KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan mengubah wajah dunia kerja lebih cepat dari perkiraan. Sejumlah profesi mulai dari administrasi, keuangan, hingga media diprediksi akan tergantikan oleh teknologi otomatisasi dalam dua hingga tiga dekade mendatang.
Laporan lembaga riset global seperti PwC, McKinsey, dan World Economic Forum memperkirakan sekitar 60 persen pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak langsung oleh perkembangan AI pada 2050.
Para ahli menilai, mereka yang tidak beradaptasi sejak dini berisiko kehilangan peran di pasar kerja masa depan.
Di tengah tekanan ekonomi global dan utang Amerika Serikat yang mencapai 36 triliun dollar AS, disrupsi dari AI menjadi ancaman tambahan bagi stabilitas lapangan kerja.
Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menyebut masa depan ekonomi akan sangat bergantung pada kemampuan manusia menyeimbangkan kekuatan AI dengan potensi diri.
“Mereka yang bersiap sejak sekarang akan menjadi pembentuk dunia masa depan,” kata Dalio dikutip dari Forbes, Kamis (16/10/2025).
Perubahan Datang Lebih Cepat
Sejumlah ahli memperkirakan dalam 10 hingga 30 tahun ke depan, AI akan mengubah sebagian besar pekerjaan.
McKinsey memproyeksikan 30 persen pekerjaan di AS dapat terotomatisasi pada 2030, sementara 60 persen lainnya akan berubah signifikan akibat AI.
Goldman Sachs memperkirakan hingga 50 persen pekerjaan bisa sepenuhnya diotomatisasi pada 2045 karena kemajuan AI generatif dan robotika.
Sebelumnya, lembaga tersebut memperkirakan 300 juta pekerjaan di seluruh dunia berpotensi hilang akibat AI, atau sekitar 25 persen dari total pasar tenaga kerja global.
Namun, pekerjaan yang melibatkan tenaga fisik seperti konstruksi, perbaikan, dan pemeliharaan relatif lebih aman dari ancaman otomatisasi.
Dalio memperingatkan tentang “great deleveraging,” kondisi di mana AI meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat pengurangan tenaga kerja sebelum terciptanya lapangan kerja baru.
CEO BlackRock Larry Fink menilai restrukturisasi besar-besaran akan terjadi di sektor keuangan dan hukum sebelum 2035.
Hal senada disampaikan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon. Ia memperkirakan dalam 15 tahun mendatang, AI akan mengambil alih berbagai tugas berulang di perbankan.
Hedge fund manager Bill Ackman juga menilai adopsi AI di perusahaan berlangsung cepat karena tekanan efisiensi biaya.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai AI justru bisa memperkuat daya saing AS bila disertai program pelatihan ulang tenaga kerja.
Menurut proyeksi, antara 2040 hingga 2050, AI dapat mengotomatisasi 50–80 persen pekerjaan tergantung pada kemajuan teknologi dan kebijakan ekonomi.
Orbbec Kecerdasan buatan (AI) terus berkembang dan mulai mengubah peta dunia kerja. Sejumlah profesi kini berada di ambang tergantikan oleh teknologi otomatisasi.Pekerjaan yang Paling Cepat Digantikan AI
Dampak AI tidak merata. Beberapa pekerjaan akan lebih cepat tergantikan dibanding yang lain.
Tugas administratif seperti entri data, penjadwalan, dan layanan pelanggan kini sudah mulai diambil alih oleh chatbot dan sistem otomatisasi.
Studi Institute for Public Policy Research tahun 2024 menunjukkan sekitar 60 persen tugas administratif dapat diotomatisasi.
Larry Fink menyebut BlackRock telah menggunakan AI untuk mengefisienkan fungsi back office dan menekan biaya. Pekerjaan seperti pembukuan, pemodelan keuangan, dan analisis data dasar juga tergolong rentan.
CEO JPMorgan, Jamie Dimon, memperkirakan 20 persen pekerjaan analis bisa hilang pada 2030 karena otomatisasi tugas-tugas rutin.
Profesi di bidang hukum seperti paralegal, penyusun kontrak, dan peneliti hukum juga berisiko tinggi.
Studi Stanford tahun 2025 menunjukkan alat seperti Harvey dan CoCounsel mampu menganalisis dokumen dengan akurasi 90 persen.
Namun, pekerjaan yang menuntut penilaian strategis, seperti advokasi di pengadilan, akan bertahan lebih lama.
Di sektor kreatif, pekerjaan seperti desain grafis, copywriting, dan jurnalisme dasar menghadapi disrupsi besar.
Laporan Pew Research Center tahun 2024 menyebut 30 persen pekerjaan di bidang media bisa terotomatisasi pada 2035.
Ackman memperkirakan konten buatan AI akan mendominasi industri periklanan, meski kreativitas dan seni tingkat tinggi masih akan didominasi manusia.
Profesi yang Bertahan Lebih Lama
Bidang teknologi seperti pengembangan perangkat lunak dan data science menghadapi dilema: AI meningkatkan produktivitas namun juga menggantikan tugas-tugas rutin.
Laporan World Economic Forum 2025 memperkirakan 40 persen pekerjaan pemrograman akan terotomatisasi pada 2040.
Meski begitu, kebutuhan di bidang keamanan siber dan inovasi teknologi diperkirakan meningkat.
Di bidang kesehatan, AI mulai digunakan untuk diagnosis dan operasi robotik. Namun, pekerjaan yang menuntut empati seperti perawat, terapis, dan pekerja sosial sulit digantikan.
Studi The Lancet tahun 2023 memperkirakan 25 persen tugas administratif medis akan hilang pada 2035, sementara interaksi langsung dengan pasien masih memerlukan sentuhan manusia.
Pekerjaan di bidang pendidikan dan manajemen tingkat tinggi juga termasuk yang paling tahan terhadap otomatisasi. Laporan OECD tahun 2024 mencatat hanya 10 persen tugas guru yang bisa diotomatisasi pada 2040.
Jamie Dimon dan Bill Ackman menegaskan, peran kepemimpinan strategis dan kemampuan menginspirasi tim tetap menjadi kekuatan manusia yang belum bisa digantikan oleh AI.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang