Bisnis.com, JAKARTA — Uni Emirat Arab (UEA) akhirnya menyusul Kuwait yang memangkas produksi minyak seiring kian tertutupnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mulai mengguncang pasar energi global dan mengganggu pasokan minyak dunia.
Dikutip dari laporanBloomberg, Minggu (8/3/2026) perusahaan minyak nasional UEA, Abu Dhabi National Oil Co. (Adnoc), menyatakan pihaknya tengah mengelola tingkat produksi di fasilitas lepas pantai guna menyesuaikan kebutuhan penyimpanan. Langkah ini dilakukan karena arus ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia mengalami hambatan.
Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp. juga menurunkan produksi di ladang minyak maupun kilang setelah muncul ancaman dari Iran terhadap keamanan pelayaran kapal di Selat Hormuz.
Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah membuat Selat Hormuz sebagai jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas, nyaris tidak dapat dilalui kapal. Ancaman Iran terhadap kapal-kapal komersial menyebabkan lalu lintas maritim terhenti dan ekspor minyak dari kawasan produsen utama dunia tersendat.
Gangguan tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak global. Harga minyak mentah di London bahkan ditutup pada level hampir US$93 per barel, tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir, sehingga memicu kekhawatiran kenaikan inflasi global karena mahalnya energi.
Pemangkasan produksi Kuwait dimulai sekitar 100.000 barel per hari sejak Sabtu pagi waktu setempat. Penurunan tersebut diperkirakan hampir tiga kali lipat pada Minggu, dengan kemungkinan pengurangan tambahan secara bertahap tergantung kapasitas penyimpanan serta kondisi Selat Hormuz.
UEA sendiri masih berupaya menjaga pasokan minyak ke pasar global dengan memanfaatkan jalur ekspor alternatif yang tidak melalui Selat Hormuz. Negara ini juga menggunakan fasilitas penyimpanan internasional untuk memastikan distribusi tetap berjalan.
Adnoc diketahui mengoperasikan pipa minyak berkapasitas 1,5 juta barel per hari menuju pelabuhan Fujairah di pantai barat UEA. Jalur ini memungkinkan ekspor minyak tetap berlangsung tanpa melewati Selat Hormuz, meskipun perusahaan menyebut operasi di daratan masih berjalan normal.
Pengurangan produksi oleh UEA dan Kuwait menyusul langkah serupa dari sejumlah negara produsen lain di kawasan. Irak sebelumnya mulai menahan produksi karena tangki penyimpanan penuh akibat ekspor yang terhambat.
Di saat yang sama, Arab Saudi menutup kilang minyak terbesar mereka, sementara Qatar menghentikan operasi fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia setelah serangan drone.
Kuwait Petroleum juga menyatakanforce majeureterhadap penjualan minyak mentah dan produk kilang. Klausul hukum ini memungkinkan perusahaan tidak memenuhi kewajiban kontrak karena keadaan di luar kendali, seperti konflik dan gangguan logistik.
Data Bloomberg menunjukkan Kuwait memproduksi sekitar 2,57 juta barel minyak per hari pada Januari. Namun hampir seluruh pasokan tersebut biasanya diekspor melalui Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur tersebut berdampak langsung terhadap arus perdagangan minyak negara itu.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harga minyak kemungkinan akan turun setelah konflik berakhir. Ia menyebut perang yang terjadi sebagai gangguan kecil yang diperkirakan hanya berlangsung sementara.
“Kami memperkirakan harga minyak akan naik, dan memang akan naik. Namun nanti juga akan turun dengan cepat setelah konflik selesai,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One.
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, UEA dan Kuwait juga menjadi target serangan rudal serta drone dari Iran. Beberapa fasilitas penting di kedua negara turut terdampak, termasuk Kedutaan Besar AS di Kuwait dan Konsulat AS di Dubai.