Bandung masuk daftar 100 kota kuliner terbaik dunia versi TasteAtlas, peringkat ke-34, berkat kuliner khas seperti cireng dan batagor, mengungguli Seoul dan Barcelona. [281] url asal
Bisnis.com, BANDUNG - Kota Bandung kembali menorehkan catatan internasional setelah berhasil menembus daftar 100 kota kuliner terbaik dunia versi TasteAtlas.
Ibu Kota Jawa Barat ini bertengger di peringkat ke-34, mengungguli sejumlah metropolis global ternama seperti Seoul dan Barcelona.
TasteAtlas, ensiklopedia kuliner daring sekaligus peta rasa global, menyusun daftar ini berdasarkan ratusan ribu penilaian publik terhadap ribuan hidangan tradisional.
Dari total lebih dari 18.000 kota yang dievaluasi di seluruh dunia, hanya 100 kota yang berhasil masuk dalam jajaran elite tersebut.
Bandung mencatatkan skor tinggi berkat kekayaan kuliner khasnya yang dinilai memiliki keunikan dan keberagaman rasa.
Sejumlah penganan ikonik seperti batagor, cireng, nasi kuning, mie kocok, hingga surabi menjadi daya tarik utama yang menuai apresiasi tinggi dari para penikmat rasa mancanegara.
Capaian ini membuktikan bahwa kuliner Bandung tidak hanya menjadi primadona di pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing kuat di tingkat global.
Keunikan rasa, kreativitas dalam pengolahan, serta keberagaman pilihan menjadi faktor fundamental yang mengangkat posisi Bandung dalam daftar tersebut.
Keberadaan ekosistem kuliner yang solid, mulai dari tempat makan legendaris hingga pelaku usaha kuliner lokal, turut memperkokoh identitas Bandung sebagai kota gastronomi.
Kombinasi antara cita rasa tradisional yang tetap terjaga dan inovasi modern menjadikan pengalaman kuliner di Kota Kembang semakin kompetitif bagi wisatawan internasional.
Masuknya Bandung dalam jajaran kota kuliner terbaik dunia ini diyakini akan menjadi stimulus besar bagi akselerasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dengan pengakuan global tersebut, Bandung semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu destinasi wisata kuliner unggulan Indonesia.
Ke depan, prestasi internasional ini bisa menjadi motivasi bagi para pelaku industri boga untuk terus menjaga standar kualitas, kebersihan, dan inovasi.
Dengan konsistensi tersebut, Bandung diproyeksikan dapat terus bersaing dan bahkan memperbaiki peringkatnya di kancah internasional pada masa mendatang.
Tercabaikan, usaha kuliner dari dapur rumahan dengan menu tradisional modern di Bandung. Inovasi rasa dan pelatihan digital bantu tingkatkan kapasitas usaha. [558] url asal
Berawal dari dapur rumahan dan kecintaan pada olahan tepung aci, usaha kuliner Tercabaikan tumbuh menjadi salah satu pelaku usaha makanan lokal di Bandung yang menawarkan beragam menu tradisional dengan sentuhan modern agar tetap relevan dengan selera pasar.
Brand kuliner ini menghadirkan berbagai pilihan menu, mulai dari baso aci, cimol bojot, cireng kuah, mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok. Melalui inovasi rasa dan penyajian, Tercabaikan berupaya mempertahankan cita rasa tradisional sekaligus menyesuaikannya dengan selera konsumen masa kini.
Produk Tercabaikan dikenal dengan racikan bumbu yang kuat serta pilihan topping dan isian yang beragam. Inovasi menu terus dilakukan untuk menjaga daya tarik, seperti menghadirkan kupat tahu dengan sambal geprek atau chili oil, serta varian baso aci dengan berbagai pilihan kuah, mulai dari keju, seblak, hingga soto.
Pemilik Tercabaikan, Inggra DP, menuturkan ide memulai usaha tersebut muncul setelah melihat tingginya minat masyarakat terhadap baso aci saat berkunjung ke Garut. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mencoba membuat versi sendiri di rumah hingga akhirnya berkembang menjadi usaha yang dijalankan hingga saat ini.
"Usaha ini berawal dari keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Ide membuat baso aci muncul ketika saya berkunjung ke Garut dan melihat sebuah toko baso aci yang sangat ramai hingga para pembeli rela mengantre sejak subuh," tutur Inggra bercerita.
"Dari situ timbul rasa penasaran, lalu saya mencoba membuat versi sendiri di rumah dan menjadikannya oleh-oleh untuk keluarga," ujarnya.
Respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi dorongan awal berkembangnya usaha. Dalam momen syukuran pernikahannya pada 2017, Inggra membagikan baso aci buatannya kepada keluarga dan tetangga.
Dari situlah pesanan pre-order mulai berdatangan dan menjadi titik awal berkembangnya usaha Tercabaikan.
Dalam perjalanan membangun usaha, berbagai tantangan juga dihadapi, terutama pada tahap awal ketika seluruh proses usaha masih dijalankan sendiri, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran.
Pengembangan pemasaran juga dilakukan melalui berbagai kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, serta layanan pesan antar.
Seiring berkembangnya usaha, Inggra juga terus meningkatkan kapasitas bisnisnya melalui berbagai pelatihan. Salah satunya dengan memanfaatkan platform LinkUMKM dari BRI melalui program pelatihan yang diselenggarakan di Rumah BUMN Bandung.
Ia mengaku pertama kali mengenal LinkUMKM pada 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN. Menurutnya, program tersebut memberikan banyak manfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha
"Menurut saya program ini sangat bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha, bahkan hingga topik-topik yang sedang tren seperti pelatihan mengenai kecerdasan buatan," jelasnya.
Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring, mulai dari peningkatan kapasitas hingga penguatan akses pasar.
Platform ini menghadirkan enam fitur utama yang saling terintegrasi, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran untuk memperkuat kemampuan soft skill maupun hard skill pelaku usaha.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan LinkUMKM BRI dirancang sebagai ekosistem pembelajaran yang membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha secara berkelanjutan.
"Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kapasitas usaha melalui akses pelatihan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini," ujarnya.
Dia menambahkan, ekosistem ini juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring sekaligus menangkap peluang pasar yang semakin berkembang di era digital.
"Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional," ujarnya.
Tahu Talaga Yun Sen, didirikan pada 1923 di Bandung, tetap menjaga cita rasa dan kualitas selama seabad. Bisnis ini mengembangkan produk organik dan memperluas pasar. [769] url asal
Bisnis.com, BANDUNG — Kota Bandung telah lama dikenal sebagai surga kuliner yang tak pernah kehabisan daya tarik. Dari mulai kudapan kekinian, hingga makanan legendaris komplit ada di sana. Jejak itu terlihat jelas dari banyaknya kuliner legendaris yang tetap terawat hidup memberikan cita rasa yang terjaga dari satu generasi, ke generasi lainnya, bahkan di antara gempuran jajanan dan hidangan modern yang silih berganti. Salah satunya adalah Tahu Talaga Yun Sen yang menjelma menjadi sebuah warisan rasa, yang mampu berdiri kokoh sejak satu abad lalu. Meski sudah melintasi tiga generasi, Tahu Talaga Yun Sen mampu menjaga cita rasa meski zaman terus berubah. Tepatnya di Jalan Sudirman 227, Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Tahu Talaga Yun Sen tak sulit ditemui. Meski akses masuk berupa gang kecil sepanjang kurang lebih 20 meter, pengunjung akan merasakan pengalaman berbeda saat memasuki area produksi sekaligus toko dari Tahu Talaga Yun Sen ini. Lebih dari sekadar pabrik tahu, tempat ini adalah monumen hidup tentang menjaga kualitas, merawat kepercayaan, dan menghormati akar lokal. Pemilik sekaligus penerus bisnis Tahu Talaga Yun Sen, Hendra Gunawan menceritakan perjalanan panjang usaha leluhurnya itu. Perjalanan pengolahan kedelai menjadi tahu ini bermula pada 1923.
Sejarah Tahu Yun Sen
Didirikan oleh Liu Phak Phine, kakek Hendra, pabrik ini awalnya bernama "Yun Sen," yang bermakna 'seterusnya maju'. Nama yang sarat optimisme ini lahir dari jerih payah Liu Phak Phine yang menghabiskan 15 tahun bekerja di perusahaan pertambangan kolonial Belanda. Bersama sang istri, Mak Ilot yang merupakan Mojang dari Talaga, Majalengka, mereka menyulap rumah sederhana menjadi pabrik tahu. Kolaborasi kultural antara perantau dan pribumi ini menjadi fondasi kuat yang kini menjadi pijakan bisnis tahu terkemuka di Bandung itu. Seiring waktu, nama 'Talaga' disematkan untuk melengkapi nama 'Yun Sen', mengabadikan tanah kelahiran Mak Ilot dan menjadi simbol akar mula bisnis ini bisa lahir. Hendra yang merupakan lulusan Teknik Mesin dari California State University, Long Beach, AS, sekaligus generasi ketiga bisnis ini, memberikan sentuhan modern yang kekinian. Memadukan antara warisan leluhur dengan perkembangan zaman. Hendra yang sudah memahami dengan alur bisnis leluhurnya, hadir dengan menerapkan standar produksi dan kualitas produk yang ketat, sekaligus berinovasi dengan meluncurkan tahu organik dan mengembangkan pemasaran hingga ke pelbagai daerah, dari Jakarta hingga Pulau Dewata, Bali. Hendra mengatakan, tidak ada resep abadi yang diterapkan leluhurnya agar bisnisnya awet. Namun, ia mengakui ada satu nilai yang selalu dijaga secara estafet, yaitu kejujuran dan konsistensi yang tidak pernah pudar setiap kali kalender berganti. Bagi dia, loyalitas pelanggan bukanlah semata keberuntungan, melainkan buah manis dari komitmen menjaga mutu. Di lorong sempit di Jalan Sudirman, hilir mudik mobil-mobil pelanggan setia silih berganti berdatangan yang menjadi bukti buah nilai yang dianutnya.
"Kalau konsumen sudah percaya, jangan sekali-kali membohongi mereka karena begitu mereka dibohongi, mereka tak akan kembali lagi," ujar Hendra kepada Tim Jelajah UMKM Bisnis Indonesia. Demi menjaga kualitas prima dan higienitas, Tahu Talaga tidak segan membayar mahal untuk bahan baku terpilih, bahkan jika itu membuat harga produk mereka sedikit lebih tinggi. Namun, di mata konsumen setia, harga itu menjadi sebanding. Fakta menarik lainnya, Tahu Talaga membuktikan bahwa bahan bermutu tinggi tak melulu harus diimpor. Mereka memilih untuk bermitra dengan produsen lokal, salah satunya menggandeng petani-petani di Jawa Timur yang teruji dalam menjaga mutu kedelai terbaik. "Ada 2-3 suplier yang memasok kami," kata Hendra. Dengan dibantu 35 karyawannya, ia mampu mengolah 5-6 kuintal kedelai menjadi belasan varian tahu, dari tahu kuning hingga tahu sutra, juga dikembangkan susu kedelai dan olahan kedelai lainnya. "Kami hanya membuat tahu pagi untuk dihabiskan siang, lalu bikin siang untuk sore. Tak ada yang ditaruh berjam-jam. Kami selalu fresh [segar]," jelas Hendra. Kesetiaan pada kualitas, menjaga kepercayaan pelanggan, dan inovasi yang tak henti telah menjadikan Tahu Talaga Yun Sen bukan sekadar pabrik, melainkan menjadi bahan ajar inspiratif bagi siswa sekolah, kampus, bahkan pemerintahan. Hendra mengatakan, tahu buatannya tak hanya bisa dinikmati di tempatnya saja, karena kini sudah banyak UMKM hingga restoran di Bandung, Jakarta hingga Bali yang menggunakan tahu produksinya. Hendra pun mengatakan, saat ini pihaknya terus mengembangkan bisnis dengan menggandeng SMBC Indonesia, terutama dalam pengadaan mesin-mesin, penambahan boiler, pembelian bahan baku dalam jumlah besar untuk stok saat harga fluktuatif, hingga rencana pembukaan cabang baru. Selain dukungan permodalan, Tahu Talaga juga memanfaatkan layanan digital SMBC Indonesia, TouchBiz, untuk mempermudah seluruh transaksi operasional, termasuk transfer dan pembayaran gaji karyawan. Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi pabrik ke wilayah lain di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, Jawa Timur dan Medan, Sumatra. Tahu Talaga juga memiliki ambisi untuk melakukan ekspor ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura, yang dinilai memiliki pasar potensial karena tingginya minat konsumen di sana terhadap produk tahu Tahu Talaga. (*)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56