BRI mengadopsi strategi digital untuk menjaga biaya dana di tengah kenaikan BI Rate, fokus pada transaksi nasabah dan penguatan posisi sebagai bank transaksional. [1,218] url asal
Bisnis, JAKARTA — Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) yang makin ketat, terutama memasuki era suku bunga tinggi, mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaannya.
Alih-alih mengandalkan perang suku bunga, BRI memilih memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dan penguatan posisi sebagai bank transaksional untuk menjaga pertumbuhan dana murah.
Strategi tersebut menjadi penting ketika industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kondisi itu, BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi yang tinggi akan menjadi faktor pembeda dibandingkan sekadar menawarkan bunga simpanan yang lebih agresif.
Hal ini memungkinkan BRI menjaga daya saing suku bunga Perseroan di saat pasar keuangan Indonesia memasuki era suku bunga tinggi, seiring dengan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia (BI).
Terbaru, BI Rate baru saja dinaikkan 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/6/2026). Dengan kenaikan tersebut, total kenaikan BI Rate sudah mencapai 100 bps atau 1,00% dalam 2 bulan terakhir.
SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan. Fokusnya diarahkan pada pembangunan BRI sebagai transaction bank yang mampu menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah, baik individu maupun pelaku usaha.
Pendekatan tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan tabungan yang berada di atas rata-rata pasar. Pada kuartal I/2026, BRI mencatat pertumbuhan tabungan sekitar 11,5% year-on-year (YoY) menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri yang berada di kisaran 8% YoY.
Kinerja itu ditopang oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui aplikasi BRImo dan berbagai layanan digital lainnya.
Menurutnya, pertumbuhan dana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan bank menarik simpanan baru. Aktivitas transaksi yang terus meningkat dinilai mampu menciptakan dana mengendap yang lebih stabil sekaligus memperkuat komposisi dana murah atau current account saving account (CASA).
“Cara kita menumbuhkan DPK kita adalah dengan cara membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito kita buat geser ke yang lebih murah,” katanya, Kamis (18/6).
Singgih mengatakan transformasi digital menjadi salah satu mesin utama di balik strategi tersebut. BRI memanfaatkan basis nasabah yang besar untuk membangun ekosistem transaksi yang lebih luas, mulai dari kebutuhan harian masyarakat hingga aktivitas bisnis berbagai segmen usaha.
Perseroan menilai kekuatan utama BRI terletak pada kombinasi jaringan yang kuat di segmen mikro dan pedesaan dengan kemampuan digital yang terus berkembang. Model ini memungkinkan bank menjangkau aktivitas ekonomi yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh layanan keuangan modern.
“Saat kita mendefinisikan bahwa BRI itu 'Satu Bank untuk Semua', yang unik adalah bahwa yang sudah kuat sekali di rural kita lengkapi dengan kekuatan engine yang baru di BRI. Dan di situ konsep ekosistemnya nanti ada dengan bermacam model,” katanya.
Ekosistem yang dibangun BRI tidak terbatas pada nasabah individu. BRI mengembangkan keterhubungan dengan berbagai rantai bisnis, mulai dari sektor pertanian, perdagangan ritel modern, hingga berbagai mitra usaha lain yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, bank berharap dapat menangkap lebih banyak transaksi yang pada akhirnya memperkuat basis pendanaan.
Di sisi lain, BRI tetap mempertahankan fokusnya pada segmen mikro yang selama puluhan tahun menjadi fondasi bisnis perseroan. Sekitar 72% portofolio kredit BRI masih berada di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah. Posisi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa jaringan layanan hingga pelosok Indonesia tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
PERUBAHAN SUKU BUNGA
Sementara itu, dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, terutama dengan kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut, BRI membuka ruang untuk melakukan penyesuaian strategi pendanaan maupun penetapan harga dana.
Meski demikian, BRI menegaskan langkah tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga akses pembiayaan bagi segmen mikro yang menjadi fokus utama perseroan.
Head of Liquidity & Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan bahwa sejauh ini, tekanan kenaikan suku bunga belum mendorong kebutuhan penyesuaian bunga simpanan secara agresif.
Basis nasabah yang besar dan tersebar dinilai masih memberikan ruang bagi BRI untuk mengelola biaya dana secara relatif efisien dibandingkan sebagian bank lain.
"Dengan kondisi sekarang, mungkin kalau dicek sampai dengan kuartal satu [2026] itu kita malah lebih efisien dibandingkan dengan beberapa bank lain," katanya.
Transformasi ke arah bisnis transaksional bahkan mulai tercermin pada perbaikan biaya dana. Cost of fund (CoF) BRI yang sebelumnya berada di kisaran 3% berhasil ditekan menjadi sekitar 2,3% pada kuartal I/2026. Penurunan tersebut dinilai menjadi salah satu bukti bahwa strategi digital dan transaksi mulai memberikan dampak nyata terhadap efisiensi pendanaan.
Selain pendanaan, BRI terus memperluas peran BRImo sebagai pintu masuk berbagai kebutuhan finansial masyarakat. Produk tabungan tetap menjadi andalan, tetapi perseroan mulai memperluas layanan investasi, termasuk emas, yang dapat diakses secara digital melalui ekosistem grup BRI.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa perebutan dana masyarakat kini tidak lagi hanya berlangsung di meja deposito. Bagi BRI, kemampuan menjadi bagian dari aktivitas keuangan harian nasabah menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan dana murah sekaligus menjaga efisiensi di tengah kompetisi likuiditas yang semakin ketat.
REKOMENDASI ANALIS
Sementara itu, sejumlah analis menilai strategi BRI memperkuat bisnis transaksional mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur pendanaannya.
Tim analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar mencatat perbaikan komposisi dana murah menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kinerja BRI tahun ini.
Pertumbuhan rekening giro dan tabungan yang ditopang akuisisi nasabah serta pengembangan ekosistem merchant mendorong rasio CASA naik menjadi 70,6% pada akhir 2025 dari 67,3% pada tahun sebelumnya. Perbaikan komposisi dana tersebut membantu menekan biaya dana dan memberikan ruang bagi BRI menghadapi tekanan margin pada periode mendatang.
“Peningkatan ini membantu menurunkan biaya pendanaan hingga akhir tahun, memberikan penyangga tambahan terhadap potensi normalisasi margin pada tahun 2026,” ungkap mereka dalam riset yang terbit belum lama ini.
Menurut Samuel Sekuritas, penguatan funding mix, ekspansi ekosistem berbasis transaksi, dan perbaikan kualitas aset menjadi alasan utama mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI.
Samuel Sekuritas memperkirakan perbaikan biaya dana dan komposisi CASA akan mengimbangi risiko perlambatan pertumbuhan kredit maupun tekanan margin dari segmen kredit usaha rakyat (KUR).
Pandangan serupa disampaikan MNC Sekuritas. Lembaga riset tersebut menilai penetrasi BRImo yang terus meningkat berhasil mendorong pertumbuhan dana murah ritel dan memperkuat posisi BRI sebagai bank transaksional.
Research Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan bahwa hingga kuartal I/2026, rasio CASA BRI meningkat menjadi 68,1% seiring pertumbuhan CASA ritel sebesar 11,7% secara tahunan. MNC menyebut perkembangan itu sebagai hasil dari strategi penguasaan wilayah dan penguatan transaksi nasabah yang dijalankan perseroan.
Meski demikian, Venny melihat tantangan belum sepenuhnya hilang. MNC Sekuritas menyoroti rencana penurunan bunga KUR menjadi 5% yang berpotensi menekan pendapatan bunga BRI apabila skema subsidi pemerintah tidak berubah.
Dalam simulasi MNC, penurunan imbal hasil KUR sebesar 100 basis poin dapat mengurangi laba bersih sekitar 2% dibandingkan dengan proyeksi dasar.
Di tengah risiko tersebut, kemampuan BRI memperbesar basis dana murah dan memperluas aktivitas transaksi dinilai menjadi faktor kunci menjaga profitabilitas.
Dari sisi investasi, kedua sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham BBRI.
Samuel Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.400 per saham. Sementara itu, MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.050 per saham.
Menurut MNC, koreksi harga saham BBRI selama ini telah membuat valuasinya BBRI menjadi menarik. Sementara itu, efisiensi pendanaan, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, dan modal yang kuat dinilai masih mampu menopang ketahanan kinerja perseroan.
Adapun, saham BBRI ditutup di level Rp2.960 pada perdagangan Kamis (18/6/2026), mencerminkan tingkat koreksi sebesar 19,13% secara year-to-date (YtD), sejalan dengan pelemahan pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
RUPST BRI 2026 setujui dividen Rp346 per saham dan perubahan saham negara, mencerminkan kinerja positif dan dukungan pada UMKM serta transformasi digital. [540] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemegang saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menyepakati tujuh agenda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) atas kinerja 2025 dari pembagian dividen hingga penetapan saham negara.
Dalam RUPST yang diselenggarakan di Menara BRILiaN Jakarta, hari ini, Jumat (10/4/2026), pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham.
Nilai tersebut telah termasuk dividen interim sebesar Rp137 per saham atau Rp20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan keputusan pembagian dividen final tersebut merupakan wujud komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil yang optimal bagi pemegang saham, didukung kinerja keuangan yang positif dan pengelolaan risiko yang terjaga.
“Pembagian dividen ini didasarkan pada kinerja perseroan yang tetap positif, yang ditopang oleh penguatan pada segmen UMKM sebagai core business BRI, serta akselerasi transformasi digital yang terus memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujar Hery dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4/2026).
Pembagian dividen tersebut mengacu pada laba tahun berjalan konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 sebesar Rp56,65 triliun. Angka ini juga telah mempertimbangkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perseroan.
Menurut Hery, keputusan dividen tersebut mencerminkan fundamental bisnis BRI yang dinilai kuat dan berkelanjutan, sekaligus menunjukkan kontribusi perseroan dalam mendukung pembangunan nasional melalui pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, RUPST juga menyetujui enam agenda lainnya. Pada agenda pertama, pemegang saham menyetujui laporan tahunan perseroan untuk tahun buku 2025, termasuk pengesahan laporan keuangan konsolidasian dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris, serta laporan keuangan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil (PUMK).
Seiring pengesahan tersebut, RUPST juga memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (volledig acquit et de charge) kepada direksi atas tindakan pengurusan dan kepada dewan komisaris atas tindakan pengawasan selama tahun buku 2025.
Pada agenda berikutnya, pemegang saham menyetujui pemberian kewenangan penetapan remunerasi bagi direksi dan dewan komisaris untuk tahun buku 2026 serta remunerasi atas kinerja tahun buku 2025. Rapat juga menyepakati penunjukan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan Program PUMK tahun buku 2026.
Selain itu, RUPST menyetujui pendelegasian kewenangan persetujuan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030 dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2027 kepada pihak yang ditunjuk RUPS.
Dalam agenda lainnya, perseroan turut melaporkan realisasi penggunaan dana Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan Tahap I Tahun 2025 dan Tahap II Tahun 2026 sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 30/POJK.04/2015.
Adapun pada agenda terakhir, pemegang saham menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan terkait perubahan klasifikasi saham, yakni perubahan Saham Seri B milik Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN menjadi Saham Seri A Dwiwarna dalam rangka pemenuhan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
RUPST BRI 2026 setujui dividen Rp346 per saham dan perubahan saham negara, mencerminkan kinerja positif dan dukungan pada UMKM serta transformasi digital. [540] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemegang saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menyepakati tujuh agenda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) atas kinerja 2025 dari pembagian dividen hingga penetapan saham negara.
Dalam RUPST yang diselenggarakan di Menara BRILiaN Jakarta, hari ini, Jumat (10/4/2026), pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham.
Nilai tersebut telah termasuk dividen interim sebesar Rp137 per saham atau Rp20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan keputusan pembagian dividen final tersebut merupakan wujud komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil yang optimal bagi pemegang saham, didukung kinerja keuangan yang positif dan pengelolaan risiko yang terjaga.
“Pembagian dividen ini didasarkan pada kinerja perseroan yang tetap positif, yang ditopang oleh penguatan pada segmen UMKM sebagai core business BRI, serta akselerasi transformasi digital yang terus memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujar Hery dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4/2026).
Pembagian dividen tersebut mengacu pada laba tahun berjalan konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 sebesar Rp56,65 triliun. Angka ini juga telah mempertimbangkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perseroan.
Menurut Hery, keputusan dividen tersebut mencerminkan fundamental bisnis BRI yang dinilai kuat dan berkelanjutan, sekaligus menunjukkan kontribusi perseroan dalam mendukung pembangunan nasional melalui pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, RUPST juga menyetujui enam agenda lainnya. Pada agenda pertama, pemegang saham menyetujui laporan tahunan perseroan untuk tahun buku 2025, termasuk pengesahan laporan keuangan konsolidasian dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris, serta laporan keuangan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil (PUMK).
Seiring pengesahan tersebut, RUPST juga memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (volledig acquit et de charge) kepada direksi atas tindakan pengurusan dan kepada dewan komisaris atas tindakan pengawasan selama tahun buku 2025.
Pada agenda berikutnya, pemegang saham menyetujui pemberian kewenangan penetapan remunerasi bagi direksi dan dewan komisaris untuk tahun buku 2026 serta remunerasi atas kinerja tahun buku 2025. Rapat juga menyepakati penunjukan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan Program PUMK tahun buku 2026.
Selain itu, RUPST menyetujui pendelegasian kewenangan persetujuan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030 dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2027 kepada pihak yang ditunjuk RUPS.
Dalam agenda lainnya, perseroan turut melaporkan realisasi penggunaan dana Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan Tahap I Tahun 2025 dan Tahap II Tahun 2026 sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 30/POJK.04/2015.
Adapun pada agenda terakhir, pemegang saham menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan terkait perubahan klasifikasi saham, yakni perubahan Saham Seri B milik Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN menjadi Saham Seri A Dwiwarna dalam rangka pemenuhan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rayakan Lebaran dengan BRImo! Kini berbagi THR makin praktis lewat QRIS Transfer atau emas digital. Cepat, aman, dan tanpa perlu tunai. Ini caranya! [491] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Tradisi berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari momen Lebaran.
Kini, berbagi THR dapat dilakukan dengan lebih praktis tanpa perlu menyiapkan uang tunai maupun bertemu secara langsung.
Melalui super apps BRImo, masyarakat dapat mengirim THR secara cepat dan aman hanya melalui smartphone.
BRImo menghadirkan berbagai fitur transaksi digital yang memudahkan pengguna berbagi dengan keluarga, sahabat, maupun orang terdekat.
Dengan beberapa langkah sederhana melalui aplikasi, tradisi berbagi di momen Lebaran kini dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan BRImo terus dikembangkan sebagai bagian dari transformasi digital BRI untuk menghadirkan pengalaman transaksi yang semakin praktis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“BRImo menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi digital BRI. Kami terus memperkuat kapabilitas teknologi agar BRImo mampu menghadirkan pengalaman transaksi yang semakin andal bagi pengguna. Melalui berbagai inovasi fitur, BRImo juga dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai transaksi keuangan sehari-hari, termasuk berbagi THR di momen Lebaran,” ujar dia dalam keterangan resmi, Sabtu (21/3/2026).
Dhanny menambahkan, kini berbagi THR bisa semudah scan. Melalui fitur QRIS Transfer di BRImo, pengguna dapat mengirim uang langsung ke penerima hanya dengan memindai QR Code tanpa perlu memasukkan nomor rekening tujuan.
Berikut ini adalah cara kirim THR dengan QRIS Transfer.
Cara Kirim THR dengan QRIS Transfer
Buka aplikasi BRImo dan login.
Pilih menu QRIS Transfer.
ScanQR Code penerima atau pilih QR yang tersimpan.
Selain transfer dana, pengguna juga dapat berbagi THR melalui fitur Transfer Emas di BRImo.
Fitur ini memungkinkan pengguna mengirim emas digital kepada penerima yang juga menggunakan BRImo.
THR dalam bentuk emas dapat menjadi alternatif berbagi dengan nilai jangka panjang karena emas dikenal memiliki nilai yang relatif stabil.
Proses pengirimannya pun praktis dan dapat dilakukan langsung melalui aplikasi.
Cara Kirim THR dengan Transfer Emas
Buka aplikasi BRImo dan login.
Pilih menu Emas.
Pilih fitur Transfer Emas.
Masukkan nomor rekening atau pengguna BRImo penerima.
Tentukan jumlah emas yang ingin dikirim.
Konfirmasi transaksi dan masukkan PIN BRImo.
Dhanny menerangkan, kehadiran berbagai fitur di BRImo juga memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk berbagi kepada keluarga dan orang terdekat secara praktis.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman berbagi yang semakin mudah melalui BRImo. Dengan fitur seperti QRIS Transfer maupun Transfer Emas, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan cara untuk berbagi kepada keluarga dan orang terdekat. Inovasi ini merupakan bagian dari komitmen BRI dalam menghadirkan layanan keuangan digital yang praktis, aman, dan mudah diakses,” tutup dia.
Sebagai informasi, hingga akhir Desember 2025, jumlah pengguna BRImo tercatat mencapai 45,9 juta, meningkat sekitar 18,9 persen secara tahunan.
Dari sisi nilai, total volume transaksi melalui BRImo mencapai Rp 7.057 triliun sepanjang 2025, atau tumbuh 26,1 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
BRImo mencatat transaksi harian Rp7.057 triliun pada 2025, didukung 45,9 juta pengguna. Pertumbuhan ini hasil strategi digital BRI yang memperkuat infrastruktur TI. [282] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan pertumbuhan pada pengguna aplikasi mobile banking, BRImo, sepanjang 2025. Meningkatnya jumlah pengguna turut berdampak positif terhadap nilai transaksi harian.
Hingga akhir 2025, total pengguna BRImo mencapai 45,9 juta pengguna, meningkat sekitar 18,9% (year on year/YoY). Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, aktivitas transaksi melalui BRImo naik 29% (YoY) menjadi 5,60 miliar transaksi. Nilai transaksi BRImo juga meningkat 26,1% (YoY) mencapai Rp7.057 triliun.
Direktur Information Technology BRI Saladin Dharma Nugraha Effendi menyampaikan capaian positif BRImo merupakan hasil dari strategi BRI dalam memperkuat infrastruktur teknologi informasi serta mengoptimalkan mesin transaksi secara terintegrasi.
“BRImo menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi digital BRI,” kata Saladin dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Saladin menuturkan, BRI secara konsisten membangun kapabilitas digital yang terhubung dengan seluruh ekosistem layanan, mulai dari jaringan ATM dan CRM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar luas di seluruh Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan agar BRImo dapat memberikan pengalaman transaksi yang semakin andal, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasabah di berbagai segmen.
Dia mengatakan, transformasi digital yang dijalankan BRI tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume transaksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan dan keandalan sistem.
Melalui penguatan arsitektur teknologi, modernisasi infrastruktur, serta pengelolaan sistem yang berkelanjutan, BRI memastikan layanan digital tetap stabil, aman, dan mampu mengakomodasi pertumbuhan transaksi yang terus meningkat.
Kinerja positif BRImo turut berdampak terhadap kinerja bisnis BRI secara berkelanjutan. Aktivitas transaksi digital yang terus tumbuh berkontribusi terhadap penguatan struktur pendanaan, khususnya dana murah, yang menjadi fondasi penting bagi fungsi intermediasi perbankan.
Struktur pendanaan yang semakin solid ini membuat BRI memiliki ruang yang lebih optimal untuk memperluas penyaluran pembiayaan ke sektor produktif dan ekonomi kerakyatan.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56