Bisnis.com, JAKARTA — PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOMF) atau WOM Finance membeberkan beberapa tantangan yang dihadapi dalam penyaluran pembiayaan modal kerja.
Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa Hadi menyebut tantangan itu terkait ketahanan arus kas debitur, dinamika usaha yang dipengaruhi kondisi ekonomi, dan sensitivitas terhadap perubahan suku bunga, serta biaya pendanaan.
“Perusahaan menghadapi tantangan tersebut dengan melakukan analisis pembiayaan secara selektif, pemantauan portofolio yang berkelanjutan, serta penyesuaian strategi penyaluran dan pricing secara terukur agar tetap kompetitif dan sehat,” ucapnya kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Kendati demikian, Cincin berpendapat pembiayaan modal kerja pada 2026 masih tetap positif, mengingat karakter yang relatif stabil bila dibandingkan dengan segmen konsumtif.
Sebab itu, WOM Finance memperkirakan pembiayaan produktif seperti modal kerja tetap berperan penting dalam mendukung pertumbuhan industri multifinance.
“Perusahaan juga melihat bahwa pembiayaan modal kerja akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan, yang dijalankan secara seimbang bersama segmen pembiayaan lainnya, dengan tetap mengedepankan prinsip analisa risiko yang sesuai,” tegas Cincin.
Sebagai gambaran, dia membeberkan pembiayaan modal kerja di perusahaannya menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil dan sejalan dengan kebutuhan pembiayaan produktif di pasar.
“Permintaan masih terjaga, khususnya untuk mendukung kelancaran operasional dan pengembangan pelaku usaha. Saat ini, persentase kontribusi pembiayaan modal kerja terhadap total portofolio perusahaan tercatat lebih dari 19%,” bebernya.
WOM Finance, jelasnya, memfokuskan penyaluran pembiayaan pada sektor usaha yang memiliki kebutuhan likuiditas yang jelas dan perputaran bisnis yang relatif stabil, seperti sektor UMKM.
Adapun pada 2026, lanjutnya, WOM Finance menargetkan pembiayaan modal kerja memberikan kontribusi lebih dari 18% terhadap total portofolio perusahaan.
“Untuk mencapai target ini, perusahaan menjalankan strategi melalui optimalisasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, penguatan jaringan distribusi, serta pengelolaan risiko yang disiplin guna menjaga kualitas portofolio,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa pembiayaan modal kerja masih menjadi tulang punggung pertumbuhan industri multifinance.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, PMV, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menyebut hal itu tercermin dari pembiayaan modal kerja yang tumbuh 9,28% (year on year/YoY) per Oktober 2025.
“Yang mencapai Rp53,19 triliun atau sebesar 10,53% dari total piutang pembiayaan industri multifinance,” ungkapnya dalam lembar jawaban RDK November 2025, dikutip pada Kamis (1/1/2026).