Festival Cap Go Meh 2026 bukan sekadar perayaan budaya. Lebih dari itu, momentum tahunan di Kota Singkawang ini telah menjadi penggerak ekonomi, promosi ... [1,012] url asal
Lonjakan tingkat hunian tersebut sekaligus mengukuhkan Singkawang sebagai magnet wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui kekuatan tradisi dan kalender event tahunan.
Pontianak (ANTARA) - Festival Cap Go Meh 2026 bukan sekadar perayaan budaya. Lebih dari itu, momentum tahunan di Kota Singkawang ini telah menjadi penggerak ekonomi, promosi pariwisata, dan percepatan pembangunan daerah.
Dari jalan-jalan yang dipenuhi lampion hingga parade budaya yang memukau, Singkawang membuktikan diri sebagai kota harmonis dengan daya tarik global.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menegaskan, perayaan tahun ini dimanfaatkan untuk memperkuat posisi kota sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang inklusif dan berdaya saing.
"Dengan dukungan dari semua pihak, Kota Singkawang optimistis dapat terus berkembang sebagai kota yang harmonis, maju, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional," kata Tjhai Chui Mie saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang awal Maret.
Pergelaran budaya yang sudah masuk dalam agenda wisata nusantara tersebut setiap tahunnya kerap didatangi oleh sejumlah kementerian, seperti pada tahun ini yang juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh internasional, termasuk Menko Infrastruktur Agus Harimukti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, tokoh intelijen AM Hendropriyono, tokoh nasional Oesman Sapta Odang, dan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong.
Kehadiran mereka menjadi bukti pengakuan atas Cap Go Meh Singkawang sebagai agenda wisata budaya unggulan dengan daya tarik internasional.
Tito Karnavian mengaku terkesan dengan harmonisasi sosial yang terjaga di Singkawang. "Saya sudah empat kali diundang menghadiri Festival Cap Go Meh di Singkawang, tetapi baru kali ini bisa menyaksikan secara langsung. Saya bangga melihat masyarakatnya sangat toleran," katanya.
Menurut Tito, semua suku dan agama bercampur menyaksikan parade budaya, bahkan masyarakat non-muslim menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa. "Kondisi ini mencerminkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia," katanya.
Pelaku UMKM menyakikan dagangan kuliner khas singkawang pada Festival Kuliner Perayaan budaya Cap Go Meh di Singkawang (ANTARA/HO : Jessica Helena Wuysang)
Festival Kuliner: Dari tradisi ke ekonomi
Tak hanya parade budaya yang memikat ribuan pasang mata, rangkaian perayaan Festival Cap Go Meh 2026 juga menghadirkan denyut ekonomi rakyat melalui Festival Kuliner yang digelar di kawasan Jalan Sejahtera dan Jalan Niaga pada 28 Februari hingga 3 Maret.
Di dua ruas jalan itu, aroma masakan tradisional berpadu dengan riuh percakapan pengunjung. Tenda-tenda kuliner berjajar rapi, menyajikan aneka hidangan khas yang menggoda selera, mulai dari jajanan tradisional, olahan seafood, hingga ragam minuman khas yang akrab di lidah wisatawan. Festival ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, cita rasa, dan geliat usaha masyarakat lokal.
Ketua Pelaksana Perayaan Bun Cin Thong menjelaskan festival kuliner dirancang sebagai panggung promosi bagi pelaku usaha lokal agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas di tengah lonjakan wisatawan.
“Festival Kuliner ini menghadirkan berbagai makanan khas Singkawang dengan harga terjangkau. Tujuannya untuk memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada pengunjung dari luar kota maupun mancanegara,” kata Bun Cin Thong.
Baginya momentum Cap Go Meh yang selalu menyedot perhatian publik menjadi peluang strategis untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif, khususnya UMKM kuliner. Perputaran uang selama festival meningkat tajam seiring tingginya mobilitas wisatawan yang berburu pengalaman rasa khas daerah.
Tjhai Chui Mie menambahkan integrasi antara agenda budaya dan aktivitas ekonomi tersebut merupakan strategi membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Festival tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menggerakkan transaksi ekonomi masyarakat.
“Siapa pun yang datang ke Singkawang tidak perlu khawatir soal makanan. Selain restoran dan rumah makan yang sudah ada, pusat kuliner selama perayaan siap melayani pengunjung,” tuturnya.
Ia menilai kehadiran festival kuliner turut memperpanjang lama tinggal wisatawan. Ketika pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan parade, tetapi juga menikmati wisata rasa dan suasana kota, maka dampak ekonomi yang tercipta menjadi lebih luas dan merata.
Bagi Singkawang, kuliner bukan sekadar pelengkap perayaan. Ia telah menjadi jembatan antara tradisi dan kesejahteraan, antara keramaian festival dan dapur-dapur UMKM yang terus mengepul menghidupi ekonomi lokal.
Perayaan budaya Cap Go Meh di Singkawang sukses menarik perhatian wisatawan lokal dan manca negara (ANTARA/Rendra Oxtora)
Tingkat hunian hotel melonjak
Tidak hanya di sektor kuliner yang kecipratan berkah pelaksanaan Cap Gi Meh, tingkat hunian hotel di Kota Singkawang juga meningkat signifikan menjelang puncak Festival Cap Go Meh 2026. Lonjakan wisatawan membuat sejumlah hotel penuh dipesan sejak jauh hari.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang Mokhlis, mengatakan secara keseluruhan terdapat 47 hotel yang disiapkan untuk menampung kunjungan wisatawan selama rangkaian perayaan berlangsung.
Menurut Mokhlis, Cap Go Meh yang telah menjadi agenda budaya tahunan berskala nasional itu hampir selalu memicu lonjakan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
"Momentum Cap Go Meh selalu berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan. Ini memberi efek positif bagi perputaran ekonomi masyarakat, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM," katanya.
Menurut dia, data tiga tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Pada perayaan Cap Go Meh 2023, tingkat okupansi hotel bahkan menembus 100 persen.
Tahun 2024 yang hanya menggelar mini Cap Go Meh tetap mencatat lebih dari 300 ribu kunjungan wisatawan. Angka tersebut melonjak pada 2025 menjadi lebih dari 700 ribu pengunjung.
Memasuki 2026, Pemerintah Kota Singkawang memprediksi total kunjungan dapat menembus satu juta wisatawan selama rangkaian perayaan berlangsung. Menjelang puncak acara, hampir seluruh hotel di kota tersebut telah dipadati tamu.
Lonjakan ini dinilai sebagai sinyal kuat pulihnya sektor pariwisata sekaligus indikator pertumbuhan ekonomi daerah berbasis event budaya.
Penuhnya hunian hotel tidak hanya menguntungkan pelaku usaha perhotelan. Efek berantainya turut dirasakan pelaku UMKM, sektor kuliner, jasa transportasi, hingga ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Pergerakan wisatawan selama festival mendorong meningkatnya belanja wisata, memperpanjang lama tinggal, serta memperluas sebaran manfaat ekonomi di berbagai lini usaha lokal.
Mokhlis menilai kondisi ini semakin mempertegas posisi Singkawang sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kalimantan Barat yang bertumpu pada kekuatan tradisi dan toleransi masyarakatnya.
Sebelum perayaan Cap Go Meh di mulai, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang juga telah mengimbau wisatawan yang berencana menghadiri Cap Go Meh agar segera melakukan pemesanan kamar.
Ketersediaan penginapan diperkirakan semakin terbatas mendekati hari puncak perayaan. Pemerintah daerah juga terus memantau data hunian serta menyiapkan layanan informasi bagi wisatawan yang membutuhkan referensi hotel yang masih tersedia.
Lonjakan tingkat hunian tersebut sekaligus mengukuhkan Singkawang sebagai magnet wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui kekuatan tradisi dan kalender event tahunan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang, ... [384] url asal
bukti bahwa Indonesia selalu dihadapkan pada keberagaman dan kita harus menjadikannya sebagai kekuatan
Singkawang, Kalbar (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi simbol kuat persatuan dan harmoni di tengah dinamika global saat ini yang penuh ketidakpastian.
Dalam sambutannya pada puncak Festival Cap Go Meh Singkawang 2026 di Singkawang, Selasa (3/3), AHY menyebut Singkawang sebagai salah satu “melting pot” atau ruang perjumpaan beragam budaya yang menjadi etalase keberagaman Indonesia.
“Festival Cap Go Meh 2026 ini bukan hanya ekspresi tradisi dan budaya yang luhur untuk dijaga dan dirawat, tetapi juga menjadi bukti bahwa Indonesia selalu dihadapkan pada keberagaman dan kita harus menjadikannya sebagai kekuatan,” ujarnya.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah menghadapi tekanan geopolitik, termasuk konflik di Eropa dan Timur Tengah, yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi serta stabilitas keamanan global. Dampak tersebut, menurut dia, turut dirasakan hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Karena itu, AHY mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga stabilitas nasional dan terus melanjutkan pembangunan demi mewujudkan Indonesia yang semakin maju dan sejahtera pada abad ke-21.
“Kita harus berupaya sekuat tenaga agar Indonesia tetap melanjutkan semangat mewujudkan bangsa yang maju dan sejahtera di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, bersama pemerintah pusat, daerah dan seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Menurut AHY, perayaan Cap Go Meh di Singkawang mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa keberagaman dapat hidup dalam persatuan dan harmoni.
Ia menyinggung tema besar Imlek 2026, yakni “Harmoni Imlek Nusantara”, yang dinilai selaras dengan semangat kebangsaan Indonesia.
Beberapa waktu sebelumnya, perayaan Imlek juga digelar di Jakarta, namun AHY menyebut Singkawang memiliki makna tersendiri baginya karena untuk pertama kalinya ia menyaksikan langsung festival budaya yang dinilainya luar biasa tersebut.
Ia juga menilai komposisi masyarakat Singkawang yang terdiri atas berbagai etnis, termasuk Tionghoa, Melayu, Dayak dan suku lainnya, menjadi kekuatan sosial yang harus terus dijaga dalam bingkai persatuan.
“Semoga Singkawang semakin maju dan modern, namun tetap memiliki karakter yang kuat. Kita harus terus fokus pada pembangunan bangsa dan sumber daya manusia yang berakar pada jati diri bangsa,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, AHY menyampaikan selamat atas terselenggaranya Festival Cap Go Meh 2026 serta mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada masyarakat yang merayakan.
Cap Go Meh, puncak perayaan Imlek, dirayakan pada 3 Maret 2026 di Indonesia. Tradisi ini melibatkan kirab tatung, bersih-bersih rumah, berbagi angpao, dan festival lampion. [384] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili semakin dekat. Puncak rangkaian perayaan ini juga akan ditandai dengan Cap Go Meh, yang dirayakan pada malam ke-15 bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa.
Merujuk Indonesia Travel Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Cap Go Meh berakar dari ritual penghormatan kepada Dewa Thai Yi pada masa Dinasti Han, sekitar abad ke-17.
Awalnya tradisi Cap Go Meh bersifat sakral dan tertutup. Namun seiring waktu tradisi ini kemudian juga berkembang menjadi festival terbuka yang dirayakan luas, termasuk di Indonesia.
Tahun ini, Imlek jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Artinya, Cap Go Meh akan diperingati pada 3 Maret 2026, sekaligus menjadi penutup resmi rangkaian Tahun Baru bagi masyarakat Tionghoa.
Perayaan Cap Go Meh 2026 juga bertepatan dengan Tahun Kuda Api, yang dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan energi, keberanian, dan dinamika baru, lewat elemen api yang merepresentasikan semangat yang menyala.
Tradisi dan Akulturasi di Indonesia
Di Indonesia, Cap Go Meh mengalami akulturasi dengan budaya lokal. Di sejumlah kota seperti Singkawang dan Pontianak, perayaan ini juga diwarnai kirab tatung, atraksi spiritual yang menjadi daya tarik wisata.
Di berbagai daerah lain, umat juga memadati klenteng dan wihara untuk sembahyang, diikuti arak-arakan rupang dewa ke jalanan. Selain kirab, sejumlah tradisi berikut juga masih dijalankan hingga kini:
1. Bersih-bersih rumah
Tradisi ini dilakukan menjelang Imlek sebagai simbol membuang sial dan membuka ruang bagi keberuntungan baru. Setelahnya, rumah dihias ornamen merah dan lampion sebagai penanda sukacita.
2. Berbagi angpao
Angpao dibagikan oleh mereka yang telah menikah kepada anak-anak atau yang belum berkeluarga. Nominalnya dihindari mengandung angka 4 karena diasosiasikan dengan kematian, serta tidak diberikan dalam jumlah ganjil yang identik dengan suasana duka.
3. Menyantap tangyuan
Cap Go Meh identik dengan tangyuan, bola ketan isi wijen atau kacang merah dalam kuah manis. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan keharmonisan keluarga.
4. Lampion dan festival cahaya
Di sejumlah daerah, Cap Go Meh juga dikenal sebagai Festival Lampion. Lampu-lampu merah dinyalakan sebagai simbol harapan dan penerang jalan di tahun baru.
5. Barongsai dan liong
Atraksi barongsai dan tari naga (liong) tampil sepanjang rangkaian Imlek hingga Cap Go Meh. Gerakannya yang dinamis dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif.
6. Kembang api dan petasan
Tradisi ini berakar dari legenda monster Nian yang konon takut pada suara keras dan warna merah. Hingga kini, kembang api menjadi simbol penolak bala sekaligus penanda kemeriahan malam puncak.
Jakarta: Tahun Baru Imlek 2026 semakin dekat. Perayaan ini identik dengan kemeriahan, sajian khas, serta dominasi warna merah dan emas yang menghiasi berbagai sudut rumah hingga ruang publik.
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar penanda pergantian kalender lunar. Lebih dari itu, Imlek merupakan ritual sakral tahunan untuk meneguhkan nilai budaya, spiritual, dan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.
Di Indonesia, tradisi Imlek berkembang menjadi potret keharmonisan budaya. Setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri, namun tetap berpijak pada makna yang sama. Berikut 12 tradisi Imlek di Indonesia yang unik beserta maknanya.
Ragam tradisi Imlek di Indonesia
1. Membersihkan rumah Menjelang Imlek, masyarakat Tionghoa membersihkan rumah secara menyeluruh. Tradisi ini dipercaya dapat membuang energi buruk dan membuka jalan bagi keberuntungan di tahun baru.
Sebaliknya, aktivitas bersih-bersih dihindari pada tiga hari pertama Imlek karena diyakini bisa menghilangkan rezeki dan keberuntungan yang baru datang.
2. Dekorasi serba merah dan emas Warna merah menjadi simbol utama Imlek. Mulai dari dekorasi rumah, pakaian, hingga amplop angpao didominasi warna merah dan emas.
Merah melambangkan keberuntungan, kesejahteraan, dan perlindungan. Tradisi ini berakar dari legenda monster Nian yang diyakini takut pada warna merah dan suara keras.
3. Memasang gantungan dewa pintu Pintu rumah biasanya dihiasi gambar dewa-dewi pintu atau mén shén. Tradisi ini dipercaya dapat melindungi keluarga dari roh jahat dan membawa rasa aman sepanjang tahun.
Hiasan khas lainnya seperti lampion, pohon kumquat, dan kaligrafi Fu turut memperkuat nuansa Imlek.
4. Menyajikan hidangan khas Imlek Hidangan Imlek sarat makna filosofis. Setiap sajian melambangkan doa dan harapan di tahun baru.
5. Berkumpul bersama keluarga Imlek menjadi momen penting untuk berkumpul dan mempererat hubungan keluarga. Tradisi ini diisi dengan saling berkunjung, beribadah, makan bersama, serta berbagi cerita dan doa.
6. Membagikan angpao Angpao berisi uang dalam amplop merah dibagikan oleh orang tua atau mereka yang telah menikah kepada anak-anak dan kerabat yang belum menikah. Tradisi ini melambangkan berbagi rezeki dan kebaikan hati.
7. Tradisi Yu Sheng Yu Sheng merupakan sajian khas yang disantap bersama-sama. Setiap anggota keluarga mengangkat isi hidangan setinggi mungkin menggunakan sumpit.
Semakin tinggi diangkat, semakin besar harapan akan keberuntungan di tahun baru.
8. Sembahyang kepada leluhur Sembahyang kepada leluhur dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur. Ritual ini dapat dilakukan di klenteng maupun di rumah dengan menyalakan dupa dan lilin.
9. Membaca shio Penanggalan lunar Tiongkok mengenal 12 shio. Membaca peruntungan shio menjadi tradisi yang dipercaya dapat menjadi panduan menjalani kehidupan di tahun mendatang. Adapun, tahun Imlek 2026 dikenal sebagai Tahun Kuda Api.
10. Menyalakan petasan dan kembang api Suara petasan dan kembang api dipercaya dapat mengusir energi negatif serta membawa perlindungan dan keberuntungan.
11. Pertunjukan barongsai dan liong Barongsai dan liong menjadi simbol kebahagiaan, keberanian, dan keberuntungan. Pertunjukan ini kerap memeriahkan perayaan Imlek di berbagai daerah.
12. Festival Cap Go Meh Cap Go Meh digelar pada hari ke-15 Imlek sebagai penutup rangkaian perayaan. Festival ini melambangkan kesejahteraan dan penguatan tali persaudaraan.
Beragam tradisi Imlek di Indonesia menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, rasa syukur, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Acara "Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang" di Jakarta menampilkan budaya dan kuliner khas Imlek Singkawang, mempromosikan toleransi dan keberagaman. [416] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Singkawang dikenal sebagai salah satu kota dengan perayaan Imlek paling semarak di Indonesia. Setiap tahunnya, kota berjuluk Seribu Kelenteng itu menjadi magnet wisata budaya berkat tradisi, atraksi, dan kuliner khas yang menyertai setiap perayaan Tahun Baru Imlek tiba.
Kini, semarak Imlek khas Singkawang itu tak hanya dapat disaksikan di Kalimantan Barat, tetapi juga Jakarta. Salah satunya dapat ditemui dalam rangkaian acara bertajuk Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan budaya Singkawang adalah salah satu subkultur penting Indonesia yang memiliki potensi besar untuk menjadi kebanggaan nasional bahkan internasional. Tak hanya terkait budaya, kota ini juga patut disorot berkat toleransi antarumat beragama yang tinggi.
"Banyak hal di sana yang bersifat kearifan-kearifan lokal, bisa menjadi kearifan nasional atau bahkan kearifan internasional," kata Nasaruddin saat membuka Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang, Jumat, (23/1/2026).
Menjelang Imlek tahun ini, keberagaman dan toleransi umat beragama tetap menjadi hal yang penting untuk terus didorong. Singkawang, katanya, menjadi contoh yang menarik bagaimana dua hal tersebut berjalan beriringan.
Dia menegaskan perlunya membangun kembali harmoni lintas etnik, khususnya antara masyarakat Tionghoa dan kelompok lainnya, guna menghapus sekat sosial di antara sesama warga negara.
Melalui pendekatan budaya, proses saling mengenal antarwarga dapat dibangun secara lebih terbuka. Pendekatan ini dinilai efektif menjaga semangat persatuan Indonesia.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mei, menyebut Singkawang sebagai cerminan keberagaman Indonesia, tempat berbagai suku dan agama hidup berdampingan secara harmonis dan saling menghormati. Dia pun menyebut beberapa kali daerahnya meraih predikat kota paling toleran.
Citra “mini Indonesia” itu kini dihadirkan di Jakarta melalui acara Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang, yang diharapkan dapat semakin memperluas pengenalan masyarakat terhadap Kota Singkawang.
"Terlebih, momentum Imlek tahun ini sangat istimewa. Setelah perayaan Imlek, beberapa hari kemudian kita juga memasuki Ramadan. Di sana, kami juga bentuk berbarengan Panitia Cap Go Meh dan Ramadan Fair," ungkapnya.
Sementara itu, Director of Marketing Communication Hotel Borobudur Jakarta, Karina Eva Poetry, mengatakan acara Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang menjadi upaya menampilkan akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia sebagai nilai harmoni yang terus berkembang.
Nantinya, acara ini diisi dengan berbagai agenda, mulai dari perayaan Lunar New Year, Pawai Cap Go Meh, bazar UMKM yang menampilkan kuliner, kerajinan, dan budaya khas Kalimantan Barat, hingga Chinese Art Exhibition yang merefleksikan filosofi dan estetika budaya Tionghoa.
Selain itu, rangkaian acara yang digelar Januari–Maret 2026 ini juga diisi bedah buku Azmi Abubakar, seminar Chinese–Muslim, serta kegiatan Tai Chi, yoga, dan meditasi, serta dimeriahkan atraksi Tatung, Barongsai, Liong, dan penampilan spesial Icha.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan keberagaman subkultur, termasuk identitas masyarakat Tionghoa di Singkawang, merupakan aset fundamental yang memperkuat kharisma Indonesia di mata dunia. Hal itu disampaikannya saat membuka program kolaborasi budaya bertajuk “Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang” di Hotel Borobudur Jakarta.
Nasaruddin menilai harmoni yang terjalin tanpa sekat di tengah masyarakat merupakan cita-cita bangsa yang harus terus dirawat. Menurutnya, konfigurasi sosial Indonesia yang berwarna-warni bukan sekadar fakta demografis, melainkan rahmat yang memberikan daya tarik luar biasa bagi masa depan negara.
“Salah satu subculture kita yang sangat penting di Indonesia ini adalah warna-warni yang sangat indah. Kita berharap masyarakat Indonesia terus memperindah kharisma kita,” ujar Nasaruddin, Jumat (23/1/2026).
Ia menekankan pentingnya menemukan kembali harmoni tanpa batas antara masyarakat Tionghoa dan etnik lainnya agar tidak ada lagi jarak sosial sebagai sesama warga bangsa. Menteri Agama juga memberikan apresiasi khusus terhadap transformasi Kota Singkawang.
Kota di Kalimantan Barat tersebut dinilai telah berhasil melompat dari panggung lokal menuju perhatian global. Kehadiran representasi Singkawang di kawasan Menteng, Jakarta, melalui Hotel Borobudur dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan publik terhadap nilai-nilai toleransi yang diusung kota tersebut.
“Singkawang selama ini menjadi etnik lokal di Kalimantan Barat, tetapi sekarang menjadi global. Di bawah kepemimpinan Ibu Wali Kota yang sangat proper, kita berharap ini menjadi kota yang indah untuk menciptakan Indonesia Jaya,” tambahnya.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mei, mengatakan kolaborasi dengan Hotel Borobudur merupakan pintu gerbang utama untuk mempromosikan potensi budaya dan kuliner kota tersebut kepada audiens internasional. Singkawang, yang dikenal dengan julukan “Kota Seribu Kuil”, membawa misi besar untuk menunjukkan potret nyata kehidupan berdampingan yang rukun.
“Singkawang adalah miniatur Indonesia. Berbagai suku dan agama ada di sana dan kami hidup berdampingan dengan baik, saling menghormati, sehingga Singkawang mendapatkan predikat kota tertoleran,” kata Tjhai Chui Mei.
Momentum perayaan tahun ini dinilai sangat istimewa karena adanya persinggungan dua hari besar keagamaan. Tahun ini, hari pertama perayaan Imlek berdekatan dengan awal bulan suci Ramadan. Fenomena ini dimanfaatkan Pemerintah Kota Singkawang dengan membentuk panitia gabungan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadan Fair.
Di Singkawang, suasana kota mulai dihias dengan perpaduan nuansa merah khas Imlek dan dekorasi Idul Fitri. Sebanyak 17 paguyuban lintas etnis dijadwalkan tampil dalam rangkaian festival seni budaya tersebut. Tjhai menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata slogan toleransi yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu poin penting yang diangkat dalam promosi ini adalah kemudahan akses menuju Singkawang. Pemerintah Kota menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan seiring mulai beroperasinya Bandara Singkawang. Kehadiran infrastruktur udara ini memangkas waktu tempuh secara signifikan bagi pelancong dari ibu kota.
“Apalagi saat ini Singkawang sudah memiliki penerbangan langsung. Bandara Singkawang sudah ada, terbang dari Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 10 menit. Dari bandara ke pusat Kota Singkawang sekitar 30 menit,” jelas Tjhai Chui Mei.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56