#30 tag 24jam
Dua jam menuju penutupan kotak suara, warga di Selangor, Malaysia, masih bersemangat mengantre di tempat pemungutan suara di Sekolah Rendah Agama Pandan Indah untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemi
Antrean panjang terjadi pada sesi wawancara terbuka yang digelar perusahaan semikonduktor asal Jerman, Infineon Technologies di Malaka, Malaysia. [323] url asal
#loker-gaji-rp15-juta-di-malaysia #lowongan-kerja #malaysia #pelamar-kerja #gaji-tinggi #gaji #infineon-technologies #the-straits-times #melaka #jerman #jalan-raya-utama #ngwe-hee-sem #shadan-oth
(CNN Indonesia - Ekonomi) 19/06/26 10:55
v/254313/
Lowongan kerja dengan gaji awal mencapai 3.500 ringgit atau sekitar Rp15 juta per bulan (kurs Rp4.306) diserbu lebih dari 1.000 pelamar, hingga memicu antrean hampir sepanjang 2 kilometer di Malaka, Malaysia.
Mengutip The Straits Times, antrean panjang itu terjadi dalam sesi wawancara terbuka yang digelar perusahaan semikonduktor asal Jerman, Infineon Technologies di sebuah hotel di negara bagian Malaka pada Minggu (14/6) lalu.
Perusahaan tersebut membuka hingga 500 posisi untuk operator produksi dan teknisi dengan gaji awal 3.500 ringgit per bulan atau sekitar US$1.100.
Banyak pelamar disebut sudah datang sejak pukul 05.00 pagi waktu setempat demi mendapatkan kesempatan mengikuti proses rekrutmen.
Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan antrean mengular dari lokasi wawancara hingga ke jalan raya utama. Kondisi itu bahkan memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan para pencari kerja.
Akibat membludaknya jumlah pelamar, Infineon kemudian membagikan kode QR sekitar pukul 10.00 pagi agar pelamar dapat mengunggah resume secara daring dan diminta pulang sambil menunggu kabar lanjutan.
[Gambas:Youtube]
Namun, banyak pelamar memilih tetap bertahan di lokasi meski harus menghadapi cuaca panas dan lembap.
Antrean panjang tersebut menarik perhatian Ketua Menteri Melaka Ab Rauf Yusoh dan Wali Kota Melaka Shadan Othman. Keduanya turun langsung membagikan makanan dan minuman kepada para pencari kerja yang menunggu giliran.
Shadan mengatakan dirinya juga telah bertemu dengan manajemen Infineon untuk meminta penjelasan terkait situasi tersebut serta mendorong perusahaan memastikan keselamatan dan kenyamanan para pelamar.
Sementara itu, anggota dewan eksekutif Malaka Ngwe Hee Sem menegaskan membludaknya pelamar bukan berarti tingkat pengangguran di wilayah itu tinggi.
Menurut dia, tingkat pengangguran Melaka saat ini hanya sekitar 2 persen atau termasuk yang terendah di Malaysia.
"Ketika sebuah perusahaan menawarkan peluang kerja yang baik dengan gaji kompetitif, tentu akan menarik banyak pencari kerja," ujar Ngwe seperti dikutip Harian Metro melalui laporan The Straits Times.
Ia menilai besarnya minat pelamar lebih disebabkan oleh daya tarik gaji yang ditawarkan perusahaan dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja di Malaka.
Rekrutmen Berbasis AI Makin Ketat, 80 Persen CV Gugur di Awal
Tantangan utama pelamar kerja saat ini adalah memahami bagaimana mereka dinilai dalam proses rekrutmen modern. [943] url asal
#wawancara-kerja #pelamar-kerja #rekrutmen #tingkat-pengangguran #angkatan-kerja
(Kompas.com - Money) 13/05/26 18:47
v/220603/
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, tantangan pencari kerja saat ini dinilai tidak lagi sekadar menemukan lowongan pekerjaan, tetapi memastikan lamaran mereka cukup relevan untuk melewati proses seleksi awal perusahaan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah tingkat pengangguran Indonesia yang masih relatif tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang per Februari 2026, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,68 persen dari total 154,91 juta angkatan kerja.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi lowongan kerja.Artinya, dari setiap 100 orang dalam angkatan kerja, hampir lima orang masih belum terserap pasar kerja.
Meski angka pengangguran menurun dibandingkan tahun sebelumnya, skala pencari kerja yang belum terserap menunjukkan proses pencocokan antara kandidat dan kebutuhan perusahaan masih menjadi tantangan besar di ekosistem ketenagakerjaan.
Tantangan ini tidak hanya dialami fresh graduate atau kandidat junior, tetapi juga profesional berpengalaman, pekerja yang berpindah karier, hingga talenta level menengah dan senior yang kembali masuk proses rekrutmen setelah lama tidak melamar pekerjaan.
Perusahaan teknologi rekrutmen TalentGO.AI menilai tantangan utama pelamar kerja saat ini adalah memahami bagaimana mereka dinilai dalam proses rekrutmen modern.
Dalam banyak kasus, kandidat dinilai bukan tidak kompeten, melainkan gagal mengomunikasikan nilai diri mereka secara jelas melalui CV, portofolio, ekspektasi gaji, maupun jawaban saat wawancara.
Fenomena tersebut disebut TalentGO.AI sebagai “The Great Preparation Gap” atau kesenjangan kesiapan. Di satu sisi, akses terhadap informasi lowongan pekerjaan semakin mudah.
SHUTTERSTOCK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi melamar kerja.Namun di sisi lain, banyak kandidat belum memiliki akses terhadap umpan balik yang objektif dan terstruktur sebelum melamar kerja.
CEO & Founder TalentGO.AI, Valencia Valencia Gabriella, mengatakan banyak kandidat masih memandang proses pencarian kerja sebagai persoalan kuantitas pengiriman lamaran, bukan kualitas kesiapan.
“Misi TalentGO.AI adalah mendemokratisasi akses terhadap persiapan kerja berkualitas tinggi. Kami percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan bimbingan karier yang objektif. Dalam hal ini, kami melihat banyak kandidat memandang proses pencarian kerja sebagai soal kuantitas: semakin banyak lamaran yang dikirim, semakin besar peluang untuk dipanggil,” ujar Valencia dalam pernyataannya, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, dalam sistem rekrutmen modern, kualitas kesiapan justru menjadi faktor pembeda utama antarkandidat.
“Padahal, dalam rekrutmen modern, kualitas kesiapan justru menjadi pembeda. CV harus bisa menunjukkan relevansi, ekspektasi gaji harus berbasis data pasar, dan saat interview kandidat perlu mampu menjelaskan pengalaman dengan struktur yang masuk akal bagi rekruter,” kata Valencia.
Rekrutmen makin bergantung pada teknologi
TalentGO.AI menilai kebutuhan persiapan kerja semakin penting karena proses rekrutmen kini makin banyak memanfaatkan teknologi digital.
Banyak perusahaan disebut telah menggunakan sistem digital untuk membantu menyaring dan mengelola lamaran kerja.
Studi industri yang dirujuk TalentGO.AI menunjukkan penggunaan Applicant Tracking System (ATS) membuat CV tidak lagi hanya dibaca manusia, tetapi juga harus cukup jelas, terstruktur, dan relevan agar dapat terbaca sistem.
Riset tersebut mencatat sekitar 80 persen lamaran dapat gugur di tahap awal karena CV tidak optimal atau belum ramah ATS.
SHUTTERSTOCK/FIZKES Ilustrasi melamar kerja, wawancara kerja.Sementara itu, penyesuaian sederhana seperti mencocokkan judul pekerjaan dengan posisi yang dilamar disebut dapat meningkatkan peluang kandidat dipanggil wawancara kerja hingga 3,5 kali.
Dalam konteks tersebut, TalentGO.AI menilai persiapan melamar kerja perlu bergeser dari sekadar memperbarui CV menjadi proses yang lebih terukur.
Kandidat dinilai perlu memahami apakah pengalaman yang dituliskan sudah relevan dengan posisi yang dituju, apakah ekspektasi gaji sesuai kondisi pasar, serta apakah mereka mampu menjelaskan kompetensi secara jelas saat wawancara.
Melalui pendekatan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), TalentGO.AI berupaya membantu kandidat membaca tiga area yang kerap menjadi titik lemah dalam proses seleksi, yakni kualitas CV, kesiapan wawancara, dan ekspektasi kompensasi.
Pada tahap CV, perusahaan tersebut menilai masih banyak kandidat yang hanya menuliskan daftar tugas tanpa menunjukkan hasil kerja, kontribusi, atau indikator keberhasilan yang dapat membantu rekruter memahami nilai mereka.
Ekspektasi gaji dan kesiapan wawancara kerja
Selain kualitas CV, ekspektasi gaji juga disebut menjadi bagian penting dari kesiapan kandidat. Dalam proses rekrutmen, ketidaksesuaian antara harapan kandidat dan rentang kompensasi perusahaan dapat menjadi hambatan sejak awal proses seleksi.
Karena itu, TalentGO.AI menilai rujukan berbasis data diperlukan agar kandidat dapat menyiapkan diskusi kompensasi secara lebih realistis dan proporsional.
Tahap wawancara juga dinilai membutuhkan persiapan yang tidak kalah penting. Kandidat yang memiliki pengalaman relevan belum tentu mampu menjelaskannya dengan baik apabila tidak terbiasa menyusun jawaban secara terstruktur.
SHUTTERSTOCK/TRAVEL MAN Ilustrasi gaji. Cara mengelola gaji. Tips mengelola gaji yang bijak.Latihan berbasis skenario dan umpan balik dinilai dapat membantu kandidat memahami apakah jawaban mereka sudah cukup konkret, relevan, dan mudah dipahami rekruter.
Valencia mengatakan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan keputusan manusia dalam proses rekrutmen, melainkan sebagai pendamping karier bagi kandidat.
“AI dalam konteks ini bukan pengganti keputusan manusia. Kami melihat AI sebagai ‘Career Coach’ pribadi bagi setiap kandidat untuk mendampingi perjalanan karier seseorang,” ujar Valencia.
Ia mengatakan AI tidak hanya berhenti pada proses pencarian pekerjaan, tetapi juga dapat membantu kandidat dalam navigasi karier, rekomendasi pelatihan untuk peningkatan keterampilan, hingga negosiasi gaji berbasis data pasar secara real time.
Di sisi perusahaan, kesiapan kandidat disebut turut berdampak pada efisiensi proses rekrutmen.
Kandidat yang mampu menjelaskan kompetensi, ekspektasi, dan relevansi pengalaman secara jelas akan membantu rekruter menilai kecocokan secara lebih cepat dan akurat.
Dengan demikian, isu kesiapan kerja dinilai tidak hanya penting bagi pelamar, tetapi juga bagi perusahaan yang ingin membangun proses rekrutmen yang lebih efektif.
Ke depan, TalentGO.AI menilai peran teknologi dalam perjalanan karier akan semakin bergeser dari sekadar alat pencari kerja menjadi pendamping persiapan karier.
Penggunaan AI disebut dapat membantu kandidat memetakan kemampuan, memahami area pengembangan diri, serta mengambil keputusan karier berdasarkan informasi yang lebih objektif di tengah perubahan kebutuhan keterampilan dan pasar kerja yang bergerak cepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
6 Tren Dunia Kerja 2026 Versi Glassdoor: PHK Belum Usai?
Laporan Worklife Trends 2026 yang dirilis Glassdoor menunjukkan sejumlah perubahan signifikan dalam dinamika tempat kerja global. [813] url asal
#phk #tempat-kerja #peluang-karier #pelamar-kerja #dunia-kerja #glassdoor
(Kompas.com - Money) 23/11/25 10:30
v/47078/
JAKARTA, KOMPAS.com – Laporan Worklife Trends2026 yang dirilis Glassdoor menunjukkan sejumlah perubahan signifikan dalam dinamika tempat kerja global.
Ini terutama terkait persepsi karyawan terhadap kepemimpinan dan stabilitas kerja.
Dikutip dari Forbes, Minggu (23/11/2025), dalam laporan tersebut, penyebutan “ketidakselarasan” dalam ulasan karyawan tentang kepemimpinan senior melonjak 149 persen dari 2024 hingga 2025.
PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.Istilah “kesenjangan” naik 24 persen, sementara “ketidakpercayaan” meningkat 26 persen.
Pada saat yang sama, porsi pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala kecil, yang melibatkan kurang dari 50 pekerja, membesar dari 38 persen pada 2015 menjadi 51 persen pada 2025.
Glassdoor mencatat tren ini sebagai indikasi perubahan besar dalam cara karyawan menilai kepemimpinan serta kepercayaan mereka terhadap organisasi di tengah lingkungan kerja yang terus bertransformasi.
Berikut enam tren utama dunia kerja yang disoroti Glassdoor dalam laporan tersebut.
1. Kesenjangan antara karyawan dan pimpinan makin lebar
Glassdoor menyebut penurunan signifikan dalam kepercayaan terhadap manajemen senior. Penyebutan “ketidakselarasan”, “kesenjangan”, dan “ketidakpercayaan” naik pesat dalam ulasan selama 2024-2025.
“Para pekerja merasakan gejolak emosi yang luar biasa selama enam tahun terakhir,” ujar Daniel Zhao, Kepala Ekonom Glassdoor.
“Di puncak pandemi, para pemimpin bersikap transparan dan rentan. Sekarang banyak yang kembali menggunakan gaya bicara korporat, dan para pekerja tidak lagi merasa bahwa para pemimpin mereka mendukung mereka,” katanya.
Banyak karyawan kini mengamati bagaimana perusahaan menangani PHK, mandat kembali ke kantor, dan adopsi AI, yang dinilai kerap mengorbankan kepercayaan dan moral.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).2. Pola “PHK selamanya” menjadi kondisi normal baru
Glassdoor menemukan bahwa PHK kecil yang dilakukan secara bergilir kini menjadi pola umum. Perusahaan cenderung melakukan pemangkasan berulang dalam jumlah kecil, bukan sekali dalam jumlah besar.
Penyebutan terkait PHK dan ketidakamanan kerja pada akhir 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan awal 2020.
Menurut laporan ini, meski pendekatan tersebut dipandang perusahaan sebagai cara “halus” mengelola penggajian, dampaknya terhadap budaya organisasi cukup besar.
Pola “PHK selamanya” dikaitkan dengan meningkatnya kelelahan, ketidakterikatan, dan ketidakpercayaan di lingkungan kerja menjelang 2026.
3. Kembali ke kantor berjalan lambat, peluang karier turun
Glassdoor menemukan bahwa pekerja jarak jauh dan hybrid mengalami penurunan signifikan dalam persepsi peluang karier.
Rata-rata peringkat peluang karier turun dari 4,1 pada 2020 menjadi 3,5 pada 2025. Sementara itu, mandat kembali bekerja di kantor tidak banyak mengubah porsi hari kerja yang dilakukan secara jarak jauh, tetapi kekhawatiran tentang visibilitas meningkat.
Temuan Glassdoor menunjukkan peringkat peluang karier mengalami penurunan paling tajam bagi karyawan yang menyebutkan kerja jarak jauh atau hybrid.
Adapun tingkat keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi alias work-life balance masih lebih tinggi, namun selisihnya makin mengecil dibandingkan pekerja kantor.
Tren tersebut menggambarkan dilema fleksibilitas versus visibilitas yang kemungkinan terus berlanjut pada 2026.
Freepik/rawpixel Ilustrasi AI. Gen Z Jadikan ChatGPT sebagai Teman Curhat, Benarkah AI Didesain untuk Menyenangkan Penggunanya?4. Dampak AI masih terbatas, meski kekhawatiran tinggi
Kecemasan pekerja terhadap AI meningkat, tetapi gangguan nyata terhadap pekerjaan masih tergolong kecil. Kepuasan karyawan dalam pekerjaan yang sangat terpapar AI hanya sedikit menurun sejak 2022.
Beberapa profesi, seperti penerjemah dan insinyur perangkat lunak, mencatat penurunan lebih besar, namun jumlah pekerjanya relatif kecil dalam keseluruhan angkatan kerja.
Glassdoor menilai sebagian besar organisasi masih berada pada tahap eksperimen dalam mengadopsi AI. Transformasi diperkirakan berlangsung bertahap sepanjang 2026.
5. Pelamar kerja menjadi lebih hati-hati, tingkat penolakan tawaran kerja turun
Selektivitas pelamar kerja menurun di tengah pasar kerja yang lebih ketat. Glassdoor mencatat bahwa pada 2025, pelamar 12 persen lebih kecil kemungkinannya menolak tawaran kerja dibandingkan pada 2023.
Dengan tingkat perekrutan berada di posisi terendah dalam 10 tahun terakhir, semakin banyak pencari kerja menerima posisi yang sebelumnya mungkin akan mereka tolak.
Sekitar tiga dari empat tawaran kerja yang dilaporkan ke Glassdoor diterima, dan tingkat penolakan mencapai titik terendah sejak 2020.
Glassdoor menemukan bahwa kondisi ini turut memicu rasa stagnasi karena sebagian pekerja merasa terjebak dalam pekerjaan yang kurang sesuai.
6. Upah pekerja "entry-level" mulai pulih
Shutterstock Ilustrasi fresh graduate, cara sukses meskipun IPK kecil.Satu area yang menunjukkan perkembangan positif adalah peningkatan upah untuk lulusan baru alias fresh graduate.
Setelah inflasi menekan daya beli pada 2020 sampai 2022, upah pekerja awal karier atau entrry-level diperkirakan melampaui level 2020 pada 2026.
Upah riil sempat turun 4,1 persen pada 2020-2022, namun pulih karena pertumbuhan upah 4,3 persen melampaui inflasi 3,0 persen selama tiga tahun terakhir.
Menavigasi tantangan dunia kerja 2026
Menurut Glassdoor, tren dunia kerja menuju 2026 ditandai dengan ketidakamanan kerja yang berkelanjutan serta pilihan sulit antara fleksibilitas dan kemajuan karier.
“Para pemimpin perlu memperhatikan kesenjangan yang semakin lebar antara mereka dan para pekerja,” kata Zhao.
“Kesenjangan tersebut berisiko memicu krisis disengagement yang semakin parah pada tahun 2026," jelas dia.
Di sisi lain, laporan ini mencatat adanya titik terang berupa pemulihan upah dan meningkatnya peluang di kota-kota kecil, sementara dampak AI terhadap pekerjaan untuk saat ini masih terbatas.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56