Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut perlambatan ekonomi di beberapa negara mitra dagang menjadi salah satu penyebab ekspor Indonesia tak mencapai target pada 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi nilai ekspor hanya tumbuh 6,15% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$282,91 miliar sepanjang 2025. Meski tumbuh, angkanya tak mencapai incaran pemerintah di level US$294,45 miliar atau tumbuh 7,10% yoy.
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan target ekspor yang meleset tersebut dipengaruhi kondisi global yang masih dibayangi ketidakpastian, serta dinamika geopolitik yang membuat permintaan global tidak sekuat asumsi awal saat target ditetapkan.
“Tidak tercapainya target ekspor lebih dipengaruhi normalisasi harga komoditas dan ketidakpastian global. Tantangan ke depan adalah memastikan target tetap ambisius, tapi realistis dan ditopang ekspor bernilai tambah,” kata Erwin kepadaBisnis, Senin (2/2/2026).
Sepanjang 2025, Erwin menyampaikan bahwa ekspor Indonesia tumbuh secara volume. Kendati demikian, harga sejumlah komoditas utama melemah, terutama komoditas energi dan bahan bakar mineral, sehingga nilai ekspor tidak setinggi yang diproyeksikan.
Selain itu, Kadin menilai pelaku usaha juga masih menghadapi tantangan struktural di dalam negeri, mulai dari biaya logistik, pembiayaan, hingga hambatan nontarif.
Erwin menyampaikan realisasi 2025 menjadi dasar penting dalam menyusun target 2026. Untuk itu, dia menilai target ekspor perlu tetap ambisius namun realistis, dengan mempertimbangkan proyeksi permintaan global, tren harga komoditas, serta kapasitas industri nasional.
“Penyesuaian target bukan berarti menurunkan ambisi, tetapi menyelaraskan target dengan kondisi riil dan strategi kebijakan. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan ekspor,” tuturnya.
Meski begitu, Erwin menilai kinerja ekspor sepanjang 2025 tetap menunjukkan resiliensi dengan tumbuh sekitar 6% di tengah kondisi global yang menantang. “Ini menandakan basis ekspor Indonesia cukup kuat,” imbuhnya.
Namun demikian, Kadin melihat pemerintah perlu mendorong kebijakan yang lebih terfokus untuk mencapai target ekspor senilai US$315,31 miliar pada 2026, atau tumbuh 7,09% secara tahunan.
Erwin menjelaskan bahwa fokus ke depan bukan hanya mengejar angka, melainkan juga perlu memastikan ekspor Indonesia tumbuh berkualitas, lebih bernilai tambah, dan lebih tahan terhadap gejolak global.
Menurutnya, sejumlah kebijakan yang diperlukan antara lain dengan percepatan implementasi perjanjian dagang, fasilitasi ekspor manufaktur dan produk hilir, hingga kelancaran impor bahan baku dan barang modal yang tidak diproduksi di dalam negeri.
“Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan perbaikan iklim usaha, Kadin menilai target ekspor 2026 masih menantang tetapi dapat dikejar, terutama jika ekspor bernilai tambah dan diversifikasi pasar benar-benar diperkuat,” pungkasnya.