Respons Komdigi soal Keberlanjutan Opsel saat Lelang Frekuensi 'Jumbo' Digelar
Pemerintah menggelar lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, mempertimbangkan kesehatan industri telekomunikasi, dengan fokus pada investasi dan pengembangan layanan.
(Bisnis.Com) 29/04/26 14:54 206461
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah memastikan proses lelang pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan industri telekomunikasi nasional. Hal ini merespons kekhawatiran para pelaku usaha mengenai potensi beban biaya modal (capex) dan biaya operasional (opex) yang kian membengkak seiring tambahan spektrum baru.
Dirjen Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Wayan Toni Supriyanto, mengatakan terus menyerap aspirasi operator seluler mengenai penggelaran lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang dilakukan secara bersamaan, termasuk mengenai beban baru operator.
“Biasa permintaan operator, sampai saat ini kami masih menerima masukan dan belum bisa menjawab. Harga dasar sudah diterima dan mendapat masukan dari BPKP,” ujar Wayan kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Diketahui, pada lelang frekuensi kali ini total pita yang akan ditebar oleh Komdigi adalah sebesar 260 MHz, yang merupakan pita terbesar yang pernah dilelang sepanjang sejarah operator seluler. Tambahan frekuensi baru akan menjadi peluang bagi pengembangan layanan telekomunikasi operator seluler, dan di lain sisi juga sebagai beban baru karena perusahaan harus membayar pita frekuensi dengan 2x pembayaran di muka pada tahun pertama dan biaya BHP per tahun.
Terakhir, lelang operator seluler digelar pada 2022 untuk pita selebar 2x5 MHz di pita 2,1 GHz. Telkomsel menjadi pemenang dengan membayar lelang sebesar Rp605 miliar per tahun selama 10 tahun.
Biaya frekuensi ini terus meningkat yang kemudian membuat rasio antara pendapatan dengan beban frekuensi operator seluler menyentuh angka 12,2%, lebih rendah dari kawasan ASEAN dan global.
Lelang kali ini memang membawa konsekuensi investasi yang besar. Untuk pita 700 MHz dengan total lebar 70 MHz, operator diharapkan pada komitmen perluasan cakupan jaringan (coverage) hingga ke wilayah rural. Frekuensi rendah ini menjadi krusial karena jangkauan sinyalnya yang luas dan daya tembus dinding yang kuat, namun menuntut penggelaran infrastruktur baru di area yang secara ekonomi menantang.
Di sisi lain, lelang pada pita 2,6 GHz dengan lebar pita 190 MHz diarahkan untuk penguatan kapasitas data dan akselerasi 5G di wilayah urban. Kombinasi kedua frekuensi ini memaksa operator menyeimbangkan antara kewajiban membangun jaringan luas dengan penyediaan layanan internet berkecepatan tinggi yang stabil.
Aspek fleksibilitas juga menjadi strategi pemerintah dalam menjaga ritme investasi operator. Komdigi membuka peluang bagi satu peserta lelang untuk menguasai lebih dari dua blok frekuensi sekaligus, tergantung pada kesiapan finansial dan kebutuhan teknis masing-masing perusahaan.
“Saya memungkinkan begitu tergantung dari keinginan mereka,” tambahnya.
#frekuensi-radio #lelang-frekuensi #operator-seluler #spektrum-frekuensi #pita-frekuensi #700-mhz #2 #6-ghz #komdigi #investasi-telekomunikasi #cakupan-jaringan #kapasitas-data #akselerasi-5g #infrastru