Bisnis.com, JAKARTA – Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah dugaan rentetan teror menyasar sejumlah publik figur atau influencer, aktivis lingkungan, hingga figur publik melalui pola yang berulang, sasarannya serupa mereka yang vokal mengkritik penanganan bencana alam di Sumatra.
Dari ancaman di media sosial, pengiriman bangkai hewan, vandalisme kendaraan, hingga pelemparan bom molotov, rangkaian intimidasi ini memantik kekhawatiran serius terhadap kebebasan berekspresi di ruang publik.
Nama-nama korban teror pun beragam, lintas latar belakang. Sherly Annavita, influencer sekaligus aktivis, menjadi salah satu yang paling terbuka mengungkap pengalaman intimidasi yang dialaminya. Setelah menyuarakan kritik terhadap respons pemerintah dalam menangani bencana di Sumatra, Sherly menerima serangkaian ancaman melalui media sosial dari akun anonim. Tak berhenti di dunia maya, mobil pribadinya dicoret-coret, dilempari telur busuk, disertai pesan intimidatif yang mendesaknya berhenti bersuara.
Teror dengan eskalasi lebih berbahaya dialami DJ Donny. Influencer tersebut menerima paket berisi bangkai ayam dan surat ancaman. Dalam insiden terpisah, rumah atau kendaraannya menjadi sasaran pelemparan bom molotov. Serangan fisik ini menggeser teror dari sekadar intimidasi psikologis menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa.
“Untung saja Allah masih baik sama saya. Apinya mati duluan. Jadi pecahan kaca dan pecahan bom molotovnya masih ada di rumah saya. Masih ada di rumah saya, belum saya apa-apakan di TKP-nya,” kata Donny kepada jurnalis, Rabu (31/12/2025).
Donny kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya untuk ditindaklanjuti karena dinilai mengancam keselamatan keluarganya. Berdasarkan dokumen yang diterima Bisnis, laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/9545/XII/2025/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 31 Desember 2025.
Sementara itu, Iqbal Damanik, aktivis Greenpeace Indonesia, juga menjadi target. Ia menerima paket berisi bangkai ayam setelah Greenpeace aktif menyuarakan kritik terkait tata kelola lingkungan dan mitigasi bencana di wilayah Sumatra.
Korban lain turut melaporkan pola serupa. Virdan Aurellio menerima pesan ancaman anonim, sedangkan aktor Yama Carlos mengalami teror paket cash on delivery (COD) berulang yang dikirim ke alamat pribadinya. Meski modusnya berbeda, benang merahnya sama: tekanan agar para figur publik ini menghentikan kritik mereka.
Jika disusun, dugaan modus operandi teror ini menunjukkan pola yang nyaris identik. Dimulai dari pesan ancaman melalui media sosial biasanya dari akun tanpa identitas jelas kemudian berlanjut ke intimidasi fisik pengiriman bangkai ayam, telur busuk, vandalisme kendaraan, hingga serangan bom molotov. Teror dilakukan bukan hanya untuk menakuti korban, tetapi juga mengirim pesan simbolik siapa pun yang terlalu lantang mengkritik, bisa bernasib sama.
Ancaman bagi Demokrasi
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai rentetan teror yang menimpa sejumlah aktivis dan influencer di penghujung 2025 bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan serangan serius terhadap kemerdekaan berpendapat warga negara yang dijamin konstitusi.
Usman menyebut aksi teror yang menimpa aktivis Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, DJ Donny, Virdian Aurellio, dan Sherly Annavita merupakan upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan di ruang publik.
“Teror bangkai ayam, pelemparan telur busuk, vandalisme, hingga serangan bom molotov dan serangan digital adalah upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan,” kata Usman Hamid dalam pernyataan tertulisnya, dikutip, Senin (5/1/2026).
Menurut Amnesty, pola serangan tersebut memiliki benang merah yang jelas, yakni upaya pembungkaman kritik publik terhadap buruknya penanganan bencana ekologis di Sumatra yang dinilai berkaitan dengan kebijakan pro-deforestasi. Kritik yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan dorongan perbaikan kebijakan justru dibalas dengan intimidasi fisik dan digital.
Amnesty menyoroti pesan-pesan ancaman yang diterima para korban, termasuk pesan bernada intimidatif seperti “Mulutmu Harimaumu” yang ditujukan kepada Iqbal Damanik. Selain itu, teror yang dialami DJ Donny, Sherly Annavita, dan Virdian Aurellio dinilai menunjukkan lemahnya efek jera hukum terhadap pelaku intimidasi.
“Ini menegaskan negara belum memiliki kewibawaan hukum sehingga orang-orang tertentu berani melakukan teror digital dan fisik tanpa rasa takut pada hukum,” ujar Usman.
Amnesty memperingatkan bahwa jika rangkaian teror tersebut dibiarkan berlalu tanpa pengusutan yang tuntas dan transparan, negara berisiko dianggap merestui praktik anti-kritik. Kondisi itu, menurut Amnesty, akan semakin memperkuat kekhawatiran atas memburuknya situasi hak asasi manusia di Indonesia.
“Jika teror berlalu tanpa pengusutan, negara secara tidak langsung memvalidasi kekhawatiran Amnesty bahwa 2025 adalah tahun malapetaka nasional HAM,” tegas Usman.