Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi jiwa mencatat tren yang positif pada tipe pembayaran premi tunggal (single premium), seiring meningkatnya kontribusi nasabah korporasi. Nasabah korporasi adalah perusahaan atau badan usaha yang membeli produk asuransi untuk memberikan perlindungan kepada karyawannya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan pertumbuhan premi industri asuransi jiwa pada April 2026 ditopang oleh premi tunggal yang relatif lebih kuat dibandingkan premi reguler.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menuturkan pada periode itu, pendapatan premi industri asuransi jiwa sebesar Rp62,58 triliun atau tumbuh 3,28% secara tahunan.
“OJK melihat bahwa pertumbuhan premi tunggal di tengah ketidakpastian ekonomi antara lain dipengaruhi oleh preferensi sebagian nasabah untuk memperoleh perlindungan sekaligus melakukan penempatan dana dalam satu transaksi,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK OJK Mei 2026, Selasa (23/6/2026).
Ogi menilai bahwa premi reguler itu cenderung lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat, karena memerlukan komitmen pembayaran jangka panjang.
“Meski demikian, kedua kanal tersebut tetap memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri dan memenuhi kebutuhan perlindungan masyarakat yang beragam,” tegasnya.
Senada, PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life melihat bahwa premi tunggal dan premi reguler akan tetap memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung pertumbuhan perusahaan.
Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso berpendapat premi tunggal umumnya menjadi pilihan untuk kebutuhan investasi atau perlindungan tertentu dengan pembayaran sekaligus.
Sementara itu, lanjutnya, premi reguler mendukung keberlanjutan perlindungan dan memperkuat hubungan jangka panjang dengan nasabah. Sebab itu, perusahaan akan terus mengembangkan kedua segmen tersebut secara seimbang.
“Melalui inovasi produk, penguatan kanal distribusi, serta kolaborasi yang lebih erat dengan para mitra bisnis,” ucap Hengky kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (28/6/2026).
Namun, imbuh Hengky, perkembangan masing-masing segmen pada akhirnya akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, preferensi nasabah, relevansi produk, dan strategi distribusi yang dijalankan oleh setiap perusahaan.
Di Ciputra Life, Hengky menyebut pada kuartal I/2026 premi tunggal berkontribusi lebih besar terhadap pendapatan premi perusahaan dibandingkan premi reguler, meskipun sebenarnya pertumbuhan lebih besar di premi reguler.
Pada Kuartal I/2026, premi tunggal perusahaan mencapai Rp119 miliar, tumbuh 18% (year on year/YoY). Pertumbuhan ini didorong oleh strategi diversifikasi portofolio bisnis asuransi jiwa kredit yang tidak lagi hanya berfokus pada pembiayaan KPR.
“Tetapi juga memperluas penetrasi ke berbagai segmen kredit lainnya. Selain itu, penguatan sinergi dengan para mitra bisnis turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, premi reguler Ciputra Life mengalami pertumbuhan 60% YoY menjadi Rp62 miliar. Pertumbuhan ini cerminan dari hasil memperluas basis nasabah, meningkatkan efektivitas distribusi, serta menghadirkan produk-produk yang semakin relevan dengan kebutuhan perlindungan masyarakat.
“Adapun, secara keseluruhan pada kuartal I/2026, Ciputra Life membukukan kinerja pendapatan premi yang positif. Total pendapatan premi mencapai Rp182 miliar, meningkat sekitar 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tegas Hengky.
Kondisi Ekonomi Pengaruhi Premi Tunggal dan Reguler
Untuk diketahui, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyampaikan berdasarkan tipe pembayaran, premi tunggal mengalami pertumbuhan 7,4% YoY menjadi Rp19,10 triliun pada Maret 2026.
Merespons itu, Hengky berpandangan kenaikan premi tunggal belum tentu mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara menyeluruh. Pasalnya, pertumbuhan tersebut lebih banyak berasal dari segmen tertentu, seperti nasabah menengah atas dan korporasi, yang memang memiliki karakteristik pembayaran premi secara sekaligus.
“Di sisi lain, premi reguler lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat. Ketika daya beli masih menghadapi tekanan, sebagian masyarakat cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran, termasuk untuk komitmen pembayaran premi secara berkala,” bebernya.
Kendati begitu, tegasnya, Ciputra Life memandang ketidakpastian ekonomi justru dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan dan perlindungan terhadap risiko. Sebab demikian, perusahaan fokus dalam memastikan setiap produk yang ditawarkan tetap relevan, memberikan manfaat yang nyata, dan didukung layanan yang berkualitas.
“Kami memandang prospek industri asuransi jiwa tetap positif. Meskipun pada kuartal I/2026 premi reguler industri mengalami tekanan, kami meyakini segmen ini akan tetap menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan industri dalam jangka panjang,” ujar Hengky.
Terpisah, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan komposisi premi berdasarkan tipe pembayaran, yakni premi tunggal dan reguler mencerminkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan asuransi semakin beragam.
“Baik melalui skema perlindungan jangka panjang maupun solusi yang lebih fleksibel sesuai dengan preferensi finansial masing-masing,” katanya dalam konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa periode Januari-Maret 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Albertus menjelaskan, kenaikan premi tunggal ini didorong oleh premi tunggal unitlink dan kumpulan yang meningkat. Menurutnya, di tengah volatilitas ekonomi saat ini, kemungkinan nasabah melihat asuransi bukan hanya sebagai proteksi, tetapi sebagai investasi yang baik juga.
“Karena kalau kita lihat premi tunggal itu kan biasanya nasabah punya dana besar dan masuk. Jadi ada dua faktor sih. Pertama dari premi tunggal unitlink-nya meningkat, kedua premi tunggal dari asuransi kumpulan,” jelasnya.
Dia meneruskan, untuk unitlink dirinya melihat bahwa nasabah kini memandang asuransi sebagai salah satu alternatif investasi. Sementara itu, untuk asuransi kumpulan dirinya melihat saat ini banyak perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya dalam asuransi.
“Mungkin perusahaan-perusahaan melihat kalau selama ini di-cover sendiri ada inflasi biaya medis cukup tinggi ya, 15%. Nah ini mungkin perusahaan-perusahaan melihat asuransi sebagai alternatif yang tepat untuk meng-cover risiko ini. Jadi ini menurut saya positif perkembangannya,” jelas Albertus.
Senada, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder's Dalam Negeri & Internasional AAJI Handojo G. Kusuma menilai kenaikan premi tunggal merupakan indikator yang positif, terlebih alokasinya lebih banyak di komponen saving and investment.
“Jadi saya kira ini indikasi positif di tengah situasi yang tentunya banyak orang melihat uncertainty gitu ya dengan geopolitical environment dengan internal dalam negeri juga yang masih perlu ada kestabilan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI Wianto Chen berpendapat kondisi kenaikan premi tunggal ini hanya bersifat sementara.
Pasalnya, premi reguler itu memang mengalami kontraksi sebesar 5,2% YoY pada kuartal I/2026, tetapi secara tiga tahun berturut pertumbuhannya positif. Menurutnya, hal itu wajar terjadi karena situasi ekonomi saat ini.
“Kedua tentunya single premium dulunya didorong oleh tentunya unitlink ya. Banyak didorong oleh bank tapi sekali ini single premium ini lebih didorong oleh yang tradisional dalam bentuk asuransi kumpulan. Jadi kurang lebih seperti itu. Semoga ini recovery dan kita on track kembali untuk pertumbuhan,” kata Wianto.
Di samping itu, premi reguler mengalami kontraksi 5,2% YoY menjadi Rp18,17 triliun dari Rp29,71 triliun. Meski demikian, premi reguler masih mendominasi atau berkontribusi besar terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa.
Di lain sisi, pengamat asuransi Abitani Taim menyoroti bahwa dalam kondisi ekonomi saat ini masyarakat justru lebih suka menyimpan uang tunai (cash) atau investasi aman yang mudah dicairkan seperti emas.
Sebab demikian, Abitani berujar segmen premi tunggal adalah tetap untuk orang-orang yang memang memiliki harta kekayaan yang melimpah dan tidak ingin repot bayar secara berkala.
“Biasanya mereka yang memiliki uang yang banyak dan tidak mau repot bayar lebih memilih membayar premi tunggal sebagai diversifikasi investasinya,” ucap Abitani.