Nikmati 6 kuliner legendaris di Salatiga saat libur Lebaran 2026, mulai dari Bakso ABC hingga Bubur Mbah Lasemi, yang menawarkan cita rasa autentik dan sejarah panjang. [557] url asal
Bisnis.com, SALATIGA--Libur Lebaran tak hanya identik dengan silaturahmi dan mudik, tetapi juga menjadi momen tepat untuk menjelajahi kuliner khas daerah. Di tengah suasana santai bersama keluarga, wisata kuliner kerap jadi pilihan untuk melengkapi liburan.
Salah satu kota yang menawarkan pengalaman tersebut adalah Salatiga. Kota kecil berhawa sejuk ini dikenal memiliki ragam kuliner legendaris yang telah bertahan puluhan tahun, dengan cita rasa autentik yang tetap dipertahankan dari generasi ke generasi.
Mulai dari hidangan berkuah yang hangat hingga sajian malam yang manis dan menghangatkan tubuh, pilihan kuliner di Salatiga tidak hanya menggugah selera tetapi juga menyimpan nilai sejarah. Berikut lima rekomendasi kuliner yang layak dicoba saat liur Lebaran:
1. Bakso ABC Sari Roso
Bakso ABC Sari Roso dikenal sebagai salah satu bakso legendaris di Salatiga yang selalu ramai pengunjung, terutama saat musim liburan. Sajian baksonya memiliki tekstur kenyal dengan kuah kaldu sapi yang gurih dan bening, menciptakan rasa yang ringan namun tetap kaya.
Pilihan isiannya pun beragam, mulai dari bakso urat hingga bakso halus, dilengkapi mi kuning atau bihun. Tempat ini juga cocok menjadi pilihan makan siang yang mengenyangkan setelah berkeliling kota. Rasakan pula tahu bakso gorengnya yang renyah dan lembut di dalam.
2. Soto Esto
Soto Esto menjadi salah satu ikon kuliner pagi di Salatiga yang telah dikenal luas. Kuah sotonya cenderung bening dengan cita rasa segar, dipadukan dengan potongan ayam kampung dan taburan bawang goreng yang harum.
Disajikan dengan nasi hangat yang bisanya dicamur dengan kuah soto dipsatikan bakal langsung mengggugah selera. Dengan kondimen lengkap seperti sate jeroan, perkedel, dan goremgan, soto ini menawarkan dapat menjadi santapan yang pas untuk memulai hari.
3. Ronde Jago
Ronde Jago merupakan kuliner malam legendaris di Salatiga yang telah berdiri sejak puluhan tahun dan dikenal luas hingga luar kota. Sajian utamanya adalah wedang jahe hangat dengan isian ronde kenyal berisi kacang, disajikan bersama kolang-kaling dan potongan roti tawar.
Kuah jahenya yang hangat dan sedikit pedas memberikan sensasi menenangkan, cocok dinikmati di udara Salatiga yang sejuk. Cita rasanya yang konsisten dan suasana sederhana khas kaki lima menjadikan tempat ini favorit untuk bersantai di malam hari.
4. Tumpang Koyor Mbah Rakinem
Tumpang koyor merupakan hidangan khas Jawa yang cukup unik, dan salah satu yang paling terkenal di Salatiga adalah milik Mbah Rakinem. Sajian ini memadukan sambal tumpang berbahan tempe semangit dengan koyor atau urat sapi yang empuk.
Cita rasanya cenderung kuat, gurih, dan sedikit pedas, menciptakan pengalaman makan yang khas dan berbeda. Menu ini menjadi favorit bagi pencinta kuliner tradisional yang ingin merasakan keaslian masakan rumahan Jawa.
5. Sate Sapi Suruh
Sate Sapi Suruh dikenal dengan potongan daging sapinya yang padat dengan sedikit lemak, sehingga menghasilkan tekstur empuk saat dibakar. Proses pemanggangan yang pas membuat aroma dagingnya keluar kuat dengan cita rasa gurih yang khas.
Sajian ini disajikan dengan bumbu kacang kental yang gurih dan sedikit manis, berpadu dengan lembutnya lontong atau ketupat. Perpaduan tersebut menciptakan rasa yang kaya dan cocok dinikmati sebagai santapan utama saat libur Lebaran.
6. Bubur Mbah Lasemi
Bubur Mbah Lasemi menjadi salah satu kuliner legendaris yang kerap diburu pencinta makanan tradisional di Salatiga. Sajian ini berupa bubur nasi lembut yang disiram sambal tumpang berbahan tempe semangit, menghasilkan aroma khas dengan cita rasa gurih dan sedikit asam.
Disajikan dengan pelengkap seperti bakwan dan rolde (daun singkong goreng) menu ini menawarkan rasa yang unik sekaligus mengenyangkan. Cocok dinikmati saat pagi hari sebagai menu sarapan khas yang menghadirkan kehangatan dan kekayaan rasa tradisional Jawa.
Tahu Talaga Yun Sen di Bandung, berdiri sejak 1923, menjaga kualitas dan inovasi produk tahu. Dipimpin Hendra Gunawan, bisnis ini berkembang hingga Jakarta dan Bali. [790] url asal
Bisnis.com, BANDUNG — Kota Bandung telah lama dikenal sebagai surga kuliner yang tak pernah kehabisan daya tarik. Dari mulai kudapan kekinian, hingga makanan legendaris komplet ada di sana. Jejak itu terlihat jelas dari banyaknya kuliner legendaris yang tetap terawat hidup memberikan cita rasa yang terjaga dari satu generasi, ke generasi lainnya, bahkan di antara gempuran jajanan dan hidangan modern yang silih berganti. Salah satunya adalah Tahu Talaga Yun Sen yang menjelma menjadi sebuah warisan rasa, yang mampu berdiri kokoh sejak satu abad lalu. Meski sudah melintasi tiga generasi, Tahu Talaga Yun Sen mampu menjaga DNA rasa meski zaman terus berubah. Tepatnya di Jalan Sudirman 227, Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Tahu Talaga Yun Sen tak sulit ditemui. Meski akses masuk berupa gang kecil sepanjang kurang lebih 20 meter, pengunjung akan merasakan pengalaman berbeda saat memasuki area produksi sekaligus toko dari Tahu Talaga Yun Sen ini. Lebih dari sekadar pabrik tahu, tempat ini adalah monumen hidup tentang menjaga kualitas, merawat kepercayaan, dan menghormati akar lokal. Pemilik sekaligus penerus bisnis Tahu Talaga Yun Sen, Hendra Gunawan menceritakan perjalanan panjang usaha leluhurnya itu. Perjalanan pengolahan kedelai menjadi tahu ini bermula pada 1923. Didirikan oleh Liu Phak Phine, kakek Hendra, pabrik ini awalnya bernama "Yun Sen," yang bermakna 'seterusnya maju'.
Nama yang sarat optimisme ini lahir dari jerih payah Liu Phak Phine yang menghabiskan 15 tahun bekerja di perusahaan pertambangan kolonial Belanda. Bersama sang istri, Mak Ilot yang merupakan Mojang dari Talaga, Majalengka, mereka menyulap rumah sederhana menjadi pabrik tahu. Kolaborasi kultural antara perantau dan pribumi ini menjadi fondasi kuat yang kini menjadi pijakan bisnis tahu terkemuka di Bandung itu. Seiring waktu, nama 'Talaga' disematkan untuk melengkapi nama 'Yun Sen', mengabadikan tanah kelahiran Mak Ilot dan menjadi simbol akar mula bisnis ini bisa lahir. Hendra yang merupakan lulusan Teknik Mesin dari California State University, Long Beach, AS, sekaligus generasi ketiga bisnis ini, memberikan sentuhan modern yang kekinian. Memadukan antara warisan leluhur dengan perkembangan zaman. Hendra yang bertangan dingin dalam menjaga warisan bisnis leluhurnya, hadir dengan menerapkan standar produksi dan kualitas produk yang ketat, sekaligus berinovasi dengan meluncurkan tahu organik dan mengembangkan pemasaran hingga ke pelbagai daerah, dari Jakarta hingga Pulau Dewata, Bali. Hendra mengatakan, tidak ada resep abadi yang diterapkan leluhurnya agar bisnisnya awet. Namun, dia mengakui ada satu nilai yang selalu dijaga secara estafet, yaitu kejujuran dan konsistensi yang tidak pernah pudar setiap kali kalender berganti. Bagi dia, loyalitas pelanggan bukanlah semata keberuntungan, melainkan buah manis dari komitmen menjaga mutu. Di lorong sempit di Jalan Sudirman, hilir mudik mobil-mobil pelanggan setia silih berganti berdatangan yang menjadi bukti buah nilai yang ia anut. "Kalau konsumen sudah percaya, jangan sekali-kali membohongi mereka karena begitu mereka dibohongi, mereka tak akan kembali lagi," tegas Hendra kepada Tim Jelajah UMKM Bisnis Indonesia. Demi menjaga kualitas prima dan higienitas, Tahu Talaga tidak segan membayar mahal untuk bahan baku terpilih, bahkan jika itu membuat harga produk mereka sedikit lebih tinggi. Namun, di mata konsumen setia, harga itu menjadi sebanding. Bagian depan Tahu Talaga Yun Sen, salah satu destinasi kuliner di Kota Bandung, Jawa Barat. Fakta menarik lainnya, Tahu Talaga membuktikan bahwa bahan bermutu tinggi tak melulu harus diimpor. Mereka memilih untuk bermitra dengan produsen lokal, salah satunya menggandeng petani-petani di Jawa Timur yang teruji dalam menjaga mutu kedelai terbaik. "Ada 2—3 suplier yang memasok kami," kata Hendra. Dengan dibantu 35 karyawannya, dia mampu mengolah 5—6 kuintal kedelai menjadi belasan varian tahu, dari tahu kuning hingga tahu sutra, juga dikembangkan susu kedelai dan olahan kedelai lainnya. "Kami hanya membuat tahu pagi untuk dihabiskan siang, lalu bikin siang untuk sore. Tak ada yang ditaruh berjam-jam. Kami selalu fresh [segar]," jelas Hendra. Kesetiaan pada kualitas, menjaga kepercayaan pelanggan, dan inovasi yang tak henti telah menjadikan Tahu Talaga Yun Sen bukan sekadar pabrik, melainkan menjadi bahan ajar inspiratif bagi siswa sekolah, kampus, bahkan pemerintahan. Hendra mengatakan, tahu buatannya tak hanya bisa dinikmati di tempatnya saja, karena kini sudah banyak UMKM hingga restoran di Bandung, Jakarta hingga Bali yang menggunakan tahu produksinya. Hendra pun mengatakan, saat ini pihaknya terus mengembangkan bisnis dengan menggandeng SMBC Indonesia, terutama dalam pengadaan mesin-mesin, penambahan boiler, pembelian bahan baku dalam jumlah besar untuk stok saat harga fluktuatif, hingga rencana pembukaan cabang baru. Selain dukungan permodalan, Tahu Talaga juga memanfaatkan layanan digital SMBC Indonesia untuk nasabah UKM, TOUCHBIZ, untuk mempermudah seluruh transaksi operasional, termasuk transfer dan pembayaran gaji karyawan. Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi pabrik ke wilayah lain di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya dan kawasan Sumatra, seperti Medan dan kota-kota lainnya. Tahu Talaga juga memiliki ambisi untuk melakukan ekspor ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura, yang dinilai memiliki pasar potensial karena tingginya minat konsumen di sana terhadap produk tahu Tahu Talaga.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56