BGN Libatkan 40.000 UMKM Untuk Pasok Bahan Baku MBG

BGN Libatkan 40.000 UMKM Untuk Pasok Bahan Baku MBG

BGN melibatkan 40.000 UMKM untuk pasok bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mendukung ekonomi lokal dan mematuhi Perpres No. 115.

(Bisnis.Com) 15/12/25 21:00 73791

Binis.com, BANDUNG-- Badan Gizi Nasional (BGN) bakal melibatkan 40.000 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan kelompok masyarakat pemasok utama bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional.

Nantinya para pelaku UMKM dan kelompok masyarakat yang sudah terverifikasi dan terstandarisasi akan dilibatkan dalam program tersebut. Sehingga nantinya perekonomian akan semakin terpacu.

Kegiatan ini juga dinilai merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 tentang Tata Kelola Pengelolaan MBG, yang mewajibkan penggunaan produk dalam negeri sebagai yang utama.

Direktur Promosi dan Edukasi Gizi BGN, Dr Gunalan menjelaskan pihaknya pun menggelar Pelatihan Pemberdayaan UMKM dan Kelompok Masyarakat sebagai Supplier dalam Mendukung Program MBG di Kota Bandung, Senin (15/12/2025). Gelaran ini bertujuan untuk memberdayakan UMKM dalam mendukung program MBG yang skalanya semakin masif.

Saat ini, program tersebut telah melibatkan sekitar 17.000 dapur dengan penerima manfaat lebih dari 44 juta orang. Untuk itu, sesuai dengan Perpres Nomor 115 Pasal 38 Ayat 1, penggunaan produk dalam program MBG harus berasal dari produk domestik, sehingga UMKM, petani, nelayan, dan peternak lokal menjadi pihak yang diprioritaskan.

Secara nasional, saat ini tercatat sekitar 40.000 UMKM telah terlibat dalam program MBG. Para UMKM tersebut didorong untuk memasok bahan-bahan yang berasal dari industri rumahan, bukan dari pabrikan-pabrikan bermerek besar. Komoditas yang dipasok mencakup berbagai olahan yang didorong untuk diambil dari produksi masyarakat langsung.

Contohnya, olahan roti yang dibuat oleh orang tua siswa sekolah, dikelola dengan baik dan dikonsumsi oleh anak-anak, sehingga memastikan perputaran uang kembali kepada masyarakat.

Dalam skema pendanaan, dijelaskan bahwa dana dialirkan oleh pihak pengelola kepada rekening yayasan atau mitra (SPPG) secara langsung, di mana sekitar Rp10.000 dialokasikan untuk pemberdayaan bahan baku. Dari alokasi tersebut, mitra bekerja sama dengan ahli gizi untuk mengatur menu.

Terkait rantai pasok dan jarak geografis, Direktorat menyatakan bahwa tidak ada batasan jarak yang ketat. Bahkan mitra didorong untuk membangun kerja sama antar daerah, terutama jika terdapat kelangkaan bahan baku di satu wilayah.

Adapun mengenai kualitas produk (Quality Control) dan sertifikasi, hal ini ditegaskan sebagai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lintas sektor. Perpres Nomor 115 mengatur tata kelola MBG yang bersifat lintas sektor, melibatkan Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Daerah, hingga perguruan tinggi dan petani, menggunakan konsep pentahelix.

Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional, Tengku Syahdana, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjaga keberlanjutan pasokan pangan bergizi di tengah risiko dan dampak bencana.

Wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat disebut memiliki tingkat kerawanan tinggi yang berpotensi mengganggu distribusi pangan, memicu kelangkaan, hingga mendorong kenaikan harga.

“Bencana tidak hanya soal korban dan kerusakan fisik, tetapi juga gangguan serius terhadap rantai pasok pangan. Karena itu, UMKM dan kelompok masyarakat harus diposisikan sebagai mitra strategis negara,” tegasnya.

Melalui sinergi Program MBG yang merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto, Badan Gizi Nasional mendorong penguatan peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di sejumlah daerah, SPPG telah berfungsi ganda sebagai dapur umum saat bencana, sekaligus menjadi simpul distribusi pangan bergizi berbasis bahan lokal.

Saat ini, lebih dari 3.000 SPPG, khususnya di Jawa Barat, terus diperkuat agar mampu menyerap produk pangan lokal, menjaga stabilitas pasok, serta membangun ketangguhan daerah secara berkelanjutan.

"Upaya ini diharapkan menjadi bantalan nasional dalam menghadapi risiko krisis pangan akibat bencana dan dinamika global," ungkapnya.

#umkm #bahan-baku #program-mbg #badan-gizi-nasional #pemasok-utama #produk-dalam-negeri #pemberdayaan-umkm #perpres-115 #pelatihan-umkm #dapur-umum #pangan-bergizi #kolaborasi-lintas-sektor #distribusi

https://bandung.bisnis.com/read/20251215/549/1936954/bgn-libatkan-40000-umkm-untuk-pasok-bahan-baku-mbg