Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mengungkapkan bahwa Pulau Jawa mendominasi laporan penipuan atau scam di sektor keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi membeberkan ada 303.114 laporan scam yang masuk dari Pulau Jawa.
“Kalau dari sebaran laporan scam, dapat kita lihat bahwa Pulau Jawa masih mendominasi laporan scam tertinggi, ada sebanyak 303.000 laporan lebih,” ucapnya dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).
Dia meneruskan, posisi kedua yakni Pulau Sumatra yang terdapat 68.769 laporan scam kepada IASC. Kemudian, ada Pulau Kalimantan sebanyak 23.541 laporan.
Selanjutnya, Pulau Sulawesi dengan 16.805 laporan. Seterusnya ada Pulau Bali & Nusa Tenggara sebanyak 16.266 laporan dan Pulau Maluku & Papua sebanyak 4.041 laporan, serta luar negeri sebanyak 101 laporan scam.
Friderica membeberkan ada lima modus scamyang paling banyak terjadi di Indonesia. Pertama ada penipuan transaksi belanja dengan jumlah 73.743 laporan. Kedua, impersonation atau fake call sebanyak 44.446 laporan.
“Kemudian ada penipuan investasi [sebanyak 26.365 laporan], penipuan kerja [sebanyak 23.469 laporan], dan penipuan dengan iming-iming hadiah atau melalui media sosial [sebanyak 19.983 laporan],” bebernya.
Adapun, sepanjang 22 November 2024 sampai dengan 14 Januari 2026, Friderica mengemukakan IASC mendapatkan 432.637 laporan dari masyarakat. Sementara, jumlah rekening yang berhasil diblokir karena terindikasi scam sebanyak 397.028 rekening.
“Dan berdasarkan data, ada Rp9,1 triliun dana masyarakat yang dilaporkan hilang terkena scam ini, IASC berhasil memblokir atau menyelamatkan dana sebanyak Rp432 miliar,” pungkasnya.