Rizki Awalfindy ubah citra ikan asin Bulukumba jadi produk premium, tembus ritel modern nasional. Dukungan BRI dan pemerintah bantu legalitas dan kualitas. [606] url asal
Bisnis.com, MAKASSAR — Bagi sebagian orang, ikan asin mungkin hanya dipandang sebagai komoditas sederhana yang kerap dijumpai di sudut-sudut pasar tradisional.
Namun, di tangan Rizki Awalfindy, citra komoditas yang kerap dianggap “kelas bawah” tersebut bertransformasi menjadi produk premium yang kini menghiasi rak ritel modern berskala nasional.
Perjalanan Rizki dimulai sekitar enam tahun lalu. Pria yang berprofesi sebagai Penyuluh Perikanan Bantu di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu awalnya tidak pernah membayangkan akan menekuni bisnis olahan ikan.
Selama ini, hasil laut dari wilayah yang dikenal sebagai Bumi Panrita Lopi tersebut umumnya diperdagangkan dalam bentuk komoditas hulu, seperti ikan segar, atau diolah menjadi produk sederhana seperti abon dan bakso ikan.
Titik balik muncul dari sebuah ketidaksengajaan. Saat berkunjung ke sebuah gerai ritel modern, Rizki terkejut melihat ikan asin dikemas secara apik dengan label profesional—sebuah pemandangan yang kontras dengan kondisi produk serupa di daerahnya.
"Saat itu saya berpikir, ikan asin nyatanya bisa dipasarkan lebih luas. Artinya pasarnya besar, banyak kalangan yang suka kalau dikemas dengan standar yang baik," ucap Rizki kepada Bisnis, Selasa (12/3/2026).
Namun, untuk menembus pasar ritel modern dibutuhkan persyaratan administratif dan jaminan mutu yang ketat. Produk tidak bisa sekadar dikemas tanpa standar yang jelas.
Berbekal jejaring kelompok nelayan yang dibinanya sebagai penyuluh, Rizki kemudian mendirikan usaha Jutsuka Arung Bahari.
Owner Jutsuka Arung Bahari, Rizki Awalfindy (kanan) memamerkan produk ikan asinnya yang telah berhasil tembus ritel modern./Dok. Istimewa
Dengan modal awal sekitar Rp5 juta, ia mulai melengkapi kebutuhan produksi secara bertahap, mulai dari lemari pendingin kecil, cooler box gabus, hingga jemuran bambu sederhana.
Meski demikian, perjalanan menuju kualitas premium tidaklah mudah. Berkali-kali ia gagal menemukan komposisi garam dan teknik pengeringan yang tepat. Alih-alih masuk ke kemasan, tumpukan ikan hasil percobaan justru berakhir menjadi pakan ternak.
Rizki kemudian memutuskan bergabung dengan jaringan UMKM binaan Bank Rakyat Indonesia. Melalui program tersebut, ia berharap mendapatkan pendampingan yang dapat memperkuat pengetahuan bisnis sekaligus membuka akses pembiayaan.
Harapan itu terwujud. Rizki mengaku memperoleh berbagai wawasan baru, mulai dari digital marketing hingga pengelolaan keuangan. Akses pembiayaan yang lebih mudah juga membantu pengadaan bahan baku serta pengembangan kapasitas produksi.
Setelah puluhan kali melakukan percobaan resep, kegigihan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Produk ikan asin Jutsuka berhasil menembus jaringan ritel nasional dan kini tersedia di gerai Gelael dan Alfamidi.
"Tak terhitung berapa kali saya coba komposisikan sampai kualitasnya bagus. Saya percaya pasti ada jalan, dan akhirnya kualitas ikan asin kami bahkan bisa lebih baik dari yang saya lihat di ritel dulu," ungkapnya optimistis.
Saat ini, Jutsuka memiliki kapasitas penjemuran sekitar 50 kilogram per sesi, yang menghasilkan sekitar 33 kilogram ikan kering siap kemas. Proses produksi dilakukan rutin empat kali dalam sebulan. Selain ikan asin, lini produknya juga berkembang ke bakso ikan tenggiri, ikan asap, hingga abon tuna.
Project Leader Rumah BUMN BRI Regional Office Makassar Ayu Anisela mengatakan pendampingan terhadap Jutsuka telah dimulai sejak 2021. Menurutnya, UMKM tersebut dinilai memiliki potensi besar dan telah mengikuti berbagai ajang nasional, seperti BRIlian Preneur 2022 dan 2023 di Jakarta serta BRI UMKM Export 2025 di ICE BSD Tangerang.
"UMKM dibimbing untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola keuangan, pemasaran, dan operasional usaha. Tujuannya tentu agar dapat naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas," jelasnya.
Keberhasilan Jutsuka juga didukung pemerintah daerah. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba Thaiyeb Maningkasi menyatakan pihaknya terus membantu penguatan legalitas dan kualitas produk agar lebih mudah menembus pasar.
Pemerintah daerah, kata dia, turut memfasilitasi pengurusan merek, sertifikasi halal, hingga Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) yang memastikan produk diolah sesuai standar.
"Kami mendorong UMKM lokal untuk berkembang, terutama yang menyentuh sektor perikanan karena Bulukumba memang dikenal kaya akan komoditas ikan. Makanya sebisa mungkin akan dibantu segala pengurusan administrasinya untuk lebih maju," tuturnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56