Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan manufaktur dan penurunan kunjungan wisatawan membuat pertumbuhan ekonomi Thailand melambat lebih dalam dari perkiraan pada kuartal III/2025.
Melansir Bloomberg pada Senin (17/11/2025), Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada periode Juli–September 2025 terkontraksi 0,6% secara kuartalan. Angka ini lebih dalam dari proyeksi survei Bloomberg yang memperkirakan penurunan 0,3%.
Kontraksi tersebut menjadi penurunan PDB kuartalan pertama sejak akhir 2022 dan yang terdalam sejak pertengahan 2021.
Secara tahunan, ekonomi Thailand tumbuh 1,2% pada kuartal III/2025, meleset dari konsensus 1,6% dan melambat dari pertumbuhan 2,8% pada kuartal sebelumnya. NESDC memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV akan melambat menjadi 0,6% secara tahunan.
Lembaga tersebut juga memperkirakan laju pertumbuhan pada 2026 dapat serendah 1,2%, turun dari proyeksi 2% pada tahun ini.
Menurut NESDC, seluruh mesin utama ekonomi Thailand tersendat pada kuartal lalu, mencakup ekspor, produksi manufaktur, konstruksi, belanja pemerintah, serta jasa pariwisata.
Data tersebut menegaskan tekanan pada ekonomi Thailand akibat tarif Amerika Serikat, kondisi ekspor global yang lebih menantang, transisi politik dalam negeri, serta melemahnya sektor pariwisata. Thailand menjadi negara kedua di kawasan setelah Filipina yang gagal memenuhi ekspektasi pertumbuhan kuartal III.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul—perdana menteri ketiga Thailand dalam dua tahun terakhir—telah meluncurkan program stimulus konsumsi senilai US$1,36 miliar. Gubernur Bank of Thailand yang baru juga berkomitmen menangani tingginya utang rumah tangga.
Kepala NESDC Onfa Vejjajiva mengatakan pihaknya tidak memperkirakan terjadinya resesi teknis, yaitu kontraksi dua kuartal berturut-turut, karena sektor pariwisata dan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih mampu menahan dampak pelemahan ekspor pada akhir tahun.
Ekonomi Thailand kini diproyeksikan tumbuh 2% pada tahun ini, dari realisasi 2,5% pada 2024. Inflasi umum yang berada di wilayah negatif selama tujuh bulan terakhir diperkirakan rata-rata minus 0,2% tahun ini, sementara surplus transaksi berjalan diproyeksikan mencapai 2,8% dari PDB.
Pada tahun depan, laju pertumbuhan diperkirakan kembali melambat dengan kisaran 1,2%–2,2%.
Arah pemulihan ekonomi Thailand juga akan bergantung pada hasil negosiasi tarif dengan AS yang kini terancam setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan kesepakatan damai yang sebelumnya dinegosiasikan kedua pihak.
Anutin, yang tengah berupaya memperbaiki ekonomi sekaligus memperkuat dukungan menjelang pemilu yang diperkirakan berlangsung pada Maret 2026, harus menyeimbangkan kepentingan perdagangan dan domestik yang bernuansa nasionalistik.
Ekonom Capital Economics, Shivaan Tandon, menilai pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah tren dapat mendorong Bank of Thailand memangkas suku bunga kebijakan ke level 1% dari saat ini 1,5% dalam beberapa kuartal mendatang.
“Bank sentral akan berupaya melakukan bagiannya untuk mendongkrak aktivitas ekonomi,” tulisnya.