Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai gangguan rantai pasok di tingkat global menjadi faktor utama yang menekan sektor riil di dalam negeri, sehingga kinerja manufaktur yang tecermin dalam angka Purchasing Managers' Index (PMI) terperosok ke zona kontraksi pada Juni 2026.
Airlangga menjelaskan bahwa dampak disrupsi rantai pasok global ini sebenarnya sudah terjadi lebih dahulu di negara-negara lain, sementara Indonesia baru merasakan efek rambatannya secara penuh belakangan ini.
"Itu terkait dengan supply chain [rantai pasok]. Jadi supply chain sangat terganggu, dan kita memang Indonesia dapatnya lagging. Jadi telat untuk terganggunya," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurut Airlangga, persoalan rantai pasok kini telah menjadi perhatian utama dan topik pembahasan krusial di berbagai forum ekonomi global, mulai dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) hingga forum kawasan Asean.
Rantai pasok global mengalami gangguan setelah Israel dan Amerika Serikat meluncurkan rudal ke Iran pada akhir Februari 2026. Akibatnya, Iran menutup salah satu jalur perdagangan energi terpenting global yaitu Selat Hormuz.
"Oleh karena itu, itu yang harus menjadi perhatian. Tetapi kalau kita lihat outlook 12 bulan ke depan sih relatif mereka lebih optimistis," tutup mantan menteri perindustrian itu.
Laporan terbaru S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia anjlok ke level 46,9 pada Juni 2026, turun drastis dari posisi stagnan 50,0 pada Mei 2026. Sebagai catatan, angka indeks di bawah 50 mengindikasikan bahwa sektor manufaktur sedang berada dalam fase kontraksi.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa kesehatan sektor manufaktur Indonesia telah menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir, sekaligus menutup kinerja semester pertama 2026 dengan catatan lesu.
"Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," terang Usamah.
Lebih lanjut, S&P Global mencatat bahwa penurunan PMI Manufaktur RI dipicu oleh melemahnya permintaan atas barang manufaktur domestik akibat lesunya daya beli dan tekanan harga. Penurunan permintaan juga terjadi pada pasar ekspor akibat kenaikan harga, yang tercatat sebagai penurunan paling tajam sejak Agustus 2021.
Di sisi lain, laporan tersebut juga mengonfirmasi pernyataan Airlangga mengenai hambatan rantai pasok. Tekanan harga dilaporkan turut memperparah penundaan rantai pasokan pada bulan Juni, di mana waktu pengiriman dari pemasok tercatat mengalami perpanjangan.
Kondisi ini juga diperberat oleh inflasi harga input akibat melonjaknya harga bahan baku dan pergerakan nilai tukar yang menekan struktur biaya perusahaan.