Program Gentengisasi di Jatiwangi, Majalengka, mendukung UMKM dengan komitmen belanja Rp3 miliar untuk genteng, memperkuat ekonomi lokal dan perumahan rakyat. [344] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Program Gentengisasi yang terintegrasi dengan skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) mencatat komitmen pembelian sekitar Rp3 miliar untuk produk genteng hasil produksi pelaku UMKM di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Nilai transaksi tersebut berasal dari berbagai program pemerintah pusat dan daerah yang ditujukan untuk mendukung perbaikan rumah masyarakat sekaligus memperkuat industri lokal.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan kebijakan tersebut dirancang agar program pembangunan perumahan rakyat menghasilkan efek berganda bagi perekonomian daerah
“Program Gentengisasi merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto agar pembangunan perumahan rakyat tidak hanya berfokus pada fisik hunian, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Program ini diintegrasikan ke dalam skema BSPS (bedah rumah) dan masuk dalam Program Prioritas Nasional sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Program yang diluncurkan pada 11 Maret 2026 tersebut diawali dari sentra produksi genteng Jatiwangi. Pada saat peresmian, sebanyak 14 truk yang mengangkut sekitar 75.000 unit genteng diberangkatkan untuk memenuhi kebutuhan program perumahan. Qodari menuturkan pemesanan tahap awal mencapai 24 truk dengan nilai transaksi sekitar Rp3 miliar.
Kontribusi terbesar berasal dari program renovasi rumah tidak layak huni (RTLH) yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Majalengka sebanyak 1.715 unit rumah dengan potensi kebutuhan genteng sekitar Rp1,5 miliar.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan perbaikan 250 unit rumah dengan nilai belanja genteng sekitar Rp500 juta. Adapun program BSPS pemerintah pusat untuk 900 rumah di Majalengka diperkirakan menyerap produk genteng senilai Rp1 miliar.
“Total seluruh komitmen pembelian genteng dari berbagai program ini mencapai sekitar Rp3 miliar, yang seluruhnya diarahkan untuk menyerap produk UMKM perajin genteng lokal,” kata Qodari.
Selain sektor publik, dukungan juga datang dari pengembang perumahan subsidi.
“Dua pengembang rumah subsidi yang sempat viral karena mendapat penghormatan dari Presiden Prabowo, Angga dan Wawan, turut memesan masing-masing empat truk genteng dari UMKM Jatiwangi untuk proyek mereka di Bogor dan Serang,” ucap Qodari.
Dukungan terhadap perajin lokal juga diperkuat oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait yang memesan tambahan 10 truk genteng untuk pembangunan rumah prajurit TNI.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengungkapkan program Gentengisasi akan mulai digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bulan depan, dengan pengiriman ratusan truk genteng untuk mendukung pembangunan perumahan rakyat.
"Gentengisasi bulan depan kita mulai di Majalengka dengan 600 truk pengiriman, sudah ada pesan. Nanti kita masuk lagi ke Plered, Purwakarta, Jawa Tengah, dan sentra-sentra gentengisasi," ujar pria yang akrab disapa Ara itu dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).
Dirinya juga akan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah daerah sebelum perluasan program dilakukan.
Ara menyebut setelah pelaksanaan di Majalengka, ia dijadwalkan meninjau kesiapan di Purwakarta bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sebelum program dilanjutkan ke wilayah lain seperti Jawa Tengah dan daerah sentra genteng lainnya.
"Gentengisasi bulan depan di Majalengka 600 truk, habis itu saya minggu depan lihat di Purwakarta sama Pak KDM. Habis itu di beberapa tempat lagi, ada di Jawa Tengah dan tempat-tempat lainnya," katanya.
Menurut Ara, pemerintah daerah juga telah mulai mempersiapkan implementasi program di wilayah masing-masing.
"Jawa Tengah lagi disiapkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Pak (Ahmad) Luthfi," ujarnya.
Ara juga menggambarkan skala pengiriman tersebut untuk memberi gambaran besarnya distribusi yang akan dilakukan.
Ia menyebut jika 600 truk itu disusun dalam satu baris dengan panjang masing-masing sekitar 5 meter, maka total panjangnya bisa mencapai sekitar 3 kilometer. Sementara jika disusun dua baris, panjangnya diperkirakan sekitar 1,5 kilometer
"Kira-kira kalau 600 truk itu, kalau satu baris, kalau kali 5 meter, ada kurang lebih 3 kilometer panjangnya. Kalau dia dua baris, 1,5 kilometer. Doain bulan depan kita akan luncurkan di Majalengka," ujar Ara.
Menurutnya, program Gentengisasi ini tidak hanya difokuskan pada penyediaan material perumahan, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sentra produksi genteng seperti Jatiwangi, Majalengka.
Aktivitas produksi dan distribusi genteng diproyeksikan meningkat seiring tingginya kebutuhan pembangunan rumah.
Sebelumnya, pemerintah telah memulai pengiriman awal genteng dari sentra industri di Majalengka sebagai bagian dari program ini. Sebanyak 14 truk genteng dengan total sekitar 75 ribu unit telah dikirim ke sejumlah daerah, termasuk Bogor dan Serang.
Program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri bahan bangunan lokal sekaligus mendukung pembangunan rumah rakyat.
Selain memenuhi kebutuhan konstruksi, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing UMKM, mulai dari kualitas produk hingga kapasitas produksi.
Pemerintah menilai kebutuhan genteng nasional masih sangat besar, seiring masifnya program pembangunan perumahan.
Di antara rak-rak bambu yang dipenuhi genteng, tampak tiga pekerja perempuan duduk merapat di sebuah meja. Jemari mereka lincah merapikan tepi tanah liat ... [1,256] url asal
Majalengka (ANTARA) - Di antara rak-rak bambu yang dipenuhi genteng, tampak tiga pekerja perempuan duduk merapat di sebuah meja. Jemari mereka lincah merapikan tepi tanah liat basah, mengikis sisa cetakan dengan gerak yang terlatih.
Beberapa genteng yang baru dibentuk diletakkan berderet di atas meja logam. Satu per satu dirapikan, dipulas tipis agar permukaannya halus, sebelum dipindahkan ke rak pengeringan di bagian belakang ruangan.
Setelahnya, cetakan tanah liat tersebut disiapkan menuju proses pengeringan hingga pembakaran.
Suasana di ruang produksi itu terlihat sibuk. Percakapan pendek para pekerja kerap terdengar. Sesekali, seseorang melintas membawa genteng basah, menuju rak bambu di bagian belakang ruangan.
Ritme kerja itu menjadi pemandangan sehari-hari di sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Geliat industri genteng
Di tengah hiruk-pikuk itu, Syamsul Maarif berdiri memperhatikan proses tersebut. Ia pemilik salah satu pabrik genteng rakyat yang masih beroperasi di kawasan Jatiwangi.
Di tempatnya, genteng selalu diproduksi. Bentuknya terlihat kokoh dengan warna merah alami, tipe yang lazim dipakai pada rumah-rumah di berbagai daerah di Pulau Jawa.
Menurut Syamsul, aktivitas produksi genteng di kawasan Jatiwangi masih terus berjalan, hingga sekarang. Meski jumlah pabrik tidak lagi sebanyak dulu, sejumlah perajin tetap bertahan menjalankan usaha mereka.
“Kalau kondisi pabrik genteng di Jatiwangi sekarang masih cukup ramai. Masih banyak yang bikin,” kata dia kepada ANTARA pada akhir Februari 2026.
Di pabriknya, kegiatan produksi hampir berlangsung saban hari. Para pekerja datang sejak pagi, menyiapkan bahan baku, sebelum masuk ke tahap pencetakan.
Dalam satu hari, pabrik tersebut dapat menghasilkan sekitar 1.800 hingga 2.000 keping genteng matang.
Jumlah tersebut, kata dia, dihitung dari genteng yang sudah melalui seluruh tahapan produksi hingga siap dijual.
Aktivitas produksi di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
“Setiap hari ada aktivitas produksi, dari Senin sampai Sabtu,” ujarnya.
Proses pembuatan genteng dimulai dari tanah liat yang diambil dari wilayah sekitar Jatiwangi. Tanah tersebut dicampur dengan bahan tambahan, sebelum digiling, hingga menjadi adonan, kemudian dimasukkan ke mesin atau cetakan untuk membentuk genteng.
Genteng yang baru keluar dari cetakan masih basah dan lunak. Pada tahap inilah para pekerja merapikan bagian tepinya agar bentuknya rapi dan presisi.
Setelah dirapikan, genteng disusun di rak bambu untuk pengeringan awal selama dua, hingga tiga hari. Proses ini bertujuan mengurangi kadar air di dalam tanah liat, sebelum dijemur di sinar Matahari.
Jika cuaca cerah, proses penjemuran biasanya berlangsung sekitar lima, hingga enam jam, namun jika hujan turun, penjemuran bisa tertunda dan memengaruhi jadwal produksi.
Ia menjelaskan genteng yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam tungku pembakaran, yang oleh perajin setempat disebut hawu.
Di dalam tungku tersebut, genteng dibakar menggunakan kayu selama delapan, hingga dua belas jam. Lama pembakaran dapat berbeda, tergantung kondisi kayu dan suhu tungku.
Setelah pembakaran selesai, genteng dikeluarkan dari tungku dan didinginkan, sebelum disortir.
Sebagian besar genteng dari pabrik di daerah itu dipasarkan melalui toko material bangunan dan ada pula pembeli yang datang langsung untuk kebutuhan pembangunan rumah.
Dalam satu pekan, pengiriman bisa mencapai dua truk kecil. Pasarnya masih didominasi wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Harga genteng natural tanpa warna tambahan berkisar Rp2.300 hingga Rp2.500 per keping, sedangkan genteng berlapis glasir dijual dengan harga sekitar Rp3.800 hingga Rp4.000 per keping.
“Genteng Jatiwangi itu kuat, awet, dan bikin rumah kelihatan lebih estetik,” ujarnya.
Ikon Majalengka
Di sejumlah desa di Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, aktivitas membuat genteng masih menggeliat. Dari kawasan inilah lahir genteng yang lama dikenal di berbagai daerah.
Bersama kecap Majalengka, produk genteng Jatiwangi ini menjadi dua nama yang sering disebut, ketika orang membicarakan daerah tersebut.
Dari data yang dihimpun ANTARA, pada masa kejayaannya, industri genteng di Jatiwangi berkembang sangat pesat.
Sekitar dekade 1980-an, hingga awal 2000-an, produksi genteng dari wilayah itu memasok berbagai kota, bahkan pernah menembus pasar luar negeri.
Jumlah pabrik genteng, saat itu mencapai lebih dari 600 jebor. Hampir setiap desa memiliki tempat produksi.
Truk-truk pengangkut genteng rutin keluar masuk kampung, membawa hasil produksi menuju berbagai daerah.
Warga setempat masih mengingat, masa, ketika halaman rumah dipenuhi tumpukan genteng yang dijemur di sinar Matahari. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.
Perubahan mulai terasa ketika pembangunan infrastruktur besar hadir di sekitar Majalengka. Pabrik-pabrik manufaktur bermunculan dan menyerap banyak tenaga kerja.
Sebagian anak muda di daerah tersebut, kemudian memilih bekerja di sektor tersebut karena dianggap menawarkan penghasilan yang lebih stabil.
Perlahan, jumlah pabrik genteng menyusut. Kini diperkirakan hanya sekitar 120 pabrik di Jatiwangi yang masih bertahan menjalankan produksi.
"Gentengisasi”
Di tengah kondisi itu, perhatian terhadap industri genteng kembali menguat, setelah pemerintah pusat mendorong penggunaan atap genteng pada bangunan, terutama fasilitas publik dan gedung pemerintahan.
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi pemerintah daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Bagi daerah yang memiliki tradisi produksi genteng, seperti Majalengka, wacana tersebut dipandang dapat membuka peluang pasar baru.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan pemerintah daerah siap menindaklanjuti arahan tersebut. Sebab, penggunaan genteng juga dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada industri tersebut.
“Arahan presiden ini memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan perajin lokal,” katanya.
Ia menjelaskan potensi industri genteng rakyat di Majalengka masih cukup besar dan tersebar di sejumlah kecamatan.
Pemerintah daerah mendorong penggunaan genteng pada pembangunan gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, serta berbagai infrastruktur publik lainnya.
Produksi genteng di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Eman menegaskan, implementasi kebijakan pemerintah pusat ini akan diselaraskan dengan perencanaan pembangunan daerah agar sejalan dengan fondasi pembangunan di Majalengka.
Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan genteng untuk atap bangunan juga dianggap sesuai dengan karakter iklim tropis di Indonesia.
Melalui penyelarasan antara kebijakan pusat dan daerah, pemerintah kabupaten berharap Majalengka dapat terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri secara ekonomi, kuat secara sosial, serta berkelanjutan dalam pembangunan lingkungan.
Membuka pasar
Upaya memperkuat pasar genteng juga mulai digerakkan oleh kalangan dunia usaha. Misalnya saja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Majalengka telah mempertemukan pengusaha genteng dengan pengembang perumahan serta lembaga perbankan.
Ketua Kadin Majalengka Raden Suryanatanagara mengatakan langkah tersebut dilakukan agar industri genteng dari daerahnya memiliki kepastian pasar.
Atas dasar tersebut, Kadin Majalengka mengundang sekitar 30 pengusaha genteng dan hampir 35 pengembang perumahan dalam satu forum bertajuk "Majalengka Housing Partnership Gentengisasi 2026".
Pertemuan tersebut melibatkan pula, perwakilan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk membahas akses pembiayaan.
Dalam forum tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan dinas terkait serta asosiasi pengembang di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).
"Artinya ketika perumahan berdiri di wilayah ini, mereka sudah punya jalinan kerja sama dengan pengusaha genteng di Jatiwangi," ujarnya.
Pekerja saat menjemur genteng basah di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Untuk memperkuat tata niaga, pembelian genteng direncanakan dipusatkan melalui koperasi perajin genteng Jatiwangi yang baru dibentuk. Wadah ini diharapkan memudahkan distribusi, sekaligus memperkuat posisi tawar para perajin.
Dari sisi produksi, kapasitas industri genteng Majalengka masih tergolong besar yang diperkirakan mencapai sekitar satu juta genteng per hari.
Jumlah tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan di wilayah Ciayumajakuning, yang pada tahun ini ditargetkan mencapai sekitar 3.000 unit.
Meski begitu, persoalan regenerasi perajin masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak perajin senior yang tetap bertahan menjalankan usaha, sementara generasi mudanya memilih bekerja di sektor industri lain.
Oleh karena itu, sejumlah pihak mulai mendorong modernisasi alat produksi agar pekerjaan membuat genteng, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cara-cara manual.
Dengan peralatan yang lebih efisien, diharapkan industri genteng rakyat bisa terus berjalan di tengah perubahan yang terjadi di Majalengka.
Pada intinya, selama masih ada rumah yang membutuhkan atap, maka produk genteng, termasuk dari Jatiwangi, tampaknya belum akan benar-benar hilang dari peta industri rakyat di Majalengka.
Lebih dari 40 warga peserta Program Desa EMAS (Ekonomi Maju & Sejahtera) 2026 Majalengka diberdayakan dengan mengikuti pelatihan pembuatan produk inovatif sehingga... | Halaman Lengkap [326] url asal
MAJALENGKA - Lebih dari 40 warga peserta Program Desa EMAS (Ekonomi Maju & Sejahtera) 2026 Majalengka diberdayakan dengan mengikuti pelatihan pembuatan produk inovatif sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi maupun penciptaan lapangan kerja. Workshop dan Optimalisasi Pelatihan Pembuatan Hampers hingga pemasaran tersebut diprakarsai INOTEK Foundation dan Yayasan Indonesia Setara di Kabupaten Majalengka, belum lama ini.
Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS) Sandiaga Uno mengatakan, kegiatan kick off ini merupakan langkah awal peluncuran program dengan tujuan dengan dukungan dari stakeholder pemerintah desa, UPD terkait, dan peserta yang telah lolos kurasi.
"Program ini bertujuan memberikan edukasi dan pengalaman praktik keterampilan pembuatan hampers produk hilirisasi untuk mengoptimalkan pemasaran di Hari Raya Idulfitri. Melalui workshop ini dapat meningkatkan peluang pendapatan bagi kelompok usaha desa khususnya di Majalengka," ujar Sandiaga, Selasa (24/2/2026).
Program Desa EMAS diharapkan memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa dengan memberdayakan pelaku masyarakat melalui pengembangan produk unggulan yang berbasis pada potensi lokal.
"Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, program ini dapat menjadi langkah signifikan menuju kemandirian ekonomi desa," katanya.
Wakil Bupati Majalengka Dena Muhamad Ramdhan mengatakan pembangunan Kabupaten Majalengka saat ini berlandaskan visi Majalengka Langkung Sae. Visi ini menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pilar utama dengan sektor UMKM sebagai salah satu motor penggerak utamanya.
"Mengembangkan ekonomi inklusif dan produktif, meningkatkan kemandirian pangan, memberikan kesempatan serta manfaat nyata bagi seluruh kalangan, terutama pelaku UMKM di desa," ujar Dena.
Menjalankan berbagai program yang selaras dengan Desa EMAS di antaranya GASIK (Gerakan Start-Up Inovatif & Kompetitif) yang melibatkan 144 pelaku usaha dengan pemberian bantuan modal senilai Rp10 juta bagi 25 pemenang untuk mendorong UMKM naik kelas.
Melalui kolaborasi antara Yayasan Indonesia Setara Inotek, Dompet Dhuafa, dan Pemkab Majalengka diharapkan program ini menjadi katalisator percepatan pembangunan ekonomi desa dan pengentasan kemiskinan.
Aulia Putri dari KWT Mulya Mukti mengaku sangat tertolong dengan mengikuti program Desa Emas Majalengka. Kegiatan tersebut selain mengajak masyarakat dapat menjadi entrepreneur sekaligus melatih UMKM dapat berinovasi agar produknya dapat bersaing dengan produk lain dari segi kualitas, rasa, packaging, hingga pemasaran.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyebut sebanyak 20 ribu Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, ditargetkan sudah ... [363] url asal
Majalengka (ANTARA) - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyebut sebanyak 20 ribu Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, ditargetkan sudah terbangun dan siap beroperasi pada akhir 2025.
Yandri dalam kunjungan kerja di Majalengka, Jawa Barat, Jumat, mengatakan pembangunan Kopdes Merah Putih dilakukan secara bertahap sesuai arahan Presiden dengan target akhir mencapai 80 ribu unit di seluruh Indonesia.
“Kita sekarang fokus bertahap. Target kita tetap 80 ribu, tapi tidak sekaligus dibangun,” katanya.
Ia menjelaskan proses pembangunan tidak hanya fisik, namun mencakup pula pematangan operasional, diversifikasi usaha, serta identifikasi kesiapan lokasi.
Menurutnya, hingga saat ini hampir 20 ribu Kopdes Merah Putih sudah mulai memasuki tahap pembangunan di berbagai daerah.
“Target kita sampai akhir tahun ini memang 20 ribu. Sekarang sudah hampir 20 ribu itu mulai pembangunannya,” ujarnya.
Ia menuturkan seluruh target pembangunan Kopdes Merah Putih secara nasional, diharapkan rampung pada pertengahan 2026.
Yandri mengungkapkan tantangan utama dalam percepatan pembangunan Kopdes Merah Putih, yakni terkait pengadaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan.
“Kebanyakan kendalanya pengadaan lahan. Kadang tanahnya ada, tapi kurang strategis, atau luasnya tidak mencukupi,” ujarnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, kata Mendes PDT, pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat dan pihak swasta.
Ia mencontohkan di Kalimantan Barat, terdapat warga yang menghibahkan tanahnya karena desa tidak memiliki tanah bengkok untuk pembangunan Kopdes Merah Putih.
Selain itu, ia menyebutkan di Sulawesi Selatan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan keterbatasan lahan, sebuah perusahaan perumahan menghibahkan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) untuk pembangunan Kopdes Merah Putih.
“Di sana sampai 14 ribu orang padat penduduknya, tapi karena tidak ada lahan, perusahaan perumahan menghibahkan fasos-fasumnya,” ujarnya.
Ia menilai pola kolaborasi tersebut, menjadi faktor penting agar pembangunan Kopdes Merah Putih tetap berjalan sesuai rencana.
Lebih lanjut, ia memastikan pembangunan Kopdes Merah Putih saat ini berada pada jalur yang tepat atau on the track.
Terkait sebaran wilayah, Yandri menyampaikan pembangunan Kopdes Merah Putih dilakukan secara merata dan tidak terpusat pada provinsi tertentu.
Untuk Jawa Barat, ia menuturkan jumlah Kopdes Merah Putih yang terbangun terus bertambah setiap hari sehingga datanya bersifat dinamis.
“Hampir merata. Kita tidak fokus ke satu provinsi. Jawa Barat ini real time, tiap hari bertambah,” ucap dia.
Bulog Cirebon menyalurkan 10.000 ton beras dan 3.000 liter minyak goreng ke Cirebon, Kuningan, dan Majalengka, ditargetkan selesai November 2025. [372] url asal
Bisnis.com, CIREBON - Bulog Cirebon mulai menyalurkan sebanyak 10.000 bantuan 10.000 ton beras sebagai bagian dari program bantuan pangan yang menyasar warga di empat daerah, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka.
Kepala Bulog Cirebon, Imam Mahdi mengatakan, enyaluran ini juga disertai bantuan minyak goreng dengan volume yang diperkirakan mencapai sekitar 3.000 ton liter.
Imam menyebutkan proses distribusi ditargetkan rampung pada akhir November 2025, dengan harapan dukungan pasokan dari produsen tetap terjaga sepanjang pelaksanaan program.
"Untuk wilayah Kota Cirebon saja, Bulog menyalurkan bantuan kepada 25.303 Penerima Bantuan Beras (PBB). Masing-masing penerima memperoleh paket yang terdiri dari 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng," kata Imam, Jumat (14/11/2025).
Imam mengatakan, jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat penerima hingga periode akhir tahun, terutama untuk menjaga stabilitas konsumsi pangan rumah tangga.
Selain fokus pada penyaluran komoditas, lanjut Imam, Bulog juga memperhatikan kesiapan internal, terutama aspek tenaga kerja yang harus turun langsung ke lapangan.
Imam memastikan kondisi staf tetap aman dan siap menjalankan tugas distribusi meski volume pekerjaan meningkat signifikan.
Menurutnya, koordinasi antara gudang, transporter, dan aparat wilayah terus diperkuat untuk menghindari hambatan logistik yang berpotensi memperlambat distribusi.
“Ini kan penyaluran besar, banyak titik dan jadwalnya ketat. Tapi kondisi staf aman, mereka sudah terbiasa dengan skema penugasan serupa. Kami bagi tim agar distribusi berjalan paralel di beberapa lokasi,” kata Imam.
Salah satu tantangan utama penyaluran, lanjutnya, berada pada ketersediaan minyak goreng dari produsen. Meski stok beras relatif aman dan telah siap di gudang sejak awal bulan, distribusi minyak harus menunggu kelancaran pasokan industri.
Karena itu, Bulog berharap tidak ada gangguan suplai sehingga jadwal akhir November masih dapat dipenuhi.
“Target kami penyaluran selesai akhir November. Namun, ini sangat bergantung pada distribusi minyak dari produsen. Kalau lancar, kita bisa menyalurkan sesuai target,” ujarnya.
Dengan penyebaran titik distribusi yang luas, Bulog Cirebon kini bergerak simultan di empat daerah. Imam menegaskan bahwa seluruh proses akan terus dipantau untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada penerima yang berhak.
Menurutnya, keberhasilan penyaluran tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan logistik, tetapi juga keakuratan data dan sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, serta perangkat kewilayahan.
“Kami berharap seluruh penyaluran berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Ini komitmen kami untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat,” kata Imam.
Menko Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai sepinya BIJB Kertajati di Kabupaten Majalengka tak lepas dari lokasinya yang 'antah-berantah'. [340] url asal
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai sepinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka tak lepas dari lokasinya yang 'antah-berantah'.
"Besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere, di Majalengka, Kawasan Rebana namanya," kata AHY dalam konferensi pers Satu Tahun Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa (21/10), seperti dikutip Detik Finance.
Menurut AHY, konektvitas Bandara Kertajati terlambat dibangun. Padahal, bandara ini sudah memiliki infrastruktur yang megah hingga fasilitas yang sangat memadai.
"Mungkin awalnya dulu kurang terintegrasi, bandaranya dibangun, tapi konektivitasnya terlambat, sehingga tanggung. Kalau gitu mending di Jakarta sekalian, lalu ditinggalkan, sepi. Padahal, besar, bagus, infrastrukturnya lengkap. Tapi hanya di bandara itu, kawasannya belum hidup," sambungnya.
Pemerintah, sambungnya, sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi permasalahan yang dialami Bandara Kertajati.
Salah satunya dengan mendorong kerja sama antara pengelola BIJB Kertajati dengan Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMF AeroAsia) guna menyediakan layanan perawatan unit pesawat.
"Kita coba hidupkan dengan menghadirkan kerja sama antara pengelola BIJB dengan GNF, Garuda Maintenance Facility, untuk menghadirkan fasilitas MRO, maintenance repair overhaul," terangya.
Saat ini, kawasan Kertajati sudah digunakan untuk perbaikan dan perawatan helikopter.
"Mudah-mudahan dengan itu akan mengembangkan kawasan di sekitarnya dan akan meng-generate pertumbuhan baru di situ. Ini harapan dari upaya mengembangkan kawasan Kertajati," tutur AHY.
Kepala Biro BUMD Jawa Barat Deny Hermawan sebelumnya menyebut penerbangan domestik dari dan menuju Bandara Kertajati resmi dihentikan sementara sejak 2 Juni 2025.
"Betul, untuk penerbangan domestik dari dan menuju Bandara Kertajati terhitung mulai tanggal 2 Juni 2025 sementara belum tersedia," ujar Deny saat dikonfirmasi pada Kamis (26/6) lalu, mengutip Detik.
Beberapa maskapai seperti Lion Air, Super Airjet, dan Citilink memang sempat membuka layanan rute domestik dari bandara ini, dengan tujuan antara lain Denpasar dan Balikpapan.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, rute-rute itu mulai ditinggalkan satu per satu.
Meski penerbangan domestik absen, bukan berarti Bandara Kertajati benar-benar berhenti beroperasi. Saat ini, bandara tersebut masih melayani satu rute internasional reguler, yakni penerbangan ke Singapura yang tersedia dua kali seminggu, setiap Selasa dan Sabtu.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56