Bisnis.com, SURABAYA – Pemerhati sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetyo menjelaskan serangkaian tindakan pembongkaran terhadap situs bangunan cagar budaya rumah radio Bung Tomo yang terjadi pada tahun 2016.
Kuncar, sapaan akrabnya, membeberkan bahwa saat itu dirinya yang pertama kali menemukan bahwa bangunan bersejarah tersebut telah rata dengan tanah ketika lewat di Jalan Mawar, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Surabaya.
"Waktu itu suatu saat tahun 2016 pukul 07.00 pagi, saya cari makan dan lihat, kok [rumah radio Bung Tomo] ditutup seng. Saya pikir cuma direnovasi. Akhirnya saya buka, loh kosong. Itu saya foto kemudian saya posting," tutur Kuncar, Selasa (3/2/2026).
Kuncar pun menyebut bahwa rumah tersebut memang milik seseorang bernama Amin Hadi. Kuncar mengenal mendiang Amin yang merupakan sosok pejuang pada masa revolusi kemerdekaan, sekaligus kawan dari Bung Tomo.
"Bukan, bukan [rumah peninggalan Bung Tomo]. Itu rumahnya [berdiri] zaman Belanda, itu rumah Pak Amin namanya. Pak Amin itu siapa? Temannya Bung Tomo, dia pejuang," ucapnya.
Kuncar juga membeberkan bahwa saat itu Amin sendiri yang menawarkan kediamannya untuk dipergunakan oleh Bung Tomo, K'tut Tantri, dan orang-orang yang tergabung dalam Radio Badan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI) sebagai tempat untuk menyiarkan orasi maupun kabar yang berkaitan dengan pertempuran 10 November di Surabaya.
Kuncar menyebut bekas rumah dari mendiang Amin tersebut hanya digunakan sebagai tempat persinggahan sementara oleh Bung Tomo dan kawan-kawan, yang keberadaannya senantiasa dibuntuti oleh tentara Sekutu saat itu.
"Jadi ketika peristiwa pertempuran itu kan awalnya di sebuah rumah di Jalan Biliton, dari Biliton kemudian pindah di situ. Kira-kira cuma seminggu, kemudian pindah lagi ke Tretes, lalu pindah lagi ke Malang. Itu pakai radio mobile begitu, sebesar kulkas yang bisa dipindah-pindah," paparnya.
Kuncar juga menyebut sepeninggal Amin, rumah tersebut kemudian sempat dijadikan sebagai tempat tinggal oleh anak-anaknya. Namun, rumah bersejarah tersebut kemudian dijual oleh anak perempuan dari almarhum Amin yang sudah tidak mampu untuk mengelola.
"Nah, kemudian ditinggali sama putrinya dan ketika dijual itu putrinya yang menjual karena sudah sepuh. Sekarang sudah meninggal," ucapnya.
Lebih lanjut, Kuncar menyatakan bahwa kegelisahan Presiden Prabowo Subianto terhadap nasib bangunan-bangunan bersejarah di Tanah Air, termasuk rumah radio Bung Tomo yang telah beralih bentuk adalah titik balik bagi pemerintah daerah untuk semakin peduli dengan berbagai peninggalan yang bernilai historis tinggi.
"Kebijakan-kebijakan sekarang kan lebih ketat ke urusan cagar budaya, misalnya mengaktivasi kawasan Kota Lama, Peneleh. Untuk soal regulasi sekarang sangat ketat. Jadi ada tim ahli Cagar Budaya, dan tim pengelola kawasan Cagar Budaya. Ini pertama kali di Jawa Timur, dan semacam menjadi titik balik pemerintah kota," tuturnya.