Bisnis.com, JAKARTA - Produsen pesawat Airbus menarik (recall) 6.000 unit armada jenis A320 untuk perbaikan perangkat lunak. Langkah tersebut berisiko memicu penundaan dan pembatalan penerbangan di berbagai negara saat periode perjalanan tersibuk.
Melansir Reuters pada Sabtu (29/11/2025) recall ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam 55 tahun sejarah Airbus, dan terjadi hanya beberapa pekan setelah A320 melampaui Boeing 737 sebagai model pesawat paling banyak dikirimkan ke pelanggan.
Saat buletin perbaikan itu disampaikan kepada lebih dari 350 operator maskapai, sekitar 3.000 pesawat A320 tengah mengudara.
Perbaikan utama dilakukan dengan mengembalikan perangkat lunak ke versi sebelumnya, sebuah proses yang relatif sederhana namun wajib diselesaikan sebelum pesawat diizinkan terbang, kecuali untuk penerbangan repositioning menuju pusat perbaikan.
Buletin Airbus itu menyebutkan sumber masalah berada pada sistem penerbangan ELAC (Elevator and Aileron Computer), yang mengirimkan perintah dari sidestick pilot ke elevator di bagian ekor pesawat untuk mengontrol sudut elevasi atau arah hidung pesawat.
Adapun, produsen komputer tersebut, Thales asal Prancis, menyatakan perangkat yang diproduksinya telah sesuai dengan spesifikasi Airbus. Perusahaan menyebut, fungsi yang dipermasalahkan berada pada perangkat lunak yang bukan menjadi tanggung jawab Thales.
Seorang sumber industri mengungkapkan sekitar lebih dari 1.000 pesawat dari total 6.000 yang ditarik mungkin juga harus menjalani penggantian perangkat keras. Hal tersebut berpotensi memperpanjang waktu penghentian operasi.
Sejumlah maskapai dari Amerika Serikat, Amerika Selatan, Eropa, India, hingga Selandia Baru memperingatkan bahwa perbaikan ini berpotensi memicu penundaan maupun pembatalan penerbangan.
Maskapai dengan armada A320 terbesar di dunia, American Airlines, menyebut sekitar 340 dari total 480 pesawat A320 miliknya memerlukan perbaikan. Maskapai tersebut memperkirakan sebagian besar proses perbaikan dapat rampung pada Sabtu, dengan waktu pengerjaan sekitar dua jam per pesawat.
Maskapai lain, termasuk Lufthansa (Jerman), IndiGo (India), dan easyJet (Inggris), menyatakan akan menarik pesawat sementara dari layanan untuk melakukan perbaikan.
Sementara itu, maskapai Kolombia Avianca menyebut recall memengaruhi lebih dari 70% armadanya, sehingga memaksa perusahaan menutup penjualan tiket untuk jadwal perjalanan hingga 8 Desember.
Saat ini terdapat sekitar 11.300 unit pesawat keluarga A320 yang masih beroperasi di seluruh dunia, termasuk 6.440 unit varian utama A320 yang pertama kali terbang pada 1987.
Empat dari sepuluh operator terbesar A320 merupakan maskapai asal Amerika Serikat, yakni American Airlines, Delta Air Lines, JetBlue, dan United Airlines, dengan maskapai China, Eropa, dan India juga menjadi pelanggan utama.
Sumber industri menyebutkan sekitar dua pertiga pesawat terdampak kemungkinan harus menjalani penghentian operasi singkat selama proses pembaruan perangkat lunak.
Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan tinggi pada industri perawatan pesawat. Saat ini, bengkel perawatan dipenuhi pekerjaan pemeliharaan karena ratusan pesawat Airbus sebelumnya telah menganggur akibat antrean panjang perbaikan atau inspeksi mesin, juga diperparah oleh kekurangan tenaga kerja.
“Waktunya jelas tidak ideal untuk munculnya masalah pada salah satu pesawat yang paling banyak dioperasikan, apalagi menjelang musim liburan di Amerika Serikat,” ujar Mike Stengel dari AeroDynamic Advisory.
Meski demikian, dengan waktu perbaikan yang relatif singkat, banyak pesawat bisa diperbaiki di sela jadwal penerbangan atau saat pemeriksaan malam hari. easyJet menyatakan telah menyelesaikan seluruh proses perbaikan.
Seorang sumber senior industri penerbangan mengatakan bahwa pengaturan jadwal perbaikan di tengah tingginya permintaan penerbangan dan keterbatasan armada akan menjadi tantangan besar.
Analis aviasi Rob Morris juga mempertanyakan ketersediaan kapasitas hanggar dalam waktu dekat.
Insiden JetBlue Picu Investigasi
Airbus mengungkap insiden terbaru menunjukkan bahwa radiasi matahari (solar flares) dapat merusak data penting yang berfungsi mengendalikan sistem kontrol penerbangan.
Menurut sumber industri, insiden pemicu recall melibatkan penerbangan JetBlue dari Cancun (Meksiko) menuju Newark (New Jersey) pada 30 Oktober, di mana beberapa penumpang mengalami cedera akibat penurunan ketinggian secara tiba-tiba.
Pesawat A320 tersebut melakukan pendaratan darurat di Tampa, Florida, setelah mengalami gangguan sistem kendali penerbangan dan penurunan ketinggian yang tidak diperintah (uncommanded drop).
Insiden itu tengah diselidiki oleh Federal Aviation Administration (FAA). JetBlue dan FAA belum memberikan komentar resmi terkait recall ini.
Otoritas keselamatan penerbangan Uni Eropa, European Union Aviation Safety Agency (EASA), pada Jumat malam mengeluarkan direktif darurat yang mewajibkan pelaksanaan perbaikan tersebut.
Gelombang penarikan ini langsung terasa secara global. Sebuah penerbangan Finnair tertunda hampir satu jam karena pilot harus memastikan versi perangkat lunak yang terpasang.
Sementara itu, Air New Zealand juga memperingatkan terjadinya sejumlah pembatalan penerbangan.
Maskapai Air France membatalkan 35 penerbangan, setara sekitar 5% dari total jadwal harian. Sementara itu, maskapai Meksiko Volaris memperkirakan akan mengalami penundaan atau pembatalan penerbangan hingga 72 jam.
Diluncurkan pada 1984, A320 tercatat sebagai pesawat jet komersial arus utama pertama yang mengadopsi sistem fly-by-wire berbasis komputer.
Pesawat ini bersaing dengan Boeing 737 MAX, yang sempat mengalami larangan terbang secara global setelah dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019 akibat persoalan desain perangkat lunak kendali penerbangan.
Permintaan terhadap dua merek pesawat lorong tunggal (single-aisle) tersebut melonjak dalam beberapa tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi Asia yang mendorong jutaan penumpang baru menggunakan transportasi udara.
Awalnya dirancang untuk melayani bandara hub, pesawat jenis ini kemudian diadopsi luas oleh maskapai berbiaya murah. Jaringan penerbangan yang dihasilkannya kini menjadi bagian penting dari roda perekonomian global.