Bisnis.com, JAKARTA — China sedang mempertimbangkan penjualan obligasi pemerintah khusus senilai ratusan miliar yuan untuk kapitalisasi ulang beberapa perusahaan asuransi raksasa.
Dilansir dari Bloomberg, menurut sumber-sumber yang mengetahui masalah ini, langkah tersebut bertujuan untuk memperkuat para pemain asuransi terbesar China. Saat ini, industri asuransi China sedang berada di bawah tekanan untuk melakukan konsolidasi.
Penjualan tersebut akan menggalang dana sekitar 200 miliar yuan (US$29 miliar) untuk membantu merekapitalisasi perusahaan-perusahaan asuransi terbesar China, kata salah satu narasumber anonim.
Kemudian, narasumber tersebut mengatakan bahwa dana hasil penjualan tersebut akan disuntikkan ke perusahaan-perusahaan yang dikendalikan negara, termasuk China Life Insurance Group Co., People’s Insurance Co. Group of China Ltd. (PICC), dan China Taiping Insurance Group Co.
Jika terjadi, Bloomberg mencatat bahwa ini akan menjadi kali pertama China menggunakan obligasi khusus untuk menyuntikkan modal ke perusahaan asuransi. Sebelumnya, cara ini digunakan pemerintah untuk memodali bank-bank besar milik negara.
Rencana tersebut dapat diumumkan paling cepat pada kuartal I/2026, ujar salah satu narasumber.
Usulan tersebut menandai perluasan penggunaan utang pemerintah khusus oleh China untuk memperkuat perusahaan-perusahaan asuransi terbesar. Sumber-sumber mengatakan bahwa para perusahaan besar tersebut kini diharapkan dapat membantu regulator dalam menangani perusahaan asuransi lain kecil yang lebih berisiko.
Hal tersebut juga akan memperkuat modal perusahaan-perusahaan yang didorong untuk membeli saham pada 2025. Sebagai informasi, hal tersebut dilakukan karena tahun lalu China berusaha menstabilkan pasarnya.
Rencana tersebut saat ini masih dalam tahap diskusi dan bisa berubah, tambah orang-orang tersebut.
Lebih dari dua pertiga dari 173 perusahaan asuransi China yang mengungkapkan angka kuartal III/2025 melaporkan penurunan rasio solvabilitas dari kuartal II/2025, seperti dilaporkan China Banking and Insurance News pada November 2025 lalu. Profitabilitas sektor ini telah terpukul oleh suku bunga rendah dan persaingan.
Berbeda nasib, para perusahaan asuransi besar yang didukung negara kini masih memiliki modal yang memadai. Akan tetapi, mereka berada di bawah tekanan untuk meningkatkan kepemilikan saham.
Hal itu kini terjadi karena terdapat aturan akuntansi baru yang memperbesar dampak volatilitas pasar terhadap profitabilitas. Selain itu, penurunan suku bunga juga telah membebani hasil investasi.
Para sumber menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan asuransi tersebut sedang bersiap untuk melaporkan rencana kebutuhan modal mereka kepada Kementerian Keuangan China.
Satu tahun yang lalu, Pemerintah China mengatakan bahwa mereka akan mengarahkan perusahaan asuransi besar yang didukung negara untuk menginvestasikan 30% dari premi baru ke dalam saham domestik.
Hal ini adalah bagian dari upaya untuk memasukkan lebih banyak modal jangka panjang ke pasar saham. Fenomena itu menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menyuntikkan perkiraan tambahan uang tunai sebesar 1,2 triliun yuan ke pasar selama tiga tahun, menurut laporan Guotai Junan Securities Co. pada Februari 2025.
Indeks acuan CSI 300 China telah mengalami reli (rally) selama dua tahun kalender terakhir setelah jatuh selama tiga tahun berturut-turut.
Saham asuransi juga ikut serta dalam pemulihan tersebut, dengan unit terdaftar dari China Life diperdagangkan di sekitar level tertinggi dalam 10 tahun di Hong Kong. Sementara itu, entitas terdaftar milik China Taiping mendekati level tertinggi dalam 7 tahun.
Selain terhadap perusahaan-perusahaan asuransi, Pemerintah China juga berencana untuk menyuntikkan 300 miliar yuan ke Industrial and Commercial Bank of China Ltd. (ICBC) dan Agricultural Bank of China Ltd. (AgriBank), kata salah satu sumber.
Langkah ini akan mengikuti penjualan obligasi serupa pada 2025 yang membantu merekapitalisasi beberapa pemberi pinjaman utama milik negara, termasuk Bank of China Ltd. dan Bank of Communications Co.
Bank-bank China, termasuk ICBC dan AgriBank, telah berjuang menghadapi keuntungan yang terus tergerus dalam beberapa tahun terakhir. Itu terjadi karena permintaan pemerintah akan pinjaman murah untuk menopang ekonomi memberikan tekanan pada margin bunga bersih (net interest margins/NIM).
Meskipun bank-bank negara teratas memiliki tingkat modal yang melebihi persyaratan regulasi, penyangga yang lebih kuat akan memungkinkan mereka untuk menyalurkan lebih banyak pinjaman dan mempertebal pencadangan untuk utang macet.
Administrasi Regulasi Keuangan Nasional China/NFRA, PICC, Taiping, ICBC, dan AgriBank tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg. Sementara itu, China Life menolak berkomentar. (Laurensius Katon Kandela)