Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah kesibukan sehari-hari, menjaga kesehatan tubuh dan pikiran menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang. Salah satu cara sederhana yang kini semakin digemari adalah Japanese Walking, metode berjalan ala Jepang yang tak hanya berfungsi sebagai olahraga, tetapi juga sebagai latihan mindfulness.
Dokter Spesialis Olahraga, Maria Lestari, menjelaskan bahwa Japanese walking termasuk dalam kategori low impact interval training. Teknik ini berbeda dengan jalan kaki biasa karena memiliki fase intensitas yang lebih tinggi sehingga detak jantung naik-turun secara konsisten.
Jika dilakukan secara rutin, Japanese walking dapat meningkatkan kapasitas kardiorespirasi, sensitivitas insulin, serta membantu mengendalikan tekanan darah, sehingga lebih efektif untuk kesehatan metabolik.
Manfaat lainnya termasuk peningkatan kesehatan jantung dan pembuluh darah, perbaikan sensitivitas insulin, penurunan tekanan darah dan kolesterol, serta peningkatan fungsi sendi dan kepadatan tulang, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun.
"Jenis olahraga ini juga memiliki manfaat untuk kesehatan mental, seperti menurunkan stres dan kecemasan, memperbaiki mood serta kualitas tidur, dan memberikan efek antidepresan ringan hingga sedang jika dilakukan secara rutin," katanya.
Menurut Maria, Japanese walking atau olahraga jalan kaki secara umum punya manfaat baik bagi tubuh. Terlebih, olahraga ini dapat menjadi pintu masuk (entry point) bagi pemula untuk memulai aktivitas fisik.
Jenis olahraga ini juga cocok bagi orang yang obesitas, pemula, atau mereka yang sedang pemulihan pasca cedera. Ke depannya, ketika tubuh sudah beradaptasi, latihan bisa dikombinasikan dengan berbagai jenis olahraga lain sesuai kebutuhan.
Secara umum, olahraga ini juga tergolong aman bagi hampir semua orang. Meski begitu, katanya, ada kondisi tertentu yang perlu diperhatikan, seperti riwayat penyakit jantung, nyeri dada saat beraktivitas, diabetes dengan neuropati, masalah sendi berat (lutut atau pinggang), serta obesitas ekstrem yang menimbulkan nyeri saat berjalan.
Meskipun mudah dilakukan, Maria menekankan pentingnya memperhatikan teknik berjalan. Beberapa cedera yang bisa muncul antara lain nyeri tumit (plantar fasciitis), nyeri lutut bagian depan, shin splints, nyeri pinggang bawah, serta lecet dan kapalan.
"Banyak keluhan muncul bukan krn jalan kakinya, tapi overuse tanpa adaptasi," imbuhnya.
Untuk mencegah cedera, pastikan menggunakan sepatu yang tepat (cushion dan pas di kaki), berjalan di permukaan yang bervariasi, meningkatkan durasi latihan secara bertahap, menambahkan latihan penguatan otot, serta melakukan stretching ringan setelah berjalan.