Bisnis.com, JAKARTA — PT Buana Finance Tbk. (BBLD) menanggapi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah ke posisi hingga Rp17.600.
Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana menegaskan bahwa pembiayaan di perusahaannya berbasis rupiah, begitupun dengan pendanaan atau cost of fund-nya dalam mata uang rupiah.
“Sehingga tidak akan terjadi mismatch. Namun, kami tetap memitigasi biaya operasional maupun Operational Expenditure [OpEx] dan hal-hal lainnya. Kami mencari peluang yang marginnya bisa lebih baik,” ucapnya dalam Public Expose yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Herman mencontohkan, salah satu segmen yang dibidik adalah refinancing karena masih menawarkan margin yang lebih menarik, meski perusahaan tetap mempertimbangkan tingkat suku bunga agar tidak terlalu tinggi.
Dilanjutkan dia, Perseroan akan menyesuaikan penawaran secara realistis dan relevan dengan kondisi pasar, dengan mempertimbangkan jenis unit jaminan, tahun rakitan, serta besarannya. Jadi, segmentasinya pasti ada pricing diferensiasi.
“Di situlah kami akan melihat, memilah, dan melakukan penyeleksian untuk melihat potensi pasar yang memang kami lakukan di refinancing,” sebutnya.
Di sisi lain, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1982 ini akan memperluas usaha dengan mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS) dan membidik B2B atau business to business. Hal ini dilakukan untuk memitigasi risiko, sehingga marginnya juga lebih terukur.
“Kami memberikan secara realistis, relevan, dan juga terukur sehingga kemampuan bayarnya tetap ada. Nah, inilah yang kami bidik, yaitu perusahaan agar kualitasnya tetap terjaga dan termitigasi,” ucap Herman.
Pada saat yang sama, Direktur Keuangan Buana Finance Mariana Setyadi menyampaikan perusahaan akan tetap prudent terkait perolehan cost of fund dari kreditur, seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Tentunya jika kami memperoleh utang dalam mata uang asing, dari sisi manajemen risiko kami akan melakukan full hedging terkait currency dan interest rate untuk menjaga volatilitas nilai tukar dan suku bunga tersebut,” tuturnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp17.685 pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). Sementara itu, pergerakan greenback juga mengalami kontraksi.
Berdasarkan data Trading View, rupiah dibuka melemah 17 poin atau 0,10% ke Rp17.685 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS juga terkoreksi 0,14% ke 99,05.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang kembali tertekan di tengah menguatnya sentimen risk-off global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik.