Bisnis.com, BALIKPAPAN — Lanskap pembayaran digital Kalimantan Timur menunjukkan bahwa transaksi kartu ATM/Debit mengalami penurunan volume yang signifikan kala transaksi melalui QRIS laris manis.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa dinamika ini mencerminkan transformasi ekosistem pembayaran yang tengah berlangsung. Dia menambahkan, nominal transaksi kartu ATM/Debit masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,18% secara (year-on-year/YoY), dengan nilai mencapai Rp41,09 triliun.
"Lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I/2024 yang tercatat Rp43,21 triliun," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (22/10/2025).
Kontras dengan pertumbuhan nominal, volume transaksi kartu ATM/Debit justru mengalami kontraksi 3,26% YoY atau tercatat 31,41 juta transaksi. Penurunan ini makin kentara ketika dibandingkan dengan kuartal I/2025 yang mencapai 35,05 juta transaksi dan kuartal II/2024 yang masih tumbuh 7,28% YoY.
Dari perspektif geografis, Kota Samarinda dan Kota Bontang menjadi tulang punggung transaksi kartu ATM/Debit di Kaltim. Berdasarkan nominal, kedua kota ini menguasai 26% porsi transaksi regional, disusul Kabupaten Kutai Barat dan Paser masing-masing 12%. Sementara itu, volume transaksi didominasi Kota Samarinda 30% dan Kota Bontang 28%, diikuti Kabupaten Paser 10% dan Kutai Barat 9%.
Berbeda dengan transaksi kartu ATM/Debit, transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) justru melonjak hingga 173% YoY. Nilai transaksi QRIS menembus Rp5,92 triliun pada periode April sampai dengan Juni 2025.
"Lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I-2025 yang tercatat Rp3,96 triliun," ujarnya.
Volume transaksi tercatat lebih mengesankan, yaitu melesat 248% YoY dengan total 52,69 juta transaksi. Adapun jumlah pedagang yang menyediakan transaksi QRIS di Kaltim mengalami bertambah 36% YoY menjadi 715.038 mitra pada kuartal II/2025.
Tak pelak, angka ini merepresentasikan peningkatan adopsi teknologi pembayaran digital di kalangan pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan modern. Budi menyebutkan, pertumbuhan ini melampaui capaian kuartal sebelumnya yang tercatat 33% YoY. Di sisi lain, jumlah pengguna QRIS mencapai 816.111 pada kuartal II/2025, atau naik 9,62% YoY dari 805.618 pengguna pada kuartal sebelumnya.
"Pertumbuhan jumlah pengguna dan merchant QRIS yang tinggi tersebut sejalan dengan berbagai kegiatan sosialisasi, edukasi, dan publikasi yang gencar dilakukan untuk meningkatkan awareness (kesadaran) dan minat masyarakat dalam menggunakan kanal QRIS," katanya.
Mengekor, transaksi uang elektronik (UE) tercatat tumbuh 8,74% YoY mencapai Rp1,71 triliun pada kuartal II/2025 atau melandai dari 33,87% YoY pada kuartal sebelumnya. Volume transaksi UE mencatat ekspansi 27,9% YoY dengan 17,76 juta transaksi.
Budi menuturkan pertumbuhan ini sejalan dengan penambahan jumlah akun UE yang mencapai 72,9% YoY, atau naik dari 5,28 juta akun pada kuartal I/2025 menjadi 7,48 juta akun pada kuartal II/2025.
"Pertumbuhan transaksi dan jumlah akun UE sejalan dengan terus tumbuhnya pembayaran menggunakan kanal nontunai ritel untuk transaksi di pusat perbelanjaan, transportasi, dan jalan tol di wilayah Kaltim," katanya.