Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah mahalnya biaya digital dan tekanan performa pemasaran, banyak brand masih mengandalkan pola lama: mengganti kampanye setiap kali hasil tidak sesuai target. Visual diperbarui, influencer diganti, kanal ditambah. Namun pertumbuhan tidak selalu mengikuti.
Menurut Faiz Fashridjal, Co-Founder dan Chief Executive Officer sepenuhati, persoalannya bukan pada kurangnya kreativitas, melainkan pada absennya strategi relevansi yang konsisten.
“Digital mengubah perilaku manusia secara fundamental. Karena itu yang perlu berubah bukan hanya cara brand berkomunikasi, tetapi cara brand berpikir, termasuk ketika merancang produk, membangun pengalaman bagi konsumen, hingga menentukan arah pertumbuhan,” jelasnya.
Temuan McKinsey & Company menunjukkan bahwa perusahaan dengan strategi brand kuat menghasilkan ROI jangka panjang 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada taktik jangka pendek. Hal ini menjelaskan mengapa branding kembali menjadi prioritas bagi banyak perusahaan, terutama di tengah naik turunnya biaya media digital. Di sinilah agensi kreatif dapat mengambil peran sebagai mitra strategis.
“Di sepenuhati, kami tidak bekerja dalam pola ‘brief–campaign–selesai’. Kami menemani klien dan menjadi growth partner mereka,” ujar Faiz.
Latar belakang Faiz di berbagai perusahaan teknologi dan consumer brand memberinya perspektif bahwa marketing tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam konteks bisnis yang lebih besar.
Sementara Andreas Edwitia, Co-Founder dan Chief Creative Officer sepenuhati, tantangan industri kreatif hari ini bukan kekurangan ide.
“Industri ini gak pernah kekurangan ide kreatif. Yang lebih sulit adalah menjaga relevansi brand secara konsisten. Banyak brand sibuk membuat kampanye baru, tetapi lupa membangun hubungan jangka panjang dengan konsumennya. Di situlah kreativitas seharusnya bekerja,” ujarnya.
Pendekatan serupa diterapkan di kategori yang berbeda. Komunikasi pada Telkomsel Enterprise, segmentasi B2B yang cenderung rasional tetap dibangun dengan narasi emosional, mengingat pada akhirnya, keputusan bisnis tetap dibuat oleh individu yang membutuhkan rasa percaya.
Di tengah pasar yang semakin bising, diferensiasi tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kreatif, tetapi oleh siapa yang paling konsisten menjaga relevansi dengan audiensnya. Bagi banyak brand, kreativitas kini bukan lagi tujuan akhir, melainkan alat untuk memastikan mereka tetap hadir dalam kehidupan konsumen secara berkelanjutan.