Bisnis.com, JAKARTA – Pemanfaatan instrumen pembiayaan hijau untuk mendukung proyek hilirisasi pertambangan mengemuka di tengah kebutuhan pendanaan besar sektor mineral. Namun, karakter industri tambang yang sarat risiko lingkungan membuat implementasi instrumen pembiayaan ramah lingkungan tersebut tidak lepas dari tantangan.
Salah satu perusahaan yang membuka peluang memanfaatkan pembiayaan hijau di sektor pertambangan adalah PT Vale Indonesia Tbk. Saat ini, Vale tengah mengkaji berbagai alternatif pendanaan untuk mendukung pengembangan proyek-proyek berkelanjutan, seperti kemungkinan penerbitan green bond dan sustainability-linked loan (SLL).
Berdasarkan catatan Bisnis, tahun lalu, perusahaan dengan kode saham INCO ini mempersiapkan kebutuhan pendanaan hingga US$1,2 miliar atau sekitar Rp19,56 triliun untuk mendukung proyek tambang dan pembangunan smelter HPAL.
Salah satu opsi pembiayaan Vale adalah pinjaman bank senilai US$500 juta yang direncanakan pada awal 2026. Lalu, perseroan mempertimbangkan penerbitan obligasi senilai US$500 juta hingga US$700 juta pada 2027.
Berbekal rencana tersebut, Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Budiawansyah menilai instrumen pembiayaan hijau seperti green bond merupakan salah satu bentuk inovasi pembiayaan yang semakin relevan bagi perusahaan yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjalankan operasional yang bertanggung jawab, tetapi juga membuka peluang untuk memperoleh nilai tambah dari praktik keberlanjutan yang dijalankan.
“Green bond ini menarik karena bukan hanya sekadar perusahaan menjalankan bisnis secara excellence dan sustainable, tetapi ada sisi yang bisa dikapitalisasi sehingga bisa memberikan manfaat tambahan,” ujarnya, akhir pekan lalu.
Ia menambahkan bahwa Vale terus mempersiapkan diri apabila peluang tersebut terealisasi, terutama dengan memperkuat kinerja keberlanjutan perusahaan.
Budiawansyah menyebutkan kinerja keberlanjutan perusahaan pada tahun lalu dinilai cukup kuat, yang tercermin dari capaian skor ESG perseroan yang berada di kisaran 23. Selain itu, perusahaan juga tengah menjalani proses sertifikasi melalui Initiative for Responsible Mining Assurance atau IRMA.
Menurutnya, proses sertifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam menunjukkan tingkat kematangan tata kelola dan praktik keberlanjutan perusahaan. “Proses sertifikasi IRMA itu juga menunjukkan maturity organisasi. Itu akan menjadi fundamental dalam hal tersebut,” katanya.
Di sisi lain, terkait peluang green bond, Head of Corporate Finance and Investor Relations Vale Andaru Brahmono Adi mengatakan perseroan saat ini masih melakukan penilaian internal terkait struktur pendanaan yang akan digunakan ke depan.
Menurutnya, perusahaan membutuhkan pendanaan untuk mendukung pengembangan bisnis, namun bentuk pembiayaan yang dipilih masih dalam tahap kajian.
“Kalau dari sisi pendanaan, saat ini Vale masih melakukan assessment secara internal. Kami jelas membutuhkan pendanaan. Mengenai struktur dana apakah dalam bentuk corporate loan ataupun kemudian bond, itu masih kami kaji,” ujarnya pada kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, dalam menentukan skema pendanaan perseroan akan mempertimbangkan sejumlah faktor utama yang menjadi kekuatan perusahaan. Faktor tersebut antara lain fundamental keuangan yang dinilai solid, komitmen terhadap keselamatan kerja dan operational excellence, serta komitmen terhadap keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.
“Ketiga hal itu yang akan kemudian kami pertimbangkan saat kami mencari pendanaan,” kata Andaru.
Sustainability Linked Loan
Selain green bond, Vale juga berpeluang menggunakan instrumen pendanaan berkelanjutan lainnya, yakni sustainability-linked loan (SLL). Skema pembiayaan ini juga terhitung tidak banyak digunakan oleh perusahaan sektor pertambangan.
Sebelumnya, ada beberapa perusahaan di sektor manufaktur yang menggunakan opsi pembiayaan hijau ini. Sebut saja PT Semen Indonesia (SIG) dan unit usahanya PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) yang memperoleh kredit sindikasi Sustainability Linked Loan atau SLL masing-masing senilai Rp4,15 triliun dan Rp2,74 triliun pada 2022.
Selain itu, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) juga menyepakati SLL Rp901,4 miliar dengan empat bank, yakni BNI, Mandiri, CIMB Niaga, dan HSBC Indonesia pada tahun yang sama.
Dalam skema ini, tingkat bunga pinjaman dikaitkan dengan pencapaian indikator kinerja keberlanjutan atau ESG perusahaan.
Bagi Vale, pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan kinerja keberlanjutan perusahaan agar tidak hanya tercermin dalam skor atau peringkat ESG, tetapi juga memberikan nilai tambah yang nyata dalam mendukung kegiatan bisnis.
Sayang, Budiawansyah enggan berkomentar lebih dalam terkait opsi SLL untuk membiayai proyek rendah karbon di Vale.