#30 tag 24jam
Menjaga reputasi fiskal bond financing Danantara
Penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond oleh Danantara Indonesia membuka babak baru dalam pencarian sumber pendanaan pembangunan nasional.Kedua instrumen ... [1,225] url asal
#fiskal #danantara #bond-financing #sovereign-wealth-fund #patriot-bond #merah-putih-bond
Danantara dapat menjadi pengungkit investasi nasional, tetapi kepercayaan publik harus tetap menjadi modal yang paling dijaga
Jakarta (ANTARA) - Penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond oleh Danantara Indonesia membuka babak baru dalam pencarian sumber pendanaan pembangunan nasional.
Kedua instrumen tersebut lahir dari perubahan Undang-Undang (UU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) melalui UU Nomor 4 Tahun 2026, yang memberi kewenangan kepada Danantara untuk menerbitkan surat utang umum maupun surat utang khusus.
Patriot Bond dan Merah Putih Bond ditempatkan sebagai surat utang khusus yang ditujukan untuk memperkuat pembiayaan investasi dan proyek strategis nasional.
Namun, penerbitan instrumen pendanaan oleh lembaga pengelola investasi negara tidak dapat dibaca semata-mata sebagai urusan korporasi. Setiap obligasi yang diterbitkan Danantara akan selalu berada dalam bayang-bayang reputasi negara. Investor, masyarakat, lembaga pemeringkat, dan pasar keuangan akan menilai apakah hubungan antara instrumen tersebut, aset negara, BUMN, serta APBN memiliki batas yang jelas.
Instrumen Patriot Bond dan Merah Putih Bond menjadi semakin sensitif karena regulasi memberikan perlindungan khusus bagi transaksi pembelian di pasar primer. Ketentuan tersebut mencakup perlindungan dari tuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk perpajakan, dan gugatan perdata.
Data serta informasi dari pembelian instrumen tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai dasar pengenaan pajak dalam proses peradilan. Peserta tax amnesty dan Program Pengungkapan Sukarela turut disebut sebagai kelompok yang dapat menjadi investor instrumen ini
Di sinilah reputasi fiskal menjadi sangat penting. Reputasi fiskal tidak hanya dibentuk oleh rasio defisit dan utang pemerintah, melainkan oleh keyakinan bahwa negara mampu mengelola kewajiban, risiko, dan kebijakan pembiayaannya secara transparan.
Negara yang memiliki reputasi fiskal baik akan lebih mudah memperoleh pembiayaan dengan biaya yang wajar. Sebaliknya, ketidakjelasan antara utang lembaga investasi negara dan kewajiban pemerintah dapat meningkatkan premi risiko, mempersempit ruang fiskal, serta menurunkan kepercayaan publik.
Tekanan fiskal
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa instrumen investasi negara dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dibangun dengan mandat yang jelas dan tata kelola yang kuat. Sebaliknya, instrumen tersebut dapat menjadi sumber tekanan fiskal apabila negara mencampurkan terlalu banyak tujuan: mengejar imbal hasil, memenuhi kepentingan politik, menyelamatkan perusahaan negara, sekaligus menutup kebutuhan pembiayaan jangka pendek.
Contoh dari Eropa, misalnya Norwegia, telah membentuk Government Pension Fund Global untuk mengelola kekayaan publik lintas generasi. Dana tersebut dibentuk dari pendapatan minyak dan gas, lalu diinvestasikan secara global melalui Norges Bank Investment Management.
Nilai dana ini telah mencapai sekitar 1,8 triliun dolar AS dan memiliki kepemilikan di sekitar 9.000 perusahaan di berbagai negara. Pemerintah Norwegia menerapkan aturan fiskal yang membatasi penggunaan hasil investasi dana tersebut untuk anggaran, sehingga aset investasi tidak mudah ditarik untuk kebutuhan politik atau belanja jangka pendek.
Sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara, di Singapura terdapat pemisahan peran antara Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) yang kerap dipandang sebagai salah satu praktik tata kelola kekayaan negara yang paling disiplin.
GIC mengelola dana cadangan Pemerintah (surplus nasional), sementara Temasek beroperasi layaknya perusahaan investasi komersial biasa yang mengelola ekuitasnya sendiri dan pemegang saham. Karena beroperasi dengan pendekatan korporasi, Temasek dituntut menilai investasi berdasarkan prospek bisnis, kualitas manajemen, risiko pasar, dan potensi imbal hasil, bukan semata-mata atas dasar kepentingan politik atau kebutuhan pembiayaan pemerintah jangka pendek.
Pengalaman penting berikutnya datang dari Malaysia melalui kasus 1Malaysia Development Berhad yang memberikan peringatan yang lebih keras.
Ketika lembaga investasi negara memiliki akses pembiayaan besar tetapi pengawasan, transparansi, dan independensi tata kelolanya lemah, utang korporasi dapat berubah menjadi persoalan fiskal dan reputasi negara. Kerusakan yang muncul tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga menurunnya kepercayaan masyarakat dan investor terhadap institusi publik.
Prinsip global yang relevan untuk menghindari risiko tersebut tercermin dalam Santiago Principles. Standar yang disusun oleh International Forum of Sovereign Wealth Funds ini mencakup 24 prinsip mengenai tujuan kebijakan, struktur kelembagaan, tata kelola, investasi, manajemen risiko, dan transparansi.
Santiago Principles menekankan bahwa dana investasi negara perlu memiliki mandat yang terbuka, pengambilan keputusan yang independen, serta pengelolaan risiko yang prudent.
Bagi Indonesia, pembanding global tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa cepat instrumen diterbitkan, tetapi oleh seberapa jelas negara menjelaskan siapa yang menanggung risiko, bagaimana dana digunakan, dan apa batas dukungan pemerintah apabila investasi tidak berjalan sesuai rencana.
Mitigasi struktural
Instrumen pendanaan Danantara mesti memiliki berbagai dimensi mitigasi resiko dalam rangka menjaga kredibilitas investasi yang dijalankannya. Hal itu dapat dilakukan dengan menyusun sejumlah langkah strategis untuk memetakan secara struktural, seluruh dimensi resiko yang dapat terjadi secara prudent dan penuh kehati-hatian yang dirangkum dari berbagai literasi mengenai instrumen pendanaan tersebut.
Langkah pertama sebagai pondasi trust yang utama bagi investor adalah memastikan bahwa Patriot Bond dan Merah Putih Bond memiliki batas mandat yang tegas. Pemerintah dan Danantara perlu menjelaskan apakah instrumen tersebut digunakan untuk proyek komersial, proyek strategis dengan dukungan kebijakan, atau proyek pelayanan publik. Klasifikasi ini penting karena setiap jenis proyek memiliki profil risiko dan mekanisme pembiayaan yang berbeda.
Langkah yang kedua adalah menerapkan prinsip pemisahan risiko atau ring-fencing antara neraca Danantara dan APBN. Publik perlu memperoleh kepastian bahwa setiap obligasi yang diterbitkan Danantara bukan secara otomatis merupakan utang pemerintah. Jika terdapat penjaminan, penyertaan modal negara, fasilitas perpajakan, atau bentuk dukungan fiskal lain, seluruhnya perlu dicatat secara terbuka dalam dokumen risiko fiskal pemerintah.
Sedangkan langkah ketiga adalah melakukan penguatan transparansi instrumen. Informasi mengenai nilai penerbitan, tenor, kupon, investor sasaran, penggunaan dana, proyek yang dibiayai, dan proyeksi pengembalian perlu diumumkan dalam batas yang tetap menjaga kerahasiaan bisnis. Transparansi bukan berarti membuka seluruh negosiasi komersial, tetapi memberi informasi yang cukup agar publik dapat menilai apakah instrumen tersebut dikelola secara profesional.
Langkah keempat adalah melalui pembentukan komite risiko independen yang memiliki kewenangan nyata. Komite ini perlu diisi oleh profesional yang memiliki kompetensi investasi, manajemen risiko, hukum, pasar keuangan, dan tata kelola publik. Setiap penerbitan instrumen dalam jumlah besar perlu melewati uji stres, analisis sensitivitas, serta skenario terburuk terhadap kemampuan pembayaran dan dampaknya bagi neraca Danantara.
Langkah kelima dibutuhkan dalam rangka membangun komunikasi publik yang jernih. Patriot Bond dan Merah Putih Bond membawa simbol nasionalisme yang kuat. Namun, nasionalisme ekonomi tidak boleh dijadikan pengganti dari penjelasan teknis mengenai risiko, imbal hasil, dan tata kelola.
Masyarakat perlu diyakinkan bahwa investasi berdasarkan pada keputusan sukarela, pertimbangan investasi yang wajar, serta keyakinan terhadap kualitas proyek yang dibiayai. Pemerintah telah membantah isu bahwa masyarakat dengan simpanan tertentu diwajibkan membeli instrumen tersebut.
Mengawal kredibilitas
Kebijakan imunitas hukum dalam revisi UU P2SK dirancang sebagai magnet penarik likuiditas besar milik warga negara Indonesia yang selama ini mengendap di luar negeri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa perlakuan khusus ini semata-mata mengamankan dana yang masuk ke sistem ekonomi domestik, sementara aktivitas bisnis ilegal investor di luar obligasi tetap dapat dikejar secara hukum.
Namun, hasil kajian ekonomi mengingatkan adanya potensi moral hazard. Perlindungan yang terlalu longgar dari pidana khusus dapat menurunkan persepsi kepatuhan Indonesia terhadap regulasi Financial Action Task Force (FATF). Jika Indonesia dinilai memberikan ruang bagi akomodasi dana tanpa rekam jejak bersih, lembaga pemeringkat internasional dikhawatirkan menaikkan harga risiko negara (country risk premium), yang justru akan membuat biaya utang (cost of fund) negara membengkak di masa depan.
Sehingga dengan demikian, reputasi fiskal dalam skema pendanaan yang dijalankan Danatara akan dibangun melalui ketegasan batas, keterbukaan risiko, dan keberanian untuk menempatkan akuntabilitas di atas euforia pendanaan.
Danantara dapat menjadi pengungkit investasi nasional, tetapi kepercayaan publik harus tetap menjadi modal yang paling dijaga. Ketika setiap rupiah pendanaan dapat dijelaskan, setiap risiko dapat diukur, dan setiap dukungan negara dapat dipertanggungjawabkan, Patriot Bond dan Merah Putih Bond tidak hanya menjadi instrumen keuangan, melainkan juga cermin kedewasaan tata kelola fiskal Indonesia.
*) Dr M Lucky Akbar, ASN Kemenkeu dan Dosen Praktisi Kebijakan Publik
Copyright © ANTARA 2026
Inisiasi badan investasi demi akselerasi ekonomi
Stabilitas ekonomi jangka panjang dan masyarakat yang sejahtera, salah satunya, tercipta berkat pengelolaan kekayaan negara yang dilakukan secara ... [1,180] url asal
#badan-pengelola-investasi-daya-anagata-nusantara #sovereign-wealth-fund #dana-kekayaan-negara #danantara-indonesia #danantara #daya-anagata-nusantara
Danantara tengah membangun Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi, untuk memberikan fasilitas yang nyaman bagi jamaah umroh dan haji Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Stabilitas ekonomi jangka panjang dan masyarakat yang sejahtera, salah satunya, tercipta berkat pengelolaan kekayaan negara yang dilakukan secara optimal.
Berbagai negara tengah berlomba-lomba mengoptimalkan kekayaan yang dimiliki, mencakup sumber daya manusia hingga sumber daya alam.
Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Dana Kekayaan Negara saat inidigunakan sebagai senjata untuk mengelola kekayaan negara, yang tugasnya mengelola kekayaan dan investasi demi terciptanya kesejahteraan lintas generasi dalam sebuah bangsa.
Indonesia telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) pada 24 Februari 2025, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Daya berarti energi atau kekuatan, Anagata'berarti masa depan, dan Nusantara merujuk pada tanah air Indonesia. Sehingga Danantara mencerminkan kekuatan ekonomi yang menjadi energi masa depan Indonesia, begitu ujar Presiden Prabowo.
Perjanjian global
Setahun belum genap, Danantara telah melanglang buana ke mancanegara untuk menggaet kemitraan strategis dengan berbagai badan investasi negara lain, maupun dengan negara bersangkutan secara langsung.
Di kawasan Timur Tengah, bersama Qatar Investment Authority (QIA), Danantara menjalin kemitraan strategis untuk mengelola dana investasi senilai 4 miliar dolar AS, dan melakukan tanda tangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Jordan Investment Fund (JIF) untuk memperkuat investasi di tingkat global.
Lalu, menjalin kemitraan bersama perusahaan desalinasi air swasta terbesar di dunia dan pelopor hidrogen hijau Arab Saudi yaitu ACWA Power. Kemitraan itu dengan potensi pendanaan proyek hingga 10 miliar dolar AS untuk membantu Indonesia mencapai target 34 persen campuran energi terbarukan pada 2034 dan 87 persen pada 2060.
Di Asia Timur, Danantara menekan MoU dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), untuk membuka peluang pembiayaan mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi hijau yang terkoneksi secara digital.
Di kawasan Eropa, bersama Russian Direct Investment Fund (RDIF) telah meluncurkan Russia-Indonesia Investment Platform (RIDNIP) dengan perjanjian hingga 2 miliar Euro, serta bersama perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel dari hulu hingga hilir.
Kemudian, dari negara tetangga, terdapat Future Fund Australia (FFA) yang mendukung keanggotaan Danantara dalam International Forum of Sovereign Wealth Fund (IFSWF).
Teranyar, Danantara tengah melakukan pembicaraan dengan negara ekonomi besar Amerika Serikat (AS) berkaitan dengan akses terhadap mineral kritis, yang menjadi bagian dari negosiasi tarif nol persen untuk sejumlah komoditas SDA Indonesia.
Penyehatan tubuh
Tidak hanya fokus mengepakkan sayapnya ke mancanegara, badan investasi yang baru terlahir setahun ini mulai melakukan upaya menyehatkan bagian tubuh-tubuhnya yang sakit.
Bersama Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Danantara menjalin sinergi untuk mempercepat konsolidasi dan transformasi perusahaan-perusahaan BUMN.
Paling disorot, keikutsertaan Danantara untuk menyelesaikan utang proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh, yang bersama pemerintah telah menyiapkan berbagai opsi penyelesaian.
Teranyar, CEO Danantara Rosan Roeslani bersiap mengajak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secepatnya terbang ke China untuk melakukan negosiasi terkait utang Whoosh.
Penyehatan tubuh paling jelas dilakukan terhadap PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melalui suntikan dana Rp23,67 triliun, yang digunakan untuk memperbaiki pesawat maskapai milik negara tersebut.
Terhadap PT Krakatau Steel Persero Tbk (KRAS), Danantara dalam proses finalisasi kajian untuk memberikan dukungan modal kerja, sebagai upaya menggerakkan operasi inti perusahaan baja milik negeri ini.
Selain penyehatan, badan investasi ini terus berupaya meningkatkan kinerja organ tubuh yang lain, di antaranya penandatanganan Head of Agreement (HoA) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Kemudian, mengajak PT PAL Indonesia menjajaki kerja sama dengan perusahaan raksasa Rusia, Sistema Group, untuk membangun fasilitas manufaktur kapal listrik penumpang di Indonesia.
Tahun depan, konsolidasi mulai dilakukan sebagai upaya mengefisienkan bisnis, Danantara bersiap melakukan konsolidasi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN mulai dari sektor infrastruktur hingga sektor perasuransian.
Tidak hanya di dalam tubuh, Danantara berupaya ikut andil dalam proses bisnis perusahaan yang memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia, di antaranya berencana ikut andil dalam proses penggabungan (merger) PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dengan Grab, Inc.
Selain itu, melakukan proses negosiasi terkait dengan tawaran kepemilikan saham pada proyek Chemical Lotte di Cilegon, Banten, yang masih dalam kajian ulang dengan kemungkinan kepemilikan kisaran 25-30 persen.
Secara total, Danantara menyebut tengah dalam proses melakukan penyehatan terhadap sebanyak 43 perusahaan BUMN.
Proyek strategis
Bertindak selayaknya mesin penggenjot investasi, obligasi perdana diluncurkan Danantara bernama Patriot Bond yang berhasil menghimpun dana Rp50 triliun, dan disiapkan untuk proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Proyek WTE ditargetkan dibangun di 33 kota di Indonesia, dengan total kebutuhan modal investasi mencapai Rp91 triliun.
Setiap stasiun PSEL ditargetkan mengelola 1.000 ton sampah per hari, yang dikonversikan menjadi energi dengan setiap turbin PSEL berpotensi menghasilkan 15 Mega Watt (MW).
Proyek hijau ini ditargetkan groundbreaking pada Maret 2026, dengan tahap awal di tujuh wilayah yaitu Provinsi Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bogor Raya dan Kabupaten Bogor, Tangerang Raya, Bekasi Raya, Medan Raya, serta Kota Semarang.
Ratusan perusahaan menyatakan minatnya untuk ikut serta mengembangkan proyek ini. Danantara telah menyeleksi hingga tersisa 24 perusahaan yang lolos Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) proyek WTE tahap pertama.
Di proyek ini, Danantara sedikitnya akan memiliki 30 persen saham di setiap PSEL melalui kemitraan dengan berbagai perusahaan terpilih tersebut.
Proyek ini memiliki pondasi hukum yang kuat, seiring diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, yang terdiri atas delapan bab dan 33 pasal.
Tidak hanya proyek hijau, Danantara tengah membangun Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi, untuk memberikan fasilitas yang nyaman bagi jamaah umroh dan haji Indonesia.
Badan investasi ini melakukan pembelian satu kompleks hotel berkapasitas 1.461 kamar di tiga tower di daerah Thakher, Makkah, serta sebidang tanah seluas 5 hektar (ha) di depan hotel yang siap dibangun sebanyak 13 tower dan satu mall, dengan proyeksi dapat menampung sebanyak 23.000 pengibadah haji.
Nilai investasi awal pembangunan Kampung Haji ditaksir mencapai 500 juta dolar AS atau setara Rp8,33 triliun.
Dalam proyek prioritas nasional, Danantara turut andil dalam mempercepat pembangunan fisik dan operasional gerai dan pergudangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), yang siap dibangun di 80.000 desa/kelurahan.
Tidak hanya itu, penandatanganan MoU telah dilakukan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat skema pembiayaan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tanggung jawab sosial
Mencari keuntungan bukan semata menjadi tujuan akhir Danantara, melainkan kesejahteraan masyarakat dan tercapainya kehidupan madani di negeri khatulistiwa yang tengah berusaha diwujudkan menjadi kenyataan.
Beberapa waktu terakhir saudara-saudara di tanah air tertimpa bencana banjir, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Danantara berupaya turut andil untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak bencana, di antaranya dengan target pembangunan total sebanyak 15.000 hunian sementara (huntara).
Kemudian, bersama Badan BP BUMN, Danantara mengerahkan 109 armada truk dan 1.066 relawan untuk membawa bantuan kemanusiaan ke berbagai wilayah terdampak bencana di semenanjung melayu tersebut.
Penyehatan tubuh, solusi pembiayaan dan investasi, sinergi lintas negara, hingga inisiasi proyek-proyek strategis menjadi langkah awal kehadiran Danantara sebagai badan pengelola kekayaan negara.
Melalui inisiasi-inisiasi tersebut, peran badan pengelola investasi ini telah jelas terlihat pada tahun pertama pasca kelahirannya, yang tentunya multiplier effect-nya akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025
Purbaya Tanggapi Usul Luhut Soal INA: Kalau Cuma Beli Bond, Buat Apa?
Kata Purbaya sebagian besar dana kelola INA kini ditempatkan pada obligasi. [305] url asal
#apbn #indonesia-investment-authority #purbaya-yudhi-sadewa #pertumbuhan-ekonomi #investasi #obligasi #sovereign-wealth-fund #luhut-binsar-panjaitan #danantara-indonesia #investor-asing
(CNBC Indonesia - News) 17/10/25 14:57
v/7020/
Jakarta, CNBC Indonesia-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggap penempatan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Indonesia Investment Authority (INA) sebagai usul yang bagus, asalkan bisa mengalir ke sektor rill dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hanya saja, kata Purbaya sebagian besar dana kelola INA kini ditempatkan pada obligasi.
"Saya nggak mau kasih uang ke sana, nanti uangnya dibelikan bond lagi, buat apa?," ungkapnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (17/10/2025)
Diketahui usulan tersebut muncul dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Luhut mengungkapkan penempatan dana yang dilakukan Purbaya ke lima bank milik negara senilai Rp 200 triliun per 12 September 2025 sebetulnya juga akan sangat bermanfaat bila turut dilakukan terhadap INA, yang notabene nya merupakan sovereign wealth fund pemerintah.
Pembentukan INA diharapkan mampu menarik investor asing ke Indonesia dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi.
"Kan INA kan harusnya mengundang investor asing. Itu kan sovereign wealth fund, bukan domestik saja. Kita naruh lho, Rp70 triliun di situ," ujarnya.
Hal yang sama, menurut Purbaya juga terjadi pada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia). Purbaya mengkritik keras langkah Danantara dengan justru membeli obligasi yang diterbitkan pemerintah.
"Kayak di Danantara kan gitu, sebagian besar masih bond kan kemarin? Makanya saya agak kritik waktu meeting itu kan. Kok lu taruh bond? Kalau gitu mah, lu nggak jago-jago amat," jelasnya.
Danantara, kata Purbaya beralasan ini karena Danantara baru terbentuk sehingga belum bisa masuk ke sektor rill.
(mij/mij)
[Gambas:Video CNBC]
Luhut Minta INA Disuntik Dana Nganggur APBN, Purbaya Jawab Begini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan usulan penempatan dana menganggur di INA belum disampaikan langsung pihak manajemen [326] url asal
#luhut #indonesia-investment-authority #dana-menganggur #purbaya-yudhi-sadewa #sovereign-wealth-fund #obligasi #investasi
(CNBC Indonesia - News) 16/10/25 19:40
v/6173/
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara ihwal usulan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan tentang penempatan dana menganggur pemerintah yang juga sebaiknya ditempatkan di Indonesia Investment Authority (INA).
Luhut mengungkapkan penempatan dana yang dilakukan Purbaya ke lima bank milik negara senilai Rp 200 triliun per 12 September 2025 sebetulnya juga akan sangat bermanfaat bila turut dilakukan terhadap INA, yang notabene nya merupakan sovereign wealth fund pemerintah.
Menurut Purbaya, usulan Luhut terkait penempatan dana ke INA senilai Rp 50 triliun itu bagus-bagus saja untuk leverage dana menganggur pemerintah. Namun, ia merasa INA sendiri masih banyak kepemilikan dana menganggur yang belum bisa dikelola untuk memaksimalkan leverage.
"Itu mungkin masukan yang bagus. Tapi saya akan lihat. INA juga ini masih banyak uang nganggur juga.
INA juga sepertinya banyak uang yang belum dioptimalkan juga," tegas Luhut di kawasan JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Purbaya menegaskan, bila pemerintah menempatkan dana menganggur kepada lembaga yang juga belum bisa memaksimalkan dana idlenya tak akan bermanfaat bagi perekonomian negara. Malah, kemungkinan besarnya justru digunakan untuk obligasi.
"Kalau saya kasih begitu, kan makin banyak yang nganggur. Kalau dia cuma memainkan untuk ditaruh di obligasi atau diposito saja, ya buat apa?," tutur Purbaya.
Purbaya juga menegaskan, usulan yang disampaikan Luhut belum pernah disampaikan secara langsung oleh manajemen INA kepada dirinya. Maka, dia belum berencana merealisasikan penempatan dana menganggur pemerintah itu ke INA.
"Tapi nanti saya lihat. Mereka belum minta itu, dan Saya soalnya baru rapat 2 minggu yang lalu dengan mereka," tutur Purbaya.
(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]
Danantara Bidik Dividen 5 Tahun Lagi Bisa Tembus Rp 165 Triliun
BPI Danantara optimis dividen akan meningkat hingga US$ 10 miliar dalam 5 tahun. CEO Rosan Roeslani menargetkan investasi mencapai US$ 250 miliar. [350] url asal
#dividen #danantara #investasi #bumn #pertumbuhan-ekonomi #rosan-roeslani #sovereign-wealth-fund
(CNBC Indonesia - Market) 14/10/25 18:17
v/3219/
Jakarta, CNBC Indonesia — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) optimis kontribusi kepada negara melalui dividen akan meningkat dalam lima tahun ke depan.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan dividen dalam lima tahun ke depan akan terbang hingga mencapai US$ 10 miliar atau setara dengan Rp165 triliun pada 2029.
"Jika saya melihat pada rencana kita untuk lima tahun ke depan, mungkin dividen kita sekitar US$ 7 miliar—US$ 10 miliar," kata Rosan dalam acara Forbes Global CEO Conference 2025 di Hotel St. Regis Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Rosan menyebut melalui dividen tersebut, Danantara dapat meningkatkan kapasitas investasi hingga US$ 40 miliar atau setara Rp664 triliun tanpa leverage. "Itu tanpa leverage, itu semua dana ekuitas," ucapnya.
Dia melanjutkan, jika Danantara melakukan pengembangan aset, maka kapasitas investasi Danantara bisa mencapai US$ 250 juta atau setara Rp4.150 triliun. "Jika saya leverage lima kali, lima kali, maka saya punya US$ 200 miliar-US$250 miliar untuk lima tahun ke depan," ungkapnya.
Ia berharap, kontribusi dividen BUMN ke depan akan lebih merata dan tidak hanya didominasi sejumlah BUMN besar saja. "Jadi memang PR-nya banyak yang harus kita lakukan. Danantara tidak bisa melakukan ini sendiri, justru kita ingin bersama-sama dengan dunia usaha untuk bisa mengakselerasi pertumbuhan perekonomian kita," imbuhnya.
Selain itu, Rosan mengungkapkan, Danantara juga dapat membentuk pendanaan bersama dengan sejumlah lembaga investasi negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) negara lain.
"Yang sekarang kami sudah memiliki joint fund dengan beberapa SWF, dengan Qatar, QIA, dengan China, sekarang kita juga dalam proses dengan UAE, dengan PIF," jelasnya.
Harapannya, langkah tersebut dapat memberikan peluang lebih besar untuk menggenjot investasi yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi ke depannya.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Gencar Terbitkan Obligasi, Raksasa SWF Dunia Masuki Babak Baru
SWF dulu mengandalkan suntikan modal dari pemerintah tetapi kini aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi. [2,115] url asal
#manajemen-kekayaan #sovereign-wealth-fund #pendanaan-alternatif #investasi #temasek-holdings #diversifikasi-aset #pasar-obligasi #ekonomi-global #obligasi #swf
(CNBC Indonesia - Research) 07/09/25 19:06
v/39987/
Jakarta, CNBC Indonesia- Sovereign Wealth Fund (SWF) terus berevolusi mengikuti kebutuhan jaman. Jika dulu hanya mengandalkan suntikan modal dari pemerintah, kini sejumlah SWF mulai aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi.
Istilah "sovereign wealth fund" baru diciptakan pada tahun 2005, namun dana kekayaan negara telah ada setidaknya sejak tahun 1950-an. Pada bentuk awalnya, SWF sering dimulai sebagai dana stabilisasi komoditas.
Kuwait Investment Authority (KIA) yang didirikan pada 1953 merupakan salah satu SWF awal yang digunakan untuk mengelola kekayaan minyak Kuwait yang saat itu sedang berkembang pesat.
KIA didirikan untuk mengelola surplus pendapatan minyak dan mempersiapkan negara menghadapi era pasca-minyak. Dana ini menggunakan pendapatan dari ekspor minyak untuk diinvestasikan ke luar negeri, dengan tujuan mendiversifikasi ekonomi Kuwait dan melindungi generasi mendatang.
Sejak lahir pada 1950an, SWF sudah berkembang pesat. SWF kini berperan dalam diversifikasi aset, peningkatan imbal hasil cadangan devisa, hingga pembiayaan masa depan.
Jika pada tahun 2000, SWF mengelola aset senilai US$ 1,2 triliun, tetapi jumlah itu melonjak lebih dari 11 kali lipat menjadi US$12-13 triliun per pertengahan 2025.
SWF Melebarkan Strategi Pendanaan
Seiring perkembangan jaman dan kebutuhan, SWF pun melebarkan strategi pendanaan. Bila dulu sumber pendanaan SWF berasal dari pendapatan sumber daya alam tetapi kini banyak yang memanfaatkan obligasi sebagai salah satu instrumennya.
Pembiayaan melalui obligasi ini memungkinkan dana tumbuh lebih besar dan meningkatkan kapasitas investasinya, sehingga SWF lebih fleksibel dalam melakukan ekspansi portofolio.
Temasek Holdings (Singapura) menjadi salah satu yang pertama kali aktif menerbitkan obligasi melalui Global Medium Term Note (GMTN) Programme sejak 2005. Temasek menggunakan instrumen obligasi ini untuk mendiversifikasi pendanaan, bukan hanya mengandalkan modal pemerintah.
Setelah Temasek, barulah disusul SWF lain seperti Mubadala (UAE) yang menerbitkan obligasi pada akhir 2000-an.
Pendanaan dengan bond memungkinkan SWF memperoleh modal tambahan di luar pemerintah. Partisipasi SWF di pasar obligasi baik sebagai penerbit maupun investo rmendorong pertumbuhan dan pendalaman pasar obligasi domestik.
Kehadiran SWF memberikan benchmark serta meningkatkan kepercayaan investor lain, sehingga pasar keuangan lokal menjadi lebih likuid, stabil, dan mampu menyediakan sumber pendanaan alternatif bagi sektor publik maupun swasta.
Beirkut beberapa SWF yang aktif menerbitkan obligasi:
Temasek Singapura
Temasek adalah lembaga investasi milik pemerintah Singapura yang telah berdiri sejak 1974.
Temasek awalnya ditugaskan mengelola aset strategis Singapura di sektor transportasi, telekomunikasi, dan keuangan, sebelum berkembang menjadi lembaga investasi global dengan portofolio yang terdiversifikasi.
Temasek pertama kali menerbitkan surat utang pada 21 September 2005 senilai US$1,75 miliar dengan tenor 10 tahun dan kupon 4,5%. Penerbitan perdana ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi, melainkan juga untuk membangun rekam jejak kredit langsung di pasar global serta memperluas basis investor..
Melansir dari situs resmi Temasek, hingga 31 Maret 2025, Temasek memiliki total outstanding senilai US$20,2 miliar untuk Temasek Bonds dan US$0,4 miliar untuk Euro Commercial Paper (ECP). Obligasi tersebut memiliki rata-rata jatuh tempo tertimbang lebih dari 18 tahun, sementara ECP di atas dua bulan. Temasek hingga kini berhasil mempertahankan peringkat kredit AAA dari S&P dan Moody's.
Adapun penerbitan terakhir dilakukan pada 20 Agustus 2025 yang terdiri dari surat utang senilai US$750 juta fixed rate tenor 2 tahun dengan kupon 3,75%, dan US$750 juta floating rate tenor 2 tahun dengan acuan SOFR + 38 basis poin. Strategi dual-tranche ini dinilai memberikan fleksibilitas pendanaan sekaligus mengantisipasi volatilitas pasar global.
Khazanah Malaysia
Khazanah Nasional Berhad adalah lembaga investasi milik pemerintah Malaysia yang telah berperan penting dalam mengelola aset strategis nasional sejak berdiri pada 1994.
Saat itu, Khazanah diberi mandat untuk memegang peran sebagai kustodian aset komersial pemerintah sekaligus berinvestasi di sektor strategis khususnya sektor yang berteknologi tinggi.
Memasuki 2004, Khazanah mulai menempuh strategi investasi yang lebih luas dan aktif, dengan meningkatkan kinerja portofolio inti sekaligus membidik peluang di sektor ekonomi baru maupun kawasan internasional.
Khazanah mulai menerbitkan surat utang senilai US$414,5 juta dengan tenor 5 tahun dan kupon 1,95% pada 2004. Instrumen tersebut berbentuk exchangeable notes yang dapat ditukar dengan saham PLUS Expressway Berhad. Penerbitan perdana ini menjadi pijakan penting bagi Khazanah dalam membangun rekam jejak kredit global sekaligus mendiversifikasi sumber pendanaan.
Sejak saat itu, Khazanah rutin menerbitkan obligasi dan sukuk baik di pasar domestik maupun internasional.
Sejumlah inovasi pun dihadirkan, mulai dari exchangeable sukuk berbasis saham IHH Healthcare pada 2013, hingga Sukuk SRI pada 2015 dan 2017 yang menjadi pionir penawaran ritel di Malaysia. Sukuk SRI tersebut bahkan mengusung konsep impact investing, memungkinkan masyarakat ikut berinvestasi sambil mendukung program pendidikan nasional.
Secara total, sejak 2004 hingga 2025, Khazanah telah menerbitkan lebih dari 10 seri surat utang dalam berbagai denominasi mata uang, termasuk dolar AS, dolar Singapura, dan ringgit. Nilai penerbitan mencapai miliaran dolar AS, dengan tenor bervariasi dari jangka pendek hingga panjang.
Adapun penerbitan terbaru pada 2024, Khazanah kembali menembus pasar internasional dengan dua seri obligasi senilai total US$1 miliar. Rinciannya, US$500 juta tenor 5 tahun kupon 4,484% dan US$500 juta tenor 10 tahun kupon 4,759%.
Dana segar dari penerbitan ini digunakan untuk memperkuat likuiditas sekaligus memperluas basis pendanaan, sejalan dengan mandat Khazanah dalam mendukung pembangunan ekonomi Malaysia dan memperkuat posisinya di pasar keuangan global.
PIF Arab Saudi
Public Investment Fund (PIF) berdiri pada 1971 dengan mandat mendirikan perusahaan-perusahaan penting bagi perekonomian Arab Saudi. Banyak di antaranya kemudian berkembang menjadi "national champions" yang menopang industrialisasi dan modernisasi ekonomi Kerajaan.
Momentum besar terjadi pada Maret 2015, ketika Dewan Menteri Saudi menerbitkan Resolusi 270 yang menempatkan PIF di bawah Council of Economic and Development Affairs (CEDA) dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai ketua.
Sejak saat itu, PIF bertransformasi menjadi mesin penggerak utama Vision 2030, dengan peran yang lebih mandiri dan strategi lebih jelas untuk menciptakan perubahan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Dalam perjalanannya, PIF juga masuk ke pasar utang internasional untuk mendukung ekspansi investasinya.
Penerbitan obligasi perdana dilakukan pada Oktober 2022, berupa green bond global senilai US$3 miliar yang terbagi dalam tiga bondyang masing-masing senilai US$1,25 miliar tenor 5 tahun, US$1,25 miliar tenor 10 tahun, dan US$500 juta tenor 100 tahun.
Penerbitan ini menjadi tonggak sejarah karena sekaligus menjadikan PIF sebagai sovereign wealth fund pertama di dunia yang menerbitkan green bond dengan tenor 100 tahun. Dana hasil penerbitan diarahkan untuk mendukung proyek hijau dan keberlanjutan, termasuk energi terbarukan dan pembangunan giga-project seperti NEOM.
Sejak debut itu, PIF terus aktif mengakses pasar global, menerbitkan berbagai instrumen termasuk sukuk, obligasi konvensional, hingga obligasi berdenominasi sterling. Sepanjang 2024 saja, total penerbitan PIF hampir menembus US$10 miliar, menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap kekuatan fundamental Saudi.
Adapun penerbitan terbaru dilakukan pada April 2025, ketika PIF meluncurkan sukuk internasional senilai US$1,25 miliar dengan tenor 7 tahun melalui struktur Wakala.
Instrumen ini disambut luar biasa oleh investor dengan permintaan lebih dari 6 kali lipat. Dana hasil penerbitan digunakan untuk mendiversifikasi basis pendanaan sekaligus mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis berkelanjutan yang sejalan dengan agenda Vision 2030.
Turkey Wealth Fund (Turkiye)
Turkey Wealth Fund (TWF) didirikan pada 26 Agustus 2016 sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Pemerintah Turkiye. TWF lebih berfokus untuk mengelola aset strategis negara dan meningkatkan nilai aset melalui investasi domestik & internasional. TWF juga berfungsi sebagai Menjadi "stabilisator" ekonomi Turki, terutama ketika terjadi guncangan pasar atau defisit.
TWF adalah dana investasi milik negara yang memanfaatkan aset milik publik untuk investasi strategis, dan menerbitkan obligasi untuk mengumpulkan modal terutama untuk refinancing dan investasi yang memperkuat infrastruktur ekonomi dan pasar keuangan Turki.
TWF memegang kepemilikan besar saham-saham dalam berbagai sektor, dengan porsi terbesar di sektor perbankan sebanyak 72,97% dari total kepemilikan. Bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh TWF seperti Ziraat Bank, Halkbank, dan Vakıfbank.
Selain perbankan, TWF juga memiliki porsi saham di sektor telekomunikasi, minyak dan gas seperti Turkish Petroleum (TPAO), BOTAŞ (gas), dan Turkish Petroleum Refineries (Tüpraş), sektor transportasi seperti Turkish Airlines (THY), serta sektor infrastruktur.
Tercatat bahwa TWF telah beberapa kali menerbitkan obligasi. Pada Februari 2024, TWF menerbitkan obligasi pertamanya berupa eurobond. Sebagai catatan, eurobond adalah jenis obligasi yang menggunakan mata uang selain mata uang negara penerbit obligasi.
TWF menerbitkan eurobond sebesar US$500 juta dengan jatuh tempo 5 tahun dan tingkat kupon 8,375%. Penerbitan ini sangat sukses dengan tingkat kelebihan permintaan lebih dari 14 kali, menunjukkan kepercayaan kuat dari investor internasional. Selain itu, TWF menerbitkan Sukuk (obligasi syariah) sebesar 750 juta dolar AS pada Oktober 2024, menandai langkah pertama masuknya ke pasar Sukuk global.
Selain obligasi, TWF sempat menyepakati pembiayaan murabaha sebesar US$ 150 juta dengan Dubai Islamic Bank (jangka waktu 5 tahun) pada November 2024. TWF juga telah menyelesaikan pembiayaan Murabaha sebesar USD 600 juta melalui konsorsium yang dipimpin Kuwait Finance House pada Agustus 2025.
Mubadala Investment Company
Perusahaan investasi Mubadala adalah sebuah SWF milik pemerintah petrodollar Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang didirikan pada tahun 2017, hasil dari merger Mubadala Development Company dan perusahaan investasi sektor energi milik pemerintah, (International Petroleum Investment Company) IPIC.
Portfolio yang dikelola beragam jenisnya, termasuk teknologi, manufaktur, penerbangan, semikonduktor, energi bersih, infrastruktur, hingga properti. Alokasi portofolio terdiri dari ekuitas swasta (40%), pasar publik (23%), dan infrastruktur/real estate (17%). Mubadala secara aktif berinvestasi di sektor masa depan dan peluang pertumbuhan global.
Mubadala merupakan SWF terbesar kedua di Abu Dhabi, setelah Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan di atas Abu Dhabi Developmental Holding Company (ADQ). Ketiganya diketahui mengelola aset sebanyak US$1,7 triliun secara total. Pengelolaan investasi oleh Mubadala menghasilkan return tahunan lima tahun sekitar 10,1%.
Mubadala fokus pada diversifikasi ekonomi Abu Dhabi, terlihat dari sektor-sektor seperti kecerdasan buatan (AI), energi bersih, dan manufaktur maju yang menjadi bagian dari portfolio Mubadala.
Mubadala juga mendiversifikasi sumber pendanaan melalui bond. Salah satu penerbitan obligasi pertama oleh Mubadala yang tercatat adalah penerbitan rogram obligasi global pada tahun 2009 senilai US$1,85 miliar sebagai langkah besar untuk mengurangi ketergantungannya pada pendanaan dari pemerintah Abu Dhabi. Sebagian besar obligasi ini dibeli oleh bank-bank AS dan Eropa dengan tenor yang didominasi periode lima dan sepuluh tahun
Sesaat sebelum merger, Mubadala melakukan penjualan obligasi dual-tranche senilai US$1,5 miliar pada April 2017, menandai langkah penting dalam upaya pengumpulan modalnya. Penawaran ini mencakup obligasi tujuh tahun senilai US$850 juta dengan kupon 3% dan obligasi dua belas tahun senilai US$650 juta dengan kupon 3,75%.
Obligasi terbaru yang diterbitkan oleh Mubadala adalah sukuk (obligasi syariah) senilai US$1 miliar dengan tenor 10 tahun dalam denominasi dolar AS. Sukuk yang diterbitkan pada Mei 2025 ini dipatok pada 60 basis poin di atas hasil US Treasury, mengimplikasikan adanya permintaan kuat dari para investor yang tergambar dari pesanan obligasi yang mengalami oversubscribed, yakni mencapai US$4,75 miliar.
Danantara Ikuti Tren Global
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan menerbitkan instrumen pembiayaan strategis berupa surat utang Patriot Bond.
Instrumen ini diketahui akan ditawarkan khusus kepada para konglomerat RI dan tidak tersedia untuk diserap oleh investor ritel. Penyerapan dana Patriot Bond sendiri nantinya akan dilakukan dengan mekanisme private placement.
Adapun total emisi yang akan diterbitkan adalah senilai Rp 50 triliun dan ditawarkan dalam dua tenor berbeda yakni 5 dan 7 tahun. Sementara itu kupon atau imbal hasil yang ditawarkan dikabarkan berada di level 2%.
Secara umum Danantara mengungkapkan penerbitan Patriot Bond ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional. Adapun secara lebih spesifik, emisi dari penerbitan surat utang spesial tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek transisi energi, yakni pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy). Selain itu Patriot Bond ini juga diharapkan dapat memperluas basis pembiayaan domestik.'=
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56