Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi mengoperasikan Resource Center Unit Observasi Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan di SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya, Senin (5/1/2026). Fasilitas ini diproyeksikan menjadi pusat rujukan penanganan disabilitas rungu yang terintegrasi mulai dari masa kehamilan hingga usia balita.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa kehadiran pusat layanan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan pemenuhan hak dasar anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui intervensi medis dan edukasi sejak dini.
"Deteksi yang cepat dan tepat memungkinkan anak memperoleh intervensi medis serta edukasi secara dini. Hal ini krusial untuk meminimalkan risiko keterlambatan perkembangan bicara, bahasa, dan kognitif," ujar Khofifah dalam rangkaian peresmian di Surabaya.
Resource Center ini merupakan wujud nyata sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan, yang melibatkan kolaborasi dari RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya dan SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya
Selain berfokus pada deteksi dini sejak masa kehamilan, fasilitas ini juga dirancang untuk mengedukasi keluarga ABK mengenai aspek teknis pemeliharaan perangkat pendengaran, seperti penggantian baterai dan penyediaan suku cadang alat bantu pendengaran.
Khofifah menambahkan, pendampingan terhadap orang tua menjadi faktor kunci agar keluarga mampu mengambil langkah antisipatif dan adaptif dalam mendukung tumbuh kembang anak dengan disabilitas rungu.
Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerima Piagam Penghargaan dari Hearing Aid East Java. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan dukungan berkelanjutan Pemprov Jatim selama 35 tahun dalam memperkuat pusat layanan deteksi dini bagi anak-anak dengan hambatan pendengaran.
Piagam tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Indonesia Institute and Board of Hearing Aids East Java, Vicki Richardson, kepada Gubernur Khofifah.
"Sinergi yang terjalin selama tiga dekade ini telah memposisikan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi paling progresif dalam layanan inklusivitas di Indonesia," tutur Khofifah.
Ke depan, Gubernur Khofifah membidik penguatan layanan melalui perluasan kerja sama internasional. Ia merujuk pada keberhasilan program di tingkat nasional yang pernah menerima bantuan alat bantu pendengaran serta dukungan tim medis dari Pemerintah Australia melalui Clinton Foundation.
"Saya berharap nantinya skema kerja sama serupa dapat dikomunikasikan kembali untuk diimplementasikan di level pemerintah daerah guna memperluas jangkauan layanan bagi masyarakat," pungkasnya melalui keterangan tertulis, Selasa (6/1/2025).