CEO Nvidia Jensen Huang akan meluncurkan chip baru yang mengejutkan dunia di GTC 2026, San Jose. Chip ini mungkin terkait arsitektur Vera Rubin dan teknologi HBM4. [377] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan sinyal peluncuran sejumlah chip baru yang diklaim akan mengejutkan dunia pada GPU Technology Conference (GTC) 2026, mendatang. Konferensi tahunan yang digelar di San Jose, California pada 16–19 Maret 2026 itu katanya bakal menampilkan teknologi yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh industri.
Kendati demikian, Huang belum mau membuka detail teknis atau nama resmi chip yang dimaksud, tetapi komentar tersebut memicu spekulasi di tengah tekanan persaingan yang semakin ketat di segmen perangkat keras berperforma tinggi. Pernyataan Huang muncul di tengah perkembangan sejumlah arsitektur prosesor dan GPU generasi berikutnya yang tengah dikerjakan Nvidia.
Analisis industri menilai pengumuman ini berpotensi berkaitan dengan lini teknologi utama Nvidia yang tengah menjadi fokus saat ini, yaitu arsitektur Vera Rubin yang ditujukan untuk pusat data AI, menawarkan peningkatan signifikan dalam memory bandwidth dan performa komputasi untuk beban kerja AI yang intensif. GPU tersebut telah diproduksi secara penuh sejak Januari 2026, seperti yang diumumkan Huang selama CES 2026.
Nvidia juga dilaporkan bekerja sama dengan SK Hynix dalam teknologi memori HBM4. Tujuannya adalah untuk langsung menumpuk memori berbandwidth tinggi ke dalam chip logika GPU, sebuah langkah yang dapat menjadikan chip tersebut salah satu desain semikonduktor paling kompleks yang pernah diproduksi jika produksi massal berhasil.
“Tidak ada yang mudah karena semua teknologi berada pada batas kemampuannya, tetapi tidak ada yang mustahil,” ujar Jensen dikutip dari Korean Economic Daily, Kamis (19/2/2026).
Sementara itu, beberapa pengamat menilai chip yang mengejutkan dunia itu bisa jadi Nvidia N1X yang ditujukan untuk PC berbasis ARM. Pasalnya, laporan terbaru menunjukkan bahwa N1X bakal dirilis paling cepat akhir Maret.
Di sisi lain, Huang memastikan tidak ada AI Bubble pada gelaran GTC 2026 nanti. AI bubble merupakan istilah yang semakin sering muncul di kalangan pelaku industri dan analis ekonomi untuk menggambarkan sebuah fenomena di mana nilai investasi dan ekspektasi terhadap teknologi kecerdasan buatan naik jauh melebihi nilai fundamentalnya.
“Kita baru berada di awal proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah umat manusia, yang bernilai puluhan triliun dolar,” sebut Huang.
Sebelumnya, rencana investasi Nvidia sebesar US$100 miliar di Open AI dilaporkan terhenti. Ketika ditanya bagaimana kelanjutan investasi di perusahaan AI, Huang menyatakan bahwa AI bukan hanya sebuah model. “Ini adalah seluruh industri yang mencakup energi, semikonduktor, pusat data, komputasi awan, dan aplikasi yang dibangun di atasnya,” tegasnya.
Investasi AI di Indonesia diprediksi tetap tinggi meski ada kekhawatiran AI bubble. IDPRO yakin AI akan jadi pilar transformasi digital dan efisiensi jangka panjang. [767] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia Data Center Provider (IDPRO) meyakini investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih akan terus meningkat, termasuk di industri pusat data (data center).
Keyakinan tersebut muncul di tengah temuan sejumlah lembaga riset global seperti PwC dan Deloitte yang menyebutkan bahwa AI belum sepenuhnya menghasilkan keuntungan finansial yang sebanding dengan dana besar yang telah digelontorkan perusahaan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terjadinya AI bubble, yakni kondisi ketika arus investasi dan valuasi saham perusahaan berbasis AI meningkat tajam seiring ekspektasi pasar yang sangat tinggi, meskipun kinerja fundamental dan kontribusi laba nyatanya belum sepenuhnya terbentuk. Lonjakan tersebut didorong optimisme berlebihan terhadap potensi AI, yang berpotensi memicu koreksi signifikan apabila realisasi bisnis tidak berjalan sesuai proyeksi.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma mengakui temuan riset PwC dan Deloitte tersebut, di mana banyak pemimpin perusahaan global mengungkapkan bahwa investasi awal mereka di AI belum menunjukkan profitabilitas langsung.
Namun demikian, dia menilai AI seperti halnya teknologi revolusioner lainnya memerlukan waktu untuk matang. Dampak finansialnya pun cenderung muncul dalam jangka menengah hingga panjang, bukan secara instan.
“Di World Economic Forum juga disampaikan AI bubble ini memang salah satu yang jadi biggest concern dari banyak investment company, selain debt bubble US,” kata Hendra saat dihubungi Bisnis pada Kamis (29/1/2026).
Dari perspektif IDPRO yang menaungi industri data center di Indonesia, Hendra mengatakan pihaknya melihat AI ke depan bukan sekadar tren teknologi, melainkan akan menjadi pilar utama transformasi digital.
Menurutnya, investasi di sektor AI tetap tinggi karena adanya keyakinan jangka panjang terhadap nilai tambah yang dihasilkan, baik dalam efisiensi operasional, personalisasi layanan, maupun pengambilan keputusan berbasis data.
Secara nilai, proyeksi pasar AI di Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp20,13 triliun. Hendra menyebutkan, berdasarkan sejumlah studi riset teknologi regional, sebagian besar alokasi investasi tersebut akan bergantung pada infrastruktur digital, termasuk data center sebagai fondasi utamanya.
Dia melanjutkan, sejumlah anggota IDPRO yang merupakan penyedia pusat data telah mulai melihat potensi monetisasi AI, terutama dalam dua bentuk. Pertama, meningkatnya permintaan infrastruktur high-density dan GPU compute untuk kebutuhan pelatihan model AI (training) serta inferencing. Kedua, penyediaan layanan AI-as-a-Service (AIaaS) yang memungkinkan perusahaan memanfaatkan teknologi AI tanpa investasi awal yang besar.
“Jadi data center saat ini bukan hanya mendukung AI, tapi juga menjadi bagian dari ekosistem solusi AI itu sendiri,” kata Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan kecenderungan perusahaan saat ini bukan mengurangi investasi AI, melainkan menyesuaikannya. Menurutnya, banyak perusahaan telah melewati fase eksplorasi dan kini memasuki tahap optimalisasi.
“Mereka kini lebih selektif dan fokus ke use-case AI yang benar-benar relevan dengan bisnis inti,” katanya.
Adapun sejumlah pertimbangan utama dalam melanjutkan investasi AI, lanjut Hendra, meliputi kesiapan data dan infrastruktur, ketersediaan talenta AI lokal, kepastian regulasi dan keamanan data, serta return on innovation.
“Bukan hanya ROI finansial jangka pendek,” imbuh Hendra.
Dengan demikian, dia menilai kekecewaan awal yang muncul di sebagian kalangan pemimpin perusahaan lebih disebabkan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi atau belum siapnya ekosistem pendukung, bukan karena AI tidak relevan atau gagal.
“IDPRO, percaya bahwa AI dan data center akan terus berkembang secara simbiotik. Kami mendorong kolaborasi lebih erat antara pemerintah, industri, dan akademisi agar investasi AI benar-benar berdampak dan inklusif, bukan sekadar tren sesaat,” katanya.
Adapun riset terbaru Deloitte bertajukThe State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edgemengungkap adanya kesenjangan tajam antara ekspektasi dan realisasi investasi AI.
Survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi di 24 negara menunjukkan bahwa 74% organisasi menargetkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan, namun hanya 20% yang benar-benar melihat hasil tersebut.
Temuan Deloitte tersebut sejalan dengan survei PwC yang mencatat hanya 12% CEO yang merasakan dampak finansial langsung berupa penurunan biaya sekaligus peningkatan pendapatan dari investasi AI.
Meski demikian, Deloitte menekankan bahwa keberhasilan AI tidak semata diukur dari keuntungan finansial jangka pendek, melainkan juga dari efisiensi operasional, diferensiasi strategis, serta keunggulan kompetitif jangka panjang.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja, dengan hampir 60% pekerja kini memiliki akses ke perangkat AI resmi perusahaan, meskipun tingkat pemanfaatannya masih belum optimal.
Selain itu, sekitar 82% perusahaan memperkirakan sedikitnya 10% pekerjaan akan terotomatisasi dalam tiga tahun ke depan, sementara mayoritas organisasi belum melakukan penyesuaian struktur kerja yang memadai.
Ketua Global PwC Mohamed Kande menyatakan hanya sebagian kecil perusahaan yang mampu menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata. Namun, perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius ke dalam produk dan layanan tercatat memperoleh keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum mengadopsinya.
Sejalan dengan itu, berbagai pemangku kepentingan di Indonesia menilai bahwa meskipun profitabilitas AI belum sepenuhnya terlihat, investasi teknologi ini masih akan terus berlanjut seiring berkembangnya infrastruktur, regulasi, serta kebutuhan digital lintas sektor.
Infrastruktur AI di Indonesia tumbuh pesat, namun didominasi asing. Meski belum menguntungkan, investasi AI terus berlanjut untuk efisiensi dan keunggulan kompetitif. [976] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Infrastruktur teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai berkembang begitu cepat di Indonesia. Namun, mayoritas masih didominasi oleh perusahaan asing.
Pembangunan AI juga diramal masih akan terjadi meski sejumlah riset menyebut teknologi pintar itu belum memberi keuntungan di bagi para perusahaan yang mengembangkannya.
Riset terbaru Deloitte yang bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge mengungkap adanya kesenjangan tajam antara ekspektasi dan realisasi investasi AI.
Survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi di 24 negara menunjukkan bahwa 74% organisasi menargetkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan, namun hanya 20% yang benar-benar melihat hasil tersebut.
Temuan Deloitte tersebut sejalan dengan survei PwC yang mencatat hanya 12% CEO yang merasakan dampak finansial langsung berupa penurunan biaya sekaligus peningkatan pendapatan dari investasi AI.
Meski demikian, Deloitte menekankan m keberhasilan AI tidak hanya diukur dari keuntungan finansial jangka pendek, melainkan juga dari efisiensi operasional, diferensiasi strategis, dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja, dengan hampir 60% pekerja kini memiliki akses ke perangkat AI resmi perusahaan, meskipun tingkat pemanfaatannya masih belum optimal.
Selain itu, sekitar 82% perusahaan memperkirakan sedikitnya 10% pekerjaan akan terotomatisasi dalam tiga tahun ke depan, sementara mayoritas organisasi belum melakukan penyesuaian struktur kerja yang memadai.
Pengguna mencoba kacamata teknologi AI
Ketua Global PwC Mohamed Kande menyatakan hanya sebagian kecil perusahaan yang mampu menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata. Namun, perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius dalam produk dan layanan tercatat memperoleh keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum mengadopsinya.
Sejalan dengan itu, berbagai pemangku kepentingan di Indonesia menilai bahwa meskipun profitabilitas AI belum sepenuhnya terlihat, investasi teknologi ini masih akan terus berlanjut seiring berkembangnya infrastruktur, regulasi, serta kebutuhan digital lintas sektor.
Ketua Bidang Industri IoT, AI & Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetyo menilai kondisi tersebut wajar mengingat pembangunan ekosistem AI masih berada pada fase awal, terutama dari sisi infrastruktur.
Menurut dia, pertumbuhan infrastruktur AI di Indonesia berlangsung sangat pesat dalam tiga tahun terakhir, mulai dari pembangunan GPU hingga pusat data berbasis AI dengan nilai investasi yang besar.
“Yang paling dasar itu infrastrukturnya dulu. Infrastruktur AI di Indonesia rasanya tumbuh pesat sekali, baik GPU maupun AI data center,” kata Teguh dalam acara Indonesia Digital Outlook 2026 “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Sustainable Digital Future” di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Namun, Teguh mengakui sebagian besar pengguna infrastruktur AI di Indonesia saat ini masih berasal dari pasar global, bukan dari dalam negeri. Karena itu, dia menilai Indonesia masih membutuhkan penguatan infrastruktur pendukung di luar pusat data, termasuk pengembangan jaringan dan komputasi terdistribusi.
Di lapisan berikutnya, Teguh melihat pertumbuhan positif dari sisi aplikasi AI. Jumlah startup AI di Indonesia telah menembus ratusan, mencakup pengembangan AI visual, suara, pemrosesan ruang-waktu, hingga large language model (LLM) lokal.
Menurut dia, ke depan AI berpotensi menjadi killer application jaringan 5G, sebagaimana e-commerce menjadi pendorong utama adopsi 4G.
“Kalau ditanya killer application 4G apa, jawabannya e-commerce. Kalau 5G, kami di Mastel melihat AI akan menjadi killer application-nya,” kata Teguh.
Dia menilai hampir seluruh sektor kini bergantung pada AI, termasuk Internet of Things (IoT). Bahkan penggunaan sederhana seperti kamera pengawas rumah telah memanfaatkan teknologi AI untuk mendeteksi objek hingga aktivitas manusia.
Teguh juga menilai pengembangan AI tidak hanya akan terpusat di hyperscale data center, melainkan akan bergerak ke arah AI on edge seiring dengan kondisi geografis Indonesia yang berbeda dengan negara satu pulau seperti Singapura.
Risiko Investasi
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Sonny Hendra Sudaryana mengingatkan adanya risiko global yang menyertai masifnya investasi teknologi, termasuk AI.
Dia menyebut dalam World Economic Forum (WEF) 2025 di Davos, Swiss telah mengidentifikasi tiga potensi gelembung ekonomi global, yakni AI bubble, crypto bubble, dan debt bubble.
“AI bubble ini terjadi ketika investasi yang dikeluarkan belum menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan,” kata Sonny.
Menurut dia, fenomena tersebut sejalan dengan kondisi global saat ini, di mana banyak perusahaan gencar berinvestasi AI, tetapi belum seluruhnya mampu mengonversinya menjadi pendapatan nyata.
Sonny menilai kewaspadaan terhadap risiko gelembung perlu diimbangi dengan kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara produktif dan berkelanjutan.
Dari sisi industri telekomunikasi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan AI bukan semata isu sektor telekomunikasi, melainkan bagian dari industri digital secara menyeluruh. Menurut dia, investasi AI justru saat ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku pusat data.
“AI ini dimainkan oleh hampir semua industri, bukan hanya operator,” ujar Merza.
Di internal perusahaan telekomunikasi, Merza menjelaskan pemanfaatan AI masih difokuskan pada peningkatan efisiensi operasional.
AI digunakan dalam pengelolaan jaringan, peningkatan kualitas layanan pelanggan, hingga optimalisasi proses internal perusahaan. Selain itu, operator juga menyediakan solusi berbasis AI untuk segmen enterprise.
Namun demikian, dia menyebut operator belum menjadikan AI sebagai produk ritel yang dimonetisasi secara langsung ke konsumen, seperti AI untuk pengolahan foto atau video.
“AI yang kami bangun kebanyakan untuk enterprise solution, bukan untuk monetisasi langsung ke retail,” katanya.
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Dyah Ayu menilai meski profitabilitas AI masih terbatas, investasi teknologi ini di Indonesia tetap akan tumbuh.
Menurut Dyah, Indonesia kini mulai memasuki fase baru pengembangan AI, salah satunya melalui kehadiran agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu memperbarui data secara otomatis, menganalisis informasi lintas sumber, hingga menyusun strategi secara berkelanjutan.
“Ini bukan cuma AI yang menjawab pertanyaan, tapi AI yang terus update dan bisa menjadi search engine sekaligus analis,” ujarnya.
Dia menilai potensi pasar domestik masih sangat besar, mengingat penetrasi internet Indonesia telah menembus 80% populasi. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia menarik bagi investor global, meskipun dari sisi regulasi masih terdapat celah, khususnya terkait pajak digital.
Dyah menilai belum adanya aturan spesifik mengenai pajak digital membuat perusahaan teknologi global memperoleh keuntungan besar dari pasar Indonesia, sementara kontribusi fiskalnya masih terbatas.
Menurut dia, mekanisme pajak digital berbasis jumlah pengguna dan valuasi pasar dapat menjadi solusi agar investasi AI tetap berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi negara.
WEF memperingatkan risiko gelembung AI lebih parah dari dotcom 2000, dengan potensi dampak global jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi. [396] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — World Economic Forum (WEF) dalam laporan terbarunya memberikan peringatan keras terkait risiko pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI) yang dampaknya diprediksi lebih parah dibandingkan dengan kasus gelembung dotcom 26 tahun lalu.
Gelembung dotcom 2000 merupakan periode spekulasi berlebihan di pasar saham teknologi, terutama perusahaan internet, yang memuncak pada Maret 2000. Fenomena ini menyebabkan kenaikan nilai saham secara dramatis di indeks NASDAQ, dari sekitar 1.000 poin pada 1995 menjadi 5.132 poin pada puncaknya.
Dalam dokumen Global Risks Report 2026 yang dirilis pekan ini, WEF menyoroti kerentanan pasar finansial yang kini sangat bergantung pada segelintir perusahaan teknologi raksasa, khususnya yang terkait dengan pengembangan artificial intelligence atau akal imitasi (AI), komputasi kuantum, dan nuklir.
WEF mencatat bahwa belanja modal untuk infrastruktur AI menembus US$1,5 triliun pada 2025, yang mana terus meningkat seiring dengan gembar-gembor investor yang memburu saham-saham teknologi.
Kendati demikian, laporan tersebut menggarisbawahi risiko kesenjangan antara ekspektasi dan realita. Menurut WEF, keuntungan investasi dari belanja modal yang masif tersebut masih belum jelas terlihat
Lembaga yang bermarkas di Devos, Swiss itu mengungkapkan risiko pecahnya gelembung ini semakin nyata apabila pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar yang sudah terlanjur tinggi. Jika sentimen berbalik arah maka koreksi pasar yang tajam tidak terelakkan.
"Jika terjadi penurunan di pasar saham AS yang sebanding dengan meletusnya gelembung dotcom pada 2000, nilai kekayaan yang tergerus bisa jauh lebih besar mengingat masifnya tingkat eksposur saat ini," tulis WEF dalam laporan tersebut, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Kondisi ini diperparah oleh konsentrasi portofolio investor global seperti dana pensiun yang sangat berat di pasar saham Amerika Serikat. Artinya, jika gelembung teknologi di Wall Street meletus maka dampaknya akan menjalar secara sistemik ke seluruh dunia, menekan nilai kekayaan rumah tangga dan permintaan konsumen secara global.
Selain gelembung aset, WEF juga menyoroti "tembok pembiayaan kembali" (refinancing wall) utang pemerintah dan swasta yang akan jatuh tempo pada periode 2025–2027. Dengan total utang global yang mencapai US$251 triliun atau 235% dari PDB dunia, ruang gerak fiskal negara-negara maju maupun berkembang menjadi sangat terbatas untuk menahan guncangan jika pasar saham runtuh.
WEF pun memperingatkan bahwa tanpa adanya reformasi struktural dan kebijakan fiskal yang berhati-hati, ekonomi global berisiko terperosok ke dalam periode pertumbuhan rendah yang berkepanjangan.
"Pemerintah perlu menerapkan kehati-hatian fiskal dan memprioritaskan belanja yang lebih efisien, serta memberlakukan reformasi struktural untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan," jelas laporan tersebut.
Bos Telkomsel, Nugroho, tidak khawatir dengan AI Bubble di Indonesia, menilai negara lebih terkendali dan memilih pendekatan investasi AI yang kolaboratif dan fleksibel. [578] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Utama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Nugroho merespons kekhawatiran pasar terkait fenomena AI Bubble atau gelembung kecerdasan buatan (AI).
AI Bubble adalah kondisi ketika ekspektasi, investasi, dan valuasi AI melonjak tinggi melebihi fundamental ekonomi dan hasil komersial yang nyata.
Menurutnya, Indonesia relatif lebih terkendali dalam menyikapi tren teknologi baru dibandingkan sejumlah negara lain.
“So far, saya lihatnya [Indonesia] lebih terkendali, lebih proper. Mungkin karena era setelah startup digital ini bubblenya baru-baru aja ya, jadi orang itu masih trauma,” kata Nugroho usai acara peresmian AI Innovation Hub yang digelar Telkomsel di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025).
Dia menilai pengalaman bubble startup digital membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi teknologi baru. Menurutnya, masih ada trauma di kalangan pelaku usaha sehingga kehati-hatiannya meningkat ketika menghadapi teknologi yang sedang booming dan membutuhkan investasi besar
Nugroho mengatakan Telkomsel mempelajari cara menghindari risiko serupa agar tidak terjebak dalam euforia teknologi semata.
“Cara-caranya bagaimana kami sempat terhindar dari itu pun kami sudah pelajari dan Insya Allah kami bisa terhindar lah dari potential risk itu [AI Bubble],” katanya.
Nugroho menambahkan perkembangan teknologi sangat cepat dan dinamis, sehingga keputusan investasi harus sangat terukur. Lebih jauh, Nugroho menilai keputusan investasi yang dilakukan secara gegabah, terutama karena dorongan FOMO, berisiko membuat aset teknologi cepat usang.
Dia mencontohkan, investasi besar-besaran pada perangkat seperti GPU Nvidia bisa kehilangan relevansi ketika proses pengadaan memakan waktu lama, sehingga perangkat yang diterima justru sudah tertinggal dari sisi teknologi dan menyulitkan perusahaan memperoleh imbal hasil yang optimal.
Dia menegaskan kondisi tersebut dapat membuat investasi menjadi tidak relevan.
“Bayangkan betapa tidak relevan investment kita itu, sehingga sulit untuk mendapatkan ROI yang baik,” katanya.
Karena itu, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih kolaboratif dan fleksibel dalam memanfaatkan AI. “Nah ini yang mesti kita hati-hati. Jadi pendekatan-pendekatan seperti kolaborasi menggunakan AI, cloud computing, itu akan lebih bijak buat kita ini daripada kita ini nanti beli, invest mahal, kemudian tidak bisa naik ROI-nya,” ungkapnya.
Dalam konteks pengembangan jaringan, dia menilai adopsi teknologi 5G di Indonesia masih berada pada fase pertengahan menuju kematangan. Menurutnya, siklus evolusi teknologi jaringan umumnya berlangsung sekitar satu dekade, sehingga setelah adopsi 5G dimulai pada 2021, kemunculan generasi berikutnya seperti 6G baru berpotensi terjadi sekitar 2031.
Dia menegaskan Telkomsel tidak ingin mengulang kesalahan bubble teknologi sebelumnya dengan berinvestasi terlalu agresif tanpa mempertimbangkan kesiapan pasar.
“Dan ini pun sama, jangan sampai kita tadi yang terkait dengan 3G bubble, kami juga tidak ingin jor-joran. Yang kami perhatikan itu bagaimana penetrasi 5G handset di market,” katanya.
Menurutnya, investasi jaringan perlu disesuaikan dengan tingkat adopsi perangkat di masyarakat. Dia menilai pembangunan jaringan 5G secara agresif akan berisiko tidak optimal apabila penetrasi ponsel 5G masih rendah, karena investasi besar tersebut justru dapat mengurangi kapasitas layanan 4G yang masih banyak digunakan pelanggan.
“Nah ini yang kami jaga, jadi selama penetrasi handset-nya sudah oke, kami sih berani untuk 20–25% penetrasi di sebuah wilayah, kami dorong 5G,” ungkapnya.
Nugroho menekankan peningkatan teknologi harus berdampak langsung pada pengalaman pelanggan dan pertumbuhan bisnis. Dia juga menolak persaingan berbasis harga semata di industri telekomunikasi. Menurutnya, perang harga justru berisiko menurunkan kualitas layanan dan reputasi nasional.
Telkomsel ingin mendorong persaingan yang sehat demi peningkatan kualitas layanan nasional.
“Jadi makanya kita ini pengen mendorong, kami sebagai market leader di industri telekomunikasi tanah air, kita ingin mendorong, ayo kita bersama-sama bersaing dengan sehat, kita perbaiki customer experience di Indonesia, sehingga reputasi bangsa ini pun bisa naik di mata dunia,” ungkapnya.
Para pemimpin teknologi menepis kekhawatiran bubble AI, menyebut industri ini baru memasuki fase pertumbuhan panjang meski ada peringatan dari analis. [524] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Para pemimpin perusahaan teknologi global menepis kekhawatiran mengenai pecahnya gelembung (bubble) di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), meskipun investasi di sektor ini dilaporkan telah menembus angka US$1 triliun atau sekitar 16.660 triliun (asumsi kurs Rp16,660 per dollar AS).
Sejumlah analisis memberikan peringatan dan menyamakan situasi saat ini dengan era dotcom. Namun, para eksekutif bersikeras bahwa industri AI baru saja memasuki fase awal pertumbuhan jangka panjang.
Melansir dari The Register Senin (08/12/2025), perdebatan ini mengemuka dalam berbagai konferensi teknologi minggu ini, termasuk HPE Discover di Barcelona dan UBS Global Technology and AI Conference.
Presiden dan General Manager divisi Networking Hewlett Packard Enterprise (HPE) Rami Rahim menegaskan bahwa pihaknya belum melihat tanda-tanda perlambatan permintaan perangkat keras berkinerja tinggi yang menjadi tulang punggung pengembangan AI.
"Saat ini, saya tidak melihat tanda-tanda perlambatan berdasarkan proyek-proyek yang ada di pasar serta percakapan dan rencana yang kami diskusikan dengan pelanggan," ujar Rahim.
Rahim mengakui bahwa koreksi pasar adalah hal lumrah dalam sejarah industri, namun ia menilai situasi saat ini berbeda dengan kejatuhan pasar dotcom. Menurutnya, tingkat kepercayaan dan adopsi teknologi saat ini jauh lebih matang.
Sebagai informasi, gelembung dotcom pada periode akhir 1990-an adalah ketika banyak perusahaan internet dihargai sangat tinggi padahal belum memiliki bisnis yang jelas. Saat kepercayaan investor runtuh, harga saham jatuh dan banyak perusahaan gulung tikar.
Rahim mencontohkan, efisiensi nyata telah tercipta di internal HPE, di mana pengembang perangkat lunak menjadi lebih produktif berkat bantuan teknologi copilot.
Senada dengan HPE, CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su juga membantah keras narasi gelembung AI. Dalam forum UBS, Su menyebut industri teknologi tengah berada di awal "siklus super sepuluh tahun".
Su menjelaskan bahwa fase pelatihan model yang menjadi kasus penggunaan utama kini mulai bergeser ke arah inferensi. Hal ini memaksa pelanggan korporasi untuk terus menyesuaikan infrastruktur mereka, yang berujung pada lonjakan permintaan komputasi.
"Satu hal yang konstan saat kami berbicara dengan pelanggan adalah kebutuhan akan komputasi yang lebih besar," kata Su.
Optimisme Su bahkan mencakup valuasi fantastis OpenAI yang mencapai US$500 miliar atau sekitar Rp 8.330 triliun. Kendati pembuat ChatGPT itu diprediksi belum akan mencetak laba hingga 2030 dan harus membakar uang untuk investasi pusat data, Su menilai hal tersebut wajar bagi perusahaan bermodal kuat di momen krusial ini.
Namun, pandangan optimistis para bos teknologi ini kontras dengan sentimen pasar yang lebih berhati-hati.
Firma riset Forrester baru-baru ini melaporkan bahwa banyak organisasi besar berencana menunda belanja AI mereka hingga 2027. Penundaan ini dipicu oleh kesenjangan antara janji manis vendor teknologi dengan realitas implementasi di lapangan.
Sementara itu, Chairman SK Group Chey Tae-won memberikan pandangan yang lebih moderat. Chey menilai industri AI itu sendiri bukanlah gelembung, namun ia memperingatkan bahwa pasar saham telah bereaksi terlalu cepat.
"Ketika Anda melihat pasar saham, kenaikannya terlalu cepat dan terlalu tinggi, jadi saya pikir wajar jika akan ada periode koreksi," ujar Chey.
Peringatan serupa juga datang dari Komite Kebijakan Keuangan Bank of England yang menyoroti risiko koreksi mendadak di pasar keuangan akibat saham AI. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman pada awal tahun ini sempat mengakui adanya potensi gelembung di industri tersebut. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menganggap nilai tukar (kurs) rupiah berpotensi melemah di tengah sentimen ketidakpastian pasar meningkat ... [291] url asal
Jakarta (ANTARA) - Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menganggap nilai tukar (kurs) rupiah berpotensi melemah di tengah sentimen ketidakpastian pasar meningkat atau risk-off.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah sentimen risk off," ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Selasa di Jakarta melemah sebesar 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.749 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.736 per dolar AS.
Menurut Lukman, pemicu dari sentimen risk off adalah terjadinya sell off (aksi jual besar-besaran suatu aset) di Wall Street karena kekhawatiran bubble (harga melonjak melebihi nilai intrinsiknya, diikuti penurunan harga secara tajam)saham-saham teknologi dan artificial intelligence (AI).
Mengutip Anadolu, perusahaan-perusahaan teknologi besar sempat mengumumkan pengeluaran lebih dari 380 miliar dolar AS dalam laporan keuangan mereka.
Namun, terdapat kekhawatiran terkait "gelembung AI" dan valuasi saham teknologi yang terlalu tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Kini, investor sedang menunggu laporan pendapatan Nvidia, yang harga sahamnya turun 1,8 persen pada Senin (17/11/2025) menjelang pengumuman pendapatan kuartal III-2025.
Di samping itu, investor khawatir tentang valuasi yang terlalu tinggi, sehingga memberikan tekanan terhadap produsen chip tersebut dan ekuitas teknologi besar.
Di sisi lain, Alphabet menonjol di antara perusahaan teknologi besar, naik 3,1 persen pasca pengumuman akuisisi saham Berkshire Hathaway milik Warren Buffett di perusahaan induk Google dan YouTube.
"Masih terjadi tarik ulur antara yang khawatir dan yang optimis. Valuasi yang sangat tinggi, dan anggaran mereka yang sangat besar berbanding pendapatan yang masih kecil untuk AI, bahkan banyak startup AI yang masih merugi," kata Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar Rp16.650-Rp16.800 per dolar AS.