Pasar SUN Sepi Awal Tahun, Dana Asing Masuk Rp4,21 Triliun Sejak Awal Tahun

Pasar SUN Sepi Awal Tahun, Dana Asing Masuk Rp4,21 Triliun Sejak Awal Tahun

Pasar SUN awal tahun 2026 sepi, dana asing masuk Rp4,21 triliun. Penurunan permintaan dipengaruhi kondisi makroekonomi dan defisit APBN 2025. Moody's turunkan outlook Indonesia jadi negatif.

(Bisnis.Com) 18/02/26 11:48 139365

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan pasar terpantau lesu dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sepanjang 2026. Adapun, investor nonresiden terpantau melakukan beli bersih senilai Rp4,21 triliun sejak awal tahun.

Berdasarkan data DJPPR, tiga lelang SUN pertama 2026 konsisten menerima penawaran masuk (incoming bids) yang menurun. Pada lelang perdana, kendati Kemenkeu mampu menghimpun dana hingga Rp90,96 triliun, tetapi lelang selanjutnya berangsur-angsur menurun hingga pada Selasa (3/2/2026) hanya mampu menghimpun dana Rp76,58 triliun.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realisasi lelang SUN pada awal 2025 yang menorehkan penawaran masuk yang bertumbuh hingga tiga lelang selanjutnya. Pada lelang SUN perdana 2025, pemerintah menghimpun dana Rp31,65 triliun dan cenderung tumbuh hingga Selasa (18/2/2026) menghimpun dana senilai Rp84 triliun.

Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai kian lesunya serapan pasar terhadap lelang SUN belakangan lebih disebabkan oleh kondisi makroekonomi dalam negeri. Fikri menyoroti ihwal defisit APBN 2025 hingga penerimaan pajak negara yang cenderung rendah.

Kondisi dalam negeri seperti ini, membuat investor meminta risk premi yang lebih terhadap surat utang terbitan negara.

”Artinya ada kekhawatiran, jangan-jangan datanya tidak sejalan. Kemampuan dari Indonesia makin lama kok makin turun. Ini yang membuat market-nya, saya pikir tidak hanya Moody’s yang minta yield yang lebih besar, tapi semua investor. Makanya permintaan terhadap SBN lebih rendah,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Sementara itu, realisasi penawaran lelang sukuk yang konsisten berada pada level sekitar Rp50 triliun—Rp40 triliun, dinilai lebih disebabkan oleh market niche produk syariah. Dengan begitu, produk ini akan secara tetap mendapatkan penawaran yang stabil dari investor.

Belakangan terpantau DJPPR menerbitkan lebih banyak SUN bertenor pendek. Dibandingkan dengan 2025, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) biasanya diterbitkan sebanyak 2 kali dan bertambah menjadi 3 kali pada tahun ini.

Serapan pasar tidak kalah besar terhadap SPN. Pada penerbitan SUN teranyar misalnya, tiga tenor SPN mendapatkan serapan pasar senilai Rp11,98 triliun, lebih besar ketimbang realisasi penyerapan senilai Rp8,56 triliun pada lelang terakhir 2025.

Awal bulan ini, lembaga pemeringkat Moody\'s Ratings menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun, Moody\'s mempertahankan rating Indonesia di level Baa2.

Moody\'s menilai bahwa perubahan outlook didasari pada penurunan tingkat prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dalam mengindikasikan pelemahan tata kelola.

Dalam pengumumannya, Moody\'s menjelaskan bahwa pemerintah bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, juga ingin meningkatkan standar hidup melalui peningkatan belanja sosial. Hal itu dilakukan dengan tetap menjaga kepatuhan terhadap kerangka kebijakan moneter dan fiskal.

Namun demikian, turunnya prediktabilitas dan koherensi proses perumusan kebijakan dalam setahun terakhir, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor.

#sun #pasar-sun #lelang-sun #dana-asing #investor-nonresiden #permintaan-pasar #defisit-apbn #penerimaan-pajak #risk-premi #surat-utang #market-niche #produk-syariah #surat-perbendaharaan-negara #moody

https://market.bisnis.com/read/20260218/92/1953625/pasar-sun-sepi-awal-tahun-dana-asing-masuk-rp421-triliun-sejak-awal-tahun