahnya jumlah lansia berarti kebutuhan dukungan keluarga juga meningkat.
Pada saat yang sama, kelompok usia produktif tetap harus memenuhi kebutuhan generasi yang lebih muda.
SUPAS 2025 menunjukkan, struktur demografi Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua.
Dengan proporsi lansia yang telah mencapai 11,97 persen, isu perawatan lansia dan keberadaan generasi sandwich diperkirakan akan menjadi bagian yang semakin penting dalam dinamika sosial dan ekonomi keluarga Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indonesia Masuk Aging Population, Jepang Sudah Lebih Dulu Mengalami
Jepang sudah lama menjadi contoh negara dengan populasi menua tercepat di dunia. [1,081] url asal
#tenaga-kerja #pertumbuhan-ekonomi #angka-kelahiran #indepth #aging-population #populasi-menua #demografi-indonesia
(Kompas.com - Money) 26/05/26 15:40
v/232634/
JAKARTA, KOMPAS.com - Jepang sudah lama menjadi contoh negara dengan populasi menua tercepat di dunia.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena aging population di negara tersebut tidak lagi hanya dibahas sebagai persoalan demografi, melainkan mulai dipandang sebagai faktor yang membentuk ulang arah ekonomi, pasar tenaga kerja, hingga pola konsumsi masyarakat.
Di tengah penurunan angka kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup, Jepang kini menghadapi situasi ketika jumlah lansia terus bertambah sementara populasi usia produktif menyusut.
Image credit: Ryoji Iwata/Unsplash Ilustrasi populasi duniaMenurut World Economic Forum (WEF), kondisi itu ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi, beban fiskal negara, hingga cara perusahaan menjalankan bisnis.
Fenomena serupa mulai menjadi perhatian di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia resmi memasuki fase ageing population dengan persentase penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen.
BPS menyebut rasio ketergantungan juga meningkat menjadi 45,05 persen pada 2025.
Kondisi itu menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia. Selama ini Indonesia dikenal menikmati bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif.
Namun, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa perubahan struktur usia penduduk dapat membawa dampak luas terhadap ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika populasi menua menjadi tantangan ekonomi
Jepang menjadi negara dengan populasi tertua di dunia. WEF mencatat lebih dari satu dari 10 penduduk Jepang kini berusia di atas 80 tahun.
UNSPLASH/JEZAEL MELGOZA Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.Negara tersebut juga menghadapi angka kelahiran yang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Dampaknya terlihat langsung pada pasar tenaga kerja. Jumlah penduduk usia produktif terus berkurang sehingga perusahaan menghadapi kekurangan pekerja.
Survei Reuters pada 2025 menunjukkan dua pertiga perusahaan Jepang mengaku mengalami dampak serius akibat kekurangan tenaga kerja karena populasi yang menyusut dan menua.
Kondisi itu ikut menekan biaya operasional perusahaan. Banyak bisnis harus menaikkan gaji, memperpanjang usia pensiun, hingga meningkatkan perekrutan pekerja senior untuk mempertahankan operasional usaha.
Reuters juga mencatat kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja di Jepang meningkat 32 persen pada 2024.
Dalam jangka panjang, populasi yang menua juga membebani keuangan negara.
Nomura menyebut Jepang menghadapi tekanan besar akibat rendahnya angka kelahiran, meningkatnya belanja jaminan sosial, serta rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang sudah melampaui 200 persen.
Tekanan fiskal muncul karena semakin sedikit penduduk usia kerja yang membayar pajak, sementara jumlah lansia yang membutuhkan layanan kesehatan dan pensiun terus bertambah.
Studi Nomura Foundation bahkan menyebut populasi menua dapat memengaruhi keberlanjutan anggaran dan sistem jaminan sosial Jepang.
WEF mencatat rasio penduduk usia kerja 20-64 tahun terhadap kelompok usia 65 tahun ke atas di Jepang turun drastis dari 5,1 banding 1 pada 1990 menjadi sekitar 1,8 banding 1 pada 2025.
Artinya, beban ekonomi yang harus ditanggung kelompok usia produktif semakin besar.
Getty Images Ilustrasi lansiaLansia menjadi penyangga ekonomi
Meski kerap dipandang sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi, populasi menua di Jepang juga memunculkan dinamika baru. Nikkei Asia menyebut kelompok lansia justru menjadi “silver shock absorber” atau penyangga ekonomi Jepang.
Istilah itu merujuk pada peran masyarakat lanjut usia dalam menjaga stabilitas konsumsi domestik.
Ketika kelompok usia muda cenderung berhati-hati membelanjakan uang karena tekanan ekonomi dan ketidakpastian kerja, lansia Jepang tetap melakukan konsumsi menggunakan tabungan yang dikumpulkan selama masa produktif.
Fenomena itu membuat belanja rumah tangga Jepang tidak jatuh terlalu dalam meski ekonomi mengalami perlambatan. Lansia menjadi kelompok konsumen besar yang menopang berbagai sektor, mulai dari kesehatan, makanan, layanan rumah tangga, hingga rekreasi.
WEF dalam artikel mengenai longevity economy menyebut populasi lansia Jepang mendorong pertumbuhan industri baru berbasis kebutuhan warga senior. Jepang kini memiliki sekitar 36,25 juta penduduk berusia di atas 65 tahun.
Pertumbuhan populasi lansia memicu peningkatan permintaan layanan kesehatan, perawatan jangka panjang, hingga teknologi pendukung kehidupan lansia seperti robot perawat dan platform berbasis kecerdasan buatan (AI).
WEF menyebut longevity economy di Jepang tidak lagi dipandang sekadar biaya sosial, melainkan juga sumber inovasi dan investasi baru. Bahkan, sejumlah industri mulai menyesuaikan produk dan layanan untuk konsumen senior yang jumlahnya terus meningkat.
Mengubah wajah pasar kerja
freepik Ilustrasi populasi manusia.Perubahan demografi juga memaksa Jepang menata ulang sistem ketenagakerjaan. Banyak perusahaan kini mempertahankan pekerja berusia lanjut lebih lama dibanding sebelumnya.
Dorongan itu muncul karena perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja baru di tengah populasi usia muda yang terus menyusut.
Pemerintah Jepang juga mulai mendorong partisipasi lansia di pasar kerja agar tekanan terhadap sistem pensiun dan fiskal dapat dikurangi.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam laporan yang dikutip Reuters menyebut populasi menua tidak selalu menjadi beban apabila negara mampu menciptakan sistem kerja yang mendukung lansia tetap produktif.
IMF menilai pekerja lanjut usia saat ini cenderung lebih sehat dibanding generasi sebelumnya sehingga memiliki peluang bekerja lebih lama.
Di Jepang, kondisi tersebut terlihat dari semakin banyaknya pekerja senior di toko ritel, layanan publik, transportasi, hingga sektor jasa. Lansia tidak lagi hanya dipandang sebagai kelompok penerima bantuan sosial, tetapi juga bagian dari tenaga kerja aktif.
Namun, perubahan itu tetap menghadirkan tantangan besar. OECD mencatat populasi menua tetap berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi apabila produktivitas tidak meningkat dan reformasi pasar tenaga kerja berjalan lambat.
Indonesia mulai menghadapi tantangan serupa
Indonesia memang masih memiliki dominasi penduduk usia produktif. Namun, hasil SUPAS 2025 menunjukkan arah perubahan demografi mulai bergerak menuju populasi menua.
BPS mencatat persentase penduduk lansia Indonesia mencapai 11,97 persen pada 2025, melewati ambang batas aging population sebesar 10 persen.
Dalam lima tahun terakhir, laju pertumbuhan penduduk Indonesia juga melambat menjadi 1,08 persen per tahun.
PIXABAY/MUFID MAJNUN Ilustrasi penduduk Indonesia, populasi Indonesia.BPS juga menyebut angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) Indonesia kini berada di level 2,13 atau mendekati replacement level. Kondisi itu menandakan jumlah kelahiran semakin mendekati tingkat yang hanya cukup untuk menggantikan populasi sebelumnya.
Pengalaman Jepang menunjukkan perubahan struktur penduduk tidak hanya memengaruhi ekonomi makro, tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kebutuhan layanan kesehatan meningkat, biaya perlindungan sosial membesar, dan pola konsumsi berubah mengikuti dominasi kelompok usia lanjut.
Di sisi lain, muncul pula peluang ekonomi baru. Aging population dapat memunculkan “silver economy” yang mencakup sektor kesehatan, layanan keuangan, perumahan ramah lansia, hingga wisata dan gaya hidup untuk kelompok usia senior.
Provinsi dengan populasi lansia tinggi diperkirakan akan lebih dulu menghadapi perubahan tersebut. BPS mencatat Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan persentase lansia tertinggi mencapai 17,83 persen.
Di Jepang, perubahan demografi terjadi perlahan selama beberapa dekade hingga akhirnya membentuk ulang struktur ekonomi nasional.
Kini, ketika Indonesia mulai memasuki fase serupa, pengalaman Jepang menjadi gambaran mengenai tantangan sekaligus perubahan yang mungkin muncul dalam beberapa tahun mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saat Penduduk Indonesia Menua, Apa yang Terjadi pada Ekonomi?
Fase aging population ketika proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas telah mencapai minimal 10 persen. [1,368] url asal
#lansia #pertumbuhan-ekonomi #konsumsi-rumah-tangga #indepth #aging-population #demografi-indonesia
(Kompas.com - Money) 26/05/26 13:13
v/232438/
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, suatu negara dikategorikan memasuki fase aging population ketika proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas telah mencapai minimal 10 persen.
Getty Images Ilustrasi lansia"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk atau ageing population," ujar Amalia dalam rilis hasil SUPAS 2025, awal Mei 2026.
Fenomena ini menandai perubahan struktur demografi Indonesia.
Jumlah penduduk usia muda mulai menyusut, sementara populasi lansia terus meningkat. Pada saat yang sama, angka kelahiran juga terus menurun mendekati replacement level.
SUPAS 2025 mencatat total fertility rate (TFR) Indonesia berada di level 2,13 atau semakin mendekati angka pengganti populasi sebesar 2,1 anak per perempuan.
Di sisi lain, kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun masih mendominasi dengan porsi 68,94 persen dari total populasi.
Meski Indonesia masih menikmati bonus demografi, tren penuaan penduduk mulai terlihat kuat, terutama di wilayah Jawa dan Bali.
Sebanyak 16 provinsi telah memasuki fase ageing population, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi dengan persentase lansia tertinggi sebesar 17,83 persen.
Perubahan komposisi penduduk ini bukan sekadar persoalan demografi.
Dok. UNSPLASH/Mufid Majnun Ilustrasi penduduk Jakarta.Sejumlah penelitian menunjukkan, meningkatnya jumlah lansia dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, pola konsumsi rumah tangga, hingga beban fiskal negara.
Produktivitas dan pertumbuhan ekonomi melambat
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2025 berjudul The Rise of the Silver Economy: Global Implications of Population Aging menyebutkan penuaan populasi menjadi salah satu perubahan demografi terbesar yang dihadapi dunia.
IMF menilai penurunan angka kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup akan mengubah struktur penduduk global secara signifikan.
"Penuaan penduduk sering dikaitkan dengan prospek suram bagi pertumbuhan ekonomi dan keuangan publik," tulis IMF dalam laporan tersebut.
Menurut IMF, peningkatan populasi lansia dapat menekan pasokan tenaga kerja, memperlambat pertumbuhan produktivitas, dan meningkatkan tekanan terhadap sistem pensiun serta pembiayaan kesehatan.
IMF memproyeksikan pertumbuhan output global akan melambat signifikan sepanjang abad ke-21 akibat perubahan struktur demografi.
Rata-rata pertumbuhan ekonomi global pada 2025-2050 diperkirakan turun 1,1 poin persentase dibandingkan rata-rata periode 2016-2018.
Laporan IMF juga menyebutkan tren demografi diperkirakan menyumbang hampir tiga perempat perlambatan pertumbuhan ekonomi global tersebut.
Salah satu dampak yang paling sering dibahas dalam berbagai penelitian mengenai aging population adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Penelitian berjudul The Effect of Population Aging on Economic Growth yang diterbitkan Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) menemukan, peningkatan populasi lansia berdampak terhadap penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita.
Freepik/jcomp Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.Dalam penelitian tersebut disebutkan, setiap kenaikan 10 persen populasi berusia 60 tahun ke atas dapat menurunkan PDB per kapita sebesar 5,7 persen.
Peneliti Nicholas Maestas dan timnya menyebutkan perlambatan itu terutama dipengaruhi penurunan pasokan tenaga kerja.
"Penurunan pertumbuhan ekonomi akibat penuaan penduduk terutama disebabkan oleh penurunan pertumbuhan pasokan tenaga kerja," jelas Maestas dan timnya.
Selain jumlah tenaga kerja yang berkurang, penelitian itu juga menemukan adanya perlambatan produktivitas tenaga kerja.
Perlambatan produktivitas bahkan disebut memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan penurunan jumlah pekerja.
Temuan serupa juga muncul dalam riset National Bureau of Economic Research (NBER). Penelitian itu memperkirakan peningkatan populasi lansia menyebabkan penurunan produktivitas dan pertumbuhan upah.
Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi negara yang pertumbuhan ekonominya masih sangat bergantung pada tenaga kerja produktif.
Bagi Indonesia, perubahan struktur usia penduduk berpotensi memengaruhi pasar tenaga kerja dalam jangka panjang.
Ketika jumlah pekerja usia muda semakin sedikit, perusahaan dapat menghadapi keterbatasan tenaga kerja produktif.
Di sisi lain, rasio ketergantungan juga mulai meningkat. SUPAS 2025 mencatat rasio ketergantungan Indonesia berada di angka 45,05.
Dok. Freepik/pressfoto Ilustrasi pekerja.Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk nonproduktif.
Beban perlindungan sosial meningkat
Selain berdampak terhadap pasar tenaga kerja, aging population juga meningkatkan kebutuhan belanja negara untuk perlindungan sosial dan kesehatan.
Penelitian bertajuk Impact of an Ageing Population on the Economy menyebutkan kenaikan age dependency ratio atau rasio ketergantungan lansia berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita.
Penelitian tersebut menemukan peningkatan rasio ketergantungan usia lanjut dapat menurunkan pendapatan per kapita sekitar 4,1 persen.
Riset itu juga menyoroti bagaimana ageing population meningkatkan tekanan terhadap sistem perlindungan sosial, terutama dana pensiun dan layanan kesehatan.
Semakin besar populasi lansia, semakin besar pula kebutuhan pembiayaan kesehatan dan jaminan sosial. Pada saat yang sama, basis pembayar pajak produktif dapat menyusut.
Dalam sejumlah negara maju, tekanan fiskal akibat ageing population sudah mulai terlihat melalui peningkatan anggaran pensiun dan kesehatan.
Fenomena serupa berpotensi muncul di Indonesia seiring meningkatnya jumlah lansia dari tahun ke tahun.
BPS dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 juga menyoroti pentingnya sistem perlindungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia.
"Penuaan penduduk membawa implikasi penting terhadap penyediaan layanan sosial, kesehatan, dan sistem perlindungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia," tulis BPS.
SUPAS 2025 juga menunjukkan sebagian besar lansia Indonesia masih bergantung pada keluarga sebagai sumber utama penghidupan.
Data BPS menunjukkan 48,56 persen lansia memperoleh sumber pendapatan atau barang dari keluarga, baik pasangan, anak, maupun kerabat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa beban ekonomi akibat penuaan penduduk tidak hanya ditanggung negara, tetapi juga keluarga.
Pola konsumsi masyarakat ikut berubah
Peningkatan jumlah penduduk lansia juga dapat mengubah pola konsumsi masyarakat.
Dalam berbagai studi mengenai aging population, kelompok lansia cenderung memiliki pola pengeluaran berbeda dibandingkan kelompok usia muda.
Pengeluaran rumah tangga biasanya bergeser ke kebutuhan kesehatan, perawatan, obat-obatan, dan layanan sosial.
Sebaliknya, konsumsi untuk sektor tertentu seperti properti, pendidikan, hingga barang konsumsi tahan lama berpotensi melambat seiring menurunnya populasi usia muda.
Perubahan pola konsumsi ini pada akhirnya dapat memengaruhi struktur industri dan arah pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah negara mulai melihat munculnya silver economy atau ekonomi berbasis kebutuhan lansia, mulai dari layanan kesehatan, asuransi, perawatan jangka panjang, hingga produk dan layanan ramah lansia.
Namun, perkembangan ekonomi berbasis lansia juga membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sistem perlindungan sosial yang memadai.
Risiko muncul sebelum negara kaya
UNSPLASH/NICO BHLR Ilustrasi ramai penduduk.Tantangan aging population menjadi perhatian karena Indonesia menghadapi fase penuaan penduduk saat tingkat pendapatan per kapitanya masih berada di kelompok negara berkembang.
Fenomena ini sering disebut sebagai aging before becoming rich, yakni kondisi ketika populasi menua lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi negara.
Dalam sejumlah studi internasional mengenai population aging, kondisi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah karena kebutuhan belanja sosial meningkat ketika kapasitas penerimaan negara belum terlalu kuat.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga berpotensi tertahan apabila produktivitas tidak meningkat cukup cepat untuk menggantikan penurunan jumlah tenaga kerja.
Penelitian Stanford Institute for Economic Policy Research menyebutkan dampak penuaan penduduk terhadap ekonomi tidak hanya berasal dari berkurangnya jumlah pekerja, tetapi juga perlambatan produktivitas.
Penelitian tersebut menemukan sekitar dua pertiga dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi berasal dari melambatnya produktivitas tenaga kerja.
Artinya, tantangan ageing population bukan hanya soal jumlah penduduk produktif, tetapi juga kemampuan ekonomi menghasilkan output yang lebih tinggi.
Indonesia masih berada dalam masa transisi
Meski telah memasuki fase aging population, Indonesia saat ini masih berada dalam periode transisi demografi.
Kelompok usia produktif masih mendominasi populasi nasional dan bonus demografi masih berlangsung. Namun, tren penuaan penduduk diperkirakan terus berlanjut dalam beberapa dekade ke depan.
DOK. KAI Ilustrasi masyarakat di stasiun kereta api.BPS mencatat proporsi lansia Indonesia meningkat konsisten dalam 15 tahun terakhir. Pada 2010, persentase lansia berada di level 7,59 persen.
Angka itu naik menjadi 8,47 persen pada 2015, kemudian mencapai 9,93 persen pada 2020, dan menembus 11,97 persen pada 2025.
Peningkatan angka harapan hidup dan penurunan tingkat kelahiran menjadi faktor utama perubahan struktur penduduk tersebut.
Dalam berbagai kajian ekonomi, ageing population sebenarnya tidak selalu dipandang sepenuhnya negatif.
Lansia yang sehat dan tetap produktif masih dapat berkontribusi terhadap ekonomi.
Namun, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa tanpa peningkatan produktivitas dan kesiapan sistem sosial, perubahan struktur penduduk dapat menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Bagi Indonesia, fase aging population menjadi penanda bahwa persoalan demografi kini semakin berkaitan erat dengan isu ketenagakerjaan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56