BRI mengadopsi strategi digital untuk menjaga biaya dana di tengah kenaikan BI Rate, fokus pada transaksi nasabah dan penguatan posisi sebagai bank transaksional. [1,218] url asal
Bisnis, JAKARTA — Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) yang makin ketat, terutama memasuki era suku bunga tinggi, mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaannya.
Alih-alih mengandalkan perang suku bunga, BRI memilih memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dan penguatan posisi sebagai bank transaksional untuk menjaga pertumbuhan dana murah.
Strategi tersebut menjadi penting ketika industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kondisi itu, BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi yang tinggi akan menjadi faktor pembeda dibandingkan sekadar menawarkan bunga simpanan yang lebih agresif.
Hal ini memungkinkan BRI menjaga daya saing suku bunga Perseroan di saat pasar keuangan Indonesia memasuki era suku bunga tinggi, seiring dengan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia (BI).
Terbaru, BI Rate baru saja dinaikkan 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/6/2026). Dengan kenaikan tersebut, total kenaikan BI Rate sudah mencapai 100 bps atau 1,00% dalam 2 bulan terakhir.
SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan. Fokusnya diarahkan pada pembangunan BRI sebagai transaction bank yang mampu menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah, baik individu maupun pelaku usaha.
Pendekatan tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan tabungan yang berada di atas rata-rata pasar. Pada kuartal I/2026, BRI mencatat pertumbuhan tabungan sekitar 11,5% year-on-year (YoY) menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri yang berada di kisaran 8% YoY.
Kinerja itu ditopang oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui aplikasi BRImo dan berbagai layanan digital lainnya.
Menurutnya, pertumbuhan dana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan bank menarik simpanan baru. Aktivitas transaksi yang terus meningkat dinilai mampu menciptakan dana mengendap yang lebih stabil sekaligus memperkuat komposisi dana murah atau current account saving account (CASA).
“Cara kita menumbuhkan DPK kita adalah dengan cara membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito kita buat geser ke yang lebih murah,” katanya, Kamis (18/6).
Singgih mengatakan transformasi digital menjadi salah satu mesin utama di balik strategi tersebut. BRI memanfaatkan basis nasabah yang besar untuk membangun ekosistem transaksi yang lebih luas, mulai dari kebutuhan harian masyarakat hingga aktivitas bisnis berbagai segmen usaha.
Perseroan menilai kekuatan utama BRI terletak pada kombinasi jaringan yang kuat di segmen mikro dan pedesaan dengan kemampuan digital yang terus berkembang. Model ini memungkinkan bank menjangkau aktivitas ekonomi yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh layanan keuangan modern.
“Saat kita mendefinisikan bahwa BRI itu 'Satu Bank untuk Semua', yang unik adalah bahwa yang sudah kuat sekali di rural kita lengkapi dengan kekuatan engine yang baru di BRI. Dan di situ konsep ekosistemnya nanti ada dengan bermacam model,” katanya.
Ekosistem yang dibangun BRI tidak terbatas pada nasabah individu. BRI mengembangkan keterhubungan dengan berbagai rantai bisnis, mulai dari sektor pertanian, perdagangan ritel modern, hingga berbagai mitra usaha lain yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, bank berharap dapat menangkap lebih banyak transaksi yang pada akhirnya memperkuat basis pendanaan.
Di sisi lain, BRI tetap mempertahankan fokusnya pada segmen mikro yang selama puluhan tahun menjadi fondasi bisnis perseroan. Sekitar 72% portofolio kredit BRI masih berada di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah. Posisi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa jaringan layanan hingga pelosok Indonesia tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
PERUBAHAN SUKU BUNGA
Sementara itu, dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, terutama dengan kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut, BRI membuka ruang untuk melakukan penyesuaian strategi pendanaan maupun penetapan harga dana.
Meski demikian, BRI menegaskan langkah tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga akses pembiayaan bagi segmen mikro yang menjadi fokus utama perseroan.
Head of Liquidity & Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan bahwa sejauh ini, tekanan kenaikan suku bunga belum mendorong kebutuhan penyesuaian bunga simpanan secara agresif.
Basis nasabah yang besar dan tersebar dinilai masih memberikan ruang bagi BRI untuk mengelola biaya dana secara relatif efisien dibandingkan sebagian bank lain.
"Dengan kondisi sekarang, mungkin kalau dicek sampai dengan kuartal satu [2026] itu kita malah lebih efisien dibandingkan dengan beberapa bank lain," katanya.
Transformasi ke arah bisnis transaksional bahkan mulai tercermin pada perbaikan biaya dana. Cost of fund (CoF) BRI yang sebelumnya berada di kisaran 3% berhasil ditekan menjadi sekitar 2,3% pada kuartal I/2026. Penurunan tersebut dinilai menjadi salah satu bukti bahwa strategi digital dan transaksi mulai memberikan dampak nyata terhadap efisiensi pendanaan.
Selain pendanaan, BRI terus memperluas peran BRImo sebagai pintu masuk berbagai kebutuhan finansial masyarakat. Produk tabungan tetap menjadi andalan, tetapi perseroan mulai memperluas layanan investasi, termasuk emas, yang dapat diakses secara digital melalui ekosistem grup BRI.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa perebutan dana masyarakat kini tidak lagi hanya berlangsung di meja deposito. Bagi BRI, kemampuan menjadi bagian dari aktivitas keuangan harian nasabah menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan dana murah sekaligus menjaga efisiensi di tengah kompetisi likuiditas yang semakin ketat.
REKOMENDASI ANALIS
Sementara itu, sejumlah analis menilai strategi BRI memperkuat bisnis transaksional mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur pendanaannya.
Tim analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar mencatat perbaikan komposisi dana murah menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kinerja BRI tahun ini.
Pertumbuhan rekening giro dan tabungan yang ditopang akuisisi nasabah serta pengembangan ekosistem merchant mendorong rasio CASA naik menjadi 70,6% pada akhir 2025 dari 67,3% pada tahun sebelumnya. Perbaikan komposisi dana tersebut membantu menekan biaya dana dan memberikan ruang bagi BRI menghadapi tekanan margin pada periode mendatang.
“Peningkatan ini membantu menurunkan biaya pendanaan hingga akhir tahun, memberikan penyangga tambahan terhadap potensi normalisasi margin pada tahun 2026,” ungkap mereka dalam riset yang terbit belum lama ini.
Menurut Samuel Sekuritas, penguatan funding mix, ekspansi ekosistem berbasis transaksi, dan perbaikan kualitas aset menjadi alasan utama mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI.
Samuel Sekuritas memperkirakan perbaikan biaya dana dan komposisi CASA akan mengimbangi risiko perlambatan pertumbuhan kredit maupun tekanan margin dari segmen kredit usaha rakyat (KUR).
Pandangan serupa disampaikan MNC Sekuritas. Lembaga riset tersebut menilai penetrasi BRImo yang terus meningkat berhasil mendorong pertumbuhan dana murah ritel dan memperkuat posisi BRI sebagai bank transaksional.
Research Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan bahwa hingga kuartal I/2026, rasio CASA BRI meningkat menjadi 68,1% seiring pertumbuhan CASA ritel sebesar 11,7% secara tahunan. MNC menyebut perkembangan itu sebagai hasil dari strategi penguasaan wilayah dan penguatan transaksi nasabah yang dijalankan perseroan.
Meski demikian, Venny melihat tantangan belum sepenuhnya hilang. MNC Sekuritas menyoroti rencana penurunan bunga KUR menjadi 5% yang berpotensi menekan pendapatan bunga BRI apabila skema subsidi pemerintah tidak berubah.
Dalam simulasi MNC, penurunan imbal hasil KUR sebesar 100 basis poin dapat mengurangi laba bersih sekitar 2% dibandingkan dengan proyeksi dasar.
Di tengah risiko tersebut, kemampuan BRI memperbesar basis dana murah dan memperluas aktivitas transaksi dinilai menjadi faktor kunci menjaga profitabilitas.
Dari sisi investasi, kedua sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham BBRI.
Samuel Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.400 per saham. Sementara itu, MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.050 per saham.
Menurut MNC, koreksi harga saham BBRI selama ini telah membuat valuasinya BBRI menjadi menarik. Sementara itu, efisiensi pendanaan, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, dan modal yang kuat dinilai masih mampu menopang ketahanan kinerja perseroan.
Adapun, saham BBRI ditutup di level Rp2.960 pada perdagangan Kamis (18/6/2026), mencerminkan tingkat koreksi sebesar 19,13% secara year-to-date (YtD), sejalan dengan pelemahan pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
BTN memperkuat penghimpunan dana murah di Bali dengan layanan digital, ekosistem transaksi, dan produk consumer banking terintegrasi pembiayaan perumahan. [526] url asal
Bisnis.com, DENPASAR – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) terus memperkuat strategi penghimpunan dana murah (cost of fund) di Provinsi Bali melalui penguatan layanan digital, pengembangan ekosistem transaksi, serta perluasan produk consumer banking yang terintegrasi dengan pembiayaan perumahan.
Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan menjelaskan Bali merupakan salah satu wilayah dengan potensi ekonomi yang kuat dan menjadi pasar penting bagi pertumbuhan bisnis perbankan, khususnya dalam pembiayaan perumahan dan penghimpunan dana masyarakat.
“Dengan karakter ekonomi Bali yang didukung sektor pariwisata dan investasi properti, kami melihat peluang pertumbuhan yang cukup besar. Karena itu BTN terus memperkuat layanan serta memperluas akses perbankan agar dapat menangkap potensi tersebut sekaligus meningkatkan penghimpunan dana murah,” jelas Rully dikutip Senin (16/3/2026).
Rully menjelaskan bahwa strategi utama BTN dalam memperkuat dana murah adalah dengan mentransformasikan perseroan menjadi bank transaksional, bukan hanya bank yang melayani pembiayaan perumahan.
“BTN ke depan ingin menjadi bank transaksional, bukan sekadar bank tempat orang mengambil KPR. Setelah nasabah memiliki rumah melalui BTN, tentu mereka masih memiliki berbagai kebutuhan finansial lainnya, dan kami ingin kebutuhan transaksi itu tetap dilakukan di BTN,” jelas Rully.
Transformasi tersebut salah satunya dilakukan melalui penguatan Bale by BTN yang dikembangkan sebagai superapps untuk berbagai kebutuhan transaksi nasabah. Saat ini Bale by BTN telah mencapai sekitar 4 juta pengguna dalam waktu dua tahun.
Melalui Bale by BTN, nasabah dapat melakukan berbagai transaksi kebutuhan sehari-hari seperti pembayaran listrik, PDAM, pembelian tiket, hingga berbagai layanan pembayaran lainnya. BTN juga terus memperluas kerja sama dengan merchant serta mengoptimalkan fitur Bale Community untuk mempermudah berbagai transaksi komunitas, termasuk pembayaran iuran lingkungan perumahan.
Selain itu, BTN juga memperluas akses ke berbagai segmen nasabah, mulai dari retail, prioritas hingga BTN Private, dengan menawarkan berbagai produk investasi dan layanan pengelolaan dana.
“Melalui pendekatan ini, BTN ingin mendorong nasabah untuk menjadikan BTN sebagai bank utama dalam transaksi keuangan mereka, bukan hanya untuk pembiayaan rumah,” ujar Rully.
Ke depan, BTN juga akan memperluas ekosistem consumer banking melalui berbagai produk baru yang terintegrasi dengan layanan digital, seperti paylater serta pembiayaan kendaraan bermotor.
Di sisi lain, BTN juga menghadirkan konsep BTN Digital Store, yaitu model layanan perbankan modern yang menggabungkan teknologi digital dengan interaksi layanan yang lebih efisien.
“BTN Digital Store menghadirkan pengalaman layanan yang lebih cepat dan praktis bagi nasabah. Proses pembukaan rekening yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 20 menit kini dapat dipersingkat menjadi sekitar lima menit,” jelas Rully.
Konsep digital store juga mengedepankan transaksi paperless melalui penggunaan digital form serta model layanan super staff yang mampu melayani berbagai kebutuhan nasabah dalam satu titik layanan.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Bagus Hendri Setiawan mengatakan transformasi layanan BTN juga mencerminkan perubahan peran bank yang semakin berorientasi pada kebutuhan transaksi nasabah.
Menurut Bagus, BTN kini tidak hanya melayani pembiayaan perumahan, tetapi juga berbagai kebutuhan transaksi keuangan masyarakat, baik untuk nasabah individu, UMKM maupun korporasi.
“BTN ingin hadir sebagai bank konsumer yang melayani kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari sandang, pangan hingga papan. Karena itu kami terus memperluas layanan agar BTN dapat menjadi mitra transaksi keuangan masyarakat dalam berbagai kebutuhan,” ujar Bagus.
Dengan strategi tersebut, BTN optimistis dapat memperkuat penghimpunan dana murah sekaligus memperluas basis nasabah di wilayah Bali.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56