Bisnis.com, JAKARTA – Industri perbankan memperkirakan kehadiran artificial intelligence (AI) mampu menekan biaya operasional bank cukup signifikan di masa depan.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli menyampaikan meski saat ini masih terlalu dini untuk mengukur penggunaan AI dalam menekan biaya operasional, bank meyakini bahwa teknologi ini mampu menekan biaya operasional bank cukup signifikan di masa yang akan datang.
“Bank memandang penggunaan AI merupakan suatu keniscayaan dalam kegiatan operasional bank,” kata Ganda kepada Bisnis, Senin (24/11/2025).
Namun, Ganda menyebut bahwa bank perlu memitigasi risiko yang timbul dari penggunaan AI agar betul-betul optimal dalam meningkatkan efisiensi operasional bank dan mengerek pendapatan bank dalam jangka panjang.
“Salah satu contohnya adalah memastikan penggunaan AI yang terkontrol, di mana AI bisa digunakan sebagai sumber referensi namun tetap memerlukan validasi dan juga verifikasi,” ujarnya.
Senada, PT Bank BCA Syariah memandang teknologi AI sebagai bagian dari perkembangan teknologi yang pemanfaatannya dapat mendukung optimalisasi proses bisnis serta layanan yang diiringi efisiensi biaya.
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan perseroan saat ini telah memanfaatkan AI dan proses otomasi robotic untuk percepatan proses pengajuan pembiayaan yang tentunya akan meningkatkan kenyamanan bagi nasabah.
“Pemanfaatan AI akan terus kami kembangkan di dalam proses-proses bisnis lainnya untuk mendukung efisiensi, menunjang kecepatan, dan akurasi layanan bagi nasabah,” ungkap Pranata kepada Bisnis.
Komitmen ini tercermin pada biaya IT yang mencapai 40% dari total biaya operasional bank. Pranata menyebut setiap teknologi yang diadopsi akan diimbangi dengan proses mitigasi, pengujian berkala dan tata kelola yang maksimal.
Dengan demikian, lanjut dia, manfaat AI yang dirasakan dapat dioptimalkan dengan tidak mengabaikan aspek risiko dan kepatuhan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Kuartal IV/2025 mengungkap bahwa sebagian bank telah memanfaatkan AI dalam beberapa kegiatan proses bisnis. Survei dilakukan pada Oktober 2025 dengan melibatkan 102 bank dengan nilai aset mencapai sebesar 99,25% dari total aset seluruh bank umum pada September 2025.
Dalam laporan itu, OJK mengungkap sejumlah dampak positif penggunaan AI terhadap industri perbankan. Di antaranya, sebagai alat bantu yang efektif dalam pengumpulan, perangkuman, dan analisa informasi dengan lebih komprehensif dan cepat.
“Terutama pada aktivitas bank yang bersifat rutin namun membutuhkan sumber informasi yang banyak dan beragam sehingga dapat mengurangi beban kerja pegawai,” bunyi laporan SBPO, dikutip Senin (24/11/2025).
Dampak positif lainnya bagi industri ini yakni meminimalisir kesalahan manusia pada aktivitas berulang, mengurangi biaya operasional, serta sebagai early warning system dan fraud detection lantaran dapat mendeteksi fraud dan pola transaksi mencurigakan secara real time.
Kendati begitu, OJK dalam survei ini juga mengingatkan risiko yang muncul dari penggunaan AI terhadap industri perbankan. Di antaranya otomatisasi melalui AI dapat menggeser fungsi manusia, risiko keamanan siber dan ketergantungan teknologi, masalah etika dan privasi data, hingga bias algoritma dalam pengambilan keputusan.
Melihat dampak positif dan negatif dari penggunaan AI terhadap industri perbankan, OJK menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi ini harus selalu berada di bawah kendali kecerdasan manusia.
“AI dapat menggantikan prosedur, tetapi tidak dapat menggantikan nilai-nilai etika, kepercayaan, dan integritas yang telah menjadi nilai inti perbankan,” pungkasnya.