Bisnis.com, JAKARTA – Transaksi jual investor asing sepanjang perdagangan saham pekan lalu mencapai Rp55,98 triliun, dengan pembelian sebesar Rp52,73 triliun sehingga menyisakan nilai jual bersih (net sell) mencapai Rp3,25 triliun. Hengkangnya asing ini disebabkan salah satunya karena kekhawatiran pelaku pasar atas independensi Bank Indonesia (BI).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak dari kombinasi beragam faktor, seperti jatuhnya rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS sampai kredibilitas otoritas moneter Tanah Air.
"Kita melihat rupiah sempat hampir di level Rp17.000, lalu di sisi lain terkait kredibilitas fiskal nasional maupun independensi Bank Indonesia di tengah pencalonan keponakan Presiden Prabowo menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Itu memang headwins-nya," kata Nafan kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).
Nafan memperkirakan tren hengkangnya aliran dana asing tersebut hanya akan bersifat sementara karena secara fundamental makro, perekonomian Indonesia dinilai tetap kuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 4,9% sampai 5,7% pada 2026.
Menurutnya proyeksi pertumbuhan ekonomi yang kuat itu akan didukung oleh momentum pemulihan daya beli domestik di kuartal I/2026 saat ada periode Imlek dan Lebaran. Namun, untuk merealisasikan proyeksi tersebut pemerintah dinilai perlu melakukan sinergi lintas otoritas.
"Tinggal bagaimana pemerintah ke depan agar di kuartal selanjutnya pertumbuhan ekonomi terus membaik, pemerintah maupun juga BI harus sinergi. Pemerintah bisa menerapkan kebijakan stimulus fiskal, stimulus ekonomi riil, Bank Indonesia memberi stimulus moneter, ini harus sinergi. Terlepas daripada dinamika independensi BI di tengah ramai isu pencalonan keponakan Presiden Prabowo jadi Deputi Gubernur BI," ujar Nafan.
Mirae Asset Sekuritas memproyeksi Bank Indonesia sepanjang 2026 akan menurunkan BI-Rate sebanyak dua kali. Keputusan tersebut menurutnya akan tergantung dari dinamika kebijakan moneter The Fed sampai pergerakan nilai tukar rupiah yang menurut Nafan saat ini sudah dalam tren menguat.
"Ini tentu bisa membuat IHSG kita bisa lebih likuid dan ini bisa membuat asing mempertimbangkan kembali masuk. Apalagi saham-saham bluechip rata-rata sudah terdiskon, belum lagi kita nantikan GDP Indonesia full year 2025. Pasar juga menantikan dividen," tandasnya.
Menilik dinamika pergantian pejabat BI, Presiden Prabowo telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) ke DPR yang berisi tiga nama calon untuk menggantikan posisi Juda Agung yang mengundurkan diri. Dari tiga nama itu, salah satunya adalah keponakan Prabowo sendiri, Thomas Djiwandono.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun sebelumnya menepis kekhawatiran publik ihwal kekhawatiran independensi BI, mengatakan bahwa hubungan kekerabatan antara Thomas dengan Prabowo tidak serta merta menjadi indikator hilangnya independensi bank sentral.
Misbakhun menjamin proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) akan dilakukan secara terbuka dan transparan. Publik diminta untuk menilai langsung kapasitas para calon saat proses tersebut berlangsung.
"Kalau saya menilai secara kemampuan, Pak Tommy Djiwandono adalah seorang yang mempunyai kemampuan dalam sisi akademik, dari sisi pengalaman dan birokrasi beliau juga ada. Menurut saya, [beliau] figur yang juga pantas untuk menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia," katanya.
Sementara itu, dalam laporan Global Risks Report 2026, World Economic Forum (WEF) menyoroti fenomena "politisasi kebijakan moneter" yang terjadi di banyak negara beberapa waktu terakhir. Perkembangan tersebut dipicu oleh menumpuknya utang global yang telah menembus angka US$251 triliun atau setara 235% dari PDB dunia.
Ketika beban bunga utang pemerintah melonjak akibat era suku bunga tinggi (higher-for-longer), ruang fiskal di banyak negara makin menyempit. Situasi ini menciptakan godaan politik yang besar bagi pemerintah untuk mengintervensi keputusan bank sentral.
"Ada risiko nyata bahwa pemerintah akan menekan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter guna membantu membiayai defisit, bukan berdasarkan fundamental inflasi," tulis WEF dalam laporan tersebut.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.