Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan dinilai perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit, dengan fokus pada kualitas aset dan keberlanjutan pertumbuhan di tengah laju pertumbuhan kredit perbankan yang melandai pada Februari 2026.
Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit tumbuh 8,9% secara tahunan pada Februari 2026, melanjutkan tren positif bulan sebelumnya meskipun dengan laju yang lebih moderat. Kondisi ini menunjukkan permintaan kredit masih bertahan di tengah penyesuaian ekonomi domestik.
Likuiditas perekonomian juga masih memadai. Uang beredar dalam arti luas atau M2 tercatat mencapai Rp10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh aktivitas ekonomi dan ekspansi kredit perbankan.
Namun, perlambatan pertumbuhan baik pada kredit maupun uang beredar menandakan adanya normalisasi likuiditas. Perbankan mulai lebih selektif dalam ekspansi guna menjaga kualitas aset di tengah dinamika risiko yang masih berkembang.
Analis dari Panin Sekuritas, Sarkia Adelia menilai pertumbuhan kredit di kisaran 8% mencerminkan intermediasi yang tetap sehat di tengah normalisasi likuiditas.
“Perbankan saat ini cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit, dengan fokus pada kualitas aset dan keberlanjutan pertumbuhan, yang justru menjadi fondasi positif bagi industri ke depan,” kata Sarkia dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).
Dia menambahkan bahwa bank dengan basis nasabah stabil dan pendekatan penyaluran kredit yang terukur akan memiliki keunggulan di fase ini.
Menurutnya, bank yang memiliki akses ke segmen berpenghasilan tetap serta didukung kemitraan strategis di sektor riil cenderung lebih resilien dalam menjaga kualitas aset. Dalam konteks ini, perbankan perlu mempertahankan pertumbuhan yang sehat tanpa mengorbankan profil risiko.
Dalam lanskap tersebut, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. berupaya mempertahankan pertumbuhan kredit secara konsisten dengan pendekatan yang lebih terukur. Perseroan menekankan keseimbangan antara ekspansi dan kualitas sebagai strategi utama.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat kolaborasi dengan mitra bisnis untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan efektivitas penyaluran kredit. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan tanpa meningkatkan risiko secara signifikan.
Selain itu, perseroan terus mengembangkan inovasi produk yang menyesuaikan kebutuhan nasabah. Perubahan perilaku konsumen mendorong kebutuhan akan solusi pembiayaan yang lebih fleksibel dan adaptif.
Dari sisi profil risiko, basis nasabah yang didominasi segmen pegawai tetap dinilai mampu menjaga kualitas kredit dalam jangka panjang. Pada sektor pembiayaan perumahan, perseroan juga memperluas kerja sama dengan pengembang properti.