Bisnis.com, JAKARTA — Harga telur dan daging ayam berpotensi terkerek jelang Ramadan seiring dengan makin mahalnya jagung ternak di pasar. Konsumen sebagai rantai pasok paling ujung berisiko merasakan efek domino dari kenaikan harga jagung ternak.
Berdasarkan pemantauan pada awal Februari, Kantor Staf Presiden (KSP) mencatat harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.935 per kilogram, jauh di atas harga acuan pembelian (HAP) Rp5.800 per kilogram dan berstatus tidak aman. Harga tersebut sekitar 19,57% lebih tinggi dibandingkan HAP.
Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP Popy Rufaidah mengatakan lonjakan harga jagung berisiko menekan biaya produksi unggas.
“Jika kondisi ini bertahan, tekanan biaya produksi dapat merembet ke harga telur dan daging ayam. Sehingga penguatan pasokan jagung pakan perlu dipercepat,” kata Popy.
KSP juga mencatat harga telur ayam ras masih berada di atas HAP Rp30.000 per kilogram. Per 6 Februari 2026, harga telur mencapai Rp33.700 per kilogram dan berstatus tidak aman, meski telah turun dibandingkan periode sebelumnya.
“Tentunya ini perlu mendapatkan perhatian karena telur adalah komoditas konsumsi harian. Koreksi harga perlu dipercepat agar tidak mengangkat inflasi pangan,” ucapnya.
Di sisi lain, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai lonjakan harga jagung langsung memukul struktur biaya produksi peternakan unggas. Dia menjelaskan, pakan menyumbang sekitar 60 persen dari total biaya produksi, dengan jagung sebagai komponen utama yang porsinya hampir 50 persen.
“Jagung merupakan komponen vital atau campurannya hampir 50%-nya. Sementara harga jagung melonjak akibat kebijakan penghentian impor jagung yang memicu kelangkaan stok bagi peternak mandiri dan mengutamakan penggunaan jagung dalam negeri,” kata Eliza kepada Bisnis, dikutip Senin (16/2/2026).
Menurut dia, peternak kini bergantung pada jagung lokal yang harganya lebih mahal karena ongkos produksi domestik relatif tinggi dibandingkan negara produsen utama seperti Amerika Serikat dan Brasil. Jika dibandingkan dengan AS, biaya produksi jagung di Indonesia disebut sekitar 2,5 kali lebih tinggi.
Kenaikan harga jagung juga tercermin dari membaiknya nilai tukar petani pangan (NTPP). Badan Pusat Statistik mencatat NTPP berada di level 113,43 pada Januari 2026.
Namun, Core menilai struktur pasar pakan yang oligopolistik memperburuk situasi. Penyerapan jagung lokal masih didominasi pabrik pakan berskala besar, sehingga peternak mandiri kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.
“Peternak mandiri skala kecil kesulitan mendapatkan bahan baku murah dan harus membeli melalui rantai distribusi yang panjang dengan harga mahal. Ini nggak efisien bagi peternak mandiri,” ujarnya.
Eliza memperingatkan, jika pelaku usaha di setiap mata rantai distribusi menyesuaikan harga untuk menjaga margin, maka kenaikan harga berpotensi diteruskan hingga ke konsumen. Risiko itu dinilai makin besar menjelang Ramadan dan Lebaran, ketika permintaan meningkat.
“Apalagi demand ketika puasa dan Lebaran ini akan lebih tinggi dari biasanya, ditambah program MBG [makan bergizi gratis], maka kita harus waspadai kenaikan harga,” sambungnya.
Core menyarankan langkah jangka pendek berupa penguatan operasi pasar dan pemangkasan rantai distribusi, khususnya untuk segmen kelas menengah bawah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Solusi instannya adalah operasi pasar untuk segmen kelas menengah bawah dan UMKM. Sediakan bahan pangan murah dengan memotong rantai distribusi,” tuturnya.
Untuk meredam tekanan inflasi pangan menjelang Ramadan, KSP meminta pemerintah daerah memperkuat pengawasan di kantong-kantong harga tinggi dan menggelar pasar murah. Selain itu, Kementerian Perdagangan diminta memantau pergerakan harga secara harian guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas unggas