Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan tengah menyiapkan berbagai kebijakan stimulus dan insentif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memperkuat daya saing ekspor tanpa mengganggu pasar dalam negeri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan struktur industri Tanah Air saat ini masih didominasi pasar domestik dengan porsi sekitar 80%, sementara ekspor baru mencapai 20%.
“Kami ingin meningkatkan kontribusi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Artinya, perlindungan terhadap pasar dalam negeri tetap dijaga, tetapi kita juga harus meningkatkan ekspansi produk manufaktur lebih besar ke pasar global sehingga mampu meningkatkan utilitas produksi dan penyerapan tenaga kerja lebih besar lagi,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Pada kuartal I/2026, dia menyebut sektor industri pengolahan tumbuh 5,04% secara tahunan (YoY) dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 1,03% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61%.
Agus menyebut capaian tersebut mencerminkan ketahanan sektor manufaktur di tengah dinamika global, dengan permintaan yang tetap meningkat dari pasar domestik maupun internasional.
“Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujarnya.
Menurutnya, optimisme tersebut tecermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di level ekspansi sepanjang kuartal I/2026, yakni 54,12 pada Januari, 54,02 pada Februari, dan 51,86 pada Maret.
Selain itu, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) disebutnya juga berada di level 51,37, mengindikasikan mayoritas pelaku industri masih berada dalam fase ekspansi dari sisi produksi maupun permintaan.
“Nilai IKBM sebesar 51,37 berarti di atas 50 menunjukkan bahwa mayoritas pelaku industri berada dalam fase ekspansi, baik dari sisi produksi maupun permintaan,” jelas Agus.
Oleh karena itu, dia menjelaskan bahwa kombinasi stimulus, perlindungan industri, serta dorongan ekspor akan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan manufaktur ke depan.
“Kami terus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku industri di lapangan dan merumuskan langkah-langkah solutif. Kebijakan stimulus dan insentif menjadi penting agar pertumbuhan manufaktur dapat berjalan lebih cepat, berkualitas dan berkelanjutan,” tuturnya.