Bisnis.com, JAKARTA – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian perkembangan terbaru yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dikutip melalui Aljazeera, konflik yang meluas dari Gaza hingga Lebanon kini memasuki fase yang semakin kompleks, dengan tekanan diplomatik dan militer berlangsung secara bersamaan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera menelaah proposal terbaru dari Iran, namun meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan.
“Kami akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirimkan Iran kepada kami,” ujarnya pada Minggu (3/5/2026) waktu setempat.
Sekadar informasi, proposal yang dikirim Teheran mencakup 14 poin, di antaranya tuntutan jaminan non-agresi, penguatan blokade laut, serta pengakhiran konflik di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon. Namun, sinyal pesimisme dari Washington yang ditampilkan jalan diplomasi masih terjal.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesiapan penuh jika konflik kembali pecah dengan AS. Mereka bahkan menilai potensi eskalasi sangat besar. Dimulainya kembali permusuhan “mungkin terjadi”, karena “bukti menunjukkan bahwa [AS] tidak berkomitmen terhadap perjanjian atau perjanjian apa pun”.”
Sementara itu, situasi di Lebanon terus memburuk akibat serangan militer Israel yang semakin intensif. Serangan terbaru melaporkan terjadinya sejumlah warga dan merusak sebuah biara Katolik di wilayah Yaroun. Sejak awal Maret, jumlah korban tewas akibat serangan di Lebanon dilaporkan telah mencapai 2.659 orang.
Di Gaza, Israel juga memperluas kontrol militernya melalui penetapan garis baru yang disebut “Garis Oranye”. Zona ini memperluas wilayah militer hingga mencakup sekitar 60 persen wilayah Gaza, naik signifikan dibandingkan garis sebelumnya pasca-gencatan senjata Oktober 2025.
Langkah tersebut menuai kekhawatiran dari berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menilai lembaga baru itu memperparah kondisi kemanusiaan. Akses bantuan menjadi semakin terbatas, sementara kepadatan penduduk meningkat di wilayah yang semakin sempit.
Situasi semakin rumit karena batas “Orange Line” tidak memiliki penanda fisik yang jelas di lapangan. Hal ini memicu dan risiko bagi warga sipil Palestina yang tinggal di dekat zona tersebut, dengan laporan adanya tembakan berulang di area tersebut.
Dalam perkembangan lain, dua aktivis internasional yang tergabung dalam armada bantuan menuju Gaza diselenggarakan menjalani proses hukum di Israel. Keduanya adalah warga Spanyol dan Brasil yang ditahan setelah kapal mereka dicegat di perairan internasional.
Di tengah konflik yang terus meningkat, Israel juga memperkuat kapabilitas militernya dengan menyetujui pembelian pesawat tempur baru dari perusahaan Amerika Serikat, termasuk Lockheed Martin dan Boeing. Kesepakatan bernilai miliaran dolar itu mencakup pengadaan skuadron F-35 dan F-15IA.
Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik di suatu wilayah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Upaya diplomasi masih berlangsung, namun pada saat yang sama, eskalasi militer terus meningkat di berbagai titik, memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.