#30 tag 24jam
Dubes RI: Indonesia dan Swiss Tak Bersaing, tapi Saling Melengkapi (Bagian Pertama)
Petikan wawancara khusus Kompas.com dengan Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya bagian 1 soal 75 tahun hubungan RI-Swiss di tengah situasi geopolitik. [1,340] url asal
#swiss #ngurah-swajaya #wawancara-khusus #dubes-ri #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 13:57
v/263649/
BERN, KOMPAS.com — Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss memasuki usia ke-75 pada 2026. Pada momen ini, hubungan kerja sama dua negara ini meningkat menjadi lebih serius, dengan ditekennya Memorandum of Understanding (MoU) pada acara Industry Day di Basel, Swiss, 23 Juni 2026. Salah satu poin kesepakatan bahwa Swiss dan RI akan mempererat kerja sama bidang hilirisasi.
Untuk mengupas kerja sama RI-Swiss tersebut, Kompas.com Bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Ngurah Sanjaya di kantornya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss di Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Bagi Ngurah Swajaya, tonggak MoU tersebut bukan sekadar perayaan hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1951, melainkan momentum untuk membawa kerja sama kedua negara ke level yang lebih strategis. Untuk menandai pentingnya kerja sama RI-Swiss ke 75, KBRI membuat hashtag khusus, yakni #RICH_75indonesiaswiss.
Saling Melengkapi
Menurut Ngurah, selama tujuh setengah dekade terakhir Indonesia dan Swiss telah membangun fondasi kerja sama yang kuat melalui berbagai perjanjian, mulai dari perdagangan, investasi, hingga bantuan hukum timbal balik.
Fondasi tersebut menjadi modal penting ketika dunia kini menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya persaingan dan konflik geopolitik.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dan Swiss dinilai memiliki karakteristik yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan sumber daya alam, pasar yang besar, dan bonus demografi, sedangkan Swiss memiliki keunggulan dalam teknologi, inovasi, investasi, dan jaringan perdagangan global.
Karena itu, hubungan kedua negara tidak dipandang sebagai hubungan yang saling bersaing, melainkan saling mengisi kebutuhan masing-masing.
Momentum 75 tahun hubungan diplomatik juga ditandai dengan lahirnya kerja sama baru di bidang pengolahan mineral dan logam yang dinilai membuka babak baru kemitraan ekonomi kedua negara. Bagi Ngurah, kerja sama itu menunjukkan bahwa Indonesia dan Swiss mampu melihat peluang di tengah tantangan global.
KONTAN/TRI YUWONO Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer menandatangani MoU kerja sama mineral dan logam yang disaksikan Guy Parmelin dan Presiden Swissmem Martin Hirzel di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Berikut petikan wawancara Kompas.com bersama tim KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya di Bern, Swiss, dalam format tanya-jawab.
Apa makna 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss?
Tahun ini kita memang merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Switzerland. Hubungan diplomatik dimulai pada 1951, sehingga ini merupakan perjalanan yang cukup panjang.
Selama kurun waktu tersebut, hubungan bilateral berjalan stabil dan kedua negara memiliki hubungan yang sangat baik. Namun, peringatan 75 tahun ini tidak ingin kami jadikan sekadar seremoni. Kami ingin menjadikannya momentum untuk mengoptimalkan seluruh potensi kerja sama yang masih bisa dikembangkan.
Dalam perjalanan itu, kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian yang menjadi fondasi hubungan bilateral.
Yang pertama adalah perjanjian perdagangan melalui Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Swiss merupakan bagian dari European Free Trade Association (EFTA), dan perjanjian tersebut memberikan kepastian hukum untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi.
Selain itu, Indonesia dan Swiss juga telah memiliki Bilateral Investment Treaty (BIT) yang menjadi dasar perlindungan investasi kedua negara.
Di luar bidang ekonomi, kedua negara juga memiliki Mutual Legal Assistance in Criminal Matters, sehingga terdapat mekanisme kerja sama apabila diperlukan bantuan hukum dalam perkara pidana.
Kami juga mempunyai Young Professionals Exchange Programme, yaitu program yang memungkinkan profesional muda Indonesia bekerja di Swiss dan profesional muda Swiss bekerja di Indonesia selama 18 bulan. Tujuannya memberikan pengalaman mengenai dunia usaha dan perekonomian masing-masing negara.
Kuotanya mencapai 100 orang setiap tahun, meskipun hingga kini belum seluruhnya dimanfaatkan. Sebagian besar pesertanya berasal dari sektor jasa, terutama perhotelan.
Mengapa 75 tahun ini disebut sebagai momentum?
Karena kondisi dunia sekarang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ketegangan dan konflik geopolitik memang menjadi tantangan, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang baru bagi Indonesia maupun Swiss.
Saya melihat ada tiga momentum besar yang bisa dimanfaatkan.
Pertama adalah kerja sama pengolahan sumber daya mineral dan logam yang ditandatangani dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik.
Kerja sama ini menurut saya bersifat saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar, sementara Swiss memiliki teknologi, inovasi, investasi, jaringan global commodity trading, dan sumber daya manusia yang dapat mendukung hilirisasi industri di Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia memperoleh nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, sedangkan Swiss dapat berkontribusi melalui teknologi dan investasi.
Apa yang membuat kerja sama mineral dan logam ini istimewa?
Kerja sama tersebut merupakan langkah yang sangat penting.
Bagi Indonesia, kerja sama ini memberikan alternatif sumber teknologi untuk mendukung program hilirisasi nasional.
Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu sumber teknologi dari satu negara, tetapi memiliki lebih banyak pilihan mitra.
Teknologi Swiss selama ini identik dengan inovasi, efisiensi, serta upaya mengurangi emisi karbon. Selain itu, teknologi mereka selalu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah terhadap suatu produk.
Karena itu, kami melihat kerja sama ini sebagai peluang yang sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal.
Selain hilirisasi, apa momentum kedua yang Bapak maksud?
Momentum kedua berkaitan dengan posisi kedua negara dalam geopolitik dunia.
Swiss memiliki prinsip politik luar negeri yang netral, sedangkan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
Posisi tersebut membuat kedua negara sama-sama tidak memiliki hambatan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak yang saat ini berada dalam kubu-kubu yang saling berkompetisi.
Indonesia memiliki keunggulan karena mampu bekerja sama dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam blok tertentu. Di sisi lain, Swiss memiliki reputasi sebagai negara netral dengan penguasaan teknologi yang sangat maju.
Kombinasi tersebut menurut saya menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Apa momentum ketiga yang melihat peluang baru hubungan Indonesia-Swiss?
Selama ini hubungan bilateral memang berjalan sangat baik, tetapi saya melihat Indonesia dan Swiss belum sepenuhnya menempatkan satu sama lain dalam global mindset masing-masing.
Indonesia belum benar-benar melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam banyak sektor. Sebaliknya, Swiss juga belum sepenuhnya memandang Indonesia sebagai salah satu prioritas utama.
Padahal situasi geopolitik saat ini membuat banyak negara Eropa, termasuk Swiss, mulai melakukan diversifikasi mitra.
Mereka tidak lagi hanya bergantung pada mitra tradisional, tetapi mulai melihat Asia sebagai kawasan yang sangat penting.
Dalam konteks itu, Indonesia memiliki posisi yang sangat menarik.
Apa yang membuat Indonesia menarik bagi Swiss?
Indonesia adalah bagian dari pasar ASEAN yang jumlah penduduknya sekitar 700 juta jiwa.
Selain itu, Indonesia berada di kawasan yang relatif stabil dari sisi keamanan maupun politik dibandingkan beberapa kawasan lain di dunia.
Indonesia juga memiliki bonus demografi. Penduduk usia mudanya besar dan siap dilatih untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Saya melihat ketiga faktor tersebut menjadi daya tarik yang mulai dipahami oleh Swiss.
Salah satu contohnya terlihat ketika Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diundang dalam Swissmem Industry Day, sebuah agenda tahunan yang dihadiri sekitar 2.000 pelaku industri Swiss.
Sepanjang penyelenggaraannya, belum pernah ada negara ASEAN lain yang memperoleh undangan seperti Indonesia.
Menurut saya, itu menunjukkan perhatian Swiss terhadap Indonesia semakin besar.
Lalu apa yang dimiliki Swiss sehingga penting bagi Indonesia?
Swiss selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia.
Mereka juga merupakan sumber investasi yang sangat besar bagi berbagai negara.
Keunggulan Swiss bukan hanya pada teknologi, tetapi juga kemampuan melakukan inovasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ukuran negaranya relatif kecil sehingga ketika perusahaan-perusahaan Swiss ingin meningkatkan skala produksi, mereka membutuhkan mitra di luar negeri.
Indonesia dapat menjadi salah satu tujuan karena memiliki pasar, tenaga kerja, dan sumber daya yang dibutuhkan.
Kalau investasi Swiss masuk ke Indonesia, maka bukan hanya modal yang datang, tetapi juga peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Karena itulah saya selalu menekankan bahwa Indonesia dan Swiss memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Kita tidak bersaing dengan Swiss. Justru masing-masing memiliki keunggulan yang bisa dipadukan untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua negara.
Melalui rangkaian kegiatan sepanjang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, kami berharap pemahaman masyarakat Swiss terhadap Indonesia semakin baik, demikian pula pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Swiss.
Di tengah tantangan geopolitik yang dihadapi dunia saat ini, saya melihat hubungan Indonesia dan Swiss justru memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis pada masa mendatang.
Lanjut ke Bagian Kedua.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Swiss Siapkan Industri 5.0, Indonesia Mulai Buka Jalan Kolaborasi
Swiss mulai melangkah ke Industry 5.0 berbasis AI. Indonesia membuka akses kolaborasi untuk menyiapkan SDM dan ekosistem industri. [881] url asal
#swiss #ngurah-swajaya #bern #francis-wanandi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 17:36
v/259856/
BERN, KOMPAS.com — Saat sebagian besar negara masih berfokus pada Industry 4.0, Swiss mulai melangkah ke Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), robotika, dan kolaborasi manusia dengan mesin cerdas. Melalui Swiss Smart Factory di Biel, kanton Bern, Indonesia pun mulai membuka akses kerja sama untuk mempelajari pengembangan teknologi tersebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri dan sumber daya manusia.
Kunjungan delegasi Indonesia ke Swiss Smart Factory merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi dengan pusat pengembangan teknologi tersebut. Kerja sama telah dijalin bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, termasuk dengan lembaga pendidikan vokasi di Solo dan Nongsa Digital Park, untuk membuka akses pengembangan teknologi bagi Indonesia.
"Jadi kita berupaya, kita juga tap keahlian mereka untuk kita bawa ke Indonesia. Jadi itu hampir sebagai alasan kenapa kita di sini," kata Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com, dalam sesi khusus di sela acara " 7th Edition of the International Smart Factory Summit: Shaping Industry 5.0 Together, di Bern, Kamis (24/6/2026).
Menurut Ngurah, Swiss Smart Factory merupakan inkubator teknologi yang berfokus pada robotika dan kobotika, yakni robot yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia. Berbeda dengan robot industri konvensional yang bekerja secara terpisah dari manusia, teknologi kobotika dirancang untuk bekerja berdampingan dengan operator.
Ia menjelaskan, lembaga tersebut tidak didirikan pemerintah, melainkan oleh industri yang kemudian mendapat dukungan pemerintah, terutama pemerintah daerah. Di lokasi yang berdampingan dengan universitas itu, hasil riset tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi disiapkan agar dapat diterapkan langsung di dunia usaha.
"Jadi semacam agregator dalam rangka mengaplikasikan di lapangan. Jadi nanti kita lihat industri itu penggunaan sumber daya manusianya semakin sedikit," ujar Ngurah.
AI Mengubah Arah Industri
Dalam International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne mengatakan dunia kini memasuki perlombaan baru yang berbeda dari konsep Industry 4.0.
"Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut," kata Gorecky.
"Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0," ujarnya.
Menurut Gorecky, Industry 5.0 menghadirkan konsep tenaga kerja baru yang memadukan manusia dengan AI agent. Teknologi tersebut mampu menyediakan informasi yang tepat untuk membantu pengambilan keputusan, bekerja berdasarkan misi, serta beroperasi selama 24 jam sehari.
Perkembangan berikutnya adalah hadirnya AI fisik (physical AI) yang mencakup robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.
"Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya," kata Gorecky.
Ia juga menjelaskan bahwa pada Industry 5.0, AI agent tidak hanya memahami kebutuhan pengguna, tetapi juga dapat bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memperoleh produk terbaik dalam waktu paling optimal.
Meski demikian, Gorecky mempertanyakan apakah konsep Industry 5.0 benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat.
"Jika Anda bertanya kepada seorang CEO apakah mereka menginginkan pabrik yang dipenuhi manusia, jawabannya adalah tidak. Mereka menginginkan pabrik dengan lebih sedikit manusia. Jadi, di mana letak konsep yang berpusat pada manusia? Saya mempertanyakan hal itu," katanya.
Dalam paparannya, Gorecky juga mengingatkan risiko apabila suatu negara tidak berinvestasi pada inovasi AI. Menurut dia, Swiss dan Eropa dapat menjadi "Koloni AI" apabila hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan negara lain, sedangkan jalan keluarnya adalah meningkatkan investasi pada inovasi, memperkuat perusahaan rintisan, serta membangun ekosistem Industry 5.0.
"Kami bukan hanya ingin menulis makalah dan teori. Kami benar-benar ingin mengubah dunia," ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi menilai Swiss Smart Factory menunjukkan bagaimana kolaborasi menjadi fondasi utama pengembangan teknologi di Swiss.
"Satu sangat mengganggu, tapi di satu sisi juga cukup mengerikan apa kejadian masa depan di dunia ini. Saya rasa dengan adanya Swiss Smart Factory ini sangat menunjukkan komitmen dari Swiss sebagai sebuah negara untuk menjadi yang terdepan, untuk menjadi player, bukan hanya sebagai user," kata Francis.
Menurut dia, kekuatan utama Swiss terletak pada kolaborasi antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi yang memiliki visi yang sama untuk menjadi pemimpin teknologi dunia.
"Kuncinya kalau saya lihat di sini adalah semua itu adalah kolaborasi. Kolaborasi sesama industri, kolaborasi antara pemerintah dengan industri, termasuk kolaborasi juga dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di sini," ujarnya.
Francis mengatakan Indonesia telah membuka akses kerja sama dengan Swiss Smart Factory melalui Kadin, Nongsa Digital Park, dan lembaga pendidikan vokasi. Langkah berikutnya adalah menyiapkan program training for trainers.
"Nanti kita latih beberapa orang bisa melakukan pelatihan di Indonesia. Itu nanti diaplikasikan secara luas," katanya.
Ia menjelaskan pelatihan tersebut menyasar kalangan insinyur, pengembang teknologi, hingga perancang teknologi agar Indonesia mulai membangun kemampuan sejak tahap awal pengembangan Industry 5.0.
Menurut Francis, KBRI Bern juga memandang penting mendorong investasi perusahaan kecil dan menengah Swiss yang berbasis teknologi karena dinilai dapat membantu membangun ekosistem industri di Indonesia.
"Kalau misalnya tidak ada ekosistem industri, ya tidak bisa hanya dipaksakan dengan aturan. Di sinilah kunci strategisnya kalau menurut saya. Bagaimana kita bisa menuju ke apa yang menjadi visi Indonesia 2045, Indonesia Emas. Jadi sumber daya manusianya harus kita perkuat. Ekosistem industrinya harus kita perkuat," ujar Francis.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bukan Sekadar Bangun Pabrik, Model Hilirisasi RI-Swiss Dibangun dari Vokasi hingga Pasar Global
Di usia 75 tahun hubungan bilateral, Indonesia dan Swiss menyiapkan kerja sama hilirisasi dari SDM, teknologi, pembiayaan hingga akses pasar global. [851] url asal
#vokasi #swiss #ngurah-swajaya #hilirisasi #basel #75-tahun-indonesia-swiss #francis-wanandi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 14:58
v/259582/
BASEL, KOMPAS.com — Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya mengatakan kerja sama hilirisasi mineral dan metal antara Indonesia dan Swiss dirancang tidak hanya berfokus pada pembangunan pabrik, tetapi juga membangun ekosistem hilirisasi yang mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi, pembiayaan, hingga akses pasar global.
Menurut Ngurah, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) yang telah disepakati kedua negara menjadi kerangka kerja sama pemerintah dengan pemerintah (government to government/G2G) untuk mengidentifikasi sektor prioritas hilirisasi sekaligus mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan Swiss.
"MOU ini memberikan kerangka aturan dan juga platform untuk kedua negara sebagai pemerintah duduk bersama. Nanti akan diidentifikasi kira-kira apa yang mau kita prioritaskan, sektornya, terkait dengan hilirisasi," ujar Ngurah, dalam wawancara khusus dengan delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com, di Basel, Swiss, usai MoU.
Ia menjelaskan, setelah sektor prioritas disepakati, kedua pemerintah akan mempertemukan pelaku usaha dari masing-masing negara. Melalui mekanisme tersebut, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan investasi juga dapat dibahas melalui jalur antarpemerintah.
"Apabila ada masalah di kemudian hari atau perlu didiskusikan lagi, paling tidak sudah ada kerangka dan platformnya bagi pemerintah untuk berbicara," katanya.
KONTAN/TRI YUWONO Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer menandatangani MoU kerja sama mineral dan logam yang disaksikan Guy Parmelin dan Presiden Swissmem Martin Hirzel di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Ngurah mengatakan mekanisme seperti itu belum dimiliki Swiss dengan negara lain, begitu pula Indonesia. Menurut dia, selama ini investasi umumnya berjalan langsung antarpelaku usaha tanpa platform tetap untuk menyelesaikan persoalan yang membutuhkan dukungan pemerintah.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut akan diperkuat melalui Joint Economic and Trade Commission yang mempertemukan Indonesia dan Swiss setiap tahun untuk mengevaluasi sekaligus membahas tindak lanjut kerja sama.
"Yang penting bagi kita adalah ini akan memperkuat ekosistem industri hilirisasi di Indonesia," ujar Ngurah.
Meski demikian, ia menegaskan hingga kini belum ada komitmen nilai investasi maupun penetapan sektor prioritas karena seluruhnya masih akan diidentifikasi dalam pembahasan lanjutan.
"Komitmen investasinya berapa, kita belum ada. Bahkan untuk diidentifikasi sektornya itu apa, belum ada," kata Ngurah.
Hilirisasi Tak Berhenti di Investasi
Ngurah mengatakan kerja sama tersebut tidak sebatas pembangunan pabrik, melainkan juga mencakup pendidikan dan pelatihan, pembiayaan, teknologi, hingga perdagangan global.
"Enggak sebatas bikin pabrik saja. Karena ini sangat komprehensif. Ada pendidikan pelatihan, ada global trading, ada financing, segala macam," ujarnya.
Ia menuturkan, Swiss juga memiliki keunggulan dalam pengembangan teknologi industri yang memperhatikan keberlanjutan dengan menekan emisi karbon.
"Semua teknologi yang dikembangkan akan berusaha dikurangi adanya emisi karbon. Sampai dia menjadi nol. Itulah teknologi yang diminati oleh pasar sekarang," katanya.
Selain itu, Ngurah mengatakan Swiss melihat Indonesia sebagai mitra strategis karena kedua negara saling melengkapi, bukan saling bersaing.
"Indonesia adalah ikan yang besar. Indonesia termasuk salah satu negara besar. Kita saling melengkapi, bukan kompetitor," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia juga dinilai menarik karena merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki pasar tunggal ASEAN, basis produksi yang kompetitif, serta stabilitas politik dan keamanan yang menjadi pertimbangan investor.
Vokasi Jadi Fondasi Hilirisasi
Ngurah mengatakan pengembangan SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hilirisasi. Saat ini terdapat sekitar lima politeknik di Indonesia yang menerapkan sistem pendidikan Swiss, antara lain di Solo, Karawang, Cikarang, Politeknik Manufaktur Bandung, dan NHI Bandung.
Namun, ia menilai model tersebut perlu direplikasi ke wilayah pusat hilirisasi mineral di luar Pulau Jawa.
"Kalau kita bicara mengenai hilirisasi, sudah tentu kita perlu di Sulawesi, kita perlu di Halmahera. Bagaimana kita nanti mendorong supaya kita bisa replikasi saja," ujar Ngurah.
Menurut dia, lembaga vokasi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan industri.
"Kesuksesan lembaga pendidikan vokasi bergantung pada kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhan, tidak ada demand dari industri," katanya.
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Ketua Kadin Bidang Hubungan Luar Negeri Francis Wanandi menyampaikan pandangannya mengenai penguatan hilirisasi dan pengembangan pendidikan vokasi dalam kerja sama Indonesia-Swiss di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi menambahkan, kepastian regulasi dan kesiapan SDM menjadi syarat penting agar investasi dapat berkembang di Indonesia.
"Kalau suatu investasi yang cukup besar, kepastian terhadap regulasi dan hukum itu menjadi prasyarat utama dari kerja sama ini," ujar Francis.
Ia mengatakan Indonesia perlu memastikan hilirisasi mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar mengekspor bahan mentah.
"Jangan sampai lagi kita mengalami seperti minyak kita. Kita hanya bikin minyak mentahnya, kita kirim lagi, habis itu masuk lagi ke Indonesia," katanya.
Francis juga menilai kekuatan Swiss bukan hanya terletak pada teknologi, tetapi juga jaringan perdagangan internasional yang dapat membuka peluang bagi produk Indonesia.
"Swiss has already a lot of market access di dunia. Ditambah dengan kerja sama dengan Swiss, kepercayaan terhadap produk yang akan kita jual semakin tinggi lagi," ujar Francis.
Menurut dia, produk Indonesia, baik semi-finished goods maupun finished goods, akan memiliki peluang lebih besar diterima pasar internasional melalui jejaring perdagangan yang dimiliki Swiss.
Francis mengatakan pemerintah daerah juga perlu mulai melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri.
"Swiss is not just about beautiful country. Lihat konsep kerjanya seperti apa, filosofi perusahaannya seperti apa, kulturnya seperti apa," kata Francis.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56