#30 tag 24jam
Penduduk Bumi Tembus 8,2 Miliar Orang, India hingga Indonesia Teratas
Populasi dunia diproyeksikan mencapai 8,2 miliar pada 2025. India menjadi negara terpadat, mengungguli China, dengan populasi 1,46 miliar. [336] url asal
#populasi-global #pertumbuhan-populasi #india-populasi #populasi-dunia #populasi-china #populasi-indonesia #populasi-nigeria #populasi-as #populasi-brasil #populasi-pakistan #populasi-bangladesh #popul
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/01/26 12:44
v/115533/
Bisnis.com, JAKARTA — Populasi global melampaui 8,2 miliar pada tahun 2025, naik dari 8,0 miliar pada tahun 2022. India kini berada di peringkat teratas, denhan hampir seperempat pertumbuhan populasi global berada di sana.
Setelah mencapai 1 miliar jiwa pada tahun 1804, populasi dunia terus meningkat, kini hingga delapan kali lipat selama kurang lebih 200 tahun.
Sejak tahun 2022, populasi global telah meningkat lebih dari 200 juta jiwa meskipun terjadi penurunan angka kelahiran secara luas. Sementara populasi China dan Brasil menyusut, India dan Nigeria telah menjadi pendorong signifikan pertumbuhan populasi secara keseluruhan.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menunjukkan populasi dunia menurut negara, dengan 10 negara berikut ini menempati urutan teratas pada tahun 2025:
1. India: 1,46 miliar
2. China: 1,41 miliar
3. AS: 347,3 juta
4. Indonesia: 285,7 juta
5. Pakistan: 255,2 juta
6. Nigeria: 237,5 juta
7. Brasil: 212,8 juta
8. Bangladesh: 175,7 juta
9. Rusia: 144,0 juta
10. Ethiopia: 135,5 juta
India menduduki peringkat sebagai negara terpadat di dunia, dengan populasi yang dengan cepat mendekati angka 1,5 miliar jiwa.
Antara tahun 2022 dan 2025, India menambah sekitar 53 juta penduduk, meskipun tingkat kesuburannya turun di bawah tingkat penggantian menjadi 1,9 kelahiran per wanita.
Selama periode yang sama, harapan hidup meningkat menjadi lebih dari 72 tahun, naik sekitar 10 tahun sejak tahun 2000.
China, menjadi rumah bagi lebih dari 1,4 miliar orang, menempati peringkat kedua secara global. Sejak 2022, populasinya telah menurun hampir 36 juta jiwa, dan India menyalip China pada tahun 2023 karena demografi yang menua dan tingkat kesuburan yang sangat rendah mempercepat penurunan populasi China.
Dengan 347 juta jiwa pada tahun 2025, AS menempati peringkat ketiga secara global. Namun, Nigeria diproyeksikan akan melampauinya pada tahun 2050 karena populasinya berlipat ganda mengingat profil demografisnya yang lebih muda.
Beralih ke Eropa, populasi Italia telah menyusut lebih dari 1 juta jiwa dalam waktu kurang dari empat tahun, sementara populasi Yunani telah menurun sekitar 400.000 jiwa. Kedua negara tersebut memiliki usia median tertinggi di dunia, masing-masing 48 dan 47 tahun.
Angka Kelahiran China Turun, Anak Muda Tunda Nikah karena Ekonomi?
Angka kelahiran di China tahun lalu merosot ke rekor terendah sepanjang masa. Hal ini menandakan krisis demografis yang semakin dalam. [1,075] url asal
#china #ekonomi-china #pertumbuhan-ekonomi-china #indepth #populasi-china #angka-kelahiran-di-china
(Kompas.com - Money) 21/01/26 21:12
v/110050/
BEIJING, KOMPAS.com - Angka kelahiran di China tahun lalu merosot ke rekor terendah sepanjang masa. Hal ini menandakan krisis demografis yang semakin dalam di negeri Tirai Bambu tersebut.
Sementara, anak muda disebut menunda rencana pernikahan dan memiliki anak karena tekanan ekonomi yang meningkat.
Padahal pemerintah tengah berupaya untuk membalikan tren penurunan tersebut.
KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Lalu lintas kendaraan di Kota Shanghai, China.Data Wind Information mennjukkan, angka kelahiran di China tercatat menjadi 5,6 per 1.000 orang pada tahun 2025, atau turun dari 6,4 pada tahun 2023.
Laporan tersebut menandai tingkat terendah yang pernah tercatat, sejak tahun 1950-an.
Data Biro Statistik China melaporkan, terdapat sekitar 7,9 juta bayi lahir tahun lalu, atau jauh lebih sedikit daripada 9,5 juta pada tahun sebelumnya.
Hal itu terjadi, meskipun pemerintah China telah berupaya mendorong keluarga besar melalui perluasan subsidi dan cuti orang tua yang lebih panjang.
Sebagai catatan, China mulai melonggarkan kebijakan satu anak yang ketat hampir satu dekade lalu, angka kelahiran terus merosot, kecuali lonjakan singkat pada tahun 2024, ketika naik menjadi 6,77 per 1.000 orang.
Kepala ekonom di Economist Intelligence Unit Yue Su mengatakan, peningkatan tersebut secara luas dikaitkan dengan Tahun Naga, yang secara tradisional dianggap sebagai waktu yang baik untuk memiliki anak.
“Laju penurunan ini sangat mencolok, terutama tanpa adanya guncangan besar,” kata Su, dikutip dari CNBC, Rabu (21/1/2026).
Dia menambahkan bahwa dorongan dari langkah-langkah stimulus kesuburan telah memudar.
UNSPLASH/HANNY NAIBAHO Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China. Kaum muda China tunda punya anak karena tekanan ekonomi
Kaum muda China menunda rencana pernikahan dan memiliki anak karena tekanan ekonomi yang meningkat dan persaingan yang semakin ketat di tempat kerja.
Pemerintah China telah meluncurkan berbagai insentif, termasuk hadiah uang tunai dan pengurangan pajak untuk rumah tangga dengan anak di bawah usia 3 tahun.
Pemerintah juga telah memperpanjang cuti melahirkan menjadi 158 hari, dari 98 hari pada 2024.
China menghadapi krisis populasi yang mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas meningkat menjadi 23 persen pada tahun 2025, naik dari 22 persen pada 2024.
Jumlah penduduk menurun untuk tahun keempat berturut-turut, berkurang sebesar 3,4 juta menjadi 1,405 miliar tahun lalu, menurut biro statistik.
Risiko ekonomi mengintai
Para ekonom memperingatkan bahwa menyusutnya angkatan kerja dan penuaan populasi menimbulkan risiko ekonomi yang besar bagi China.
Jumlah bayi yang lahir lebih sedikit berarti menyusutnya angkatan kerja di masa depan untuk menopang kelompok pensiunan yang berkembang pesat.
Ketika itu terjadi, China akan menghadapi tekanan pada sistem pensiun yang sudah terbebani.
Hal ini juga dapat memaksa peningkatan iuran jaminan sosial, sehingga mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan bagi pekerja muda.
“Penurunan jumlah penduduk berarti basis konsumen yang lebih kecil di masa depan, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang lebih luas,” kata Su.
SHUTTERSTOCK/CRYSTAL51 Ilustrasi bendera China.Sebagai catatan, data Bank Dunia menunjukkan bahwa angka kesuburan, yang didefinisikan sebagai jumlah kelahiran per wanita, turun menjadi 1 di China pada 2023. Angka tersebut berada di bawah tingkat rata-rata global yaitu 2,2.
Angka kelahiran di China turun 17 persen
Populasi China menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025 karena angka kelahiran anjlok ke rekor terendah.
Dikutip dari The Guardian, jumlah kelahiran yang terdaftar turun menjadi 7,92 juta pada 2025, sebesar atau 5,63 untuk setiap 1.000 penduduk.
Jumlah ini turun 17 persen dari 9,54 juta pada tahun 2024, dan merupakan angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949.
Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan, populasi China turun sebesar 3,39 juta menjadi 1,405 miliar.
Sementara kematian meningkat menjadi 11,31 juta dari 10,93 juta pada 2024.
Ahli demografi Universitas Wisconsin-Madison Yi Fuxian, mengatakan bahwa angka kelahiran pada 2025 kira-kira sama dengan angka kelahiran pada tahun 1738.
"Ketika populasi China hanya sekitar 150 juta jiwa," ujar dia.
Penurunan ini terjadi meskipun selama bertahun-tahun pemerintah China telah menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan angka kelahiran yang lesu.
Tahun ini, pemerintah mengalokasikan 90 miliar yuan China untuk program subsidi perawatan anak nasional pertama, untuk anak-anak berusia di bawah tiga tahun.
Tak hanya itu, ada juga rencana untuk memperluas asuransi kesehatan nasional untuk mencakup semua biaya terkait persalinan.
Namun, kaum muda masih merasa bahwa memiliki anak terlalu mahal, terutama di tengah tingginya angka pengangguran dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.
THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan ekonomi China
Pertumbuhan ekonomi China memang melambat ke laju terendah dalam hampir tiga tahun pada kuartal IV-2025, di tengah lemahnya permintaan domestik dan tekanan berkepanjangan dari sektor properti.
Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi China pada 2025 masih sejalan dengan target resmi pemerintah Beijing, meskipun ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) terus meningkat.
Dikutip dari CNBC, data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Senin menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,5 persen pada periode Oktober–Desember 2025.
Capaian tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 4,8 persen pada kuartal III 2025 dan menjadi yang terlemah sejak kuartal I 2023, ketika ekonomi juga tumbuh 4,5 persen.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun 2025 mencapai 5 persen.
Angka ini memenuhi target resmi pemerintah yang dipatok sekitar 5 persen, di tengah perlambatan global dan tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Sejumlah indikator ekonomi pada Desember 2025 menunjukkan kontras yang cukup tajam antara sektor konsumsi, investasi, dan manufaktur.
Penjualan ritel, yang merupakan indikator utama konsumsi rumah tangga, tumbuh 0,9 persen secara tahunan pada Desember 2025.
China mulai diversifikasi pasar di luar AS
Pada 2025, ekonomi China dinilai masih menunjukkan ketahanan tertentu. Ketahanan ini terutama ditopang oleh tarif yang lebih rendah dari perkiraan serta upaya para eksportir untuk mendiversifikasi pasar di luar AS.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk menunda peluncuran stimulus fiskal dan moneter dalam skala besar.
China juga mencatatkan surplus perdagangan rekor hampir 1,2 triliun dollar AS tahun lalu. Surplus ini didorong lonjakan ekspor ke pasar non-AS, seiring produsen mengalihkan jalur pengiriman guna menghindari tarif AS yang lebih tinggi.
Direktur Pelaksana OCBC Bank Tommy Xie menilai, dampak negatif yang diperkirakan dari pengiriman barang di awal tahun, pengetatan kontrol transshipment, serta apresiasi mata uang masih relatif terbatas.
“Dampak negatif yang diperkirakan dari pengiriman di awal tahun, kontrol transshipment yang lebih ketat, dan apresiasi mata uang masih terbatas,” kata Xie.
Ia memperkirakan ekspor China masih akan tumbuh sekitar 3 persen pada 2026, meskipun lingkungan perdagangan global tetap menantang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Angka Kelahiran China Terendah Sepanjang Sejarah, Bagaimana Nasib Ekonominya?
Penurunan populasi berlanjut meski ekonomi China tumbuh sesuai target. [352] url asal
#china #angka-kelahiran #demografi-china #ekonomi-china #populasi-china #perang-dagang-as #ekspor-china #pdb-china
REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — China mencatat angka kelahiran terendah sepanjang sejarah pada 2025, seiring penyusutan jumlah penduduk untuk tahun keempat berturut-turut. Kondisi ini memperdalam tantangan demografi yang berpotensi membebani perekonomian negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu dalam beberapa dekade mendatang.
Dilansir CNN, Rabu (21/1/2026), Biro Statistik Nasional China melaporkan pada Senin (19/1/2026) bahwa tingkat kelahiran turun menjadi 5,63 kelahiran per 1.000 penduduk pada 2025, lebih rendah dibandingkan rekor terendah sebelumnya pada 2023 sebesar 6,39 kelahiran per 1.000 penduduk. Penurunan ini mengindikasikan bahwa kenaikan tipis angka kelahiran pada 2024 lebih merupakan anomali, bukan pembalikan tren penurunan yang berlangsung sejak 2016.
Pada saat yang sama, ekonomi China tumbuh 5 persen pada 2025, sesuai dengan target tahunan pemerintah yang dipatok “sekitar 5 persen”.
Pertumbuhan tersebut ditopang lonjakan ekspor yang mampu menutupi dampak ketegangan dagang dengan Amerika Serikat serta lemahnya konsumsi domestik. China membukukan surplus perdagangan rekor sebesar 1,2 triliun dolar AS pada tahun lalu, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menerapkan kebijakan perang dagang yang naik-turun terhadap China.
Namun, data juga menunjukkan perlambatan ekonomi pada kuartal keempat. Pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,5 persen secara tahunan, menjadi laju pertumbuhan kuartalan terendah sejak akhir 2022.
Pejabat pemerintah memuji “stabilitas yang luar biasa” dari perekonomian tersebut. Kepala Biro Statistik Nasional Kang Yi mengatakan capaian itu diraih meski menghadapi “situasi yang kompleks dan berat, ditandai perubahan cepat di lingkungan eksternal serta tantangan domestik yang meningkat”.
“Pada 2025, perekonomian China mampu bertahan dari tekanan dan mempertahankan kemajuan yang stabil, serta mencapai hasil baru dalam pembangunan berkualitas tinggi,” ujar Kang dalam konferensi pers.
Meski pertumbuhan ekonomi tahunan sesuai target, data kelahiran menjadi pukulan bagi upaya Beijing membalikkan dampak kebijakan pengendalian kelahiran ketat selama puluhan tahun melalui kebijakan “satu anak” yang kini telah ditinggalkan, serta mendorong generasi muda untuk memiliki anak.
Pada 2025, jumlah kelahiran sebanyak 7,92 juta bayi kalah jauh dibandingkan angka kematian yang mencapai 11,31 juta jiwa. Akibatnya, total populasi menyusut 3,39 juta orang. Jumlah penduduk China—yang masih menjadi terbesar kedua di dunia setelah India—tercatat sekitar 1,4 miliar jiwa.
Angka Kelahiran Anjlok, Konsumsi Tertekan: Alarm Baru Ekonomi China
China mencatatkan tingkat kelahiran terendah sepanjang sejarah pada 2025, di saat ekonomi negara itu tetap tumbuh sesuai target pemerintah. [1,422] url asal
#china #ekonomi-china #pertumbuhan-ekonomi-china #indepth #populasi-china #ekspor-china
(Kompas.com - Money) 19/01/26 15:52
v/107385/
NEW YORK, KOMPAS.com — China mencatatkan tingkat kelahiran terendah sepanjang sejarah pada 2025, di saat ekonomi negara itu tetap tumbuh sesuai target pemerintah.
Data demografi dan ekonomi yang dirilis otoritas statistik pada awal pekan ini memperlihatkan dua tren yang berjalan beriringan, yakni stabilitas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara tahunan dan pelemahan struktural yang kian terasa pada basis permintaan domestik, pasar tenaga kerja, serta prospek jangka panjang akibat penuaan penduduk.
Dikutip dari CNN, Senin (19/1/2026), Biro Statistik Nasional China atau National Bureau of Statistics of China melaporkan tingkat kelahiran turun menjadi 5,63 kelahiran per 1.000 penduduk pada 2025.
SHUTTERSTOCK/CRYSTAL51 Ilustrasi bendera China.Angka ini berada di bawah rekor terendah sebelumnya pada 2023 sebesar 6,39 per 1.000 penduduk.
Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan tipis jumlah kelahiran pada 2024 lebih merupakan anomali ketimbang pembalikan tren penurunan yang telah berlangsung sejak 2016.
Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi China mencapai 5 persen sepanjang 2025, sejalan dengan target pemerintah “sekitar 5 persen”.
Namun, kinerja ekonomi kuartal IV 2025 melambat, dengan pertumbuhan hanya 4,5 persen secara tahunan, terendah sejak akhir 2022, menegaskan tantangan yang dihadapi perekonomian terbesar kedua dunia itu.
Kelahiran anjlok, populasi China menyusut empat tahun berturut-turut
Data statistik menunjukkan, pada 2025 jumlah kelahiran mencapai 7,92 juta bayi, sementara jumlah kematian mencapai 11,31 juta jiwa. Selisih tersebut menyebabkan total populasi China menyusut 3,39 juta orang dalam setahun.
UNSPLASH/HANNY NAIBAHO Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China.Dengan demikian, populasi China, masih terbesar kedua di dunia setelah India, berada di kisaran 1,4 miliar jiwa pada 2025.
Penurunan populasi ini menandai tahun keempat berturut-turut penyusutan jumlah penduduk.
Bagi Beijing, tren tersebut menjadi tantangan besar karena terjadi bersamaan dengan penyusutan angkatan kerja dan membengkaknya populasi usia lanjut penerima pensiun.
Penuaan penduduk juga semakin dalam. Jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun mencapai 323 juta orang pada 2025, atau sekitar 23 persen dari total populasi, naik satu poin persentase dibandingkan 2024.
Proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa hingga separuh populasi China berpotensi berusia di atas 60 tahun pada 2100, skenario yang membawa implikasi luas bagi pertumbuhan ekonomi, fiskal, hingga ambisi geopolitik China.
Warisan kebijakan satu anak dan perubahan sosial
Para pejabat China menilai perubahan demografi ini sebagai tantangan struktural. Selama puluhan tahun, China menerapkan kebijakan pengendalian penduduk yang ketat melalui kebijakan satu anak, yang baru dihapuskan pada 2016.
Kebijakan tersebut mempercepat tren yang juga terlihat di negara-negara Asia Timur lain seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana tingkat kelahiran rendah dipengaruhi oleh meningkatnya pendidikan, perubahan pandangan terhadap pernikahan, urbanisasi cepat, serta tingginya biaya membesarkan anak.
Presiden China Xi Jinping berulang kali menyinggung pentingnya “keamanan populasi” dan menempatkan “pengembangan populasi berkualitas tinggi” sebagai prioritas nasional.
Di bawah kepemimpinannya, pemerintah juga mendorong otomatisasi dan peningkatan teknologi manufaktur untuk menggantikan tenaga kerja manusia dengan robot dan kecerdasan buatan.
AFP/POOL/NHAC NGUYEN Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam di Hanoi, 14 April 2025.Sepanjang 2025, pemerintah China memperkenalkan berbagai insentif untuk mendorong kelahiran, mulai dari bonus tunai tahunan bagi keluarga dengan anak di bawah tiga tahun, penyederhanaan aturan pencatatan pernikahan, hingga program pendidikan prasekolah negeri gratis.
Pemerintah daerah menambah insentif berupa keringanan pajak, bantuan pembelian dan sewa rumah, cuti melahirkan lebih panjang, serta bantuan tunai langsung.
Namun, sejumlah analis menilai langkah-langkah tersebut belum cukup untuk membalikkan tren.
Faktor budaya juga disebut berperan. Tahun 2025 yang merupakan “Tahun Ular” dalam kalender zodiak China dianggap kurang menguntungkan untuk kelahiran dibandingkan “Tahun Naga” pada 2024, sehingga turut memengaruhi keputusan sebagian pasangan.
Dampak ekonomi langsung: konsumsi tertekan
Penurunan kelahiran tidak hanya berdampak jangka panjang, tetapi juga berpotensi menekan ekonomi dalam waktu dekat.
Yi Fuxian, pakar demografi dan ilmuwan senior di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat (AS), menilai rendahnya angka kelahiran akan memperlemah permintaan domestik di China.
“Anak-anak adalah ‘konsumen super’. Dengan kelahiran yang sangat rendah, permintaan domestik China kemungkinan tetap lemah, sehingga ekonomi semakin bergantung pada ekspor,” kata Yi.
Data ekonomi China 2025 mendukung pandangan tersebut. Sepanjang tahun, konsumsi rumah tangga menunjukkan pemulihan yang rapuh.
Pada Desember 2025, penjualan ritel hanya tumbuh 0,9 persen, melambat dari 1,3 persen pada November, menandakan lemahnya belanja konsumen di tengah tekanan deflasi.
KOMPAS.com/Bill Clinten Ilustrasi: Salah satu sudut Kota Beijing di malam hari.Pertumbuhan ekonomi China 5 persen, tetapi momentum melemah
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi China pada 2025 mencapai 5 persen, sesuai sasaran pemerintah.
Kinerja ini ditopang lonjakan ekspor yang mengimbangi lemahnya konsumsi domestik dan ketegangan dagang dengan Amerika Serikat.
China mencatat surplus perdagangan rekor sebesar 1,2 triliun dollar AS pada 2025, meskipun menghadapi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang naik-turun.
Ekspor China berhasil menembus pasar Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin ketika akses ke pasar AS tertekan.
Namun, data kuartal IV 2025 memperlihatkan perlambatan signifikan. Pertumbuhan ekonomi China 4,5 persen secara tahunan menjadi yang terendah sejak ekonomi dibuka kembali pascapandemi Covid-19.
Angka ini sedikit di atas perkiraan konsensus analis yang disurvei Reuters sebesar 4,4 persen, sehingga tetap memungkinkan pencapaian target tahunan 5 persen.
Kepala Biro Statistik Nasional China, Kang Yi, menyebut ekonomi menunjukkan “stabilitas yang luar biasa” di tengah “situasi eksternal yang kompleks dan berat serta tantangan domestik yang meningkat”.
“Pada 2025, ekonomi China mampu menahan tekanan dan mempertahankan kemajuan yang stabil, serta mencapai hasil baru dalam pembangunan berkualitas tinggi,” kata Kang dalam konferensi pers.
Investasi melemah, properti terus tertekan
Di balik capaian tahunan tersebut, sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang meningkat pada sisi domestik.
AP Photo Pemerintah kota Beijing akan membatasi kendaraan bermotor dengan penerapan sistem ganjil genap untuk memerangi polusi udara.Investasi di sektor perumahan, manufaktur, dan infrastruktur sepanjang 2025 mencatat kontraksi 3,8 persen. Ini merupakan penurunan tahunan pertama yang pernah tercatat.
Di dalamnya, investasi pengembangan properti anjlok 17,2 persen di tengah krisis berkepanjangan sektor properti.
Laba industri juga merosot tajam, mencerminkan lemahnya permintaan dan tekanan harga.
Sementara itu, belanja modal perusahaan cenderung tertahan karena ketidakpastian prospek ekonomi dan lemahnya konsumsi.
Analis Economist Intelligence Unit mencatat, salah satu titik terang ekonomi China pada 2025 adalah investasi di bidang kecerdasan buatan dan teknologi, serta aktivitas pasar keuangan yang relatif kuat.
“Otoritas tidak terburu-buru menggelontorkan stimulus pada akhir tahun karena target 5 persen sudah dalam jangkauan, terbantu oleh ekspor yang kuat,” tulis EIU dalam catatan analisnya.
Ketergantungan China pada ekspor dan risiko global
Kinerja ekspor yang kuat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi China 2025, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru. Sejumlah negara mitra dagang semakin waspada terhadap pelebaran ketidakseimbangan perdagangan global.
Tarif AS terhadap produk China kini berada di kisaran 20 persen di atas tarif sebelumnya, setelah gencatan dagang yang dicapai pada akhir 2024.
Di dalam negeri, ketergantungan pada ekspor menyoroti lemahnya mesin pertumbuhan berbasis konsumsi. Para ekonom mencermati bahwa tanpa pemulihan belanja rumah tangga yang lebih kuat, pertumbuhan China akan tetap rapuh menghadapi guncangan eksternal.
KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Lalu lintas kendaraan di Kota Shanghai, China.Proyeksi ke depan dan perdebatan data
Ke depan, pemerintah China akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada Maret 2026, bersamaan dengan sidang legislatif tahunan.
Beijing juga dijadwalkan merilis cetak biru pembangunan ekonomi lima tahunan berikutnya yang akan menentukan prioritas kebijakan hingga paruh kedua dekade ini.
Organisasi internasional telah memberikan proyeksi yang lebih moderat. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,4 persen pada 2026 dan 4,3 persen pada 2027.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China sekitar 4,5 persen pada 2026.
Adapun dalam laporanya, Rhodium Group menilai angka resmi PDB China mungkin terlalu optimistis. Kelompok riset tersebut memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh antara 2,5 hingga 3 persen pada 2025, jauh di bawah angka resmi 5 persen.
Perdebatan mengenai akurasi data PDB ini bukan hal baru.
Sejumlah pengamat berpendapat bahwa pemerintah daerah memiliki insentif untuk melaporkan pertumbuhan lebih tinggi, meskipun Beijing dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan transparansi statistik.
Antara stabilitas jangka pendek dan tantangan struktural
Perlambatan ekonomi kuartal IV-2025, lemahnya konsumsi, penurunan investasi, serta krisis demografi yang kian nyata menempatkan pemerintah China pada persimpangan jalan.
Di satu sisi, capaian pertumbuhan ekonomi 5 persen menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global.
Di sisi lain, penurunan angka kelahiran dan penuaan penduduk mempersempit ruang manuver jangka panjang, terutama dalam upaya mengalihkan mesin pertumbuhan dari ekspor ke konsumsi domestik.
Para analis memperkirakan pemerintah akan melanjutkan kombinasi kebijakan pro-pertumbuhan, dukungan terbatas bagi sektor properti, serta insentif demografi.
Namun, dengan angkatan kerja yang menyusut dan biaya sosial yang meningkat, tantangan yang dihadapi China pada dekade mendatang diperkirakan semakin kompleks.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56