Bisnis.com, JAKARTA — Masalah gizi di Indonesia kian kompleks, mencakup kekurangan gizi, kelebihan gizi, hingga defisiensi zat gizi mikro yang sering tak disadari, seiring meningkatnya penyakit tidak menular dan risiko kematian dini akibat pola konsumsi harian yang tidak sehat.
Pakar Gizi Masyarakat IPB, Prof. Dr. Rimbawan, menyebut risiko pangan (dietary risk) sebagai salah satu faktor utama penyebab kematian dan disabilitas di Indonesia. Berdasarkan analisis data periode 2013–2023, risiko terkait pola makan menempati peringkat ketiga faktor penyumbang kematian dan kecacatan, dengan tren yang terus meningkat.
“Ini menunjukkan bahwa pangan yang kita konsumsi sehari-hari masih belum sesuai. Faktor risiko metabolik seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, hingga indeks massa tubuh berlebih berakar pada pola makan tinggi gula, garam, lemak, dan kalori,” ujarnya dalam webinar Hari Gizi Nasional ke-66, Kamis (5/2/2026).
Menurut dia, persoalan gizi nasional tidak dapat dilihat secara sederhana. Kekurangan zat gizi mikro tidak hanya berkaitan dengan anemia akibat defisiensi zat besi. Analisis sampel darah Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa pada anak-anak, defisiensi zat besi sering disertai kekurangan seng, kalsium, vitamin A, dan zat gizi lainnya.
“Pada anak usia sekolah, defisiensi seng bahkan lebih tinggi dibandingkan defisiensi besi, tetapi intervensinya masih sangat terbatas,” kata Rimbawan.
Di sisi lain, masalah kelebihan gizi seperti obesitas tidak selalu mencerminkan kecukupan zat gizi. Individu dengan obesitas dan diabetes justru memiliki risiko tinggi mengalami defisiensi mikronutrien akibat pola makan tinggi energi namun miskin zat gizi esensial.
“Obesitas itu bukan kelebihan zat gizi, melainkan kelebihan kalori. Ketika pembatasan makan dilakukan tanpa memperhatikan kualitas pangan, risiko kekurangan mikronutrien justru meningkat,” ujarnya.
Rimbawan juga menerangkan pola konsumsi masyarakat yang cenderung monoton dan bergantung pada sumber karbohidrat tertentu. Rendahnya konsumsi buah dan sayur memperparah situasi.
Data 2018 menunjukkan konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia baru sekitar 90 gram per hari, jauh di bawah rekomendasi 400 gram.
Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk memperbaiki kualitas gizi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Menurut Rimbawan, pangan lokal memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan, keterjangkauan harga, kesesuaian budaya, serta dampak positif terhadap ekonomi dan lingkungan.
“Pangan lokal diproduksi di sekitar kita, rantai pasoknya pendek, lebih segar, dan minim pengolahan. Selain efisien, ini juga mengurangi ketergantungan pada pangan impor,” katanya.
Pemanfaatan pangan lokal yang dikombinasikan secara tepat terbukti mampu memperbaiki status gizi. Sejumlah riset IPB pada program makan siang sekolah berbasis pangan lokal sejak 2018 hingga 2024 menunjukkan peningkatan konsumsi protein hewani, sayur, dan buah, serta penurunan signifikan angka anemia pada anak.
“Dalam satu semester, konsumsi buah meningkat tajam dan kejadian anemia menurun hingga hampir nol. Ini menunjukkan pangan lokal sangat efektif bila dikelola dengan pedoman gizi yang baik dan disertai edukasi,” ujar Rimbawan.
Dia menegaskan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi faktor kunci dalam menekan kompleksitas masalah gizi. Tanpa perbaikan kualitas pangan sehari-hari, beban kesehatan berisiko terus meningkat dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.