Bisnis.com, JAKARTA — Mendengarkan musik segera setelah mempelajari informasi terbaru ternyata dapat membantu meningkatkan daya ingat pada orang dewasa lanjut usia dan individu dengan penyakit Alzheimer ringan.
Berdasarkan sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal Memory, membuktikan bahwa musik yang merangsang emosi dapat meningkatkan jenis ingatan tertentu, sementara musik yang menenangkan dapat membantu memudarkan ingatan negatif.
Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis musik dengan biaya rendah dapat berperan mendukung dalam mengelola penurunan kognitif, terutama pada penderita Alzheimer.
Apa Itu Alzheimer?
Penyakit Alzheimer adalah kondisi progresif yang merusak struktur neurologis di dalam otak, yang penting untuk memproses informasi. Kerusakan ini biasanya dimulai di hipokampus dan korteks entorhinal, yakni area-area yang penting untuk membentuk memori episodik baru.
Seiring penyakit ini berkembang pada seseorang, penderitanya akan sering kesulitan mengingat peristiwa atau detail spesifik dari masa lalu mereka.
Gejala umum pada tahap awal Alzheimer adalah pengenalan palsu. Ini terjadi ketika seseorang secara keliru mengidentifikasi objek atau peristiwa baru sebagai sesuatu yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Pada penyakit Alzheimer, kemampuan mengingat detail seringkali menurun sebelum rasa familiaritas. Pasien mungkin mengandalkan rasa familiaritas yang samar tersebut ketika mencoba mengenali sebuah informasi.
Ketergantungan ini dapat menyebabkan mereka percaya bahwa mereka telah melihat gambar baru atau mendengar cerita baru padahal sebenarnya belum. Oleh karena itu, penting untuk melakukan intervensi kognitif untuk mengurangi kesalahan pengenalan palsu ini.
Meskipun sistem memori tertentu mengalami penurunan fungsi, namun kemampuan otak untuk memproses emosi seringkali tetap relatif utuh untuk jangka waktu yang lebih lama.
Penelitian menunjukkan bahwa peristiwa emosional umumnya lebih mudah diingat daripada peristiwa netral. Peningkatan memori yang sifatnya emosional ini bergantung pada amigdala, struktur kecil berbentuk almond di otak yang memproses rangsangan emosional.
Intervensi Menggunakan Musik
Saat ini, sudah banyak peneliti yang telah mengeksplorasi apakah musik dapat berfungsi sebagai stimulus tersebut. Musik dikenal dapat memicu respons emosional yang kuat dan mengaktifkan sistem penghargaan otak.
Studi sebelumnya pada orang dewasa muda telah menemukan bahwa mendengarkan musik segera setelah belajar dapat meningkatkan kekuatan memori.
Kini sebuah studi berjudul “The soundtrack of memory: the effect of music on emotional memory in Alzheimer’s disease and older adults” diluncurkan, yang ditulis oleh Julieta Moltrasio dan Wanda Rubinstein.
Tim peneliti di balik studi saat ini bertujuan melihat apakah efek ini meluas ke orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang menderita Alzheimer.
“Tim kami, yang dipimpin oleh Wanda Rubinstein, mulai meneliti intervensi berbasis musik. Hasilnya mengenai efek musik pada memori orang dewasa muda sangat menjanjikan. Ketika disajikan setelah fase pembelajaran, musik terbukti dapat meningkatkan memori visual dan verbal,” kata penulis studi Julieta Moltrasio, seorang peneliti yang terafiliasi dengan Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah dan Teknis, di University of Palermo, dan University of Buenos Aires.
Selain itu, lanjutnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penderita demensia dapat mengingat lagu-lagu yang familiar bahkan ketika mereka sudah melupakan peristiwa penting dari masa lalu mereka.
Dalam studi yang dikepalai Wanda Rubinstein, penelitian tersebut melibatkan 186 peserta yang tinggal di Argentina. Sampelnya terdiri dari 93 individu yang didiagnosis menderita penyakit Alzheimer ringan dan 93 orang dewasa lanjut usia yang sehat.
Adapun, aspek penting dari kelompok ini adalah latar belakang pendidikan mereka. Banyak peserta memiliki tingkat pendidikan formal yang lebih rendah daripada yang biasanya terjadi dalam penelitian ilmu saraf. Inklusi ini membantu memperluas penerapan temuan ilmiah ke populasi yang lebih beragam.
Para peneliti melibatkan peserta dalam dua sesi yang dipisahkan oleh satu minggu. Pada sesi pertama, peserta melihat serangkaian 36 gambar. Gambar-gambar ini diambil dari basis data standar yang digunakan dalam penelitian psikologi.
Gambar-gambar tersebut bervariasi dalam konten emosional. Beberapa positif, beberapa negatif, dan yang lainnya netral.
Setelah melihat gambar-gambar tersebut, para peneliti membagi peserta menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok mengalami kondisi pendengaran yang berbeda selama tiga menit.
Satu kelompok mendengarkan musik yang membangkitkan emosi. Para peneliti memilih gerakan ketiga dari Simfoni No. 70 karya Haydn untuk kondisi ini.
Kelompok kedua mendengarkan musik yang menenangkan. Para peneliti menggunakan Canon in D Major karya Pachelbel untuk kondisi ini.
Kelompok ketiga berfungsi sebagai kontrol dan mendengarkan white noise. White noise memberikan suara latar belakang yang konstan tanpa struktur musik.
Segera setelah fase mendengarkan ini, peserta melakukan tugas memori. Mereka kemudian diminta untuk mendeskripsikan sebanyak mungkin gambar yang dapat mereka ingat. Mereka juga menyelesaikan tugas pengenalan.
Para peneliti menunjukkan kepada mereka gambar asli yang dicampur dengan gambar baru. Peserta harus mengidentifikasi gambar mana yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Seminggu kemudian, para peserta kembali untuk sesi kedua. Mereka mengulangi tugas mengingat dan mengenali untuk menguji memori jangka panjang mereka terhadap gambar-gambar tersebut.
Mereka tidak mendengarkan musik lagi selama sesi kedua ini. Desain ini memungkinkan para peneliti untuk menguji apakah musik yang diputar segera setelah pembelajaran membantu mengkonsolidasikan ingatan dari waktu ke waktu.
Hasilnya menunjukkan bahwa memori emosional sebagian besar tetap terjaga di kedua kelompok. Baik orang dewasa lanjut usia yang sehat maupun pasien Alzheimer mengingat gambar-gambar emosional lebih baik daripada gambar-gambar netral.
"Ini menegaskan bahwa kemampuan untuk memprioritaskan informasi emosional tetap berfungsi bahkan ketika proses kognitif lainnya menurun," jelas Moltrasio.
Jenis musik yang diputar setelah fase pembelajaran juga memiliki efek yang berbeda pada kinerja memori satu minggu kemudian.
Bagi orang dewasa lanjut usia yang sehat, mendengarkan musik yang membangkitkan emosi menyebabkan ingatan tertunda yang lebih baik. Mereka mampu menggambarkan lebih banyak gambar positif dan netral dibandingkan dengan mereka yang mendengarkan white noise.
Sementara itu, bagi peserta dengan penyakit Alzheimer, manfaatnya juga terlihat berbeda. Musik yang membangkitkan semangat tidak meningkatkan jumlah total gambar ryang dapat mereka ingat. Namun, musik tersebut meningkatkan akurasi mereka dalam tugas pengenalan.
Pasien yang mendengarkan musik yang merangsang akan membuat lebih sedikit kesalahan pengenalan palsu satu minggu kemudian. Mereka cenderung tidak salah mengira gambar baru sebagai gambar lama.
Pengurangan kesalahan pengenalan ini menyiratkan bahwa musik tersebut mungkin telah memperkuat detail spesifik dari ingatan. Dengan meningkatkan proses mengingat, intervensi tersebut membantu pasien membedakan antara apa yang sebenarnya mereka lihat dan apa yang hanya terasa familiar.
Para peneliti juga menemukan efek yang berbeda untuk kondisi musik yang menenangkan. Peserta yang mendengarkan Canon Pachelbel menunjukkan penurunan kemampuan mereka untuk mengenali gambar negatif satu minggu kemudian. Temuan ini konsisten di antara orang dewasa lanjut usia yang sehat dan mereka yang menderita Alzheimer.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi berbiaya rendah dan mudah direplikasi, seperti mendengarkan musik, dapat berdampak positif pada memori individu yang mengalami kehilangan memori,” jelas Moltrasio.
Dia menegaskan, temuan ini dapat membantu peneliti dan pengembang lain menciptakan perawatan yang ditargetkan.