#30 tag 24jam
Dubes RI: Indonesia dan Swiss Tak Bersaing, tapi Saling Melengkapi (Bagian Pertama)
Petikan wawancara khusus Kompas.com dengan Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya bagian 1 soal 75 tahun hubungan RI-Swiss di tengah situasi geopolitik. [1,340] url asal
#swiss #ngurah-swajaya #wawancara-khusus #dubes-ri #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 13:57
v/263649/
BERN, KOMPAS.com — Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss memasuki usia ke-75 pada 2026. Pada momen ini, hubungan kerja sama dua negara ini meningkat menjadi lebih serius, dengan ditekennya Memorandum of Understanding (MoU) pada acara Industry Day di Basel, Swiss, 23 Juni 2026. Salah satu poin kesepakatan bahwa Swiss dan RI akan mempererat kerja sama bidang hilirisasi.
Untuk mengupas kerja sama RI-Swiss tersebut, Kompas.com Bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Ngurah Sanjaya di kantornya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss di Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Bagi Ngurah Swajaya, tonggak MoU tersebut bukan sekadar perayaan hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1951, melainkan momentum untuk membawa kerja sama kedua negara ke level yang lebih strategis. Untuk menandai pentingnya kerja sama RI-Swiss ke 75, KBRI membuat hashtag khusus, yakni #RICH_75indonesiaswiss.
Saling Melengkapi
Menurut Ngurah, selama tujuh setengah dekade terakhir Indonesia dan Swiss telah membangun fondasi kerja sama yang kuat melalui berbagai perjanjian, mulai dari perdagangan, investasi, hingga bantuan hukum timbal balik.
Fondasi tersebut menjadi modal penting ketika dunia kini menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya persaingan dan konflik geopolitik.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dan Swiss dinilai memiliki karakteristik yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan sumber daya alam, pasar yang besar, dan bonus demografi, sedangkan Swiss memiliki keunggulan dalam teknologi, inovasi, investasi, dan jaringan perdagangan global.
Karena itu, hubungan kedua negara tidak dipandang sebagai hubungan yang saling bersaing, melainkan saling mengisi kebutuhan masing-masing.
Momentum 75 tahun hubungan diplomatik juga ditandai dengan lahirnya kerja sama baru di bidang pengolahan mineral dan logam yang dinilai membuka babak baru kemitraan ekonomi kedua negara. Bagi Ngurah, kerja sama itu menunjukkan bahwa Indonesia dan Swiss mampu melihat peluang di tengah tantangan global.
KONTAN/TRI YUWONO Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer menandatangani MoU kerja sama mineral dan logam yang disaksikan Guy Parmelin dan Presiden Swissmem Martin Hirzel di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Berikut petikan wawancara Kompas.com bersama tim KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya di Bern, Swiss, dalam format tanya-jawab.
Apa makna 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss?
Tahun ini kita memang merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Switzerland. Hubungan diplomatik dimulai pada 1951, sehingga ini merupakan perjalanan yang cukup panjang.
Selama kurun waktu tersebut, hubungan bilateral berjalan stabil dan kedua negara memiliki hubungan yang sangat baik. Namun, peringatan 75 tahun ini tidak ingin kami jadikan sekadar seremoni. Kami ingin menjadikannya momentum untuk mengoptimalkan seluruh potensi kerja sama yang masih bisa dikembangkan.
Dalam perjalanan itu, kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian yang menjadi fondasi hubungan bilateral.
Yang pertama adalah perjanjian perdagangan melalui Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Swiss merupakan bagian dari European Free Trade Association (EFTA), dan perjanjian tersebut memberikan kepastian hukum untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi.
Selain itu, Indonesia dan Swiss juga telah memiliki Bilateral Investment Treaty (BIT) yang menjadi dasar perlindungan investasi kedua negara.
Di luar bidang ekonomi, kedua negara juga memiliki Mutual Legal Assistance in Criminal Matters, sehingga terdapat mekanisme kerja sama apabila diperlukan bantuan hukum dalam perkara pidana.
Kami juga mempunyai Young Professionals Exchange Programme, yaitu program yang memungkinkan profesional muda Indonesia bekerja di Swiss dan profesional muda Swiss bekerja di Indonesia selama 18 bulan. Tujuannya memberikan pengalaman mengenai dunia usaha dan perekonomian masing-masing negara.
Kuotanya mencapai 100 orang setiap tahun, meskipun hingga kini belum seluruhnya dimanfaatkan. Sebagian besar pesertanya berasal dari sektor jasa, terutama perhotelan.
Mengapa 75 tahun ini disebut sebagai momentum?
Karena kondisi dunia sekarang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ketegangan dan konflik geopolitik memang menjadi tantangan, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang baru bagi Indonesia maupun Swiss.
Saya melihat ada tiga momentum besar yang bisa dimanfaatkan.
Pertama adalah kerja sama pengolahan sumber daya mineral dan logam yang ditandatangani dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik.
Kerja sama ini menurut saya bersifat saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar, sementara Swiss memiliki teknologi, inovasi, investasi, jaringan global commodity trading, dan sumber daya manusia yang dapat mendukung hilirisasi industri di Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia memperoleh nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, sedangkan Swiss dapat berkontribusi melalui teknologi dan investasi.
Apa yang membuat kerja sama mineral dan logam ini istimewa?
Kerja sama tersebut merupakan langkah yang sangat penting.
Bagi Indonesia, kerja sama ini memberikan alternatif sumber teknologi untuk mendukung program hilirisasi nasional.
Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu sumber teknologi dari satu negara, tetapi memiliki lebih banyak pilihan mitra.
Teknologi Swiss selama ini identik dengan inovasi, efisiensi, serta upaya mengurangi emisi karbon. Selain itu, teknologi mereka selalu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah terhadap suatu produk.
Karena itu, kami melihat kerja sama ini sebagai peluang yang sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal.
Selain hilirisasi, apa momentum kedua yang Bapak maksud?
Momentum kedua berkaitan dengan posisi kedua negara dalam geopolitik dunia.
Swiss memiliki prinsip politik luar negeri yang netral, sedangkan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
Posisi tersebut membuat kedua negara sama-sama tidak memiliki hambatan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak yang saat ini berada dalam kubu-kubu yang saling berkompetisi.
Indonesia memiliki keunggulan karena mampu bekerja sama dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam blok tertentu. Di sisi lain, Swiss memiliki reputasi sebagai negara netral dengan penguasaan teknologi yang sangat maju.
Kombinasi tersebut menurut saya menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Apa momentum ketiga yang melihat peluang baru hubungan Indonesia-Swiss?
Selama ini hubungan bilateral memang berjalan sangat baik, tetapi saya melihat Indonesia dan Swiss belum sepenuhnya menempatkan satu sama lain dalam global mindset masing-masing.
Indonesia belum benar-benar melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam banyak sektor. Sebaliknya, Swiss juga belum sepenuhnya memandang Indonesia sebagai salah satu prioritas utama.
Padahal situasi geopolitik saat ini membuat banyak negara Eropa, termasuk Swiss, mulai melakukan diversifikasi mitra.
Mereka tidak lagi hanya bergantung pada mitra tradisional, tetapi mulai melihat Asia sebagai kawasan yang sangat penting.
Dalam konteks itu, Indonesia memiliki posisi yang sangat menarik.
Apa yang membuat Indonesia menarik bagi Swiss?
Indonesia adalah bagian dari pasar ASEAN yang jumlah penduduknya sekitar 700 juta jiwa.
Selain itu, Indonesia berada di kawasan yang relatif stabil dari sisi keamanan maupun politik dibandingkan beberapa kawasan lain di dunia.
Indonesia juga memiliki bonus demografi. Penduduk usia mudanya besar dan siap dilatih untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Saya melihat ketiga faktor tersebut menjadi daya tarik yang mulai dipahami oleh Swiss.
Salah satu contohnya terlihat ketika Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diundang dalam Swissmem Industry Day, sebuah agenda tahunan yang dihadiri sekitar 2.000 pelaku industri Swiss.
Sepanjang penyelenggaraannya, belum pernah ada negara ASEAN lain yang memperoleh undangan seperti Indonesia.
Menurut saya, itu menunjukkan perhatian Swiss terhadap Indonesia semakin besar.
Lalu apa yang dimiliki Swiss sehingga penting bagi Indonesia?
Swiss selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia.
Mereka juga merupakan sumber investasi yang sangat besar bagi berbagai negara.
Keunggulan Swiss bukan hanya pada teknologi, tetapi juga kemampuan melakukan inovasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ukuran negaranya relatif kecil sehingga ketika perusahaan-perusahaan Swiss ingin meningkatkan skala produksi, mereka membutuhkan mitra di luar negeri.
Indonesia dapat menjadi salah satu tujuan karena memiliki pasar, tenaga kerja, dan sumber daya yang dibutuhkan.
Kalau investasi Swiss masuk ke Indonesia, maka bukan hanya modal yang datang, tetapi juga peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Karena itulah saya selalu menekankan bahwa Indonesia dan Swiss memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Kita tidak bersaing dengan Swiss. Justru masing-masing memiliki keunggulan yang bisa dipadukan untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua negara.
Melalui rangkaian kegiatan sepanjang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, kami berharap pemahaman masyarakat Swiss terhadap Indonesia semakin baik, demikian pula pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Swiss.
Di tengah tantangan geopolitik yang dihadapi dunia saat ini, saya melihat hubungan Indonesia dan Swiss justru memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis pada masa mendatang.
Lanjut ke Bagian Kedua.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
MR. D.I.Y Pilih Perbanyak Gerai Ketimbang Jualan Online
MR. D.I.Y hingga kini belum membuka toko online meski tren belanja digital terus berkembang. [529] url asal
#toko-online #retail #wawancara-khusus #mr-diy #mdiy
(Kompas.com - Money) 22/06/26 06:34
v/255655/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) atau MR. D.I.Y mengungkap alasan perusahaan belum membuka toko online di platform e-commerce hingga saat ini.
Padahal, di tengah tren digitalisasi, banyak peritel mulai mengandalkan penjualan daring. Sebaliknya, MR. D.I.Y terus memperluas jaringan toko fisik yang kini telah mencapai sekitar 1.300 gerai di seluruh Indonesia.
Chief Financial Officer (CFO) MR. D.I.Y Indonesia Rika Juniaty Tanzil mengatakan seluruh pendapatan perusahaan saat ini masih berasal dari toko fisik.
"Kita 100 persen toko fisik. Kita enggak ada online, kita enggak punya (toko) online," ujar Rika saat wawancara dengan Kompas.com di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar untuk masuk ke e-commerce adalah jumlah produk yang sangat banyak. MR. D.I.Y menjual sekitar 18.000 stock keeping unit (SKU) dari 10 kategori, mulai dari perlengkapan rumah tangga, alat tulis, mainan, hingga perkakas.
"Kalau kita, produknya 18.000 SKU dan semua itu produk yang menarik. Untuk memasukkan 18.000 produk ke e-commerce itu agak challenging," kata Rika.
Selain faktor teknis, perusahaan juga menilai pengalaman berbelanja langsung di toko menjadi nilai tambah yang sulit digantikan platform daring.
Menurut Rika, banyak pelanggan menemukan barang yang sebelumnya tidak mereka cari saat berkeliling di dalam toko.
"Itu juga kayak treasure hunt. Mungkin kalau bapak ibu ke toko kita, kalau ditelusurin satu-satu ini pasti akan ada yang 'eh ternyata DIY ada ya?' 'Oh ternyata barang seperti ini ada ya?' Itu yang customer experience seperti itu yang nggak akan ada kalau itu di e-commerce. Itu hanya bisa dinikmati kalau customer datang ke tokonya kita," ujarnya.
Rika menambahkan, strategi toko fisik juga sejalan dengan tiga nilai utama perusahaan, yakni hemat, lengkap, dan dekat dengan pelanggan.
Karena itu, MR. D.I.Y memilih memperluas jaringan gerai agar konsumen dapat memperoleh barang yang dibutuhkan dengan cepat tanpa menunggu proses pengiriman.
Ekspansi dilakukan hingga ke kota kecil dan wilayah yang belum banyak terjangkau ritel modern. Tahun ini, perusahaan menargetkan membuka sedikitnya 270 toko baru.
Meski demikian, Rika menegaskan perusahaan tidak menutup kemungkinan masuk ke bisnis e-commerce pada masa mendatang.
Saat ini, berbagai skema penjualan daring masih dipelajari, mulai dari model e-commerce penuh hingga konsep pemesanan online dan pengambilan barang di toko.
"So far, kita masih eksplor terus. Kita paham bahwa e-commerce ini memang tuntutan zaman. Ada possibility atau tidak, itu terus kita pelajari," katanya.
Namun hingga kini, perusahaan belum mengambil keputusan untuk membuka toko online.
"So far sih kita masih eksplor terus. Jadi kita paham bahwa e-commerce ini kan memang tuntutan zaman lah ya. Jadi kita masih eksplor. Tiap tahun kita tetap eksplor ada possibility nggak e-commerce dimulai dari yang benar-benar truly e-commerce sampai seperti yang Klik Indomaret. Itu kita selalu eksplor. So far kita belum make any decision untuk merambah ke e-commerce," tutur Rika.
Dengan strategi tersebut, MR. D.I.Y optimistis masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar di Indonesia, terutama di daerah yang belum banyak tersentuh jaringan ritel modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56