Bisnis.com, JAKARTA - Polusi udara bukan lagi masalah lingkungan, tetapi telah menjadi krisis kesehatan dan ancaman besar bagi vitalitas.
Menurut data tahun 2019 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara luar ruangan diperkirakan menyebabkan 4,2 juta kematian prematur di seluruh dunia.
Dilansir dari timesofindia, WHO mencatat bahwa kematian ini disebabkan oleh paparan partikel halus.
Berikut adalah beberapa penyakit yang mengancam jiwa yang disebabkan polusi udara
1. Penyakit jantung iskemik dan stroke
WHO mencatat bahwa pada tahun 2019, 68% kematian prematur terkait polusi udara luar ruangan disebabkan oleh penyakit jantung iskemik dan stroke.
Sebuah studi dalam Jurnal Annals of Indian Academy of Neurology mencatat bahwa polusi udara merupakan kontributor signifikan penyakit kardiovaskular, termasuk stroke iskemik (IS), dengan angka kematian dan morbiditas yang substansial.
2. Memperburuk gejala PPOK
American Lung Association mencatat, paparan polusi udara dapat mempersulit pernapasan bagi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Gejala yang parah dapat menyebabkan rawat inap dan bahkan kematian. WHO mencatat 14% kematian prematur pada tahun 2019 (secara global) disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronis.
3. Infeksi saluran pernapasan bawah akut
American Lung Association menyatakan, polusi udara meningkatkan risiko infeksi paru-paru, terutama pada anak-anak. Infeksi ini memengaruhi saluran pernapasan dan paru-paru, dan meliputi pneumonia, bronkiolitis, bronkitis akut, dan infeksi virus saluran pernapasan bawah. Kondisi ini juga berkontribusi terhadap 14% kematian prematur pada tahun 2019, menurut data WHO.
4. Kanker paru-paru
Sebuah studi dalam British Journal of Cancer menunjukkan dengan kuat bahwa partikel debu di udara (PM), komponen debu dari udara yang tercemar, dikaitkan dengan peningkatan kejadian dan kematian akibat kanker paru-paru. Studi tersebut mencatat bahwa “PM2.5 dari berbagai sumber membawa berbagai zat beracun, seperti sulfat, senyawa organik, hidrokarbon aromatik polisiklik, dan logam berat, yang dianggap sebagai karsinogen utama yang meningkatkan risiko kanker paru-paru.”
WHO juga mencatat bahwa pada tahun 2019, 4% kematian prematur disebabkan oleh kanker paru-paru.
5. Berat badan lahir rendah pada bayi
Data survei dari sebuah studi di PLoS Global Public Health menunjukkan bahwa ibu yang terpapar peningkatan kadar PM2.5 memiliki peluang 70% lebih tinggi untuk melahirkan prematur dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar.
Peluang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah meningkat sebesar 40% untuk ibu yang menghadapi tingkat polusi udara yang lebih tinggi.
American Lung Association mengaitkan berat badan lahir rendah pada bayi dengan angka kematian bayi.