Bisnis.com, JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai mendorong masyarakat, terutama kelompok affluent dan high-net-worth (HNW), mulai mendiversifikasi aset ke instrumen berbasis dolar Amerika Serikat (AS) untuk menjaga nilai kekayaan jangka panjang.
Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I/2026 dengan inflasi yang tetap terkendali, berbagai risiko eksternal seperti tensi geopolitik, perlambatan ekonomi global, volatilitas harga komoditas, hingga tekanan terhadap rupiah dinilai membuat strategi pengelolaan kekayaan perlu disesuaikan.
Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia Priskilla Fachruddin mengatakan kebutuhan masyarakat dalam mengelola aset kini tidak lagi hanya berorientasi pada imbal hasil, tetapi juga kemampuan menjaga daya beli dan memenuhi kebutuhan keuangan yang banyak dipengaruhi mata uang global.
"Hasil survei kami menunjukkan 75% responden khawatir nilai rupiah akan terus melemah sehingga menggerus nilai aset yang dimiliki. Sebanyak 69% responden juga menilai penting memiliki sebagian aset dalam mata uang asing," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Survei tersebut juga menunjukkan 64% responden memandang dolar AS lebih stabil dibandingkan rupiah, sementara 56% responden merasa kepemilikan aset berbasis dolar memberikan rasa aman yang lebih besar.
Menurut Priskilla, langkah pertama yang perlu dilakukan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi adalah memperkuat fondasi keuangan melalui dana darurat dan perlindungan jangka panjang.
"Masyarakat, khususnya yang sudah berkeluarga, sebaiknya memastikan dana darurat mampu menutup kebutuhan hidup selama sembilan hingga 12 bulan, sekaligus menyesuaikan perlindungan keuangan agar tetap relevan dalam jangka panjang," katanya.
Dia menilai diversifikasi portofolio, termasuk melalui aset atau instrumen berbasis dolar AS, dapat membantu mengurangi risiko ketergantungan terhadap satu mata uang sekaligus menjaga kemampuan memenuhi kebutuhan global seperti pendidikan luar negeri, layanan kesehatan internasional, maupun perencanaan warisan.
Sejalan dengan tren tersebut, Prudential Indonesia menghadirkan berbagai pilihan solusi pengelolaan kekayaan, termasuk produk perlindungan jiwa dalam denominasi dolar AS yang ditujukan untuk membantu nasabah mengurangi risiko ketidaksesuaian mata uang antara aset, kewajiban, dan tujuan keuangan jangka panjang.