#30 tag 24jam
Menilik Potensi Bisnis Paylater Bank
Potensi bisnis BNPL perbankan masih besar, meski kontribusinya kecil. Pertumbuhan didorong oleh digitalisasi konsumsi, namun risiko kredit perlu diwaspadai. [917] url asal
#paylater-bank #bisnis-paylater #potensi-bnpl #bnpl-perbankan #buy-now-pay-later #bnpl-indonesia #bnpl-pertumbuhan #bnpl-transaksi #bnpl-risiko #bnpl-ekosistem #bnpl-konsumen #bnpl-digital #bnpl-pendap
(Bisnis.Com - Finansial) 06/05/26 12:40
v/212934/
Bisnis.com, JAKARTA — Produk buy now pay later (BNPL) perbankan masih memiliki ruang tumbuh yang besar, kendati belum menjadi mesin utama industri perbankan.
Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan porsi BNPL perbankan per Maret 2026 sebesar 0,33%, naik tipis dari 0,32% pada Februari 2026.
Otoritas mencatat baki debet BNPL tumbuh 24,20% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp28,3 triliun, melambat dari bulan sebelumnya 26,41% YoY. Sementara itu, jumlah rekening meningkat tipis menjadi 30,81 juta, dari posisi Februari 2026 yang sebesar 30,55 juta.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli menyampaikan, potensi bisnis BNPL sektor perbankan ke depan masih sangat terbuka.
Produk ini bahkan kemungkinan bisa menjadi produk pelengkap atau bahkan produk substitusi dari produk kartu kredit konvensional untuk transaksi bernilai kecil hingga menengah karena prosesnya yang jauh lebih praktis dan instan.
Bagi Allo Bank, BNPL sendiri merupakan salah satu dari produk pinjaman yang bank tawarkan dan memiliki kontribusi yang signifikan atas pendapatan bank saat ini. Kendati begitu, Ganda tidak mengungkapkan secara spesifik kontribusi BNPL terhadap pendapatan perseroan.
Ke depan, Allo bank akan terus mengintegrasikan layanannya dengan ekosistem bank, dengan ‘menjemput’ nasabah di tempat mereka berbelanja guna memperluas penetrasi BNPL.
Pembayaran via QRIS di merchant offline juga menjadi cara memperluas kegunaan paylater dari sekadar belanja online menjadi alat bayar harian.
“Bank juga akan terus mengintegrasikan fitur paylater bank langsung di halaman pembayaran (checkout) e-commerce,” ungkap Ganda kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, kinerja paylater PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga kuartal I/2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Hingga Maret 2026, pengguna layanan paylater BCA mencapai 192.000 nasabah, tumbuh 9% YoY. Sementara itu, outstanding Paylater BCA mencapai Rp342 miliar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan, pertumbuhan transaksi paylater utamanya untuk kebutuhan transaksi ritel serta mobilitas dan konsumsi nasabah, termasuk penggunaan pemesanan tiket pesawat dan hotel. Hal ini juga didukung momen Ramadan dan Lebaran 2026.
Adapun paylater BCA berkontribusi bagi pendapatan selain bunga BCA. Secara keseluruhan, pendapatan selain bunga BCA tumbuh 14,2% YoY pada kuartal I/2026, ditopang pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 14,2% YoY.
Perseroan memastikan akan senantiasa membuka peluang untuk berkolaborasi dengan mitra bisnis dan menghadirkan program-program yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi nasabah.
“Kami juga senantiasa menghadirkan berbagai penawaran dan promo menarik sesuai dengan kebutuhan nasabah di berbagai segmen,” kata Hera kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengatakan menilai, potensi pertumbuhan BNPL perbankan cukup kuat. Pasalnya, perilaku konsumsi masyarakat makin digital, transaksi harian makin banyak masuk ke kanal e-commerce dan aplikasi, serta bank memiliki keunggulan dari sisi basis nasabah, data transaksi, dana murah, dan akses ke sistem penilaian kredit.
Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan bahwa kredit konsumsi masih menjadi salah satu sumber pertumbuhan kredit baru pada kuartal I/2026, terutama dari kredit multiguna, kredit tanpa agunan, dan kredit kendaraan bermotor. Itu artinya, kata dia, permintaan terhadap pembiayaan konsumsi tetap ada, termasuk produk bernilai kecil yang prosesnya cepat dan mudah.
Kendati begitu, Josua mengingatkan bank untuk berhati-hati, mengingat BNPL sangat bergantung pada kualitas penilaian risiko.
“Semakin mudah proses persetujuan, semakin besar risiko nasabah mengambil kredit berulang di banyak tempat tanpa kemampuan bayar yang memadai,” kata Josua kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Dibandingkan perusahaan pembiayaan dan pinjaman daring, Josua menilai bahwa bank sebenarnya memiliki peluang yang lebih sehat untuk mengembangkan BNPL.
Masih merujuk data OJK, BNPL perusahaan pembiayaan per Maret 2026 tumbuh jauh lebih cepat yaitu 55,85% YoY menjadi Rp12,81 triliun, dengan NPF gross 2,51%, menunjukkan pasar BNPL secara umum masih berkembang, tetapi juga semakin kompetitif.
Dalam posisi ini, Josua menyebut bahwa bank bisa masuk dengan model yang lebih terukur karena memiliki hubungan jangka panjang dengan nasabah, data rekening, histori transaksi, dan kemampuan mengintegrasikan BNPL dengan kartu debit, kartu kredit, mobile banking, payroll, dan merchant.
“Jadi ruang tumbuhnya ada, tetapi bank sebaiknya tidak sekadar mengejar volume, melainkan membangun BNPL sebagai bagian dari ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah,” ujarnya.
Di sisi lain, Josua melihat bahwa dalam jangka pendek, BNPL belum bisa menjadi kontributor signifikan bagi pendapatan bank dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan baki debet Rp28,3 triliun dibanding total kredit perbankan Rp8.659 triliun, kontribusinya masih sangat kecil, bahkan belum akan menjadi penggerak utama pendapatan bunga industri jika tumbuh hingga tiga kali lipat.
Namun bagi bank tertentu, terutama bank dengan basis digital besar, nasabah ritel aktif, dan kerja sama merchant yang luas, BNPL bisa menjadi sumber pendapatan yang menarik melalui pendapatan bunga, biaya layanan, peningkatan transaksi, dan peluang menjual produk lain.
Dengan kata lain, lanjut dia, BNPL belum menjadi mesin utama industri perbankan, tetapi bisa menjadi mesin pertumbuhan ritel bagi bank yang mampu mengelola data dan risiko secara disiplin.
Tantangan utamanya ada pada kualitas kredit dan perlindungan konsumen. Secara umum, kualitas kredit perbankan masih terjaga dengan NPL gross 2,14%, NPL net 0,83%, Loan at Risk 8,94%, dan CAR 25,09% pada Maret 2026, memberi ruang bagi bank untuk berekspansi.
Meski demikian, BNPL memiliki karakter risiko yang berbeda dari kredit biasa karena tenor pendek, nilai kecil, jumlah transaksi banyak, dan sering digunakan oleh kelompok muda atau nasabah yang belum punya rekam kredit panjang.
Apabila tidak dikendalikan BNPL dapat mendorong konsumsi berlebihan, meningkatkan gagal bayar kecil-kecil dalam jumlah besar, dan menurunkan kualitas portofolio ritel.
Karena itu, pertumbuhan BNPL harus dibatasi oleh kemampuan bayar, histori transaksi, rasio utang nasabah, dan keterhubungan data lintas lembaga melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Bayang-Bayang Risiko di Balik Pertumbuhan Pesat Paylater Multifinance
Pertumbuhan paylater multifinance melesat di 2026, OJK dan APPI ingatkan risiko gagal bayar. Edukasi dan pengawasan ketat diperlukan untuk stabilitas. [1,005] url asal
#bnpl #bnpl-multifinance #risiko-bnpl #pembiayaan-bnpl #ojk-bnpl #bnpl-indonesia #pertumbuhan-bnpl #gagal-bayar-bnpl #bnpl-digital #bnpl-konsumen #bnpl-regulasi #bnpl-risiko #bnpl-solusi #bnpl-tren #bn
(Bisnis.Com - Finansial) 11/04/26 04:20
v/188851/
Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan pembiayaan layanan beli sekarang bayar nanti aliasbuy now pay later(BNPL) di industri pembiayaan atau multifinance kian melesat pada awal 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL per Februari mencapai Rp12,59 triliun atau tumbuh 53,53% (year on year/YoY), dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross sebesar 2,79%. Sebelumnya, pada Januari 2026, pertumbuhan BNPL bahkan tercatat lebih tinggi yakni 71,13% YoY.
Melihat tren itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan penyaluran pembiayaan BNPL akan tetap tumbuh positif pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan ekosistem digital serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang fleksibel.
“Khususnya dari segmen usia produktif dan masyarakat yang belum mendapatkan akses layanan keuangan formal,” ucap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, Rabu (8/4/2026).
Sebab itu, Agusman mengingatkan agar perusahaan yang menghadirkan layanan BNPL tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, pemenuhan ketentuan yang berlaku, dan perlindungan konsumen.
“OJK terus melakukan penguatan pengaturan terhadap industri BNPL yang antara lain mencakup aspek penyelenggaraan kegiatan usaha, tata kelola, manajemen risiko dan pelindungan konsumen,” tegasnya.
Untuk memperketat pengawasan BNPL, OJK telah menerbitkan POJK 32/2025 yang memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat manajemen risiko industri BNPL. Saat ini, juga sedang menyusun ketentuan pelaksanaan bagi BNPL Perusahaan Pembiayaan yang antara lain mengatur mengenai batasan usia, penghasilan dan pembiayaan debitur.
Agusman memastikan pengawasan juga terus dilakukan, baik secaraonsitemaupunoffsite, guna memastikan seluruh penyelenggara menjalankan kegiatan usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
“Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pelindungan konsumen, meningkatkan transparansi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di tengah perkembangan layanan keuangan digital,” tuturnya.
Tumbuh Melesat, Risiko Mengintai
Di saat pembiayaan BNPL multifinance terus melesat, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengingatkan risiko utama yang perlu diwaspadai adalah terkait dengan gagal bayar.
“Jadi, ya, harus hati-hati sebelum menyetujui kredit, di dalam sistem yang dibuat untuk menyetujui, karena memang tanpa tatap muka, persetujuannya juga karena secara sistem, ya itu mesti ada sistem yang kuat mendukung dari prosesapprovalini sendiri,” kata Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno kepadaBisnis, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, pembiayaan BNPL bisa bertumbuh pesat karena basisnya masih kecil, aksesnya mudah dan aplikasi bisa mengayuhcash flow, serta kapanpun bisa diakses.
“24 jam [bisa pinjam lewat BNPL]. Coba masuk jam 2 pagi, jam 3 pagi, jam 1, jam berapa pun bisa dan tanpa tatap muka. Ya, pastinya akan tumbuh cepat,” sebutnya.
Namun, Suwandi kembali menegaskan dirinya berpesan pada pelaku BNPL untuk bisa meningkatkan edukasi dan literasi kepada masyarakat, bahwa pembiayaan, meskipun nilainya relatif kecil, tetap merupakan utang yang harus dikelola dengan bijak.
Jika tidak disadari, akumulasi dari beberapa transaksi dengan nominal kecil dapat menumpuk dan berpotensi meningkatkan beban keuangan pengguna di kemudian hari.
Selain itu, dia turut mengingatkan kepada perusahaan yang memiliki layanan BNPL untuk mematuhi semua peraturan yang ada dari regulator yakni OJK.
“Bagi yang meminjam, harapan saya juga sebelum meminjam, ya dihitung dulu kemampuan masing-masing. Saya minjamnya udah berlebihan belum nih? Oh, kalau berlebihan ya udahlah. Cicil-cicil dulu, lunas. Karena ini kan sebenarnya proses yang harus disampaikan oleh pelaku-pelaku BNPL, maupun masyarakatnya sendiri juga harus peka, tahu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Suwandi juga berharap para perusahaan yang memiliki BNPL harus memiliki keseimbangan terkait dengan pertumbuhannya, jangan hanya yang sifat pembiayaannya untuk konsumtif, tetapi juga perlu menyasar ke yang produktif.
“Jadi, proyeksinya [BNPL] saya yakin tetap masih tumbuh, tapi pesan saya adalah sebaiknya tumbuh dengan sehat,” kata pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL Finance) tersebut.
Senada, Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi menilai risiko utama yang perlu diwaspadai adalah peningkatan gagal bayar (over leveragekonsumen),fraud, dan kualitasunderwriting.
Sebab demikian, mitigasi yang bisa dilakukan adalah mencakup penguatancredit scoringberbasis data alternatif, pembatasan limit adaptif, monitoring perilaku pembayaran, serta edukasi konsumen.
“Kemudian, kolaborasi dengan regulator dan penggunaan teknologiartificial intelligence[AI] juga krusial saat ini,” ucapnya kepadaBisnis, Kamis (9/4/2026).
BNPL jadi Solusi Jangka Pendek
Menurut Heru, segmen BNPL saat ini didominasi oleh generasi muda, first-jobber danunbanked/underbanked. Hal ini karena mereka tertarik oleh fleksibilitas pembayaran, kemudahan akses, serta tidak memerlukan kartu kredit. Dengan demikian, BNPL menjadi solusi likuiditas jangka pendek.
“Sebab itu, menurut saya, BNPL masih akan tumbuh kuat, tetapi lebih moderat. Namun, agaknya fokus akan bergeser ke kualitas portofolio, profitabilitas, dan pengelolaan risiko yang lebihprudent. Regulasi juga akan semakin memperkuat stabilitas industri,” tegasnya.
Senada, PT Kredivo Finance Indonesia memandang paylater di industri multifinance berperan sebagai alat bantu perencanaan keuangan jangka pendek dan sudah menjadi preferensi masyarakat sebagai metode pembayaran sehari-hari.
SVP Marketing & Communications Kredivo, Indina Andamari mengatakan hal itu tercermin dari momentum Ramadan yang kembali mendorong peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat. Pada periode Ramadan 2026, pertumbuhan volume transaksi PayLater Kredivo sebesar 27% dan nilai transaksi tumbuh sebesar 26% (YoY).
“Pertumbuhan ini turut diperkuat oleh peningkatan pengguna baru sebesar 31%, menunjukkan semakin luasnya adopsi layanan ini sebagai solusi pengelolaan arus kas di tengah kebutuhan musiman yang meningkat,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).
Di tengah pertumbuhan tersebut, menurutnya pola penggunaan paylater menunjukkan pergeseran ke yang lebih terarah. Dominasi tenor satu bulan menjadi indikasi bahwa layanan ini semakin dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengelola kebutuhan jangka pendek secara lebih terukur, terutama menjelang momen gajian dan pencairan THR.
“Jadi, hal yang menarik dari Ramadan tahun ini bukan hanya pertumbuhan transaksinya, tetapi bagaimana masyarakat mulai mengatur pengeluaran dengan lebih strategis,” sebut Indina.
Dia meneruskan, selaras dengan tren tersebut, rata-rata nilai transaksi per pengguna yang berada di kisaran Rp800.000—1,5 juta dengan rata-rata jumlah transaksi per pengguna sebanyak 4—5 kali.
“Hal ini menunjukkan bahwa PayLater digunakan secara luas untuk memenuhi kebutuhan prioritas secara bertahap, tidak hanya untuk transaksi bernilai besar, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari yang berulang. Hal ini juga ditunjukkan dengan tumbuhnya volume transaksi kategori groceries hingga 160% dibandingkan periode Ramadan tahun 2025,” jelasnya.
Sebab demikian, Kredivo menegaskan akan terus mendorong pertumbuhan yang sehat melalui melalui ekspansi yang terukur, penguatan manajemen risiko, penerapan prinsipresponsible lendingserta edukasi keuangan.
“Tujuannya agar PayLater tidak hanya memudahkan, tetapi juga memberikan dampak yang berkelanjutan bagi pengguna dan ekosistem,” tutup Indina.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56