Kacang mete Sulawesi Selatan kini merambah pasar internasional berkat inovasi UMKM lokal seperti Bunly Mete dan Umi Nadja, didukung oleh BRI. [881] url asal
Bisnis.com, MAKASSAR - Komoditas kacang mete asal Sulawesi Selatan (Sulsel) kian menegaskan posisinya sebagai salah satu produk unggulan daerah yang tidak hanya merajai pasar domestik, melainkan juga mulai unjuk gigi di panggung global.
Melalui sentuhan inovasi dan hilirisasi yang dilakukan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, komoditas yang banyak dijumpai di daratan hingga wilayah kepulauan Sulsel ini perlahan naik kelas.
Potensi besar tersebut salah satunya dioptimalkan oleh Lily Nuryah, pemilik Bunly Mete asal Makassar. Bermula dari niat memopulerkan produk tanah kelahirannya ke kancah dunia, perempuan berusia 55 tahun ini rela memutar kemudi bisnisnya.
Pada 2017, Lily sejatinya memulai usaha di sektor makanan siap saji. Namun kini dia bergerak aktif memproduksi olahan kacang mete, baik dalam bentuk siap konsumsi maupun bahan baku.
Berbagai variasi rasa premium seperti original, pedas, bawang putih, rumput laut, cokelat jahe, hingga gula aren dihadirkan untuk memikat lidah konsumen.
Produk tersebut dikemas dengan ukuran variatif mulai dari 50 gram hingga 200 gram, dan dibanderol pada kisaran Rp15.000 hingga Rp50.000 per kemasan.
Untuk menjaga cita rasa yang eksklusif, Lily menerapkan standar kurasi yang ketat. Bahan baku mete utuh didatangkan langsung dari sentra perkebunan di Kabupaten Sidrap dan Pangkep melalui kerja sama dengan petani dan pengepul lokal.
Di rumah produksinya yang berpusat di Makassar, mete tersebut diproses melalui metode perebusan khusus tanpa tambahan tepung maupun bahan pengawet, sehingga masuk ke dalam kategori pangan sehat (healthy food).
Saat ini, dengan disokong 4 karyawan tetap, Bunly Mete mampu mencatatkan kapasitas produksi hingga 5 ton per bulan.
Pasar yang dirambah pun tidak main-main. Di dalam negeri, Bunly Mete telah memasok ke berbagai pusat oleh-oleh, ritel modern, hingga belasan hotel berbintang di Makassar, Jakarta, Malang, hingga Bali.
Di segmen korporasi, produk ini telah menembus lini maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air untuk kemasan 50 gram.
Capaian paling impresif adalah keberhasilan penetrasi pasar internasional. Bunly Mete tercatat telah mengekspor produknya ke Singapura, Hong Kong, hingga Mesir.
Ekspansi pasar ini dipastikan kian agresif setelah Lily mengamankan kontrak dagang anyar untuk pengiriman ke Malaysia senilai US$20.000 dan ke Inggris senilai US$100.000.
"Kita memang fokusnya pada penjualan business to business (B2B), jadi kemungkinan akan ada beberapa perjanjian kerja sama lagi ke depan," tutur Lily kepada Bisnis belum lama ini.
Geliat hilirisasi mete Sulsel tidak hanya berpusat di wilayah daratan utama. Dari ujung selatan provinsi ini, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Selayar, komoditas serupa juga tengah bersiap memperluas penetrasi pasar nasional.
Hartini, pemilik Produksi Umi Nadja, menjadi salah satu motor penggerak transformasi mete dari pulau tersebut.
Jika dulunya mete Selayar hanya dipasarkan dalam bentuk gelondongan atau mentah, kini Produksi Umi Nadja berhasil mengemasnya menjadi camilan premium dalam wadah toples dengan varian rasa kekinian, seperti original, keju, jagung bakar, balado, hingga jagung manis.
"Kami melakukan inovasi hilirisasi untuk memberikan nilai tambah pada produk mete Selayar," jelas Hartini.
Ketangguhan produk mete Selayar sejatinya telah teruji ketika Produksi Umi Nadja mampu memperluas jangkauan pasar digitalnya dari Pulau Jawa hingga Papua sejak periode 2019 hingga puncak pandemi Covid-19 di tahun 2020.
Pasokan bahan baku pun terbilang melimpah, terutama saat musim panen raya yang berlangsung pada medio Oktober hingga Januari.
Kendati memiliki fundamental non-keuangan yang kuat serta telah mengantongi legalitas esensial, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Halal, hingga Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), Hartini mengakui tantangan struktural masih membayangi.
Intervensi yang paling mendesak saat ini adalah modernisasi alat produksi berupa mesin pengupas (kacip mete) serta pembenahan kualitas kemasan agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.
Akselerasi UMKM mete di Sulsel untuk menembus pasar global dan nasional ini tidak lepas dari intervensi sektor perbankan, khususnya lewat program pendampingan terstruktur.
Lily Nuryah mengakui, lompatan ekspor yang diraih Bunly Mete sejauh ini berjalan berkat fasilitas business matching yang diinisiasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, yang mempertemukannya langsung dengan para pembeli potensial dari luar negeri.
Merespons fenomena ini, Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Regional 15 Makassar Argo Prabowo menegaskan komitmen perseroan dalam mengawal ekosistem UMKM di Sulsel, baik dari sisi penguatan kapasitas, kelembagaan, hingga kemudahan akses pembiayaan.
Argo menjelaskan bahwa BRI menyediakan berbagai skema pemberdayaan, seperti Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK), Desa BRILian, hingga pembentukan klaster usaha.
Melalui klaster usaha, pelaku usaha yang bahkan belum menyentuh akses kredit tetap diberikan stimulasi berupa bantuan sarana dan prasarana produksi dengan nilai berkisar Rp12 juta hingga Rp20 juta per klaster.
"Intinya, bahkan pada saat unbankable, BRI itu hadir. Kami mendampingi mereka mulai dari awal, ibaratnya sejak baru lahir menjadi pengusaha baru," kata Argo.
Di sisi lain, untuk mengatasi tantangan geografis dan memperluas inklusi keuangan di wilayah kepulauan seperti di Selayar yang belum memungkinkan untuk pembukaan kantor unit konvensional karena proses studi kelayakan yang panjang, BRI memaksimalkan peran keagenan.
Pemasangan Agen BRILink di wilayah-wilayah pelosok dan kepulauan menjadi solusi taktis perbankan tanpa kantor (branchless banking) untuk melayani pelaku usaha lokal yang membutuhkan fleksibilitas waktu transaksi hingga 24 jam.
Langkah kolaboratif antara inovasi pelaku usaha di sektor hulu-hilir serta dukungan penuh dari lini perbankan dan pemerintah ini diharapkan mampu menjaga konsistensi mutu produk.
Dengan demikian, mete asal Sulsel tidak sekadar menjadi komoditas musiman, melainkan menjelma sebagai produk ekspor unggulan yang berkelanjutan di pasar internasional.
1779586474_7e11033e-35e0-4a73-ab91-be3fa487ec42.
Owner Umi Nadja, Hartini (kiri) bersama rekannya memperlihatkan produk kacang metenya saat pertama kali merintis usaha./Istimewa.
Pemprov Sulsel subsidi penerbangan hingga 40% untuk rute perintis dan kepulauan, termasuk Makassar-Selayar, guna meningkatkan aksesibilitas dan ekonomi. [372] url asal
Bisnis.com, MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memberikan subsidi penerbangan ke beberapa daerah perintis dengan akses terbatas dan ke beberapa wilayah kepulauan.
Rute yang dituju mencakup sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan. Pemberian subsidi ini membuat harga tiket pesawat terdiskon hingga sekitar 40%.
Sebagai contoh untuk rute Makassar-Selayar harga tiketnya menjadi sekitar Rp400.000 saja per orang dari harga normal sekitar Rp700.000.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulsel Andi Munawir menjelaskan bahwa pemberian subsidi penerbangan merupakan salah satu program prioritas dari pemerintah provinsi.
Menurut Andi Munawir, program ini bertujuan menyediakan layanan penerbangan pada rute-rute yang pernah ada tetapi kemudian ditiadakan atau yang belum diminati maskapai secara komersial.
Dia mengakui, sebelumnya sempat tersedia penerbangan komersial di beberapa rute tersebut, namun harga tiketnya relatif tinggi sehingga kurang terjangkau bagi masyarakat.
“Melalui subsidi ini, Pemprov Sulsel telah menghadirkan layanan transportasi udara dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Andi Munawir di Makassar, Jumat (27/3/2026).
Guna memastikan keterjangkauan dan kontinuitas layanan, Pemprov Sulsel telah menetapkan jadwal penerbangan subsidi secara rinci sepanjang pekan, mencakup rute intra dan antarwilayah sebagai berikut:
Senin:
Makassar – Bone – Makassar (06.30–07.30 / 11.40–12.40 Wita)
Morowali – Bone – Morowali (08.20–09.25 / 09.55–11.00 Wita)
Jadwal ini, ditambahkan Munawir, dirancang untuk menjangkau kebutuhan mobilitas masyarakat secara merata, termasuk konektivitas lintas provinsi yang mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan memastikan distribusi LPG bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar tetap berjalan dengan baik setelah insiden ledakan kapal yang terjadi di Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, menewaskan dua anak buah kapal (ABK).
Kapal yang mengangkut berbagai jenis paket bahan pokok, termasuk tabung LPG bagi kebutuhan masyarakat di Pulau Takabonerate menjelang hari raya Idulfitri meledak pada Minggu (16/3).
"Kami terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar serta mitra distribusi di wilayah tersebut untuk memastikan pengamanan dan kelancaran suplai LPG 3 kg bagi masyarakat pasca kejadian ini," Sales Branch Manager (SBM) Sulselbar VI Gas, Wahyu Purwatmo, Rabu (18/3).
Untuk menjaga ketersediaan LPG di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Pertamina juga menyiapkan tambahan pasokan selama minggu ini.
Jadwal pengiriman yang sedianya dilakukan tanggal 18-19 Maret dapat berjalan sesuai yang direncanakan dengan menggunakan kapal pengganti, sehingga ketersediaan stok LPG di Pulau Bonerate tetap terjaga
"Tambahan tersebut meliputi extra dropping sebanyak 4.480 tabung serta fakultatif sebanyak 8.960 tabung, sehingga total tambahan mencapai 13.440 tabung atau setara sekitar 300 persen dari rata-rata konsumsi harian wilayah tersebut," jelasnya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto mengatakan bahwa Pertamina terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan distribusi energi bagi masyarakat tetap berjalan.
"Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat, serta mitra distribusi untuk memastikan ketersediaan LPG bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar tetap terjaga," ujar Lilik.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan stok LPG di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan dalam kondisi aman setelah insiden di Pelabuhan Benteng, Minggu (16/3).
Insiden tersebut melibatkan kapal yang mengangkut berbagai muatan, termasuk tabung LPG saat berada di area pelabuhan. Saat ini, penyebab utama kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian.
Pertamina menghormati proses penanganan yang dilakukan oleh aparat berwenang dan siap memberikan dukungan informasi apabila diperlukan dalam proses investigasi. Pertamina turut menyampaikan keprihatinan atas insiden ledakan tersebut.
Sales Branch Manager (SBM) Sulselbar VI Gas Wahyu Purwatmo menyampaikan bahwa Pertamina saat ini fokus memastikan distribusi LPG bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar tetap berjalan dengan baik.
"Kami terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar serta mitra distribusi di wilayah tersebut untuk memastikan pengamanan dan kelancaran suplai LPG 3 kg bagi masyarakat pasca kejadian ini," kata Wahyu dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3).
"Koordinasi juga dilakukan dengan agen setempat untuk menyiapkan langkah-langkah distribusi lanjutan, khususnya bagi wilayah Pulau Bonerate," imbuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina telah menyiapkan rencana pengiriman suplai pengganti menuju Pulau Bonerate yang dijadwalkan berlangsung pada 18-19 Maret 2026.
Guna menjaga ketersediaan LPG di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Pertamina juga menyiapkan tambahan pasokan selama pekan ini.
Tambahan tersebut meliputi extra dropping sebanyak 4.480 tabung serta fakultatif sebanyak 8.960 tabung, sehingga total tambahan mencapai 13.440 tabung atau setara sekitar 300 persen dari rata-rata konsumsi harian wilayah tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menegaskan bahwa Pertamina terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan distribusi energi bagi masyarakat tetap berjalan.
"Kami menyampaikan duka cita atas insiden yang terjadi. Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat, serta mitra distribusi untuk memastikan ketersediaan LPG bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar tetap terjaga," ujar Lilik.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi juga memastikan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi bersama para pemangku kepentingan agar distribusi LPG di wilayah Kepulauan Selayar dapat berjalan lancar dan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan gerakan menanam lima juta pohon kelapa (Gemerlap) di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, ... [414] url asal
Makassar (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan gerakan menanam lima juta pohon kelapa (Gemerlap) di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sabtu.
Program yang digagas Pemerintah Kabupaten ini dinilai strategis untuk memperkuat produksi kelapa nasional sekaligus mempercepat hilirisasi yang memiliki nilai ekonomi sangat besar. Amran kemudian memberikan apresiasi terhadap langkah Pemkab Selayar yang menargetkan penanaman satu juta pohon kelapa per tahun.
“Gagasan Pak Bupati menanam lima juta pohon kelapa ini luar biasa. Demand dunia naik, harga kelapa naik, dan kebutuhan global semakin tinggi,” ujar Amran melalui keterangannya di Makassar, Sabtu.
Menurutnya, tren konsumsi dunia kini bergeser dari susu hewani menuju produk coconut milk dan turunan kelapa lainnya, sehingga Indonesia perlu memperkuat produksi dan hilirisasi komoditas tersebut.
Dalam arahannya, Mentan Amran menekankan bahwa hilirisasi kelapa memiliki nilai tambah yang sangat besar dengan nilai ekonomi melonjak berkali lipat.
"Kalau air kelapa kita kemas premium, nilainya bisa mencapai Rp2.400 triliun. Total hilirisasi kelapa Indonesia bisa tembus Rp4.800 triliun, hampir Rp5.000 triliun,” jelasnya.
Nilai tersebut, lanjutnya, setara satu setengah kali APBN Indonesia hanya dari satu komoditas. Karena itu, ia mendorong Selayar menjadi model nasional pengembangan kelapa dan mengangkat kearifan lokal seperti tradisi mahar 40 kelapa.
Amran berharap Gerakan Menanam Lima Juta Pohon Kelapa dapat menjadi tonggak kebangkitan kelapa nasional, memperkuat hilirisasi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
“Ini luar biasa Selayar. Kami bangga dengan masyarakat Selayar. Ini kearifan lokal yang bisa kita angkat ke tingkat nasional," kata Amran.
Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali menyampaikan bahwa Gerakan Gemerlap telah menjadi gerakan kolektif masyarakat. “Gerakan ini bukan sekadar program pemerintah, tetapi gerakan hati rakyat Selayar,” kata Bupati Natsir Ali.
Terkait gerakan ini, Kementerian Pertanian menambah alokasi bantuan pohon induk terpilih di Selayar dari 1.300 pohon di 2018 menjadi 14.000 pohon di 2025. Sehingga mampu menghasilkan 1,7 juta benih per tahun atau surplus 700 ribu benih dari kebutuhan penanaman tahunan.
Natsir Ali juga mengungkapkan animo masyarakat untuk bergerak bersama dalam gerakan ini.
"Sejak ditabuh, seluruh masyarakat, ASN, petani, pemuda, dan pelajar bahu-membahu mempersiapkan dan melaporkan lahan mereka untuk ditanami kelapa. Kini telah tersedia 8.000 hektare lahan siap tanam dan masih siap bertambah," ujar Bupati Narsir.
Ia menambahkan bahwa kelapa adalah bagian dari budaya lokal, termasuk tradisi mahar pernikahan 40 butir kelapa sebagai simbol kejujuran dan masa depan.
Natsir Ali juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk pupuk subsidi, harga acuan, fasilitas kultur jaringan jeruk Selayar, serta alat berat untuk pembukaan lahan.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56