Sri Dayawati Hadisuwito memanfaatkan kulit sensitifnya sebagai peluang bisnis dengan mendirikan Magic of Nature, brand body care organik berbahan dasar sunflower oil. [829] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Kulit tubuh mudah kering, mudah bereaksi, atau terasa tidak nyaman setelah mandi sering kali bukan hanya persoalan jenis kulit. Bisa jadi, formula perawatan tubuh yang digunakan sering jadi penentu.
Saat ini, memilih perawatan tubuh tidak lagi berhenti di tekstur atau aroma; pertanyaan soal bahan, asal-usul, dan keamanan jangka panjangnya ikut menjadi pertimbangan.
Sama seperti wajah, kulit tubuh memiliki lipid barrier (lapisan pelindung alami) yang sangat esensial untuk mencegah hilangnya kadar air dan melindungi dari polusi.
Salah satu rahasia kulit tubuh glowing sehat adalah penggunaan body care berformat oil. Bahan kandungan ini bukan hanya menempel di permukaan, tapi minyak botani dirancang untuk menyatu langsung dengan lipid alami kulit.
Format ini meresap cepat terutama jika diaplikasikan pada kulit yang masih lembab setelah mandi tanpa meninggalkan rasa lengket. Menariknya, shower oil dan body oil yang berkualitas juga membantu menyeimbangkan produksi minyak alami kulit seiring waktu, memberikan efek kenyal dan kilau yang elegan.
Salah satu body care berbahan dasar minyak yang menjadi favorit adalah sunflower oil (minyak biji bunga matahari).
Sunflower oil mulai jadi primadona dalam formulasi body care modern karena karakternya yang relevan untuk kebutuhan kulit sehari-hari.
Dikenal kaya akan Vitamin E sebagai antioksidan alami, sunflower oil sangat efektif membantu kulit tetap terasa nyaman dari paparan polusi dan cuaca sehari-hari.
Manfaat dan khasiat dari sunflower oil ini kemudian dijadikan peluang bisnis oleh Sri Dayawati Hadisuwito.
Lewat Magic of Nature, dia memanfaatkan khasiat biji bunga matahari sebagai bahan utama bodycare lokal.
Brand body care organik asal Indonesia ini berawal keresahan sang pendiri, Sri Dayawati Hadisuwito, yang memiliki kulit sensitif.
"Saya sangat memahami tantangan merawat kulit sensitif. Kita membutuhkan perlindungan yang kuat namun tetap lembut. Sayangnya, masih sedikit produk yang benar-benar serius mengelola kandungan organik hulu-ke-hilir. Inilah alasan saya membangun Magic of Nature dari kebaikan alam, dari ladang kami sendiri di Jawa Tengah," jelasnya.
Sri Dayati sendiri mulai merintis bisnis ini pada 2018 lalu, usai melihat keindahan kebun bunga matahari. Setelah melakukan riset, ternyata biji bunga matahari bukan hanya indah namun memiliki banyak khasiat untuk kecantikan dan kesehatan kulit.
Saat itulah, dia berpikir untuk mengembangkan bisnis bodycare berbahan dasar biji bunga matahari dan menanam sendiri bunga matahari di tanahnya yang seluas 1.500 hektar di Purworejo Jawa Tengah.
Bahkan, sebelum memasarkan brandnya itu, dia memastikan produknya tersertifikasi lengkap. Mulai dari BPOM, sertifikat halal, hingga sertifikat standar internasional (ECOCERT) dan nasional (USDA) kini sudah dikantongi.
Untuk diketahui, ECOCERT dan USDA adalah adalah standar yang diakui secara global untuk kosmetik alami dan organik. Standar ini memverifikasi bahwa produk diproduksi secara berkelanjutan, menghormati keanekaragaman hayati, dan dibuat menggunakan proses manufaktur ramah lingkungan tanpa penggunaan GMO atau petrokimia berbahaya.
Sertifikasi sesuai dengan standar internasional COSMOS atau standar swasta Ecocert memungkinkan pelabelan kosmetik alami atau organik.
Semua produk yang dipasarkan dengan logo Ecocert telah diverifikasi oleh tim: mulai dari komposisi hingga pengolahan dan pengemasan. Dengan demikian, konsumen diberikan informasi yang transparan tentang kandungan bahan alami dan organik yang tertera pada produk.
"Memilih produk organik dengan sertifikasi internasional (seperti ECOCERT COSMOS Organic dan USDA) berarti memberikan nutrisi paling murni dari alam. Bebas dari residu pestisida maupun bahan sintetik yang berlebihan, formula organik memberikan rasa aman ekstra bagi konsumen. Nutrisinya dapat diserap secara utuh, menenangkan kulit secara efektif, dan sangat bersahabat bahkan untuk tipe kulit yang paling sensitif sekalipun. Itulah alasan saya mengejar sertifikat ini," ujarnya.
Alasan dia memilih brand berbahan organik juga karena dirinya percaya bahwa untuk melindungi kulit tubuh dari cuaca ekstrem, kemurnian kandungan adalah perlindungan terbaik.
Dengan didukung oleh latar belakang yang kuat di bidang agrikultur, dia mengadopsi Magic of Nature dengan pendekatan farm-to-skin dengan mengontrol secara menyeluruh seluruh rantai nilai, mulai dari budidaya bahan baku hingga formulasi akhir.
Untuk memasarkan produknya pun dia berdisuksi profesor untuk mengadaptasi benih bunga matahari luar negeri agar bisa tumbuh subur di tanah Indonesia.
Karena itulah alasan dia baru melaunching produknya secara resmi ke pasaran pada Mei 2026, meskipun brand nya sudah mulai dibangun sejak 2018 lalu.
Menurutnya, tidak semua bahan alami diciptakan sama. Sedangkan, minyak biji bunga matahari organik sangat disukai oleh para ahli kulit karena kaya akan Linoleic Acid, yakni asam lemak esensial yang secara alami memang ada pada kulit yang sehat.
Ketika kulit kekurangan asam linoleat, skin barrier akan mudah rusak dan kehilangan kelembabannya. Asupan sunflower oil membantu menutrisi kembali kulit, menjadikannya tampak lebih kencang, kenyal, dan garis-garis halus pun tersamarkan.
Jika kulit sedang sangat dehidrasi, body oil sangat sempurna untuk dilapis dengan body cream guna memberikan proteksi kelembaban maksimal. Rutinitas perawatan yang menenangkan ini akan membantu tubuh merasa lebih rileks, seimbang, dan semakin nyaman dengan kulit sendiri.
3-Step Routine perawatan kulit ala Founder Magic of Nature
1. Sunflower Shower Oil:
Membersihkan tanpa rasa "ketarik" atau kesat. Menjaga barrier kulit sehat sejak langkah pertama.
2. Sunflower Body Oil
Dry oil yang meresap instan, cocok untuk cuaca panas, terbukti secara klinis memperbaiki tampilan kerutan dan tekstur kulit setelah 28 hari.
3. Sunflower Body Cream
Hidrasi berlapis hingga 28,8% tahan hingga seharian.* Memberikan efek anti-aging dengan memperbaiki elastisitas kulit.
Selama Ramadan 2026, konsumen fokus belanja pada kategori Beauty, FMCG, dan Fashion. Meski daya beli belum pulih, belanja tetap meningkat secara terukur. [364] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi rumah tangga diproyeksi terdongkrak selama momen Ramadan 2026. Namun, kenaikan belanja tahun ini berlangsung lebih terukur dan selektif, dengan Beauty, FMCG, dan Fashion menjadi kategori yang paling diburu.
Riset InMobi mencatat 74% konsumen meningkatkan alokasi dana belanja Ramadan dibanding tahun lalu. Meski daya beli dinilai belum sepenuhnya pulih, Ramadan tetap menjadi momentum belanja utama untuk kebutuhan fungsional.
Data internal SIRCLO menunjukkan lonjakan aktivitas belanja online terjadi dalam dua minggu sebelum puasa. Kategori yang paling banyak dicari didominasi Beauty & Personal Care, Healthcare, serta Fashion.
Chief Operating Officer SIRCLO, Danang Cahyono, menyebut pola ini mencerminkan perubahan perilaku belanja. Konsumen tidak lagi impulsif, melainkan lebih terukur dalam menentukan prioritas.
“Ramadan bukan hanya tentang lonjakan penjualan, tetapi bagaimana brand memahami dan menjawab kebutuhan konsumen secara tepat,” ujar Danang Cahyono, Sabtu (28/2/2026).
Danang menjelaskan, produk kecantikan dan perawatan tubuh menjadi salah satu primadona. Kebutuhan perawatan diri meningkat seiring persiapan Idulfitri. Promo bundling dan diskon awal Ramadan turut mendorong kenaikan transaksi.
Kategori healthcare juga mencatat pertumbuhan. Vitamin, suplemen, dan produk kesehatan lain diminati untuk menjaga stamina selama puasa. Tren ini, paparnya, memperlihatkan kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan.
Sementara itu, fesyen tetap menjadi magnet belanja. Pakaian muslim, sepatu, dan aksesori untuk Hari Raya mengalami kenaikan permintaan. Konsumen mulai berbelanja lebih awal untuk menghindari lonjakan harga mendekati Lebaran.
Selain tiga kategori utama tersebut, segmen FMCG menunjukkan peningkatan nilai transaksi. Konsumen cenderung membeli kebutuhan pokok dalam jumlah lebih besar. Strategi ini dilakukan untuk efisiensi pengeluaran selama sebulan penuh.
Meski kategori esensial mencatat kenaikan, sejumlah analis menilai lonjakan ini tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli. Pakar marketing Yuswohady menilai, lonjakan konsumsi Ramadan lebih bersifat musiman ketimbang mencerminkan perbaikan daya beli.
Menurutnya siklus belanja tahunan ini biasanya memang meningkat satu hingga dua minggu sebelum Ramadan, melambat di tengah bulan, lalu kembali naik menjelang Lebaran. Karena itu, promosi paling efektif justru dimulai sebelum Ramadan.
Belanja besar sejak akhir tahun seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan libur panjang juga telah menguras anggaran rumah tangga. Ruang konsumsi Ramadan pun menjadi lebih sempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Belanja Ramadan tahun ini cenderung stagnan. Jika bergerak, itu lebih karena realokasi pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran yang bersifat kultural, bukan karena daya beli yang menguat," katanya.
Kino Indonesia, didirikan oleh Harry Sanusi, kini merayakan 26 tahun sukses sebagai perusahaan FMCG global dengan lebih dari 30 merek ternama. [409] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan barang konsumsi, Kino Indonesia merayakan ulang tahun ke-26 tahun.
Berawal dari perusahaan kecil, kini Kino sebagai perusahaan lokal berhasil menembus pasar global dengan menghadirkan lebih dari 30 merek ternama di Indonesia dan berbagai negara.
Adapun beberapa produknya mencakup kategori perawatan tubuh, makanan, minuman, produk rumah tangga, kesehatan dan kebugaran, hingga perawatan hewan peliharaan.
Kino juga tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada nilai dan dampak positif yang dihadirkan bagi masyarakat.
Melalui berbagai inisiatif perusahaan dan komunikasi merek, Kino juga terus membangun kolaborasi yang erat dengan para pemangku kepentingan untuk saling berbagi kebaikan dalam meningkatkan kesejahteraan konsumen, mendukung komunitas, serta berkontribusi dalam membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Pendiri Kino
Di balik 26 tahun berdirinya Kino, ada andil dari tangan pengusaha Harry Sanusi, yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Kino Indonesia Tbk.
Pria kelahiran Pontianak tersebut memperoleh gelar Sarjana Farmasi dari Universitas Pancasila, Jakarta pada tahun 1991.
Selepas kuliah, pada 1991, Harry memulai perusahaan pertamanya, dengan nama PT Dutalestari Sentratama dengan bermodalkan Rp300 juta.
Kala itu, lewat pengalamannya sebagai sarjana farmasi, dia memasarkan produk larutan penyegar "Cap Kaki Tiga", yang kini sudah berganti nama menjadi "Cap Badak" dan menjadi produk legendaris dari Kino.
Pada 1997 Harry memperluas jangkauan bisnisnya, terjun ke industri permen dan mendirikan PT Kinosentra Industrindo. Produk awal dari perusahaan tersebut adalah permen kopi yang saat ini bahkan sering tayang di berbagai drama Korea, ya, Kopiko.
Selanjutnya, pada tahun berikutnya, perusahaannya mulai memproduksi berbagai produk minuman energi dan minuman serbuk. Produknya juga kemudian tak hanya dipasarkan secara lokal, tapi juga diekspor.
Kemudian, pada 1999, Harry melebarkan sayapnya, mendirikan perusahaan PT Kinocare Era Kosmetindo dan memasarkan berbagai produk kebutuhan rumah tangga, seperti pembersih wajah "Ovale", parfum seperti cologne gel "Eskulin" dan "B&B", produk perawatan rambut "Ellips", sampai sabun cuci piring khusus produk bayi "Sleek".
Perusahaan tersebut juga kemudian menghadirkan kembali produk larutan penyegar yang mengawali bisnis Harry Sanusi, yakni Larutan Penyegar Cap Badak.
Pada 2014, perusahaan tersebut mengganti nama menjadi PT Kino Indonesia, dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 2015.
Harry sendiri diangkat sebagai Presiden Komisaris berdasarkan untuk periode 2022 - 2024. Beliau merupakan pendiri Perseroan yang juga menjabat berbagai posisi di Grup Kino sejak tahun 1999.
Beliau merupakan Direktur Perseroan periode 8 Februari 1999-14 Agustus 2002 dan Presiden Direktur dari 14 Agustus 2002-15 Juni 2022.
Sampai dengan 2020, mengutip Forbes kekayaan Harry Sanusi mencapai US$470 juta atau setara dengan Rp6,8 triliun.
Bisnis.com, JAKARTA — PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) telah mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,33 triliun per kuartal III/2025, naik 10,81% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp3 triliun.
Berdasarkan laporan keuangannya, UNVR telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp27,61 triliun per kuartal III/2025, naik tipis 0,71% yoy, dibandingkan Rp27,41 triliun per kuartal III/2024.
Penjualan terbesar UNVR didapat dari segmen usaha kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh yakni Rp17,52 triliun, namun menyusut 0,36% yoy.
Di sisi lain, penjualan bersih UNVR dari segmen usaha makanan dan minuman naik 2,64% yoy menjadi Rp10,08 triliun.
Adapun, penjualan bersih dari dalam negeri UNVR naik 0,57% yoy menjadi Rp26,78 triliun. Begitu juga dengan penjualan ekspor UNVR yang naik 5,43% yoy menjadi Rp827,38 miliar.
“Hasil kinerja kuartal ketiga kami menjadi langkah nyata dalam perjalanan pemulihan bisnis kami. Kami mulai melihat dampak positif dari perubahan struktural dan langkah disiplin yang telah kami ambil selama setahun terakhir," kata Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (23/10/2025).
UNVR memang mencatatkan peningkatan harga pokok penjualan 0,64% yoy menjadi Rp14,22 triliun. Laba bruto pun hanya naik 0,79% yoy menjadi Rp13,38 triliun.
Akan tetapi, UNVR telah menyusutkan beban pemasaran dan penjualan dari Rp6,87 triliun menjadi Rp6,45 triliun. Beban umum dan administrasi juga susut menjadi Rp2,47 triliun, dari sebelumnya Rp2,47 triliun.
Alhasil, laba usaha UNVR menanjak 13,83% yoy menjadi Rp4,45 triliun, dari sebelumnya Rp3,91 triliun.
Dari sisi neraca, UNVR telah membukukan aset sebesar Rp17,49 triliun dengan liabilitas sebesar Rp14,13 triliun pada periode yang berakhir 30 September 2025. Ekuitas perseroan pun menjadi sebesar Rp17,49 triliun.
Sementara itu, kas dan setara kas pada akhir periode UNVR naik 63,03% yoy menjadi Rp879,8 miliar per kuartal III/2025, dari Rp539,63 miliar per kuartal III/2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56