PRILLY, KOMPAS.com — Sehari setelah Indonesia dan Swiss menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama mineral dan logam di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026), delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group, termasuk Kompas.com dan KBRI Bern, mengunjungi SICPA SA di Prilly, Swiss.
Perusahaan teknologi yang berdiri pada 1927 itu dikenal melalui teknologi pengaman uang kertas, termasuk pada Rupiah, namun kini juga mengembangkan solusi ketertelusuran untuk sumber daya strategis seperti bahan bakar dan mineral kritis.
Penandatanganan MoU tersebut dilakukan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Ambassador sekaligus Head of the Bilateral Economic Relations Division Swiss Andrea Rauber Saxer. Kerja sama itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss serta upaya memperkuat kolaborasi di sektor mineral dan logam.
“Ada kebutuhan kuat untuk kepercayaan. Ada kebutuhan kuat untuk kedaulatan. Dan terutama hari ini, kedaulatan adalah salah satu elemen yang paling penting,” kata Swiss Markets Director Strategic Affairs SICPA Christian Bock di Prilly, Swiss, Rabu (24/6/2026).
Menurut Christian, Indonesia dan Swiss memiliki karakteristik yang berbeda sebagai negara besar dan negara kecil. Namun, terdapat sejumlah kebutuhan yang dapat menjadi titik temu kerja sama kedua negara.
“Orang bisa bertanya, kenapa Indonesia dan Swiss berusaha bersama? Maksud saya, negara yang besar dengan negara yang kecil,” ujar Christian.
“Tapi menurut saya, ada sesuatu yang cocok,” lanjut dia.
Christian mengatakan keputusan yang diambil Indonesia di bidang sumber daya alam membutuhkan sejumlah elemen penting, mulai dari kepercayaan, kedaulatan, pengalaman, hingga kemampuan membangun sistem yang dapat diandalkan.
Dari Pelumas Susu ke Pengaman Uang Kertas
DOK. KBRI BERN Delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group bersama tim KBRI Bern dan jajaran manajemen SICPA melakukan diskusi mengenai teknologi keamanan uang kertas, solusi digital, serta ketertelusuran sumber daya strategis di Prilly, Swiss, Rabu (24/6/2026). SICPA akan memasuki usia 100 tahun pada 2027. Christian menjelaskan perusahaan tersebut berawal dari produk pelumas yang digunakan dalam proses pemerahan susu pada 1927.
Dari produk awal tersebut, SICPA berkembang ke tinta cetak, tinta keamanan uang kertas, solusi cukai, teknologi ketertelusuran, hingga berbagai solusi digital.
“Ini menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan kecil bisa tumbuh dan berkembang menjadi hidden champion,” ujar Christian.
Director Corporate Communications Strategic Affairs SICPA Remi Oudinot mengatakan SICPA saat ini bekerja dengan lebih dari 180 negara dan memiliki lebih dari 3.000 karyawan di seluruh dunia.
Menurut dia, perusahaan memiliki tenaga kerja dari 84 kewarganegaraan, fasilitas di lima benua, serta lebih dari 6.000 paten.
“Inovasi adalah kata kuncinya,” kata Remi.
Ia menjelaskan SICPA memiliki keahlian di berbagai bidang, mulai dari kimia, teknik, ilmu material, kriptologi, telekomunikasi, optik, fisika, hingga ilmu komputer.
“Pada akhirnya, apa yang kami hasilkan adalah data,” ujar Remi.
“Kami dapat memberikan dashboard kepada pemerintah sehingga mereka mengetahui bagaimana kondisi aset mereka, di mana terdapat masalah, dan sebagainya,” lanjutnya.
Remi menjelaskan perjalanan SICPA dimulai dari tinta grafis pada dekade 1930-an. Saat Perang Dunia II, perusahaan mulai mengembangkan tinta keamanan untuk uang kertas dan mencetak uang kertas pertamanya untuk Spanyol.
Menurut dia, salah satu teknologi yang terus dikembangkan SICPA adalah tinta optik yang berubah warna ketika dilihat dari sudut berbeda. Teknologi tersebut menjadi salah satu elemen keamanan pada uang kertas.
Selain fitur yang dapat dilihat masyarakat, SICPA juga mengembangkan lapisan keamanan lain yang hanya dapat diperiksa menggunakan perangkat tertentu maupun laboratorium khusus.
“Kami memiliki tiga tingkat keamanan pada uang kertas,” kata Remi.
“Yang pertama dapat dilihat masyarakat, yang kedua dapat diperiksa menggunakan perangkat tertentu, dan yang ketiga hanya dapat diverifikasi oleh laboratorium khusus,” lanjutnya.
Christian menambahkan sekitar 85 persen uang kertas di dunia memiliki teknologi SICPA pada salah satu elemen keamanannya.
KOMPAS.com/Aprillia Ika Swiss Markets Director Strategic Affairs SICPA Christian Bock memaparkan sejarah, inovasi, dan perkembangan bisnis SICPA kepada delegasi jurnalis Indonesia di Prilly, Swiss, Rabu (24/6/2026).Ketika Rupiah, Bahan Bakar, dan Mineral Masuk Radar SICPA
Dalam pemaparannya, SICPA juga menjelaskan pengembangan teknologi penandaan bahan bakar atau fuel marking yang digunakan untuk membantu pemerintah mengawasi distribusi bahan bakar, mencegah penyelundupan, serta mendukung pengawasan penerimaan negara.
“Energi adalah aset vital bagi negara,” ujar Remi.
Menurut dia, teknologi tersebut menggunakan penanda molekuler yang dimasukkan ke bahan bakar resmi sehingga dapat diperiksa di sepanjang rantai distribusi.
Remi mengatakan sistem tersebut telah digunakan di sejumlah negara, termasuk Filipina.
Ketika ditanya mengenai relevansinya bagi Indonesia, Remi menyinggung tantangan distribusi di negara kepulauan.
“Saat saya melihat Indonesia dan jumlah pulau yang dimiliki, tantangannya kurang lebih sama seperti yang terlihat di Filipina,” kata Remi.
“Bagaimana Anda mengendalikan distribusi bahan bakar? Di situlah Anda membutuhkan solusi fisik dan solusi digital,” lanjutnya.
Selain bahan bakar, Christian mengatakan teknologi serupa juga dapat diterapkan pada sumber daya strategis lainnya.
“Kami membahas fuel marking sebelumnya, tetapi teknologi itu juga dapat diterapkan pada sumber daya kritis lainnya seperti mineral,” ujar Christian.
SICPA juga menyebut terlibat dalam pengembangan central bank digital currencies (CBDC) bersama sejumlah bank sentral.
“Kami bekerja dengan bank sentral untuk mendefinisikan konsep yang dapat memberikan kedaulatan kepada bank sentral, bahkan dalam mata uang digital,” kata Christian.
Hubungan SICPA dengan Indonesia sendiri telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Remi mengatakan kehadiran perusahaan di Indonesia dimulai pada awal 1970-an dan diperkuat dengan investasi pabrik baru pada 2018.
“Indonesia memiliki tempat khusus bagi SICPA,” ujar Remi.
Menurut dia, Indonesia juga menjadi bagian dari jaringan produksi global SICPA yang saat ini memiliki 12 pabrik di berbagai negara.
“Untuk kami, Indonesia adalah kunci,” kata Remi.
“Kami membutuhkan sistem yang benar-benar dapat diandalkan. Itulah sebabnya kami memiliki 12 pabrik di seluruh dunia dan Indonesia adalah salah satunya,” lanjutnya.
Dalam sesi diskusi, SICPA juga menjelaskan pentingnya kolaborasi dengan dunia riset dan pendidikan. Banyak ilmuwan perusahaan berasal dari École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), salah satu institusi teknologi terkemuka di Swiss.
Selain EPFL, SICPA juga memiliki kemitraan dengan sejumlah pusat riset dan teknologi lainnya, termasuk di bidang biometrik, sains data, dan teknologi digital.
“Ketika Anda mendengarkan pelanggan, yaitu pemerintah, mereka terus datang dengan masalah baru untuk diselesaikan,” ujar Christian.
“Karena itu, Anda membutuhkan kompetensi untuk menjawab masalah tersebut dengan cepat,” lanjutnya.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang